Karya Tulis
59 Hits

Bab Ke 2: Merapatkan Barisan dalam Perjuangan

Bab Ke 2

Merapatkan Barisan dalam Perjuangan

 

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

(QS. an-Naml: 17)

 

Pelajaran dari ayat-ayat di atas:

Pelajaran Pertama:

Mengumpulkan Kekuatan Militer.

( وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ)” Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya”

Berkata Muhammad ath-Thahir Asyur di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (19/240) : “ Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang tentara (Nabi Sulaiman) yang terdiri dari tiga kelompok;

Pertama, kelompok Jin. Ini khusus untuk kekuatan yang tersembunyi dan mempengaruhi masalah-masalah spritual.

Kedua, kelompok manusia, mereka adalah tentara yang melaksanakan perintah-perintah Nabi Sulaiman dan untuk memerangi musuh-musuhnya serta menjaga kerajaannya.

Ketiga, kelompok burung. Mereka adalah tentara cadangan untuk mencari informasi, serta mengirim surat-surat kepada para pemimpin dan komandan.” 

No (1). Seorang pemimpin harus mempunyai tentara yang kuat untuk menjaga wilayah kekuasaannya dari rongrongan musuh dan menjaga stabilitas politik dalam negeri, serta mendukung program-program yang akan dijalankannya.

Menurut tribunnews.com  Amerika Serikat (AS) melalui presidennya Donald Trump menambah anggaran pertahanan negaranya menjadi 603 miliar dollar atau setara Rp 8.039,4 triliun per tahun untuk memperkuat armada laut dan udara AS. Angka itu hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia 2017.

Bandingkan dengan Anggaran Kementerian Pertahanan (TNI ) tahun 2017 yang sudah disepakati di Badan Anggaran dan di Komisi I DPR  yaitu Rp.108 triliun.  Padahal ini adalah jumlah itu tertinggi selama 12 tahun terakhir.(beritasatu.com)

No (3). Seorang pemimpin kadang dituntut untuk memperlihatkan  kekuatan militernya di depan rakyatnya, agar mereka merasa nyaman dan tenang dengan kekuatan yang dimiliki negaranya. Parade militer inipun juga kadang boleh ditunjukkan kepada musuh-musuh Islam, agar mereka merasa gentar dan takut. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. al-Anfal: 60)

Berkata Muhammad ath-Thahir Asyur di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (10/56) : “Al-Irhab adalah menjadikan orang lain gentar, yaitu takut. Karena sesungguhnya musuh jika mengetahui persiapan lawan  untuk menyerangnya, mereka akan takut, dan tidak berani (berbuat macam-macam). Hal ini menjadikan umat Islam tenang dan aman dari serangan mereka. Bahkan bola perang berada di tangan umat Islam,  kapan saja mereka mau, mereka bisa menyerang musuh tersebut, dan posisi seperti ini sangat menguntungkan mereka.”

 No (4). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memerintahkan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji atau umrah, ketika tiba di Mekkah untuk melakukan Thowaf Qudum. Disunnahkan di dalam thawaf tersebut untuk melakukan lari-lari kecil pada tiga putaran pertama (ar-Ramlu) dan membiarkan lengan tangan kanan terlihat (al-Indhiba’), salah satu tujuannnya adalah untuk menggetarkan musuh dan menunjukkan bahwa umat Islam walaupun baru datang dari Madinah dengan jarak tempuh 10 hari berjalan kaki, tapi tetap masih kuat, dan siap menghadapi musuh-musuh mereka.

Pelajaran Kedua:

Menghimpun Berbagai Potensi.

(جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْر) “ Tentaranya dari jin, manusia dan burung..”

 Nabi Sulaiman memiliki pasukan yang begitu banyak jumlahnya dan terorganisir dengan baik. Terdiri dari pasukan Jin, Manusia dan Burung.

Untuk masa kita sekarang, sebuah negara harus memiliki minimal tiga angkatan: Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU).

Balatentara Nabi Sulaiman agak mirip dengan tentara masa sekarang, umpamanya untuk Angkatan Darat, terdiri dari golongan manusia, sedangkan Angkatan  Laut, terdiri dari golongan Jin, sedangkan Angkatan Udara terdiri dari bangsa burung.

Untuk Angkatan Udara, selain burung, Allah juga menyebutkan “Angin” sebagai tunggangan Nabi Sulaiman kemana beliau mau pergi. Di dalam firman Allah disebutkan,

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. al-Anbiya’: 81)

 

Dalam setiap perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman, ketika memerlukan tempat teduh, maka burung-burung tersebut akan berkumpul membentuk awan yang akan memayungi Nabi Sulaiman.

