Karya Tulis
1783 Hits

Tangga-Tangga Kesuksesan Belajar: (11) Menulis Ilmu

Seorang penuntut ilmu hendaknya menulis ilmu yang dia dapatkan, baik melalui guru yang mengajarnya, atau melalui tadabbur al-Qur’an, atau bacaan dari sebuah buku, atau melalui cara lain, seperti mendapatkan inspirasi dari perjalanan atau ketika melihat dan merenungi alam semesta dan lain-lainnya. Hal itu supaya apa yang ia dapatkan tidak hilang begitu saja, tetapi bisa diabadikan di dalam sebuah buku yang bisa dibaca dan diwariskan kepada generasi sesudahnya.

Banyak dalil yang memerintahkan dan menganjurkan kita untuk menulis sesuatu yang bermanfaat dalam hidup kita, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Allah telah memerintahkan para hamba-Nya untuk menulis utang-piutang, sebagaimana firman-Nya :

وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا

“ Dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.“ ( Qs. al-Baqarah : 282 )

          Pada ayat di atas, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menulis utang – piutang dengan tujuan agar terjaganya hak-hak mereka dan agar mereka tidak ragu-ragu lagi dalam memutuskan suatu perkara, dan hal itu bisa menjadi bukti dan menguatkan persaksian. Jika hal-hal tersebut diperintahkan oleh Allah, maka tentunya menulis ilmu-ilmu yang kita dapatkan lebih diperintahkan lagi, karena menghafal dan menjaga ilmu lebih susah dibanding menjaga suatu hak atau menjaga benda mati. 

          Kedua : Allah bersumpah dengan pena yang merupakan alat untuk menulis. Ini menunjukkan betapa pentingnya menulis  dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama di dalam menjaga ilmu. Allah berfirman :

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“ Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” ( Qs. al-Qalam : 1 )

 Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 8/187 ) :

(والقلم ) الظاهر أنه جنس القلم الذي يكتب به كقوله ( اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ) فهو قسم منه تعالى، وتنبيه لخلقه على ما أنعم به عليهم من تعليم الكتابة التي بها تنال العلوم

“(al-Qalam) Yang nampak bahwa maksud al-qalam di sini adalah jenis pena yang biasa digunakan untuk menulis, sebagaimana firman Allah (Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya) Qs. al-‘Alaq : 3-5 ) Ini merupakan sumpah dari Allah Ta’ala untuk mengingatkan makhluq-Nya  terhadap nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka dengan mengajarkan cara menulis yang dengannya mereka akan mendapatkan ilmu-ilmu “

 Ketiga : Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 قيدوا العلم بالكتاب

“ Ikatlah ilmu itu dengan tulisan “ ( Hadist ini disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad dan Taqyiid al-Ilmi, Ibnu Abdi al-Barr dalam Jami’ al-Bayan, Abu Nu’aim dalam Tarikh Ashfahan dan dalam Musnad asy-Syihab, dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah ash-Shahihah : 2026 )

 Keempat : Hadist Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata :

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَىْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِى قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَىْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِى الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ « اكْتُبْ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ »

“Aku biasa menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah karena aku ingin menghafalnya. Maka orang-orang Quraisy melarangku dengan mengatakan, “Apakah engkau engkau tulis segala sesuatu yang engkau dengar ? padahal Rasulullah itu manusia biasa, kadang bicara dalam keadaan marah dan ridha.” Aku pun berhenti menulis apa yang kudengar. Lalu kuceritakan hal itu kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan jari beliau ke mulut beliau seraya berkata : “Tulislah. Demi yang diriku berada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari lisanku kecuali kebenaran.” (HR. Abu Daud, 3646, ad-Darimi, 484, Ahmad, 6510, Shahih al-Jami’, 1196, ash- Shahihah, 1532)

 Hadist di atas menjelaskan secara tegas bahwa Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu 'anhu ingin menulis apa yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan untuk dihafal. Sehingga bisa disimpulkan bahwa menulis adalah salah satu sarana yang efektif untuk menghafal suatu ilmu.

