Karya Tulis
1054 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (15) Dana Mencukupi

Untuk menguasai ilmu-lmu syar’I, tentunya tidak bisa hanya dengan mengandalkan modal dengkul. Seorang penuntut ilmu memerlukan buku-buku bacaan, baik untuk dipelajarinya secara menyeluruh, maupun sebagai referensi di dalam penelitiannya. Selain itu, juga diperlukan dana untuk transportasi dan bekal untuk menemui para gurunya. Kenyataan membuktikan bahwa semakin banyak buku-buku yang dimilikinya atau dibacanya, seorang penuntut ilmu semakin luas wawasan dan ilmunya, dan akan dengan mudah melihatnya setiap waktu.

Ketika pengetahuan tentang ilmu-ilmu keislaman berkembang pesat pada zaman berdirinya Khilafah Islamiyah, ternyata tidak lepas dari dana berlimpah yang dikucurkan oleh khalifah untuk kepentingan ilmu syar’i. Lihat misalnya, Khalifah al-Hakim bi Amrillah, mendirikan sebuah bangunan megah pada tahun 395 H yang diberi nama “Dar al-Hikmah“, di dalamnya dibangun juga perpustakaan yang dinamakan “Dar al-Ulum“. Perpustakaan ini mencakup puluhan ribu jilid buku yang belum pernah dimiliki oleh perpustakaan lainnya. Selain itu, sang khalifah menjamin kehidupan dan keperluan para ulama yang bekerja di dalamnya. ( DR. Hasan Ibrahim, Tarikh Islam Al Siyas wa Ad Dien, (Kairo : Maktabah Nahdhah Misriyah, 1984), cet Ke – 11, juz : III, hal : 380 )

 

Begitu juga Khalifah al-Mustanshir di tempat kediamannya “Qordova“ telah mendirikan perpustakaan yang mencakup 400.000 jilid buku, yang pada waktu itu belum dikenal percetakan.

Untuk saat ini, beberapa negara yang mempunyai dana untuk pengembangan ilmu, menggelontorkan dananya beratus-ratus juta rupiah untuk mencetak buku gratis yang dibagikan kepada penduduknya, memberikan bea siswa kepada para pelajar dalam maupun luar negri, mencetak buku-buku Disertasi (Doktoral)  dan Tesis (Magister), memberikan gaji tinggi kepada dosen-dosen perguruan tinggi, guru-guru di sekolah-sekolah, bahkan sangat memperhatikan guru-guru ngaji dari tingkat yang paling tinggi sampai tingkat paling rendah, menggaji imam-imam masjid dengan gaji yang besar, mengadakan perlombaan Tahfidh al-Qur’an baik tingkat nasional dan internasional dengan hadiah yang begitu besar seperti pergi haji dan umrah gratis dan uang tunai puluhan juta.

Imam asy-Syafi’i ketika lulus dari fitnah dan ujian dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan orang-orang yang dengki kepadanya di depan Khalifah Harun ar-Rasyid, beliau memberikan 2000 Dinar ( sekitar Rp. 4 Milyar)  kepada Imam asy-Syafi’i, karena kagum atas ilmu dan kecerdasaan yang dimiliki Imam asy-Syafi’i. Uang sebanyak itu, sebagiannya dibagikan kepada pegawai-pegawai istana dan masyarakat awam di Baghdad dan sebagian lagi dibelikan buku-buku, terutama buku-buku Madzhab Hanafi yang merupakan madzhab mayoritas di Baghdad. Beliau mempelajari buku-buku yang dibeli tersebut dalam waktu singkat dan menulis bantahannya juga.

Berkata Syekh as-Safarini di dalam Ghidzau al-Albab ( 2/321 ) :

 فَالْمُؤْمِنُ إذَا عَلِمَ ضَعْفَهُ عَنْ الْكَسْبِ اجْتَهَدَ فِي التَّعَفُّفِ عَنْ النِّكَاحِ وَتَقْلِيلِ النَّفَقَةِ , لا سِيَّمَا فِي هَذَا الزَّمَانِ , الَّذِي فَقَدْنَا فِيهِ الْمُعِينَ وَالإِخْوَانَ .فَلا بَيْتُ مَالٍ مُنْتَظِمٍ ; وَلا خَلِيلٌ صَادِقُ الْمَوَدَّةِ فِي مَالِهِ نَتَوَسَّعُ وَنَحْتَكِمُ .فَلَيْسَ لِلْفَقِيرِ الدَّلِيلُ مِنْ صِدِّيقٍ وَلا خَلِيلٍ إلا الصَّبْرَ الْجَمِيلَ وَالتَّوَكُّلَ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّهُ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيلُ .وَقَدْ كَانَ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ يَتَفَقَّدُ أَكَابِرَ الْعُلَمَاءِ .فَقَدْ بَعَثَ إلَى مَالِكٍ بِأَلْفِ دِينَارٍ .وَإِلَى ابْنِ لَهِيعَةَ بِأَلْفِ دِينَارٍ .وَأَعْطَى عَمَّارَ بْنَ مَنْصُورٍ أَلْفَ دِينَارٍ وَجَارِيَةً بِثَلَثِمِائَةِ دِينَارٍ .وَمَا زَالَ الزَّمَانُ عَلَى هَذَا الْمِنْوَالِ ; إلَى أَنْ آلَ الْحَالُ إلَى انْمِحَاقِ الرِّجَالِ وَصَارَ أَسْعَدُ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعَ بْنَ لُكَعٍ فَاَللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

