Karya Tulis
1117 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (3) Dzikir dan Mengingat Allah

Berdzikir kepada Allah bisa memperkuat hafalan seseorang, baik berdzikir secara mutlak kapan dan dimana saja, atau berdzikir secara muqoyyad (yaitu berdzikir dengan dzikir tertentu pada waktu tertentu). Ini sesuai dengan firman Allah  :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

"Dan, ingatlah Robb-mu apabila kamu lupa." (QS. al-Kahfi : 24)

Ayat di atas menunjukkan bahwa jika kita lupa dengan sesuatu, termasuk lupa mengingat pelajaran, maka Allah memerintahkan kita untuk segera berdzikir dan menyebut nama-Nya, mudah-mudahan dengan dzikir tersebut ingatan kita akan muncul lagi.

Berkata Syekh Syenkithi di dalam Adhwau al-Bayan ( 4/61-62 )  :

القول الثاني : أن الآية لا تعلق لها بما قبلها ، وأن المعنى : إذا وقع منك النسيان لشيء فاذكر الله ؛ لأن النسيان من الشيطان ....ذكر الله تعالى يطرد الشيطان ....فإذا ذهب الشيطان ذهب النسيان

“ Pendapat Kedua : Bahwa ayat di atas tidak ada hubungannya dengan sebelumnya, adapun maknanya adalah : “ Jika anda lupa sesuatu maka berdzikirlah (mengingat Allah), karena lupa itu berasal dari syetan.. . dengan berdzikir maka syetan akan pergi...jika syetan pergi maka lupa-pun akan pergi. “ ( lihat juga al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an : 10/386, Ibnu al-Jauzi di dalam Zadu al-Masir : 5/128 )

Bagaimana kalau lupa, kemudian mengucapkan sholawat ? Apakah ada dalilnya ? Karena hal seperti ini dilakukan oleh masyarakat umum, terutama di negara-negara Arab. Penulis teringat semasa belajar di Mesir, seringkali mendengar seseorang mengucapkan sholawat kepada nabi ketika lupa terhadap sesuatu, bahkan hal itu juga dilakukan oleh dosen-dosen al-Azhar bahkan oleh sebagian ulama dan masyayikh.

Jawabannya bahwa perintah mengucapkan shalawat kepada nabi ketika lupa terdapat hadist dhoif yang menunjukkan hal tersebut. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu al-Qoyyim di dalam Jala’ al-Afham fi ash-Sholat wa as-Salam ‘ala Khairi al-Anam, hlm : 264, Keadaan Ke-31 : (Ketika Lupa Sesuatu Dan Ingin Mengingatnya).

Adapun teks hadistnya adalah dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا نسيتم شيئا فصلوا عليّ تذكروه إن شاء الله

“ Jika kalian lupa terhadap sesuatu, maka bersholawatlah kepadaku, maka kalian akan ingat insya Allah. “

Imam as-Sakhawi  dalam al-Qaul al-Badi’fi ash-Sholati ‘ala al-Habib asy-Syafi’: 227 mendhoifkan hadist di atas, karena di dalam sanadnya terdapat Ubaidillah bin Abdullah al-Ataki dan Sa’dan bin Abdan al-Qadahi, keduanya dhoif.  

Kalau seorang hamba selalu berdzikir dan mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya juga, sebagaimana firman-Nya,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian berbuat kufur.” (QS. al-Baqarah : 152).

          Berdzikir dan mengingat Allah bisa menguatkan hafalan dari tiga sisi ( lihat Badr bin ‘Ali al-‘Utaibi dalam ‘Asyru Washaya Liquwwati al-Hifdh wa ‘Ilaji an-Nisyan, hlm : 13-17 ) :

          Sisi Pertama : Kedekatan hubungan hamba dengan Allah.

Semakin dekat hubungan seorang hamba dengan Allah, maka semakin kuat imannya, dan Allah akan melindunginya dari godaan syetan, karena syetan penyebab utama seseorang menjadi lupa, sebagaimana firman-Nya :

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." (Qs. al-Kahfi: 63)

          Ini dikuatkan dengan firman-Nya :

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

“ Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: “ Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syetan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Qs.Yusuf: 42)

 Juga dikuatkan dalam firman-Nya :

 اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.”(Qs. al-Mujadilah: 19)

 Juga dikuatkan dalam firman-Nya :

 وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Qs. az-Zukhruf : 43)

          Sisi Kedua : Dzikir dan mengingat Allah adalah penyebab utama hati seorang hamba menjadi tenang dan bahagia. Ini sesuai dengan firman-Nya :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

 "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (Qs. ar-Ra’du: 28)

          Hati yang tenang dan tentram sangat berpengaruh di dalam proses menghafal, karena jika seseorang tidak  bisa  konsentrasi dan fokus, maka akan susah menghafal sesuatu.  Dan ini sudah terbukti di dalam kehidupan sehari hari, bagaimana para santri di Pesantren Tahfidh al-Qur’an kesulitan di dalam menghafal al-Qur’an, padahal mereka sebenarnya cerdas dan pintar. Setelah diteliti ternyata hati mereka tidak tenang dan tentram, sehingga mereka tidak bisa fokus dan konsentrasi di dalam menghafal, sehingga mereka tidak bisa memenuhi target hafalan yang telah ditentukan. Itu semua akibat mereka jarang mengingat Allah dan berdzikir dengan dzikir yang sesungguhnya, yaitu dzikir yang menyebabkan hati tenang dan tentram.

Sisi Ketiga : Mengingat Allah dan berdizkir membantu seorang hamba memperoleh kekuatan fisik dan kekuatan hati yang diperlukan seorang penghafal al-Qur’an dan penuntut ilmu. Ini sesuai dengan firman-Nya :

          فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًاوَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

”Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ” ( Qs. Nuh : 10-12 )

          Ini dikuatkan dengan hadist Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu:

          أَنَّ فَاطِمَةَ  شَكَتْ مَا تَلْقَى فِي يَدِهَا مِنْ الرَّحَى فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا فَلَمْ تَجِدْهُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ فَلَمَّا جَاءَ أَخْبَرَتْهُ قَالَ فَجَاءَنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا فَذَهَبْتُ أَقُومُ فَقَالَ مَكَانَك فَجَلَسَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي فَقَالَ أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Fathimah mengeluhkan bekas yang ada di tangannya karena pengaruh alat penggiling. Maka, beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta pembantu, tetapi beliau tidak bertemu dengan beliau. Lalu beliau menceritakan hal itu kepada Aisyah. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan bahwa bertasbih 34 kali, dan dalam riwayat lain juga disebutkan bertakbir 34 kali.

          Sejak itu Ali bin Thalib radhiyallahu 'anhu tidak pernah meninggalkan nasehat itu, dan tidak pernah mengeluhkan pekerjaannya, maka beliau menjadi orang yang kuat fisiknya dan kuat ilmunya sekaligus.

          Berkata Ibnu Qoyyim di dalam kitab al-Wabil ash-Shoyyib (63) : “ Suatu ketika aku bersama Syekh Islam Ibnu Taimiyah pada sholat Fajr ( Subuh ) kemudian setelah itu beliau duduk berdzikir sampai hampir siang hari, kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata : “Ini adalah waktu pagiku, dan waktu makanku. Jika aku tidak melakukannya, maka akan hilang kekuatanku.”

          Ibnu Qoyyim berkata di dalam kitab yang sama ( 106 ) : “Dan saya pernah menyaksikan bagaimana kekuatan Syekh Islam Ibnu Taimiyah di dalam perilakunya, perkataannya, keberaniannya, dan dalam tulisan-tulisannya sesuatu yang luar biasa. Kadang beliau bisa menulis dalam satu hari untuk mengarang buku, sebanyak apa yang ditulis oleh juru tulis yang menyalin buku dalam satu pekan, bahkan bisa lebih banyak. Bahkan para tentarapun telah menyaksikan bagaimana kekuatannya beliau ketika sedang berperang. “ 

          Ini sesuai dengan firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu sekelompok pasukan musuh, maka tetap teguhlah kalian, dan banyaklah berdzikir kepada Allah, supaya kalian menang” (Qs. al-Anfal: 45)