Karya Tulis
32 Hits

Bab Ke 7 Musyawarah dalam Mengambil Keputusan

Bab Ke 7

Musyawarah dalam Mengambil Keputusan

 

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (32) قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (33) قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (34) وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (35)

 

“Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku)". Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan". Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (Qs. An-Naml: 32-35)

 

Pelajaran dari ayat di atas :

Pelajaran Pertama:

Staf Khusus

(قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ) Pemimpin sangat membutuhkan staf khusus, staf ahli, tim sukses, dewan pertimbangan dan orang-orang yang dia butuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas negara.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai banyak staf, diantaranya ; para penulis wahyu, sekretaris, pengawal dan dewan syura.

Para Penulis Wahyu, diantaranya : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Aban bin Sa’id bin Ash, Amir bin Fuhairah, Arqam bin Abi al-Arqam, Abdullah bin al-Arqam, Ubay bin Ka’ab, Tsabit bin Qais , Khalid bin Sa’id, Handhalah bin Rabi’, Khalid bin Walid,  Sa’ad bin Sarh, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah, dan lain-lain. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah (5/361-270, Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah( 4/247)) 

Para Pengawal, diantaranya: Abu Qatadah al-Anshari, Abu Ruhainah, Abbad bin Basyar, Sa’ad bin Muadz, Muhammad bin Maslamah, Zubair bin Awwam, Mughirah bin Syu’bah, Abu Ayyub al- Anshari, Sa’ad bin Abi Waqash, Dzakwan bin Abu Qais dan Bilal bin Rabah, Martsad bin Abu Martsad al-Ghanawi (Muhammad bin Yusuf ash-Shalihi(942 H), Subulu al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirati Khairi al-‘Ibad, dan Ibrahim Muhammad al-Madkhali, Marwiyat Ghazwati al- Khandaq (7/14

         

Para Pembantu, diantaranya: Anas bin Malik, Rabiah bin Ka’ab al-Aslami, Abdullah bin Mas’ud, Uqbah bin Amir al-Juhani, Khudrah, Ridhwa, Ummu Aiman,  Zaid bin Haritsah, Abu Kabsyah, Safinah, Tsauban, (Abu Ismail Hamad bin Ishaq al-Baghdadi (267 H),  Tirkatu an-Nabi (1/40 )

Pelajaran Kedua :

Musyawarah sebelum Memutuskan

Ciri pemimpin yang baik adalah dia akan selalu bermusyawarah dengan para ahli dan stafnya sebelum mengambil keputusan-keputusan penting.

Berkata Ali bin Nayif asy-Syahud di dalam Al-Mufashal fi Fiqh ad-Dakwah Ila Allah (8/60 ) :  

 “ Adapun contoh tentang tata cara mengatur kerajaan dengan baik dan berpolitik secara baik dengan dasar musyawarah, tanpa otoriter, terlihat di dalam  firman Allah,

أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ

“Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku).” (Qs. an-Naml: 32)  “

Allah juga berfirman,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Qs. asy-Syura: 38)

Allah juga berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Qs. Ali-Imran: 159)

Dari ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa kesuksesan pemimpin dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:

  1. Rahmat dari Allah
  2. Lemah lembut terhadap bawahannya
  3. Tidak berkata kasar ( Fadhan)
  4. Tidak keras hati (Galidha al-Qalbi)
  5. Mudah memaafkan kesalahan bawahan

6.           Sering bermusyawarah

  1. Memiliki kemauan yang kuat
  2. Bertawakkal kepada Allah

Pemimpin yang otoriter akan ditinggalkan oleh para pengikutnya dan akan kehilangan kepercayaan dari mereka. Ini semua akan menyebabkan lemahnya kekuasaannya.

  Pelajaran Ketiga :

  Berhati-hati di dalam Memutuskan

أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ

“Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku).” (Qs. an-Naml: 32)

          (1). Ratu Bilqis adalah sosok yang sangat berhati-hati di dalam memutuskan suatu perkara yang besar, sampai-sampai dia harus menyebutkan karakter tersebut kepada para stafnya dan Allah mengabadikannya di dalam al-Qur’an.

