Karya Tulis
2464 Hits

Tips Ke- 7: Memilih Kegiatan yang Bermanfaat Bagi Orang Banyak

Ajaran Islam diturunkan untuk membawa kemaslahatan dan manfaat bagi manusia. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim hendaknya selalu memilih kegiatan dan amalan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang banyak. Para ulama telah menyinggung permasalahan ini secara tegas dan gamblang. Mereka menyatakan bahwa amalan yang bermanfaat bagi orang banyak jauh lebih utama dibanding amalan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Diantara fatwa ulama yang menjelaskan masalah ini  adalah fatwa yang menyebutkan bahwa at-Tafaqquh fi ad-Dien (mendalami ilmu agama) dan belajar agama jauh lebih utama dibanding dengan sholat malam atau puasa sunnah, karena manfaat ilmu bisa dirasakan oleh orang lain, sedang sholat malam dan puasa sunnah manfaatnya hanya terbatas pada pribadi.

Alasan lain bahwa ilmu adalah pemimpin amalan, karena dengan ilmu amalan bisa diluruskan, lain halnya orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia akan terus menerus tenggelam dalam ibadah yang salah dan otomatis amalnya tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala..[1]

Banyak ayat dan hadist yang menyatakan ada sebagian amal perbuatan yang bermanfaat bagi orang banyak dan pahalanya juga mengalir sampai hari kiamat, meskipun pemiliknya sudah meninggal dunia. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Qs. Yasin: 12)

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya : “ Dari Sa’id bin Jubair tentang firman Allah di atas, maksudnya apa yang mereka kerjakan dari suatu kebiasaan, yang kemudian diikuti orang-orang sesudah mereka mati, jika itu suatu kebaikan,  maka mereka mendapatkan pahala sama dengan orang yang mengamalkan kebaikan tersebut, tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun. Sebaliknya, jika itu suatu kejelekan, maka mereka akan mendapatkan dosa sama dengan orang yang mengamalkannya, tanpa dikurangi dosanya sedikitpun.”  

            Hadist Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu bahwa  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :   

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang memulai untuk memberi contoh kebaikan (dalam Islam) maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu sampai hari Kiamat” (HR. Muslim)

Bahkan al-Mutanabi, seorang penyair yang sangat terkenal, menyebutkan bahwa jasa-jasa orang yang sudah meninggal adalah umur keduanya, yang kemudian diungkapkan kembali oleh Ahmad Syuqi dalam salah satu syairnya:

دَقَاتُ قَلْبِ الْمَرْءِ قَائِلَةً لَهُ إِنَّ الْحَيَاةَ دَقَائِقُ وَثَوَانِ

فَارْفَعْ لِنَفْسِكَ بَعْدَ مَوْتِكَ ذِكْرَهَا فَالذِّكْرُ لِلْإِنْسَانِ عُمْرُ ثَانٍ

“Ketukan-ketukan hati seseorang mengatakan kepadanya : “ Sesungguhnya hidup ini hanyalah terdiri dari menit-menit dan detik-detik.”

 

“Maka, angkatlah nama dirimu (dengan amal perbuatan) setelah kematianmu, karena terangkatnya nama merupakan umur kedua bagi manusia.”  

 

Salah satu amalan yang bisa bermanfaat bagi orang banyak, bahkan bagi generasi sesudahnya adalah mengajarkan ilmu, baik secara lisan maupun dengan tulisan. Dalam hal ini para ulama terdahulu telah menunjukkan semangat dan kesungguhannya yang patut dicontoh oleh para generasi sesudahnya.

Al-Khatib al-Baghdadi pernah berkata: ” Saya mendengar al-Simsi bercerita Ibnu Jarir at-Thobari, selama 40 tahun menulis dalam setiap hari 40 lembar tulisan”.

Bahkan salah seorang murid Ibnu Jarir yang bernama al-Farghani  mengatakan bahwa para murid Ibnu Jarir telah mendata kehidupan beliau sejak baligh hingga meninggal dunia pada umur 86 tahun. Kemudian, mereka mengumpulkan seluruh karya-karya beliau dan membandingkannya dengan umur beliau. Ternyata didapatkan bahwa beliau menulis setiap hari sebanyak 14 lembar tulisan.

 Dan ini tidak akan mampu dilakukan oleh seseorang kecuali atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika dihitung-hitung lembaran karya yang telah beliau tulis, maka didapatkan jumlahnya sekitar 358.000 lembar.

Diriwayatkan juga bahwa  Abu al-Wafa’ bin Uqail al-Hanbali adalah seorang ulama dari madzhab Hanbali yang sangat ketat di dalam menjaga waktunya. Jika mulut, lidah dan matanya telah lelah karena banyak membaca, ia terdiam, merenung dan merancang apa dirasa perlu untuk ditulis. Kemudian, ia tidak duduk atau berbaring, kecuali telah menghasilkan banyak hal-hal yang bisa dicatat dalam buku. Beliau juga memilih makanan yang paling praktis dan cepat untuk dimakan, untuk kemudian sisa waktunya digunakan membaca dan menulis.

 Imam Ibnu Uqail ini seorang ulama yang selalu sibuk dengan ilmu, beliau mempunyai banyak karangan dan yang paling besar adalah buku ”al-Funun” yang mencakup berbagai disiplin keilmuan seperti tafsir, fiqh, ushul fiqh, aqidah, nahwu, adab dan sejarah.

Imam ad-Dzahabi pernah menyatakan bahwa: ” Belum ada buku di dunia ini yang lebih tebal dari buku “al Funun” Konon, buku ini mencapai 800 jilid. [2]

Selain buku, pada zaman sekarang terdapat sarana-sarana untuk menyebarkan ilmu agar tidak berlalu dan hilang begitu saja, umpamanya dengan mereklam ceramah atau kajian ilmiyah  dengan handycam dan sejenisnya, kemudian di upload di internet, sehingga manfaatnya lebih luas, tidak terbatas pada para pendengar yang hadir di tempat, tetapi juga orang-orang yang tidak bisa hadir karena suatu udzur, bahkan tidak terbatas yang tinggal di dalam negeri saja, tetapi yang di tinggal di luar negeripun bisa mendengar dan menyaksikan ceramah yang direkam tersebut.

Selain ilmu, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadist diatas, mempunyai anak yang banyakpun merupakan amalan prioritas yang harus diperhatikan seorang muslim, karena dengan adanya anak, pahala orang tua akan mengalir terus, selama anak tersebut beramal sholeh. Karena anak merupakan salah satu hasil keringatnya orang tua, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasululullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَطْيَبُ مَا أَكَلَ الرُجُلُ مِن كَسبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَه مِن كَسبِه

“ Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan seorang laki-laki adalah dari hasil usahanya, dan sesungguhnya anak adalah termasuk dari hasil usahanya. “ ( HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad, berkata Tirmidzi  : Hadist ini Hasan Shahih )

 


[1]. An-Nawawy, Majmu’ Syar al-Muhadzab, (Beirut: Dar al-Fikr), Cet: I, Juz: I, hlm: 40.

[2]. Sayid Husain al-Affani, Imarat Auqat bi amal as-Sholihat, (Kairo; Dar Affani) hlm: 35, 39