Ilmu
8453 Hits

Tafsir Surat Al-Insyiqaq [Ayat 16-25]


فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ

“Maka Aku bersumpah dengan asy-Syafaq“ (Qs. Al-Insyiqaq: 16)

              Kholil bin Ahmad, pakar bahasa Arab, berkata, sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir: “Asy-Syafaq adalah warna merah yang terlihat di ufuk, ketika terbenam matahari sampai waktu sholat Isya’”.  

Di dalam hadist Abdullah bin Amru bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

وَقْتُ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ

 “Waktu Sholat Maghrib selama belum terbenamnya syafaq (warna merah di ufuk)“ (HR. Muslim)

      Ibnu Jarir berkata: Allah bersumpah dengan siang yang mulai hilang dan malam yang mulai datang.

              Asy-Syafaq (warna merah di ufuk) yang merupakan sisa-sisa sinar matahari, merupakan tanda telah berakhirnya siang dan mulai datangnya malam. Itu menunjukkan bahwa siang yang terang benderang dengan sinar mataharinya, lambat laun akan berubah menjadi sore, senja dan malam. Kehidupan manusia di dunia ini dengan segala gegap gempita dan kemewahannya, lambat laun akan berubah menjadi senyap dan akhirnya akan hilang dan sirna. 

 

وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ

“Dan demi malam dan apa yang menyelubunginya,” (Qs. Al-Insyiqaq: 17)

Qatadah berkata:  وسق(Wasaq) artinya, yang mengumpulkan bintang-bintang dan binatang-binatang melata.

           Artinya bahwa malam menyebabkan bintang-bintang mulai bermunculan dan berkumpul di Langit, dan makhluq yang di Bumi mulai kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.

           Begitu juga manusia yang hidup dan bekerja di siang hari, maka pada malam harinya mereka akan pulang ke rumah masing-masing berkumpul dengan keluarganya. Siang hari adalah tanda kehidupan manusia, sedang malam hari adalah tanda manusia akan meninggalkan dunia ini dan akan kembali kepada asalnya, yaitu tanah, dalam keadaan gelap gulita, kemudian mereka akan dikumpulkan Allah di padang Mahsyar.

 

وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ

“Dan demi bulan apabila jadi purnama,” (Qs. Al-Insyiqaq: 18)

         Ibnu Katsir berkata: Ittasaqa yaitu, jika bulan menjadi sempurna cahayanya dan menjadi bulan purnama. 

          Bulan, ketika awal munculnya berbentuk bulan sabit, kemudian lambat laun akan membesar-membesar akhirnya menjadi sempurna dan menjadi bulan purnama, setelah itu akan mengecil lagi dan hilang. Begitulah manusia ketika lahir. Badannya kecil dan lemah, lambat laun akan menjadi besar dan dewasa, akhirnya menjadi sempurna. Setelah itu, dia akan mengalami penurunan dan menjadi tua dan lemah kembali, kemudian mati.

          Bulan purnama di tengah kegelapan malam bagaikan sinar keimanan yang menerangi gelapnya kuburan dan hari akhir. Semakin besar keimanan seseorang, maka semakin besar sinarnya nanti di akherat.  Allah berfirman:

 يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

 “Pada hari engkau akan melihat orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka… “  (Qs. al-Hadid: 12)

 

 لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ

“ Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) “(Qs. Al-Insyiqaq: 19)

                  Syekh al-Utsaimin menjelaskan bahwa manusia akan mengalami perubahan dalam hidup ini. Perubahan dari satu keadaan pada keadaan yang berbeda. Perubahan yang dialami manusia meliputi empat hal: 

 Pertama: Perubahan Waktu

             Manusia akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang lain. Kalau hari ini dia gembira, mungkin besok dia bersedih. Kalau hari ini kalah, mungkin pada waktu lain dia akan menang.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); (Qs Ali Imran: 140)

 

Kedua: Perubahan Tempat.