          Berkata Wahbah az-Zuhaili di dalam at-Tafsir al-Wasith (2/1874) : 

          “ Sikap yang diambil Ratu Bilqis ini menunjukkan kecerdasan dan kedewasaannya, bahkan menunjukkan sikap yang sangat bijak di dalam berpolitik “

          Boleh kita katakan bahwa Ratu Bilqis adalah sosok pemimpin dan politikus yang mapan dan cerdas, karena mampu mempertahankan negaranya dari kehancuran walaupun sedang berada pada posisi yang paling sulit.

          Kita katakan paling sulit, karena dia hanya diberi dua pilihan oleh Nabi Sulaiman, yang keduanya adalah pahit baginya ; perang atau pasrah. Jika memilih perang, maka konsekwensi dan resikonya  sangat besar, kehancuran negaranya jika kalah. Seandainya menangpun belum tentu bisa menanggung beban akibat perang yang pastinya akan sangat berat. Sebaliknya jika dia pasrah kepada Nabi Sulaiman, seakan-akan dirinya menjual negara dan rakyatnya kepada Nabi Sulaiman.

          Dalam keadaan seperti inilah, seorang pemimpin tidak boleh bertindak gegabah, karena salah dalam memutuskan, akan berakibat fatal. Disinilah letak kecerdasan, kedewasaan dan kehati-hatiannya serta sikap bijak yang ditunjukkan oleh Ratu Bilqis kepada para pembesar kerajaan Saba’ dan bahkan kepada dunia seluruhnya.

          (2). Sebaliknya sejarah telah mencatat seorang pemimpin yang sembrono, angkuh dan tidak mau mendengar masukan para tokoh, pembesar dan para stafnya ahli.  Pemimpin tersebut bernama  Katbugha,  panglima pasukan Tatar yang ditunjuk oleh Holaku Khan untuk memimpin perang melawan pasukan Islam yang dipimpin oleh Saifuddin Quths dan Dhahir Baibers.

          Sebenarnya para tokoh dan pimpinan pasukan Tatar telah memberikan peringatan kepada Katbugha agar tidak memulai peperangan dengan tentara Islam, sampai datang bantuan balatentara dari Holaku Khan, tetapi Katbugha mengabaikan nasehat tersebut dan tetap melanjutkan perjalanan untuk berperang.

          Bahkan  ketika sudah berhadapan dengan tentara Islampun, sebagian pimpinan juga sudah memberikan nasehat akan jebakan yang dibuat oleh tentara Islam dalam posisi  di lembah Ainun Jalut, tetapi lagi-lagi Katbugha tidak mau mendengar nasehat tersebut, dia bersikeras menyerang pasukan Islam yang kelihatannya sedikit di depannya, agar segera menyelesaikan peperangan tersebut.

Inilah kesalahan fatal Katbugha, yang menyebabkan hancurnya pasukannya secara keseluruhan oleh jebakan pasukan Islam. Peperangan yang dikenal dengan perang Aiun Jalut ini akhirnya dimenangkan secara gemilang oleh kaum muslimin dan ini terjadi pada tanggal 25 Ramadhan  658 H, bertepatan dengan tanggal 3 September 1260 M. Alhamdulillah dengan nikmat-Nya segala amal shalih menjadi sempurna. (Ibnu Katsir (774 H), al-Bidayah wa an-Nihayah (13/256), al-Maqrizi, as-Suluk li Ma’rifati Duwali al-Muluk (1/143)

 

  Pelajaran Keempat :

  Tidak Bangga dengan Jumlah.

     Tidak boleh bangga dengan jumlah pasukan dan keunggulan alat perang.

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ

“Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan.” (Qs. An-Naml: 33)

Pasukan Islam kalah dalam perang Hunain karena terlalu bangga dengan jumlah pasukan yang sangat banyak. Allah berfirman,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ   

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (Qs. at-Taubah: 25)

          Tidak boleh bertindak gegabah di dalam mengambil keputusan penting, terutama terkait dengan perang. Semangat saja tidak cukup, harus diperhitungkan K4 (kekuatan, kelemahan, kesempatan dan kendala) atau sering disebut dengan teori SWOT  (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats).

