|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Monday, 25 August 2008 |
Judul di atas disarikan dari firman Allah swt yang terdapat dalam surat Ar-Rum, ayat 21 : وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir. “ Ketika kita menghadiri resepsi pernikahan, ayat di atas adalah ayat yang paling sering dibacakan oleh qari’ yang ditugaskan melantunkan ayat-ayat Al Qur’an untuk memulai acara resepsi. Para pembicarapun tidak pernah bosan-bosannya menyebut ayat tersebut sebelum memulai ceramahnya untuk menasehati kedua penganten. Maka, sangat penting sebagai seorang muslim yang akan melangsungkan pernikahan ataupun yang sudah menikah untuk merenungi kembali ayat di atas secara lebih seksama. Ayat di atas walaupun singkat dan pendek akan tetapi mengandung pelajaran yang sangat banyak dan bermanfaat, dan selanjutnya bisa kita jadikan pedoman di dalam mengarungi bahtera rumah tangga. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Otoritas Ulama Dalam Prespektif Islam |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Monday, 25 August 2008 |
|
Akhir-akhir ini banyak umat Islam yang sudah berani melecehkan para ulama dan tidak menghormati mereka lagi, ini adalah salah satu tanda akhir zaman…padahal dalam Islam, para ulama mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat sekali. Diantaranya adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam salah satu firman-Nya : ” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 ) Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya. Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam. Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin ). Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rosulullah saw adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas. Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara. Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ? |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Reflkesi Fenomenal Gagasan Islam Baru |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Monday, 25 August 2008 |
|
Para pengusung gagasan Islam Baru, memang tidak boleh dicurigai, namun sharing pendapat dan pengamatan dari sisi lain tentunya sangat diperlukan. “Islam Baru “, sebagaimana namanya, tentunya terkesan bahwa dia membawa sesuatu yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Nama tersebut , memang kelihatannya memikat, bahkan akan menjadi kecenderungan sebagian orang, karena tabiat manusia yang selalu menginginkan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan yang ia alami sehari- hari.Kata “ baru “ mempunyai makna yang nisbi dan relatif , sesuai dengan masa dan peletaknya . Dia dikatakan “baru “, kalau di bandingkan dengan yang sebelumnya, dan dia akan di katakan “lama” , kalau di bandingkan dengan yang sesudahnya. “Islam baru” yang ditawarkan sekarang ini, pasti akan menjadi “Islam lama “ untuk masa- masa mendatang. Sehingga gagasan tersebut hanya bersifat sektarian dan sempit. Karena di batasi dengan waktu tertentu dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman, dengan demikian, gagasan tersebut tidak bisa dijadikan standar dan common platform dalam menghadapi perkembangan sosial dan politik. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 8 dari 40 |