“ Seorang mukmin, jika mengetahui kelemahannya di dalam bekerja, maka dia berusaha untuk tidak menikah dan mempersedikit anggaran belanjanya. Khususnya di zaman ini di mana kita kehilangan penolong dan teman. Sudah tidak ada lagi Baitul Mal yang teratur, dan tidak pula ada teman yang tulus di dalam memberi hartanya yang bisa kita belanjakan dan kita pakai. Seorang fakir tidak lagi mempunyai lagi teman dan pembimbing kecuali kesabaran dan tawakkal kepada Allah, maka cukuplah kita mempunyai Allah  dan Dialah sebaik-sebaik wakil. Dahulu al-Laits bin Sa’ad sering mencari ulama-ulama besar (untuk diberikan harta kepada mereka). Beliau memberikan kepada Imam Malik 1000 Dinar, dan kepada Ibnu Lahi’ah 1000 Dinar, dan kepada ‘Ammar bin Manshur 1000 Dinar dan seorang budak perempuan seharga 300 Dinar. Dan hal itu berjalan terus sampai keadaannya berubah sehingga orang-orang seperti itu sudah tidak ada lagi. Sehingga orang yang paling bahagia dengan dunia adalah Luka’ bin Luka’, maka hanya kepada Allah saja tempat meminta pertolongan. “

Luka’ bin Luka’ maksudnya orang yang tidak punya nasab yang jelas dan tidak punya ilmu, serta orang jalanan tetapi tiba-tiba menjadi penguasa dan pemimpin umat Islam. Dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat, sebagaimana tersebut di dalam hadits Khudaifah bin Yaman radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ

 “ Tidaklah datang hari Kiamat sampai terdapat orang yang paling bahagia dengan dunia adalah Luka’ bin Luka’ “ ( HR. At-Tirmidzi dan Ahmad. Hadist dihasankan oleh al-Baihaqi di dalam Dalail an-Nubuwah )  

Para ulama menyebutkan bahwa salah satu sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang mufti adalah hidupnya cukup. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam I’lam al-Muwaqqi’in ( 4/199 ) :

ذكر أبو عبد الله بن بطة في كتابه في الخلع عن الإمام احمد انه قال لا ينبغي للرجل أن ينصب نفسه للفتيا حتى يكون فيه خمس خصال أولها أن تكون له نية فإن لم يكن له نية لم يكن عليه نور ولا على كلامه نور والثانية أن يكون له علم وحلم ووقار وسكينة الثالثة أن يكون قويا على ما هو فيه وعلى معرفته الرابعة الكفاية وإلا مضغه الناس الخامسة معرفة الناس . وهذا مما يدل على جلالة احمد ومحله من العلم والمعرفة فإن هذه الخمسة هي دعائم الفتوى وأي شئ نقص منها ظهر الخلل في المفتي بحسبه )اهـ

“ Abu Abdillah bin Baththah  di dalam bukunya dalam bab al-Khulu’ dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata : “ Tidak seyogyanya seorang laki-laki mengangkat dirinya untuk berfatwa sampai dia memiliki lima sifat, pertama : hendaknya dia mempunyai niat ( yang ikhlas). Jika dia tidak mempunyai niat maka dia tidak mempunyai cahaya dan perkataannya juga tidak mempunyai cahaya, yang kedua : hendaknya dia mempunyai ilmu, kelembutan, kewibawaan, ketenangan, ketiga : hendaknya dia kuat dalam masalah yang dia fatwakan dan mengetahuinya, keempat, hendaknya dia dalam keadaan cukup hidupnya, jika tidak demikian, maka dia menjadikan ejekan manusia, kelima : dia harus mengetahui tabiat masyarakat.” 

Pernyataan ini menunjukkan kemuliaan Imam Ahmad dan kwalitas ilmu dan pengetahuannya. Karena sesungguhnya lima hal di atas merupakan tonggak-tonggak fatwa, jika salah satu hilang, maka akan terjadi masalah pada diri mufti menurut kadar kekurangannya. “

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya :

وأما قوله الرابعة الكفاية وإلا مضغه الناس فإنه إذا لم يكن له كفاية احتاج إلى الناس والى الأخذ مما في أيديهم فلا يأكل منهم شيئا إلا أكلوا من لحمه وعرضه أضعافه وقد كان لسفيان الثوري شئ من مال وكان لا يتروّى في بذله ويقول لولا ذلك لتمندل بنا هؤلاء فالعالم إذا منح غناء فقد أعين على تنفيذ علمه وإذا احتاج إلى الناس فقد مات علمه وهو ينظر

“ Adapun perkataan beliau (Imam Ahmad) : “ Keempat, hendaknya dia dalam keadaan cukup hidupnya,  jika tidak demikian, maka masyarakat akan meremehkannya.”  Hal itu dikarenakan jika dia tidak dalam kecukupan hidupnya, maka akan membutuhkan orang lain, dan mengambil dari apa yang ada di tangan mereka.  Dan dia tidak makan dari mereka, kecuali mereka akan memakan daging dan kehormatannya jauh lebih banyak. Dahulu Sufyan ats-Tsauri mempunyai sedikit dari harta, dan beliau tidak berpikir panjang untuk menggunakannya, dan berkata : kalau tidak seperti itu, maka mereka akan mengusap wajah-wajah kita dengan kain. Maka seorang ‘alim jika diberi kekayaan, maka dia terbantu untuk mengamalkan ilmunya, sebaliknya jika dia tergantung sama orang lain, maka ilmu telah mati sedang dia melihat. “

Kisah Yahya bin Ma’in ( 233 H), gurunya Imam al-Bukhari dan ulama-ulama hadist lainnya yang mendapatkan warisan dari bapaknya 1.050.000 dirham, semuanya dibelikan untuk kepentingan ilmu hadist sebagiannya tentunya dibelikan buku-buku hadist, sampai-sampai uangnya tidak tersisa sedikitpun.