Kelima : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  sendiri telah mengangkat beberapa juru tulis dari para sahabatnya untuk menulis wahyu yang diturunkan kepadanya, diantara mereka adalah ; al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang empat ( Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ), Abban bin Sa’id bin al-‘Ash, Ubay bin Ka’ab,  Zaid bin Tsabit, Muadz bin Jabal, Arqam bin Abi al-Arqam, Muawiyah bin Sufyan, Muhammad bin Maslamah, Mughirah bin Syu’bah, Tsabit bin Qais, Handhalah bin ar-Rabi’, Khalid bin Sa’id bin al Ash, az-Zubair bin al-‘Awwam, radhiyallahu 'anhum.

Keenam : Imam asy-Syafi’i menulis di dalam salah satu syairnya :

العِلمُ صَيدٌ والكِتابةُ قَيدُهُ           قَيِّدْ صيودكَ بالحِبالِ الواثِقَة

فَمِن الحَماقَةِ أَنْ تَصيدَ غَزالَةً    وتَترُكها بَينَ الخَلائقِ طالِقةَ

“ Ilmu itu bagaikan binatang buruan, dan tulisan adalah tali untuk mengikatnya...maka ikatlah binatang buruanmu dengan tali yang kuat.

Dan merupakan kebodohan jika anda sudah mendapatkan  kijang sebagai binatang buruan kemudian anda membiarkannya bebas lari diantara makhluq-makhluq lainnya. “ 

Ketujuh : Imam asy-Sya’bi pernah berkata :

إذا سمعت شيئا فأكتبه ولو في الحائط

“ Jika aku mendengar sesuatu, maka aku tulis walaupun di tembok “

 Kedelapan : Berkata Said bin Jubair seorang ulama tabi’in :

ربما أتيت ابن عباس فكتبت في صحيفتي حتى أملأها ، كتبت في نعلي حتى أملأها ، و كتبت في كفِّي .و قد قيل : يا أبا عبد الله ، أنت قد بلغت هذا المبلغ، وأنت إمام المسلمين، حتى متى مع المحبرة ؟ فقال: مع المحبرة إلى المقبرة

“ Kadang-kadang saya datang kepada Ibnu Abbas, dari sana aku bisa menulis darinya dalam buku catatan saya sampai penuh, dan saya juga bisa menulis di sandal saya sampai penuh, dan saya juga bisa menulis di telapak tangan saya sampai penuh. “ Ketika beliau ditanya : “ Wahai Abu Abdillah, anda sudah sampai derajat seperti ini, dan anda sudah menjadi imam kaum muslimin ( dalam ilmu ), sampai kapan berhenti dari menulis ? Beliaupun menjawab : “ Menulis sampai masuk kuburan “. 

Kesembilan : Berkata Ahmad bin ‘Uqbah : “ Saya bertanya kepada Yahya bin Ma’in, berapa banyak anda menulis hadits ? Beliau berkata : “ Saya telah menulis dengan tanganku ini 600.000 hadits . “

Berkata ar-Rabi’ : Suatu ketika Imam asy Syafi’i menemui kita, pada waktu itu kita sedang berkumpul, kemudian beliau berkata kepada kita : “ Ketahuilah – mudah-mudahan Allah selalu menyayangi kalian – bahwa ilmu ini bisa kabur sebagaimana unta yang kabur. Maka jadikan tulisan sebagai benteng dan pena sebagai penjaga . “

Berkata ‘Ammar bin Raja : Saya pernah mendengar Ubaid bin Ya’isy berkata : Saya tinggal selama 30 tahun tidak pernah makan malam dengan tanganku, karena saudariku perempuan menyuapiku, sedang saya sibuk menulis. “

Berkata Ahmad bin Adi bahwa Ismail bin Zaid al-Jurjani pernah menulis dalam satu malam 70 lembar dengan tulisan kecil-kecil.

Muhammad bin Jarir selama 40 tahun menulis setiap harinya 40 lembar.

Kesepuluh : Berkata al-Khalil bin Ahmad :

ما سمعت شيئًا إلا كتبته ، ولا كتبت شيئا إلا حفظته ، ولا حفظت شيئا إلا انتفعت به

“ Tidaklah aku mendengar sesuatu kecuali aku tulis, dan tidaklah aku menulis kecuali aku hafal, dan tidaklah sesuatu yang aku hafal kecuali aku mengambil manfaat darinya. “

Kesebelas : Berkata Imam an-Nawawi :

ولا يحتقرن فائدة يراها أو يسمعها في أيِّ فنٍّ كانت، بل يُبادِر إلى كتابتها، ثم يواظب على مطالعة ما كتبه

 “ Janganlah seorang penuntut ilmu meremehkan suatu pelajaran yang dia lihat atau dengar dari disiplin ilmu manapun, tetapi hendaknya dia segera menulisnya, kemudian membaca apa yang sudah dia tulis secara berkesinambungan. “

 Beliau juga pernah berkata :

 ولا يؤخِّر تحصيل فائدة –وإن قَلَّت- إذا تمكَّن منها، وإنْ أمِنَ حصولها بعد ساعة، لأن للتأخيرِ آفاتٌ، ولأنه في الزمن الثاني يُحَصِّل غيرَها

 “ Janganlah dia mengundur-undur untuk mencari pelajaran walaupun hanya sedikit, jika hal itu memungkinkan, walaupun itu bisa dilakukan setelah satu jam lagi, karena mengakhirkan sesuatu adalah suatu penyakit, dan juga karena waktu setelah itu bisa dipergunakan untuk yang lain. “ 

 Keduabelas : Betapa banyak ulama yang menyesal ketika mereka tidak segera menulis pelajaran yang mereka dapatkan sehingga hilang lagi, atau mereka hanya mengandalkan hafalan kemudian menjadi lupa. Salah satunya adalah al-Hafidh Ibnu Hajar al-Atsqalani sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh muridnya as-Sakhawi di dalam al-Jawahir wa ad-Durar :

 أما التفسير، فكان فيه آيةٌ من آيات الله تعالى، بحيث كان يُظْهِر التأسُّفَ في إهمال تقييد ما يقع له من ذلك مما لا يكون منقولاً... وفي أواخر الأمر صار بعض طلبته يعتني بكتابة ذلك

 “ Adapun dalam masalah tafsir, beliau termasuk salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, karena beliau mengungkapkan rasa penyesalannya ketika tidak mencatat suatu pelajaran yang belum pernah diriwayatkan, sehingga pada pada akhirnya, sebagian murid-muridnya sangat antusias dalam mencatat setiap pelajaran yang mereka dapatkan. “

           Makanya, para ulama tidak menyia-nyiakan waktu mereka untuk menulis pelajaran apa saja yang mereka dapatkan selama belajar, bahkan ketika mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Di bawah ini beberapa contoh dari kesungguhan tersebut :

(1) Diriwayatkan bahwa Imam al-Bukhari bangun berkali-kali dalam satu malam, hanya untuk menulis ide-ide yang terdetik pada waktu itu. Berkata al-Farabiri :

 كنت مع محمد بن إسماعيل بمنزله ذات ليلةٍ، فأحصيت عليه أنه قام وأسْرَجَ يستذكر أشياءَ يُعلِّقها في ليلةٍ ثمان عشرة مرَّة

“ Suatu ketika akau bersama Muhammad bin Ismail al-Bukhari di rumahnya pada malam hari, saya hitung bahwa beliau bangun dan menyalakan lampu untuk menulis sesuatu yang beliau ingat pada satu malam sampai 18 kali bangun  “

 (2) Hal ini juga pernah dilakukan oleh Imam asy-Syafi’i, sebagaimana pernah diungkapkan oleh temannya al-Humaidi ketika mereka berdua ketemu di Mesir. Suatu malam beliau sedang keluar dan melihat lampu rumah Imam asy-Syafi’i masih menyala, maka beliau mendatanginya dan ketika masuk ke dalam, dia mendapatkan kertas dan alat tulis, maka beliau bertanya : ” Ini apa wahai Abu Abdullah ? “  Maka beliau menjawab :

 تفكّرت في معنى حديث -أو في مسألة- فخِفْت أن يذهب عَلَيَّ، فأمرت بالمصباح وكتبته

  “ Saya merenungi arti sebuah hadits atau dalam suatu masalah ilmiyah, saya khawatir akan hilang dari benak saya, maka saya menyalakan lampu dan menuliskannya dalam kertas. “

 (3)  Ibnu al-Abbar menyebutkan bahwa seorang ulama yang bernama Abu al-Qasim bin Ward at-Taimi ( 540 H ), beliau tidaklah disodorkan kepadanya suatu buku, kecuali beliau melihatnya di bagian atas dan bawah, jika mendapatkan suatu pelajaran dari buku tersebut, beliau catat di dalam catatan kecil yang beliau selalu bawa, sampai-sampai beliau mampu mengumpulkan satu tema dari catatam-catatan tersebut.

 (4) Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam az-Zarkasyi ( 794 H ) pengarang kitab al-Bahru al-Muhith dalam ilmu Ushul Fiqh, kebiasaan beliau sering pergi ke toko-toko buku. Jika sudah sampai di tempat tersebut beliau membaca buku-buku yang tersebut sepanjang hari, beliau selalu menulis pelajaran-pelajaran yang beliau dapat selama membaca dalam daftar kecil yang selalu beliau bawa. Kemudian ketika beliau pulang catatan-catan tersebut beliau pindah ke dalam buku-buku yang beliau sedang susun.

 (5) Diantara karya-karya ulama yang berisi tentang kumpulan pelajaran yang berserakan yang mereka dengar saat pelajaran atau sedang melakukan aktivitas apapun, kemudian mereka tulis dalam sebuah buku adalah sebagai berikut :

  1. Al-Funun, karya Ibnu ‘Uqail
  2. Al-Fawaid al-‘Uniyah, karya Wazir Ibnu Habirah
  3. Shaidul al-Khathir, karya Ibnu al-Jauzi
  4. Qaidu al-Awabid 400 jilid, karya ad-Da’uli
  5.  ‘Uyunu al-Fawaid, karya Ibnu Najjar
  6. Badai’ al-Fawaid, karya Ibnu al-Qayyim
  7. At-Tadzkirah, karya al-Kindi
  8. Majma’ al-Fawaid wa Manba’u al-Faraid, karya al-Maqrizi
  9. At-Tadzkirah 50 jilid, karya as-Suyuti
  10. At-Tadzkirah 30 jilid, karya ash-Shafadi

Salah satu ulama kontemporer yang senang mengumpulkan pelajaran-pelajaran yang berserakan sehingga menjadi buku, bahkan diantaranya menjadi best seller tingkat internasional adalah Syekh Dr. ‘Aidh Qarni, yang salah satu karyanya adalah La Tahzan, yang sebenarnya buku tersebut adalah kumpulan catatan-catatan kecil harian yang beliau sempat tulis.

Manfaat Menulis dalam Kehidupan Manusia  

Menulis banyak mendatangkan manfaat bagi para penulis dan orang yang membacanya, diantara manfaat tersebut adalah sebagai berikut :

Manfaat ke-1 : Tulisan bisa mendokumentasikan peristiwa dan sejarah. 

Kita banyak mengetahui peristiwa yang terjadi melalui tulisan, baik yang terjadi sekarang maupun yang terjadi pada masa silam. Al-Qur’anpun banyak merekam peristiwa sejarah bahkan semenjak keberadaan manusia pertama di dunia ini. 

Manfaat ke -2 : Tulisan  menjaga ilmu dan pemikiran, serta pandangan seseorang.

