Karya Tulis
143 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.2: 75-79) Bab 52 - Penyelewengan Taurat


Penyelewengan Taurat

 

أَفَتَطۡمَعُونَ أَن يُؤۡمِنُواْ لَكُمۡ وَقَدۡ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَسۡمَعُونَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ مِنۢ بَعۡدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ۞ وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ قَالُوْٓا اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاۤجُّوْكُمْ بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ۞ اَوَلَا يَعْلَمُوْنَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ ۞ وَمِنْهُمْ اُمِّيُّوْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ الْكِتٰبَ اِلَّآ اَمَانِيَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ ۞ فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗفَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ۞ 

 

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?  Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, “Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti? Dan tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga. Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.”

(Qs. al-Baqarah: 75-79)

 

 

(1) Mendengar Isi Taurat

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak sedih dengan orang-orang yang menistakannnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada para sahabat terutama kaum Anshar yang ingin agar orang-orang Yahudi yang dulu pada zaman jahiliyah sebagai patner mereka, bisa masuk Islam mengikuti jejak mereka (orang-orang Anshar).

Firman-Nya أَفَتَطۡمَعُونَ  dari tamak yang berarti sangat menginginkan. Dari sini diketahui bahwa tamak ada dua: tamak dalam kejelekan, seperti tamak dengan harta, tamak dengan makanan, tamak dengan jabatan. Ada juga tamak dalam kebaikan, seperti tamak agar orang lain mendapatkan hidayah, tamak dalam menuntut ilmu. Firman-Nya,

وَقَدۡ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَسۡمَعُونَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ

“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah.” (Qs. al-Baqarah: 75)

Sebagian dari mereka ini maksudnya adalah tujuh puluh orang yang dipilih Nabi Musa untuk menemaninya ke Gunung Thursina, mereka mendengar Kitab Taurat yang dibacakan Nabi Musa kepada mereka. Sebagaimana Firman Allah,

وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُون 

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Qs. at-Taubah: 6)

Pada ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mendengar firman Allah yang dibacakan Nabi Muhammad kepada mereka. Sebagian ulama mengatakan bahwa tujuh puluh orang tersebut mendengar langsung Allah berfirman. Tetapi pendapatnya lemah, karena hal ini akan menghilangkan kekhususan yang dimiliki Nabi Musa sebagai “Kalimullah” satu-satunya orang yang di ajak langsung berbicara dengan Allah dan mendengar langsung Allah berfirman. Sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi secara umum, termasuk yang hidup pada zaman Nabi. Di mana mereka mendengar firman Allah dan membacanya.

ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ مِنۢ بَعۡدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Qs. al-Baqqarah: 75)

Kemudian mereka mengubah isi Taurat tersebut di antaranya:

(a) Mengubah atau menghapus isi Taurat yang berisi tentang kenabian Muhammad.

(b) Mengubah yang halal menjadi haram dan mengubah yang haram menjadi halal. Mereka mengubah sebagian isi Taurat itu setelah mereka mempelajarinya dan memahaminya

 (مِنۢ بَعۡدِ مَا عَقَلُوهُ) Mereka melantunkan itu dengan sengaja dan dalam keadaan mereka mengetahui hakikat kebenaran (وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ)

 

(2) Kepura-puraan Ahlul Kitab

Firman-Nya,

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ قَالُوٓاْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمۡ لِيُحَآجُّوكُم بِهِۦ عِندَ رَبِّكُمۡۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?""  (Qs. al-Baqarah: 76)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sebagian orang Yahudi pura-pura masuk Islam. Jika bertemu dengan orang-orang beriman mereka mengatakan kami beriman seperti kalian, tetapi ketika mereka bergabung dengan teman-temannya sesama Yahudi, para pembesar Yahudi mengatakan kepada orang yang bertemu dengan orang beriman tadi, “Mengapa kalian mengatakan kepada orang-orang beriman tentang kebenaran Nabi Muhammad?” Karena hal itu akan menjadi alasan mereka untuk mendebat kalian pada hari kiamat di sisi Tuhan kalian. Apakah kalian tidak mengerti?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa kalimat “Apakah kalian tidak berpikir?” ditujukan untuk orang-orang beriman yang sangat menginginkan orang-orang Yahudi masuk Islam. Padahal karakter mereka seperti yang sudah dijelaskan di atas. Firman Allah,

أَوَلَا يَعۡلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَ 

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?” (Qs. al-Baqarah: 77)

Ayat di atas masih ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang berpura-pura masuk islam ketika di depan orang-orang beriman, tetapi kalau sudah bertemu sesama mereka, mereka kembali ke agama Yahudi lagi.