 

               Manusia dalam hidupnya ini akan berpindah dari satu tempat ke  tempat lain sampai akhirnya dia pindah dari alam dunia yang fana ini menuju alam kubur, kemudian ke alam akherat.  Allah berfirman:

 أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (Qs at-Takatsur: 1-2)

Ketiga: Perubahan Fisik

              Manusia ketika dilahirkan dalam keadaan kecil dan lemah, kemudian ketika sudah dewasa menjadi besar dan kuat, setelah itu menjadi lemah kembali. Ini sesuai dengan firman Allah :

 اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

 "Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa" (Qs. Ar-Rum: 54 )

 Keempat: Perubahan Hati    

             Hati manusia selalu berubah-rubah, terkadang dia senang, tetapi setelah itu ia merasa sedih. Kadang hatinya sedang dalam keadaan semangat, tapi kadang kali hatinya lemah semangat. Ini sesuai dengan hadist Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

  كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك

 “Bahwasanya nabi shallallahu ‘alahi wa sallam banyak berdoa : “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu “  (HR. Tirmidzi, Hasan Shahih)

         Berkata Qurtubi: “Ayat ini menunjukkan bahwa alam semesta ini baru dan di sana ada Sang Pencipta. Berkata para ahli hikmah : “Barang siapa yang hari ini dalam suatu keadaan, dan besok berubah keadaannya, maka ketahuilah bahwa di sana ada yang mengatur dirinya.“

 

فَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُون

“Maka mengapa mereka tidak mau beriman?” (Qs. Al-Insyiqaq: 20)

            Syekh Syenkiti menyebutkan, jika mereka telah mengetahui bahwa hidup mereka selalu berpindah-pindah dari satu keadaan pada keadaan lain, dari lemah menjadi kuat kemudian menjadi lemah kembali, kemudian mereka akan berpindah dari hidup di dunia ini menuju akherat, kenapa mereka tetap saja tidak beriman dengan ketetapan ini??? Kemudian mempersiapkan diri mengumpulkan bekal untuk hari akherat.  

 

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لا يَسْجُدُونَ,  بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ

“Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak (mau) bersujud,  bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya)” (Qs. Al-Insyiqaq: 21-22)

            Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah ketika membaca (idza assamau insyaqqat) beliau sujud. Ketika selesai, beliau memberitahukan bahwa Rasulullah shallallahu ‘laihi wassalam bersujud ketika membacanya.  

            Hadist di atas menunjukkan bahwa ayat 21 dari surat al- Insyiqaq ini termasuk ayat–ayat sujud tilawah yang dianjurkan bagi setiap muslim yang membacanya bersujud, tetapi tidak wajib.

Ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khattab  bahwa pada suatu hari Jumat, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam membaca surah al-Nahl di atas mimbar. Ketika sampai pada ayat sajadah, beliau turun dari mimbar dan sujud. Dan para hadirin juga turut melakukan sujud. Pada hari Jum’at berikutnya, dibacanya surat al-Qur’an. Ketika sampai pada ayat sajdah, beliau bersabda:

 “Wahai manusia, sebenarnya kita tidak diperintahkan (diwajibkan) sujud tilawah. Tetapi barang siapa bersujud, dia telah melakukan yang benar, dan barang siapa yang tidak melakukannya, maka dia tidak mendapat dosa.” (HR. Bukhari)

 

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُون,  فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka sampaikanlah kepada mereka (ancaman) azab yang pedih,” (Qs. Al-Insyiqaq: 23-24)

            Berkata Qatadah: Allah mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka.

             يُوعُونَ  dari kata وعاء , yang berarti tempat untuk menyimpan. Seakan-akan mereka menyimpan sesuatu dalam hati mereka. Maka Ibnu Zaid mengatakan bahwa mereka menampung amal sholeh dan amal jelek di dalam hati mereka.

 

 إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya” (Qs. Al-Insyiqaq: 25)

          Berkata Ibnu Abbas : yakni tidak berkurang. Berkata al-Mubarrad, pakar bahasa,   المنين al-Manin, artinya debu, karena dia akan memutus apa yang berada di belakangnya.

Ayat ini dikuatkan dengan firman Allah :

 عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“…pemberian yang tidak terputu “ (Qs. Hud: 108)

Wallahu A’lam,       

 

Pondok Gede, 30 Sya’ban 1434 H / 9 Juli 2013 M

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA