Ilmu
2655 Hits

Menjadi Orang Mukmin Yang Kuat


الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“ Orang mukin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, kedua-duanya mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah. Dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah berkata : ‘Seandainya aku lakukan demikian, maka akan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah engkau berkata : ‘Ini adalah takdir Allah.  Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.’ Karena perkataan “ seandainya”  dapat membuka amal syaithon.” (HR. Muslim, 2664 )

Pelajaran dari hadits di atas :

Pertama : Bahwa Allah mencintai sebagian hamba yang dikehendak-Nya, diantara mereka yang dicintai Allah adalah sebagai berikut: At-Tawwabin; Orang-orang yang bertaubat, Al-Mutathohirin; Orang-orang yang suka bersuci (Qs.al-Baqarah:222), Al-Muqsithin; Orang-orang yang adil. (Qs.al-Maidah:42), Al-Muttaqin; Orang-orang yang taqwa (Qs. al-Imran:76), Al-Muhsinin; Orang-orang yang suka berbuat kebaikan. (Qs. Ali ‘Imran:134), Al-Mutawakilin; Orang-orang yang bertawakal. (Qs. Ali ‘Imran:159), As-Shobirin; Orang-orang yang sabar (Qs. Ali ‘Imran:146)

Kedua : Kecintaan Allah sesuai dengan sebagian sifat-Nya, sebagaimana Allah Maha Kuat mencintai orang mukmin yang kuat, Allah Indah mencintai sesuatu yang indah, Allah Maha Berbuat Baik, mencintai orang –orang yang berbuat baik.

Ketiga : Kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya bertingkat-tingkat, berbeda satu dengan yang lainnya, sebagaimana Allah lebih mencintai orang mukmin yang kuat daripada orang mukmin yang lemah. Lebih mencintai amal yang kontinue dan terus menerus daripada amal yang terputus-putus,

Keempat : “ Orang mukmin yang kuat. “ Maksud kuat di sini adalah kuat imannya, ilmunya, ketaatannya kepada Allah, dan kuat kemauannya untuk berbuat baik dan beramal shaleh. Kata “ Kuat “ dalam hadist di atas dinisbatkan kepada kata sebelumnya yaitu “ mukmin”, jadi kalimat “ orang mukmin yang kuat “ maksudnya adalah kuat imannya.

Berkata an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (16/215) : 

والمراد بالقوة هنا : عزيمة النفس والقريحة في أمور الآخرة ، فيكون صاحب هذا الوصف أكثر إقداماً على العدو في الجهاد ، وأسرع خروجاً إليه وذهاباً في طلبه ، وأشد عزيمة في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والصبر على الأذى في كل ذلك ، واحتمال المشاق في ذات الله تعالى ، وأرغب في الصلاة والصوم والأذكار وسائر العبادات وأنشط طلباً لها ومحافظة عليها ، ونحو ذلك "

“ Yang dimaksud kuat di sini adalah kuatnya kemauan dan yang paling semangat di dalam urusan akherat, makanya orang seperti ini lebih berani menghadapi musuh di medan jihad, paling cepat pergi ke sana dan mencari celah untuk hal tersebut. Kuat kemauan untuk beramar makruf dan nahi mungkar, dan sabar menghadapi ujian karenanya. Kuat menahan keletihan di jalan Allah, paling semangat jika mengerjakan sholat, berpuasa, berdzikir dan dalam mengerjakan ibadah-ibadah lainnya. Dia termasuk orang yang paling semangat mengerjakan hal tersebut dan akan selalu terus menjaganya. “

Kelima : Kekuatan yang disebutkan di atas akan bertambah sempurna jika didukung dengan kekuatan fisik dan kekuatan financial. Sehingga kekuatan yang dimilikinya akan dimanfaatkan untuk menegakkan agama Allah. Sebaliknya, jika seseorang memiliki kekuatan fisik dan financial, tetapi tidak mempunyai kekuatan iman dan kemauan, maka dia akan menjadi lemah, bahkan kekuatannya akan dimanfaatkan untuk membuat kerusakan di muka bumi.

Di dalam hadist lain disebutkan :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرجال

 “ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo'a: "Allahumma Inni A'uudzu Bika Minal Hammi wal Hazani, wal 'Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhal'i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaal" (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan laki-laki " ( HR. Bukhari )

           Al-‘Ajzu (lemah) adalah tidak adanya kemampuan diri untuk mengerjakan sesuatu walau sebenarnya dia punya kemauan, sedangkan al-Kasal (malas) adalah tidak adanya kemauan untuk melakukan pekerjaan, walaupun sebenarnya dia mampu secara fisik dan financial.

