Karya Tulis
120 Hits

Bab Ke 5 Kekuatan Intelijen

Bab Ke 5

Kekuatan Intelijen

 

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (22) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (23) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (24) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ (25) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (26) ( قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ( 27)

 

“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai Arasy yang besar" “Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (Qs. An-Naml: 22-27)

 

Pelajaran dari ayat-ayat di atas:

 

Pelajaran Pertama :

 

Operasi Intelijen.

 

(1). Dalam dunia politik, sebuah informasi sangatlah penting, khususnya terkait dengan perkembangan politik, ekonomi, pertahanan, keamanan suatu Negara.

 

Untuk mendapatkan informasi-informasi tersebut secara lebih valid, setiap Negara membentuk Badan Intelijen, yang bertugas mengumpulkan informasi terhadap sasaran yang terkait  dengan kegiatan yang mengancam kepentingan dan keamanan nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, dan sektor kehidupan masyarakat lainnya. Kemudian mengelolanya untuk kepentingan Negara.

 

(2). Operasi intelijen ini sudah dilakukan oleh Nabi Sulaiman terhadap kerajaan Saba’ yang dipimpin Ratu Bilqis melalui burung Hud-hud.

Intelijen yang dalam bahasa Inggris disebut  intelligence adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detail dan keakuratannya, berbeda dengan "data", yang berupa informasi yang akurat, atau "fakta" yang merupakan informasi yang telah diverifikasi. Intelijen kadang disebut "data aktif" atau "intelijen aktif", informasi ini biasanya mengenai rencana, keputusan, dan kegiatan suatu pihak, yang penting untuk ditindak-lanjuti atau dianggap berharga dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen. Pada dinas intelijen dan dinas terkait lainnya, intelijen merupakan data aktif, ditambah dengan proses dan hasil dari pengumpulan dan analisis data tersebut, yang terbentuk oleh jaringan yang kohesif.

Kata intelijen juga sering digunakan untuk menyebut pelaku pengumpul informasi ini, baik sebuah dinas intelijen maupun seorang agen. (wikipedia.org)

(3). Burung Hud-hud mampu memberikan alasan yang jelas kepada Nabi Sulaiman tentang informasi adanya suatu Negara Besar yang pemimpin dan rakyatnya tidak menyembah Allah, tetapi justru menyembah matahari.

 

Informasi yang berharga seperti inilah yang menyelamatkan Hud-hud dari hukuman Nabi Sulaiman.

 

(4). Burung Hud-hud berkata kepada Nabi Sulaiman:

 

أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya.”

 

Artinya, bahwa burung Hud-hud yang merupakan prajurit Nabi Sulaiman, telah mengetahui informasi yang sangat penting, yang belum diketahui oleh Nabi Sulaiman. Ini menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pemimpin sehebat apapun juga, tidak akan mungkin bisa menguasai segala sesuatu di dalam wilayahnya, apalagi yang terjadi di luar wilayahnya. 

 

(5). Seorang pemimpin hendaknya memberikan apresiasi kepada prajuritnya yang bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan Negara.

 

(6). Menang dalam peperangan tergantung kepada penguasaan informasi dan kekuatan opini.

 

(7). Pentingnya mass media dalam pembentukan opini publik.

 

(8).  Pentingnya intelijen di dalam mempertahankan negara dan dalam peperangan. Negara hancur karena lemahnya intelijen. Negara mampu mengalahkan musuh dengan kekuatan intelijennya.

 

Pelajaran Kedua :

Pemimpin dan Keakuratan Informasi

 

(وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ) “dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

 

(1). Menunjukkan informasi yang disampaikan kepada kepala negara harus akurat, supaya tidak menyebabkan kepala negara salah bersikap atau salah mengambil keputusan. Pada saat meletus kerusuhan di Ambon, presiden mendapatkan informasi yang salah tentang jumlah korban, sehingga salah dalam bersikap dan dalam memberikan pernyataan. Begitu juga pada kasus Aksi Bela Islam 411 dan 212, presiden diprediksi menerima informasi yang tidak akurat tentang jumlah peserta aksi, dan para penggerak aksi, sehingga menjadi salah bersikap dan bertindak.

 

(2). Seorang pemimpin hendaknya tidak tergesa-gesa mempercayai setiap informasi yang dia terima, walaupun itu berasal dari orang dekatnya, atau ajudannya, ataupun orang kepercayaannya sekalipun.

Sebagaimana di dalam firman-Nya,

قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (Qs. An-Naml: 27)

(3).  Seorang pemimpin hendaknya selalu melakukan pengecekan setiap informasi yang datang. Artinya dia mempunyai wewenang untuk bertindak seperti itu, walaupun dengan bantuan bawahannya. Itu dilakukan untuk dijadikan bahan pertimbangan, apakah informasi tersebut perlu disebar atau menjadi bahan rahasia Negara.

Ini dikuatkan Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6)

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. al Hujurat: 6)

 

Juga dengan Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

 

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

 

“  Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (Qs. An-Nisa’: 83)

 

          Ayat dalam surat an-Nisa’ di atas menunjukkan beberapa hal terkait dengan penyebaran informasi, adapun keterangannya sebagai berikut :

 

(1). (وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ ) Perintah untuk menverifikasi berita yang datang dari orang lain, sebelum menerima atau menolaknya atau menyebarkannya.