 

Selain burung dan angin, al-Qur’an juga menyebut senjata lain yang mirip dengan senjata udara, yaitu ar-Ramyu (lemparan anak panah). Diantaranya adalah firman Allah,

 

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Anfal: 17)

 

Di dalam hadist  Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu 'anhu disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 

أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ

 “Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah. (3x)(HR. Muslim)

 

Memanah di sini tidak terbatas pada busur dan anak panah sebagaimana yang dipakai orang-orang terdahulu, tetapi mencakup seluruh senjata yang dilempar dari jarak jauh, seperti senapan, pistol, meriam, tank, bahkan pesawat tempur yang melempar bom-bom dari udara.

Diulangi penyebutan “ memanah” tiga kali menunjukkan pentingnya senjata ini. Bahkan sumber kekuatan ada pada jenis senjata ini. Terbukti peperangan-perangan zaman sekarang dimenangkan oleh negara-negara yang memiliki pesawat tempur dan senjata-senjata di atas.

 

Sedangkan Angkatan Laut adalah Para Penyelam dari kalangan Jin. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَلِكَ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,” (Qs. al-Anbiya’: 82)

Adapun tugas para jin penyelam adalah mencari perhiasan dan permata yang berada di dalam lautan dan tugas-tugas lainnya yang diperintahkan Nabi Sulaiman kepada mereka.

          Sedangkan Angkatan Darat, adalah semua pasukan Nabi Sulaiman yang berada di daratan, sebagian mereka terdiri dari manusia. Biasanya mereka menggunakan kekuatan pasukan berkuda. Sebagaimana firman Allah,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs.al-Anfal: 60)

Pelajaran Ketiga:

Merapikan Barisan

(فَهُمْ يُوزَعُونَ ) “lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”

(1). (al-Waz’u) asal artinya adalah menahan atau melarang.( (Ibnu al-Atsir, an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar (5/393) Sehingga bisa diartikan sebagai berikut :

“Mereka (para tentara) dibagi-bagi secara teratur sesuai dengan tugas dan tempatnya masing-masing, sehingga satu dan yang lainnya tidak bisa (ditahan dan dilarang) berpindah-pindah sesuai keinginannya. “

Hal ini semakna dengan perkataan Ustman bin Affan radhiyallahu 'anhu:

إِنَّ اللهَ لَيَزَعُ بِالسُلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالقُرْآنِ

          “Sesungguhnya Allah melarang (maksiat) melalui kekuasaan, sesuatu yang tidak bisa dilarang hanya dengan al-Qur’an saja (tanpa kekuasaan).”

 

          (2). Merapikan barisan mencakup tiga hal;

(a) membagi tugas sesuai dengan keahlian masing-masing. (larangan berselisih )

(b) masing-masing harus sabar di dalam tugasnya, tidak boleh melangkahi dan mendahului serta mencampuri tugas orang lain, kecuali dalam ruang lingkup koordinasi. (perintah bersabar)

(c) semuanya dibawah satu komando, sehingga tidak tumpang tindih dalam perintah dan pekerjaan. (taat kepada Allah dan Rasul-Nya)

Tiga syarat di atas teringkas di dalam firman Allah, 

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46)

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. al-Anfal: 46)

(3). Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan baik telah membagi tugas para sahabatnya, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing.

Diantara tugas para sahabat, adalah sebagai berikut;

(a) Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu 'anhu , membersamai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemana saja beliau pergi. berdakwah kepada teman-teman dekatnya, memerdekaan beberapa budak, membiayai beberapa keperluan perang.

(b)  Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu, didoakan agar menjadi ahli agama dan ahli tafsir, di dalam sabdanya :

اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل.

“Ya Allah pahamkan kepadanya agama dan ajarkan untuknya takwil ( tafsir) “ (Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, dan disetujui oleh adz-Dzahabi, dan al-Iraqi serta al-Bushairi. Aslinya terdapat di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, tanpa lafadh “ dan ajarkan kepadanya ta’wil.“)

(c) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, dikader untuk menjadi ahli al-Qur’an.

(d) Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, dikader menjadi ahli Fiqh

(e) Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu, ditugaskan untuk memimpin beberapa peperangan besar.

(f) Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, ditugaskan untuk menangani sebagian biaya dakwah dan perang.

(g) Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu, ditugaskan untuk mengumandangkan adzan setiap sholat.

(h). Dan sahabat-sahabat lainnya, yang tidak bisa disebut satu persatu dalam buku ini.