 

Pelajaran Kelima :

Sifat-sifat Pemimpin.

Ciri-ciri pemimpin yang baik sebagaimana yang terdapat dalam kisah Ratu Bilqis adalah sebagai berikut ;

(1). Tidak terpengaruh dan tunduk kepada tekanan orang-orang yang disekitarnya,  jika hal itu akan membawa kesengsaraan rakyat, Allah berfirman, 

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ

“Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan).” (Qs. An-Naml: 33)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa para elit kerajaan Saba’ merasa diri mereka kuat badan dan kuat persenjataan, sehingga berani berperang melawan Nabi Sulaiman dan balatentaranya, dan berusaha mempengaruhi Ratu Bilqis untuk memutuskan  berperang melawan Nabi Sulaiman. Tetapi Ratu Bilqis tidak terpengaruh dengan ajakan tersebut, karena dia berpendapat bahwa perang bagaimanapun juga, menang atau kalah, tetap saja akan menyengsarakan rakyat.

(2). Bisa berpikir cerdas, cepat dan tegas di dalam mengambil keputusan-keputusan penting, khususnya jika waktu sangat mendesak.

Ratu Bilqis tidak mempunyai waktu lagi untuk berpikir lama, ketika surat Nabi Sulaiman datang kepadanya yang hanya memberikan dua pilihan ; menyerahkan diri atau berperang. Maka, dia sebagai kepala negara harus mengambil keputusan cepat dan tepat. 

(3). Mengambil alih keputusan jika terjadi kebuntuan dalam musyawarah. Allah berfirman,

وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

“Dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan". (Qs. An-Naml: 33)

          Di dalam musyawarah terjadi perbedaan pendapat, sebagian besar elit menginginkan perang karena merasa mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan ancaman Nabi  Sulaiman, tetapi Ratu Bilqis mempunyai pandangan lain, sehingga kedua pendapat tersebut tidak bisa disatukan.

Dalam keadaan seperti ini, seorang pemimpin harus segera mengambil keputusan, agar masalah segera bisa diselesaikan. Ratu Bilqis telah melakukan hal itu dengan baik, dia memutuskan untuk melobi Raja Sulaiman terlebih dahulu, agar terjadi kesepakatan-kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, tanpa harus berperang.

(4). Mengambil pelajaran dari pengalaman dan kejadian di sekitarnya. Diantaranya, bahwa peperangan itu akan menyebabkan kerusakan. Allah berfirman,

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

“Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (Qs. An-Naml: 34)

Berkata Muhammad Sayid Thanthawi di dalam at-Tafsir al-Wasith (1/3211) : Di sini al-Qur’an menceritakan kepada kita tentang kecerdasaan dan kecerdikan Ratu Bilqis yang lebih mengutamakan jalan perdamaian daripada peperangan, cara yang lembut daripada kekerasan. “ 

Karena pengetahuannya yang luas dan pengalamannya yang begitu banyak, serta banyaknya kejadian-kejadian masa lalu dari   kehidupan raja-raja sebelumnya, Ratu Bilqis menyimpulkan bahwa perang tidak akan membawa kepada kebahagiaan, tetapi justru akan membawa kehancuran suatu bangsa dan kesengsaraan rakyat.

Bangsa yang pada awalnya mulia dan terhormat, karena kalah perang, akan berubah menjadi bangsa yang hina dan terusir dari kampung halaman mereka. Sebaliknya bangsa yang menang peperangan juga akan membuat kerusakan di muka bumi ini, serta berbuat sewenang-wenang kepada pihak yang kalah.