 

          (2). (مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْف) Harus dibedakan antara berita biasa dan berita yang penting dan genting, terutama yang menyangkut hajat orang banyak, begitu juga yang terkait dengan ancaman, keamanan dan ketakutan. Untuk jenis yang terakhir ini tidak boleh penyebarannya dilakukan sembarang orang.

 

          (3). (وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ) Berita yang penting yang menyangkut hajat orang banyak sebagaimana pada poin 2, harus disampaikan kepada pemimpin yang berwenang terlebih dahulu. Ini telah dilakukan secara baik oleh burung Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman.

 

          (4). (لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ) Pemimpin harus mengklarifikasi berita yang masuk, kemudian dipelajari, apakah patut disebarkan karena membawa manfaat bagi orang banyak, atau diredam dan disimpan, karena penyebarannya akan membawa madharat dan dampak negatif bagi bangsa dan negara.

 

 

 

Pelajaran Ketiga : 

Melakukan Perjalanan untuk Menimba Ilmu, Mencari Informasi dan Menambah Pengalaman.

 

(1). Burung Hud-hud mendapatkan informasi yang sangat penting dan berharga tersebut setelah melakukan perjalanan yang panjang di muka bumi ini. Karena ilmu dan rahasia Allah tersebar di seluruh pelosok alam ini. Al-Qur’an sangat menganjurkan umat Islam untuk sering melakukan perjalanan di muka bumi ini, dan meneliti akibat orang-orang yang mendustakan Allah. Diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala,

 

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

 

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka?  Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku dhalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku dhalim kepada diri sendiri.” (Qs. Ar-Rum: 9)

 

Begitu juga firman-Nya,

 

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

 

“Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)". (Qs. ar-Rum: 42)

 

(2).  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum diangkat menjadi nabi, telah melakukan perjalanan dagang ke Syam dan tempat lainnya. Beliau juga mengenal raja Najasyi di Etiopia (al Habasyah) dengan baik.  (as-Suyuthi, al-Khashaish al-Kubra : 1/140)

 

(3). Kaum Qurasy dipuji Allah karena sering melakukan perjalanan musim dingin dan musim panas. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

 

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

 

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Qs. Quraisy: 1-4)

 

(4). Imam Syafi’i menulis syair-syairnya menyebutkan manfaat melakukan perjalanan :

ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبِ     ** مِنْ رَاحَةٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبِ

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ       ** وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ        **  إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ َطِبِ 

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست ** والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمةً     ** لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

 والتَّبْرَ كالتُّرْبَ مُلْقَىً في أَمَاكِنِهِ      ** والعودُ في أرضه نوعً من الحطب

فإن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ              ** وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَبِ

 

 “ Tiada satu tempat yang tetap bagi orang yang berakal dan beradab untuk istirahat, maka tinggalkan negri dan pergilah

Lakukan perjalanan, niscaya engkau mendapatkan ganti apa yang engkau tinggalkan, dan selalulah bekerja keras, karena nikmatnya hidup ketika bekerja keras,

Saya melihat genangan air sangatlah merusak, jika ia mengalir maka akan bermanfaat, jika tidak, maka akan merusak.

Singa ketika masih di hutan, tentunya tidak menakutkan, dan anak busur selama masih dalam tempat, tidak akan mengenai sasarannya.

Matahari, jika tetap diam di tengah langit, maka semua manusia akan bosan, baik yang non Arab maupun yang berbangsa Arab.

Emas jika masih di tempatnya, seperti tanah biasa, dan kayu wangi jika belum dipetik, harganya sama dengan kayu bakar.

Jika si fulan pergi, maka dia akan dicari, dan jika fulan yang lain juga pergi, maka dia menjadi langka, bagaikan emas. ” (Diwan al-Imam asy-Syafi’I : 1/18)

 

Imam Ali bin Abi Thalib di dalam diwannya juga menyebutkan manfaat banyak melakukan perjalanan : 

 تَغَرَّبْ عَن الأَوْطَانِ في طَلَبِ الْعُلُى ** وَسَافِرْ فَفِي الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدِ

تَفَرُّجُ هَمٍّ ، وَاكْتِسابُ مَعِيشَةٍ ** وَعِلْمٌ ، وَآدَابٌ ، وَصُحْبَةُ مَاجِد                                 فان قيل فـي الأسفار ذل وشدة  **وقطع الفيافي وارتكاب الشدائـد                            فموت الفتى خير له من حيـاته** بدار هوان بين واش وحـاسـد

”Tinggalkan negaramu, untuk mengejar kemuliaan, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah .

Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.

Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan, dan kekerasan, dan harus melewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,

Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki.“ (Diwan Ali bin Abi Thalib (1/72), Dawawin asy-Syi’ri al-Arabi ‘ala Marri al-‘Ushur(11/185), Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Adab, 2/70)

 

Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1438 H / 16 Januari 2017 M