(4)  Allah mencintai barisan rapi yang diumpamakan dengan beberapa hal diantaranya:

          (Pertama) Seperti bangunan yang kokoh (bunyanun marshush). Sebagaimana tersebut dalam firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Qs. ash-Shaf: 4)

Satu bangunan terdiri dari beberapa komponen yang berbeda satu dengan yang lainnya; terdapat batu, kerikil, semen, pasir, air, bata,  Perbedaan komponen bukanlah saling melemahkan, tetapi justru malah menguatkan satu dengan yang lainnya.

          (Kedua) Seperti Satu Tubuh (al-Jasad al-Wahid

Ini sesuai dengan Hadits Nu’man bin Basyir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim)

Beberapa ciri tubuh manusia adalah:

  1. sakit satu, sakit semuanya
  2. masing-masing anggota tubuh berada pada tempatnya, dan mempunyai tugas sendiri yang berbeda dengan tugas anggota yang lain.
  3. kepala tidak boleh mengambil tugas tangan atau kaki  begitu pula sebaliknya.

(Ketiga) Seperti Barisan Malaikat. Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta'ala,

وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ (164) وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ (165) وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ

“Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya Kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah). Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).” (Qs. ash-Shaffat: 164-166)

 

“ Mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya Kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah) artinya bahwa setiap malaikat mempunyai tugas tertentu, dan masing-masing tidak ikut campur tugas malaikat yang lainnya. Semuanya dalam satu komando. 

          (Keempat) Seperti Barisan Sholat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

اِسْتَوُوْا ، وَلَا تَخْتَلِفُوْا ؛ فَتَخْتَلِفُ قُلُوْبُكُمْ

“Tidak lurus shaf menyebabkan perbedaan hati.” (HR. Muslim)

Shaf dalam shalat merupakan miniatur kepimpinan dalam Islam. Di dalamnya diatur hubungan antara pemimpin dan rakyat, serta hubungan rakyat dengan rakyat.

(5). Kebenaran agar menang harus ditata dengan rapi, kalau tidak, maka kebenaran itu akan dikalahkan oleh kebatilan yang ditata dengan rapi.

Berkata Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

الحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يُغْلِبُهُ البَاطِلُ بِنِظُامٍ

“Kebenaran yang tidak tertata rapih akan dikalahkan kebatilah yang tertata rapih.”

Pelajaran Keempat :

Latihan Militer

Berkata Muhammad ath-Thahir Asyur di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (19/240) : “Ayat di atas memberikan isyarat bahwa mengumpulkan para tentara dan melatih mereka (untuk berperang) adalah tugas para raja, agar para tentara selalu ingat dengan posisi mereka, dan agar para raja mengetahui kekurangan mereka  dan mengingatkan apa-apa yang kadang mereka lupakan ketika terjadi peperangan dan ketika penugasan umum untuk berperang. “

          (1). Thalut menguji tentaranya ketika berhadapan dengan Jalut, untuk tidak meminum air sungai, kecuali satu gayung tangan saja. Padahal keadaan saat itu sangat panas dan mereka sangat kehausan. Dalam keadaan seperti ini, jika para tentara tidak dilatih jauh sebelumnya, maka akan banyak berguguran di tengah jalan, dan itu yang terjadi pada tentaranya Thalut. Sehingga yang lulus dari ujian hanya sedikit saja.

 

(2). Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melatih tentaranya untuk selalu berperang setiap saat, agar mereka selalu siap siaga dalam setiap keadaan. Diriwayatkan bahwa beliau melakukan peperangan setiap dua bulan sekali.

 

(3). Beliau mengizinkan orang-orang Habasyah untuk melakukan latihan perang, memainkan tombak-tombak mereka di dalam masjid ketika hari raya, yang disaksikan oleh beliau sendiri dan istrinya Aisyah radhiyallahu 'anha.

 

(4).Abu Bakar ash-Shiddiq setelah menggantikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai khalifah pertama kali, langsung memerintahkan pasukannya untuk memerangi gerakan pemberontakan yang dilakukan Musailamah al-Kadzab dan kelompok- kelompok lainnya, sehingga negara menjadi stabil kembali. ( al-Qalqasynadi, Maatsiri al-Inaqah fi Ma’alimi al-Khilafah (1/41 )

 

Kemudian beliau mengutus tentaranya di bawah komandan Usamah bin Zaid untuk berjaga-jaga di perbatasan menghadapi tentara Romawi.

 

   Senin,  26 Rabiul Awal 1438 H / 26 Desember 2016 M