Ilmu-ilmu yang dimiliki para ulama bisa tersebar lewat tulisan dan buku-buku baik itu ilmu tafsir, hadist, fiqh, bahasa, sejarah. Tanpa tulisan, kita  tidak bisa mengetahui ilmu-ilmu tersebut.

Manfaat Ke- 3 : Tulisan adalah Media Efektif untuk Berdakwah

          Berdakwah, khususnya pada hari ini sangat efektif jika melalui tulisan-tulisan, baik dalam bentuk buletin-buletin Jum’at, tabloid, majalah, koran, buku bahkan lewat media sosial, seperti facebook, twitter, whatsapp, email, web site dan lain-lainnya. Selain jangkauan lebih luas, tulisan juga bisa lebih tahan lama dan bisa didokumentasikan.

       Manfaat Ke – 4 : Tulisan adalah Media Belajar.

          Dengan tulisan kita banyak mengetahui banyak hal dan bisa banyak belajar banyak ilmu.

   Manfaat Ke-5 : Dengan Menulis Hidup Menjadi lebih Produktif.

Dengan menulis, hidup seseorang lebih produkif, karena selalu menghasikan karya. Selain itu, hidupnya disibukkan dengan membaca beberapa referensi dan informasi. Sehingga hidup selalu berkembang, dinamis serta membawa manfaat bagi masyarakat.

Manfaat Ke-6: Tulisan bisa Menghasilkan Ide-ide Baru

 Di saat-saat menulis, biasanya seseorang mendapatkan ide-ide baru untuk mengembangkan tulisan dan pemikirannya. Apalagi ketika membaca referensi - referensi baru, dia akan mendapatkan ilmu baru, sehingga wawasannya akan  bertambah luas dan ide-idenya bertambah banyak.

Manfaat Ke-7 :  Menulis membuat seseorang terbiasa berpikir urut dan sistematis .

Untuk menulis sebuah makalah atau buku, seseorang dituntut untuk menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat dengan urut dan sistematis. Kebiasaan tersebut akan menular kepada kehidupannya  sehari-hari, dia akan terbiasa untuk berpikir dan berbicara secara urut dan sistematis.

Manfaat Menulis Dari Sisi Kesehatan

Paulo Coelho dalam novelnya yang berjudul The al Chemist menulis : “ Tulislah segala kesedihan (perasaan) yang mengganggu dalam selembar kertas dan melarungnya ke sungai, niscaya kesedihan atau kekhawatiran kita akan sirna”.

Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa menulis dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit fisik maupun non fisik.

Pertama : Ketika seseorang menulis, maka emosinya bisa tercurahkan dan terlampiaskan dalam bentuk tulisan,  sehingga aktivitas jantung relatif lebih lancar, hal seperti ini bisa menghindarkan dari penyakit stroke.

Kedua : Menulis membuat seseorang menjadi awet muda.

Ketiga : Menulis akan menghindarkan dari kepikunan. Hal itu karena otak manusia seperti badan dan anggota tubuh lainnya, perlu olah raga dan dilatih terus supaya tetap bugar dan segar. Begitu juga otak manusia, jika dibiasakan untuk selalu bekerja dan beraktifitas, maka akan menjadi segar dan ingatannya akan menjadi lebih kuat sehingga bisa terhindar dari kepikunan.

Keempat : Menulis bisa menjernihkan pikiran dari kegalauan.    

Kelima : Menulis membuat seseorang selalu bergembira dan bahagia, karena setiap  berhasil menyusun satu kata, atau satu kalimat, atau satu paragraf, dia akan mendapatkan kegembiraan. Dan ini akan berlangsung terus, khususnya jika kalimat dan paragraf tersebut tersusun menjadi satu halaman, menjadi satu bab, yang akhirnya menjadi satu buku. Maka, dengan menulis, seseorang akan diliputi kegembiraan yang terus menerus, sehingga hidupnya menjadi semangat, optimis dan sehat.