Adapun kekuatan fisik telah disinggung oleh Allah dalam  firman-Nya,  

 وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُم     

“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan  musuhmu.“(Qs.al-Anfal:60)

Kekuatan fisik yang disertai dengan kekuatan iman dan amanah disebutkan di dalam firman-Nya :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِين.

          “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (Qs. Al-Qashash : 26)

 Begitu juga di dalam firman-Nya :

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ.

          “ Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.". (Qs. Yusuf : 55)

           Keenam : “ Namun, kedua-duanya mempunyai kebaikan.” Maksudnya bahwa orang mukmin itu pasti mempunyai kebaikan, baik yang kuat maupun yang lemah. Secara nyata, bahwa orang mukmin yang kuat mempunyai kebaikan lebih banyak dibanding orang mukmin yang lemah. Tetapi walau demikian, orang mukmin yang lemahpun mempunyai kebaikan juga, seperti keberadaannya memperbanyak jumlah umat Islam dan memperkuat barisannya. Orang mukmin yang lemah, pasti mempunyai kelebihan di bidang lain dan orang mukmin yang lemah lebih baik dari orang kafir.

          Ketujuh : “Bersungguh-sungguh terhadap apa yang bermanfaat bagimu.”

Kebahagiaan manusia terletak di dalam kesungguhannya  mencari sesuatu yang bermanfaat baginya di dunia dan akherat. Kesungguhan di sini artinya dia berusaha mengerahkan segala kekuatan dankemampuan yang dimilikinya untuk meraih tujuan tersebut. Jika ini disalurkan pada hal-hal yang bermanfaat tentunya hasilnya menjadi luar biasa.

Dengan demikian, kesempurnaan seseorang terletak pada dua hal : pertama, pada kesungguhannya, kedua, pada sesuatu yang bermanfaat baginya di dunia dan akherat.

Kedelapan : Seseorang agar bisa mencapai dua hal tersebut, yaitu kesungguhannya dan di dalam mencari sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akherat, maka dia harus meminta pertolongan Allah. Tanpa pertolongan-Nya, sangat susah dua hal tersebut diwujudkan di dalam diri seorang muslim. Oleh karenanya, kita selalu diwajibkan untuk memohon pertolongan tersebut, minimal 17 kali dalam sehari, yaitu ayat yang berbunyi :          

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.“ ( Qs. al-Fatihah : 4 )

Ini dikuatkan dengan hadist bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“ Wahai Allah tolonglah aku untuk bisa selalu mengingatmu, mensyukurimu dan beribadah kepadamu dengan baik. “ ( HR. Bukhari di dalam Adab al-Mufrad, 690, Ahmad, 7982, Abu Dau, 1524, Nasai, 1303, al-Hakim(1/273). Beliau shahihkan dan disetujui oleh adz-Dzahabi )

Begitu juga hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdo’a :

 اللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ ما جَعَلْتَهُ سَهْلاً، وأنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إذَا شِئْتَ سَهْلاً

“ Wahai Allah tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau jadikan yang susah, jika Engkau menghendaki, menjadi mudah. (HR. Ibnu Hibban ( 974 )  Ibnu as-Sinni di dalam ‘Amalu al-Yaum wa al-Lailah (351) dan adhidhiya’ di dalam al-Mukhtarah( 1683 ) Hadist ini dishahihkan Ibnu Hajar sebagaimana di dalam al-Futuhah ar-Rabaniyah (4/25 ), dan al-Albani di dalam “ ash-Shahihah (2886 )

          Al Hazna secara bahasa artinya : tanah yang tandus dan keras. Maksudnya dalam hadist ini adalah urusan yang sangat susah dan rumit. Imam an-Nawawi di dalam al-Adzkar telah menulis satu bab yang berjudul : “ Doa Ketika Menghadapi Urusan Yang Sulit “

          Kesembilan : “Jangan engkau menjadi lemah.“ Maksudnya jangan engkau berpangku tangan dan menunggu nasib tanpa berusaha sedikitpun. Tetapi selalulah untuk berusaha mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu di dunia dan di akherat serta meminta pertolongan Allah. Kalau tidak seperti itu, berarti anda termasuk orang yang lemah.

          Kesimpulannya, jika ingin menjadi orang mukmin yang kuat harus memenuhi tiga syarat : (1) Berusaha dan sungguh-sungguh (2) Mencari yang bermanfaat bagi dunia dan akherat (3) Meminta pertolongan Allah untuk meraih cita-cita tersebut.