Ini dikuatkan dengan firman Allah,

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar." (Qs. Al-Isra’: 4)

Allah juga berfirman,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. Al-Isra’:16)

Ali bin Nayif as-Syahud di dalam bukunya al-Hadharah al-Islamiyah baina Ashalati al-Madhi wa Amal al-Mustaqbal (5/166) menjelaskan perlunya orang-orang beriman mengambil pelajaran dari apa yang sudah dicapai umat-umat terdahulu. Oleh karenanya, al-Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah umat-umat terdahulu, dengan kelebihan dan kekurangannya, sebab-sebab kemakmuran dan kehancurannya, kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk mengambil pelajaran dari mereka, sebagaimana firman Allah,

 لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُوْلِى الأَلْبَابِ

 

“ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” ( Qs. Yusuf : 111)

 

Bahkan memerintahkan mereka untuk berjalan di muka bumi dengan tujuan mengambil pelajaran dari apa yang mereka tinggalkan, sebagaimana firman-Nya,

 

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

 

“ Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.”  (Qs. An-Naml : 69 )

 

Bahkan al-Qur’an mengabadikan perkataan para tokoh yang sekalipun belum beriman kepada Allah pada waktu itu, sebagaimana perkataan istri pembesar Mesir,

 

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

“  Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yusuf : 53)

 

Juga mengabadikan perkataan Ratu Bilqis, pemimpin Kerajaan Saba’,

 

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

“ Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. (Qs. An-Naml: 34)

 

(5). Mempelajari kekuatan musuh dengan cara-cara yang cerdas. Salah satu caranya, seperti yang dilakukan oleh ratu Bilqis adalah menguji kekuatan Nabi Sulaiman, apakah dia seorang raja biasa, seperti raja-raja yang lain atau seorang raja yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Beliau menyimpulkan : jika Nabi Sulaiman hanya seorang raja biasa, akan berubah sikap dan pikirannya ketika melihat harta yang begitu banyak yang dihadiahkan kepadanya,  berarti dia raja yang lemah, raja yang orientasinya dunia dan harta, maka bisa dilawan dengan kekuatan senjata. Tetapi jika dia menolak hadiah tersebut, dan tetap konsisten dengan tujuan awalnya, berarti dia seorang raja yang kuat, seorang raja yang mempunyai cita-cita tinggi, raja yang luar biasa, atau bahkan dia seorang nabi, maka untuk menghadapinya, tidak bisa dilakukan dengan cara-cara kasar seperti perang melawannya. Cara yang paling efektif adalah berdialog dan melakukan pendekatan kepadanya.

Berkata Ibnu Abbas dan yang lainnya, bahwa Ratu Bilqis berkata kepada kaumnya : “ Jika Sulaiman menerima hadiah, berarti dia raja biasa, maka perangilah dia, tetapi kalau menolak hadiah, berarti dia seorang nabi, maka ikutilah dia.” 

Allah berfirman,

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

“Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (QS. An-Naml: 35)

Berkata Qatadah : “ Mudah-mudahan Allah merahmati dan meridhainya, betapa cerdas Ratu Bilqis ini ketika sudah masuk Islam dan ketika masih dalam keadaan syirik. Dia mengetahui betul, bahwa hadiah sangat mempengaruhi diri seseorang.” (Tafsir Ibnu Katsir : 6/190)

(6). Lebih mengutamakan perdamaian dari pada perang, karena peperangan akan mengorbankan harta dan nyawa, bahkan akan berdampak pada kerusakan yang sangat dahsyat, kecuali perang yang membawa maslahat besar. Di dalam hadits disebutkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

”Wahai manusia, janganlah kalian berangan-angan ingin segera berjumpa dengan musuh. Mohonlah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahulaih bahwa surga berada di bawah bayang-bayang pedang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa hidup seorang muslim pada dasarnya adalah damai, tenang, tentram, dan tidak ada gejolak yang berarti. Hidup seperti ini akan memudahkannya beribadah kepada Allah, membuatnya khusu’ di dalam sholat, tenang di dalam membina keluarga, aman dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dan nyaman di dalam berdakwah. Oleh karenanya, Islam melarang seorang mukmin berangan-angan untuk berjumpa musuh dan perang, karena itu semua akan mengganggu ketentraman hidup dan kenyamanan dalam beribadah. Tetapi jika terjadi peperangan yang tidak diinginkan, maka dia harus sabar dan teguh di dalam menghadapinya. Wallahu A’lam.

Senin, 02 Jumadil Awal 1438 H / 30 Januari 2017 M