|
|
|
|
|
( Bab VI ) Menjawab Beberapa Kekeliruan |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Monday, 08 February 2010 |
|
Disana ada beberapa kekeliruan dan kesalahpahaman di dalam menyikapi pahama Nasionalisme. Oleh karenanya, dalam bab ini akan dijelaskan kekeliruan-kekeliruan tersebut beserta jawaban –jawabannya agar para pembaca menjadi jelas, dan tidak diselimuti kerancuan di dalam menyikapi paham Nasionalisme ini. Kekeliruan Pertama : Sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa faham Nasionalisme termasuk salah satu dari ajaran Islam. Bahkan menurut mereka, paham ini pernah di contohkan oleh Rasulullah saw, pada waktu kedatangan beliau pertama kali ke Madinah, ketika beliau mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi yang tinggal di kota tersebut, yang kemudian perjanjian itu terkenal dengan “Konstitusi Madinah”. Ironisnya lagi, pemahaman-pemahaman yang sering mengaburkan ajaran Islam ini, sering diungkapkan oleh sarjana-sarjana muslim lulusan Barat, seperti Nur Chalis Majid, Dawam Raharjo dan kawan-kawannya.[1] Sebenarnya Konstitusi Madinah yang ditanda tangani oleh Rasulullah saw tersebut, tidak bisa dijadikan dasar untuk melegalisasikan Nasionalisme. Perjanjian antara kaum muslimin dan bangsa Yahudi untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan kota Madinah tersebut sangat berbeda dengan gerakan Nasionalisme yang dimotori oleh antek-antek penjajah [1] Syafi’i Anwar, Pemikiran Dan Aksi Islam Di Indonesia, Paramadina, Desember 1995, hal.195 |
|
Selengkapnya...
|
|
|
( Bab V ) Kerugian Yang Diderita Umat Manusia Dengan Menyebarkan Nasionalisme |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Sunday, 31 January 2010 |
|
Dunia ini akan rusak dan manusia akan sengsara, kehidupan tak akan pernah aman dan sentosa selama ajaran Islam tidak dijadikan way of live di dalam mengatur kehidupan ini. Nasionalisme sebagai ajaran baru, ternyata telah membawa kerugian bagi umat manusia sendiri. Dan umat Islamlah yang akan terkena akibatnya pertama kali. Berikut ini sebagian dampak negatif dari penyebaran paham Nasionalisme yang sempat terdata oleh penulis (walaupun pada bab-bab sebelumnya dan sesudahnya sudah disebutkan): Pertama : Menjadikan orang berpikiran kerdil, sempit pandangan, dan fanatik. Hal itu dialami oleh orang-orang Jepang, ketika menyetop masuknya pohon mangga dari India ke negaranya, hanya karena pohon tumbuh di bumi bangsa lain. Kedua : Mendidik generasi untuk terus berselisih dan berperang. Kita bisa lihat contohnya di belahan Asia tengah, tepatnya di Afghanistan, yang tak pernah berhenti dari perang saudara. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
( 3 ) Nasionalisme Indonesia |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Saturday, 30 January 2010 |
|
Sementara itu di Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam, kita dapati gerakan Nasionalisme tak kalah serunya. Nasionalisme ini mulai dikenal di Indonesia pada awal abad ke-20, tepatnya ketika muncul pergerakan Nasional yang dimotori “Boedi Oetomo”. Padahal menurut K.H. Firdaus AN, Boedi Ooetomo tidak lebih dari perpanjangan tangan Kolonial Belanda. Itu bisa dibuktikan umpamanya dengan melihat UUD Boedi Oetomo pasal 2 yang menyebutkan salah satu tujuannya, yaitu “Menggalang kerja sama, guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis” Ditambah lagi, bahwa keanggotaan Boedi Oetomo hanya bersifat regional dan kesukuan yang sempit, Jawa dan Madura, sebagaimana tercantum pada pasal 4.[1] Dari sini menjadi jelas, bahwa munculnya Nasionalisme secara umum dan khususnya di Indonesia mempunyai kaitan erat dengan Kolonialisme. Berbeda sekali, umpamanya dengan pergerakan yang bersifat atau berlabel Islam. Syarekat Islam sebagai contoh, adalah pergerakan yang sangat komitmen dan mempunyai peran yang sangat besar di dalam membebaskan Indonesia dari Kolonial Belanda. Syarekat Islam yang mulai berdiri sejak tanggal 16 Oktober 1905, dengan nama Syarikat Dagang Islam, mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu: “ Akan menjalankan Islam seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya mendapatkan suatu Dunia Islam yang sejati” Dengan kata lain SI bertujuan Islam Raya, dengan meng-Islamkan Indonesia dahulu. Di sini, SI sudah mempunyai wawasan international yang digali dari ajaran Islam yang murni. Namun sangat disayangkan sekali, orang-orang Nasionalis telah mengubur perjuangan mereka dengan memanipulasi sejarah. Menurut Dr. Muchtar Aziz, dosen sejarah dan peradaban Islam pada Fakultas Adab dan Program pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, faktor utamanya adalah distrosi politik, sehingga orang tidak berani menganalisa apa adanya. Padahal, menurutnya, perjuangan umat Islam selama lima puluh tahun adalah sangatlah berharga. Beliau mempertanyakan juga, kenapa konstituanse dibubarkan, padahal waktu itu sudah mendekati penyelesaian. Tetapi begitu hampir selesai lantas dihentikan. “Ini jelas ada orang-orang yang takut kepada Islam” Ujar beliau. [1] Suara Hidayatullah, Mei 1997, hal: 70-71 |
|
Selengkapnya...
|
|
| << Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 3 dari 204 | |
|
|
Kontak |
|
Untuk berkomunikasi dengan kami silakan kontak di : 081319063442 |
|
Random Image |
|
Tidak ada gambar |
|
Pengunjung |
| Visits today: |
16 |
| Visits yesterday: |
28 |
| Visits month: |
288 |
| Visits total: |
19075 |
| Max.monthly visits: |
1804 |
| occurred: |
2010-1 |
| Pages this month: |
790 |
| Pages total: |
53371 |
| Data since: |
2008-07-11 |
|
|
|