Maksudnya bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan di dalam hati mereka bahwa kalian telah menghakimi kenabian Muhammad, dan Allah juga mengetahui apa yang kalian pura-pura tampakkan bahwa kalian beriman kepada Nabi Muhammad. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman,

وَمِنۡهُمۡ أُمِّيُّونَ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّآ أَمَانِيَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (Qs. al-Baqarah: 78)

Ayat di atas menunjukkan bahwa sebagian dari orang-orang Yahudi, terdapat orang-orang “Umiyyun”. Umiyyun adalah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis (buta huruf). Mereka tidak mempelajari Kitab Taurat dan tidak mengetahui isinya. Mereka hanya bisa berangan-angan saja, berangan-angan masuk Surga, padahal mereka tidak mengamalkan Taurat.

Sebagian ulama menafsirkan  (الْأَمَانِىٌ) dengan tilawah atau membaca sehingga diartikan bahwa sebagian dari kalangan Yahudi terdapat orang-orang yang tidak mengetahui Taurat, kecuali hanya bacaan tanpa pemahaman. Mereka hanya bisa membaca Taurat tapi tidak memahami isinya. Mereka hanya bisa mengira-ngira isinya.

Inilah kelompok Yahudi yang taqlid buta kepada para pendeta mereka. Apapun yang dikatakan pendeta mereka ikuti, walaupun pendeta mengubah isi Taurat, yang halal dirubah menjadi haram dan sebaliknya. Termasuk menyembunyikan kebenaran tentang kedatangan Nabi Muhammad, mereka juga mengikutinya. Ini sudah dijelaskan dalam firman Allah,

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. at-Taubah: 31)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sebagian Ahlul Kitab terdapat orang-orang yang menjadikan pendeta dan pemuka agama mereka sebagai sesembahan selain Allah.

Adi bin Hatim, seorang sahabat mantan Ahlul Kitab menanyakan hal itu kepada Rasulullah, maka Rasulullah menjawab bahwa maksudnya mereka taqlid buta kepada para pendeta, jika mereka mengharamkan yang halal, diikutinya. Begitu juga, jika mereka menghalalkan yang haram, diikuti juga. Dan itulah bentuk penyembahan kepada para pendeta.

Ayat 78 dari surat al-Baqarah di atas menjelaskan kelompok pertama dari Ahlul Kitab. Kemudian pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan kelompok kedua dari Ahlul Kitab. Allah berfirman,

فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. al-Baqarah: 79)

Kelompok kedua dari Ahlul Kitab adalah para pendeta dan tokoh agama yang mengubah Taurat sesuai dengan hawa nafsu mereka. Allah mengecam mereka dengan kata “Wail” yang artinya celaka, atau suatu lembah di neraka Jahannam, mereka akan masuk ke dalamnya.

Celaka bagi yang menulis Taurat (dengan tangan mereka sendiri) yaitu mengada-ada sendiri, memasukkan sesuatu yang bukan wahyu ke dalam Taurat. Kejahatan ini lebih dahsyat dari kejahatan dari menafsirkan isi Taurat dengan hawa nafsu mereka, karena langsung menulis dengan tangan. Kemudian mereka mengatakan bahwa yang mereka tulis itu berasal dari Allah, padahal bukan wahyu dari Allah. Tujuan mereka berbohong seperti itu dan menyelewengkan isi Taurat adalah mencari kesenangan dunia berupa harta yang sedikit.

Kemudian Allah mengulangi kata “Wail” (Celaka) tiga kali dalam ayat ini untuk menunjukkan betapa besar dosa yang dilakukan para pendeta dan pemuka agama yang menjadikan agama sebagai batu loncatan untuk meraih kesenangan dunia dengan cara mengubah isi Taurat.

 

***

Jakarta, Rabu , 4 Januari 2022

KARYA TULIS