          Kesepuluh : “ Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah berkata : ‘Seandainya aku lakukan demikian, maka akan demikian dan demikian.”

          Pelajaran ke- 1 sampai ke -8 di atas adalah panduan bagi seorang mukmin jika menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Untuk pelajaran ke-9 ini terkait dengan panduan menghadapi sesuatu yang sudah terjadi. Sesuatu yang bsudah terjadi hanya ada dua kemungkinan ; (1) sesuai dengan keinginan seseorang, dalam hal ini hendaknya dia bersyukur kepada Allah dan mengucapkan “alhamdulillah. “ (2) tidak sesuai dengan kemauannya, dalam hal ini,  hendaknya dia jangan mengucapkan sesuatu yang tidak diridhai Allah, seperti perkataan : “ Jika  seandainya aku lakukan demikian, maka akan demikian dan demikian.” Ini adalah perkataan orang yang lemah imannya.

          Tetapi hendaknya dia berkata : “Ini adalah takdir Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. “ Artinya dia tetap menjadi orang yang kuat imannya kepada Allah dan kepada taqdir Allah, yang baik maupun yang buruk. Sehingga dia tidak sedih, stress dan mengumpat. Tetapi segala sesuatunya diserahkan kepada Allah, dan apa yang dipilihkan Allah untuknya adalah baik.

Ini sesuai dengan hadist Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim, 2999 )

          Kesebelas : Sebagian ulama meringkas hadist di atas dengan beberapa kata pepatah, diantaranya :

لا تعجز عن مأمور ولا تجزع من مقدور

          “Janganlah engkau lemah terhadap hal-hal yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah panik dengan hal-hal yang ditaqdirkan atasmu. “

          Hal itu karena kita tidak pernah diperintahkan Allah mengerjakan sesuatu kecuali menurut kemampuan kita, dan Allah mentaqdirkan sesuatu yang kita tidak bisa merubahnya.

          Sebagian mereka juga berkata :

الأمر أمران : أمر فيه حيلة فلا تعجز عنه وأمر لا حيلة فيه فلا تجزع منه

          Di dalam hidup manusia, hanya ada dua hal : (1) Sesuatu yang bisa diusahakan, maka engkau jangan menjadi lemah di dalam menghadapinya, dan (2) sesuatu yang tidak bisa diusahakan, maka engkau jangan panik di dalam menghadapinya. 

Keduabelas : Berkata Ibnu Qayyim di dalam Madariku as-Salikin (1/218) :

دَفْعُ القدَر بالقدَر نوعان: أحدهما: دفْعُ القدر الذي قد انعقدتْ أسبابه - ولما يقعْ - بأسبابٍ أخرى مِن القدر تُقابله، فيمتنع وقوعه، كدفع العدو بقتاله، ودفع الحر والبرد ونحوه.الثاني: دفع القدر الذي قد وقع واستقر بقدرٍ آخر يرفعه ويزيله، كدفع قدر المرض بقدر التداوي، ودفع قدر الذنب بقدر التوبة، ودفع قدر الإساءة بقدر الإحسان.

          “ Merubah taqdir dengan taqdir ada dua cara : (1) Yang pertama : Merubah taqdir yang sebab-sebabnya sudah nyata, dengan melakukan sebab-sebab lain yang berlawanan, sehingga bisa menghalangi terjadinya taqdir tersebut, seperti menahan musuh dengan cara melawannya, menahan dingin atau panas dengan sesuatu yang bisa mencegahnya. (2) Yang kedua : Merubah taqdir yang sudah terjadi dan tetap dengan taqdir lain yang bisa mengangkat dan menghilangkannya, seperti merubah taqdir sakit dengan taqdir berobat, merubah taqdir dosa dengan taqdir taubat, merubah taqdir kejahatan dengan taqdir kebaikan. “

Ketigabelas : Hadist di atas sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim di dalam Syifa’ al-‘Alil (18-19), menetapkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu adanya usaha dari manusia (al-Ikhtiyar wa al-Kasbu ) dan menetapkan keimanan kepada taqdir Allah, yang baik maupun yang buruk. Serta bagaimana dia tetap beribadah kepada Allah lahir dan batin dalam menyikapi suatu masalah, baik yang terjadi sesuai dengan keinginannya ataupun yang tidak sesuai dengan keinginannya. Wallahu A’lam

 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA      

Pondok Gede,  26 Shofar 1437 H / 8 Desember 2015 M