Karya Tulis
33 Hits

Bab Ke 8 Pemimpin Yang Qana’ah

Bab Ke 8

Pemimpin Yang Qana’ah

 

فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ (36) ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ (37)

“Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah kamu ingin memberikan kepadaku harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (Qs. An-Naml: 36-37)

 

Pelajaran dari ayat di atas:

Pelajaran Pertama :

Tidak Terpengaruh dengan Harta  

(قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ)

“Sulaiman berkata: "Apakah kamu mau memberikan kepadaku harta?”

(1). Seorang pemimpin hendaknya tetap istiqamah pada prinsip dan ideologi yang ia pegang, tidak terpengaruh dengan bujukan, iming-iming harta, wanita dan tahta.  Nabi Sulaiman ditawari hadiah yang begitu banyak dan melimpah serta tidak ternilai harganya dari Ratu Bilqis, dengan harapan beliau tidak menyerang kerajaan Saba’ dan tidak meneruskan usahanya untuk mendakwahi Ratu Bilqis. Tetapi tawaran tersebut ditolaknya, karena menyangkut prinsip yang dia pegang selama ini. Inilah tipe pemimpin yang dirindukan hari ini. 

 (2) Dibolehkan seorang pemimpin atau pejabat mempunyai harta yang banyak dari sumber yang halal, atau menaikkan gaji pegawai (remunerasi) dengan tujuan agar tidak mudah terpengaruh dengan suap. Hal ini penting, karena korupsi, manipulasi, suap dan gratifikasi dalam lingkungan  kepegawaian, salah satunya disebabkan karena merasa kurang cukup dengan gaji yang ada. Dengan ditingkatkan kesejahteraan mereka, diharapkan bisa mengurangi budaya korupsi yang akan merusak sendi-sendi bangsa.

Pelajaran Kedua :

Merasa Cukup dengan Rezeki Allah

(فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ)

“Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu”

(1). Ayat di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin hendaknya  merasa cukup (qana’ah) dengan rezeki Allah yang diterimanya, walaupun sedikit. Al-Mawardi (450 H ) di dalam kitab Adabu ad-Dunya wa ad-Din (1/12) menyebutkan :

قَلِيلٌ يَكْفِي خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُطْغِي .

“ Sedikit yang mencukupi, lebih baik dari banyak yang berlebihan. “

Dalam riwayat lain disebutkan,

قليل يكفي خير من كثير يلهي

“ Sedikit yang mencukupi, lebih baik dari banyak yang melengahkan.”  

(2). Ayat di atas juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai aqidah yang kuat, harus menyakini bahwa Allah adalah ar-Rozaq (Maha Pemberi Rezeki), sehingga tidak pernah khawatir kehabisan rezeki, tidak khawatir kehabisan makanan, sebagaimana dia tidak khawatir kehabisan tanah kuburan jika dia mati. Imam Syafi’i pernah berkata :

أمطري لؤلؤاًجبالَ سرنديـ     ـبَ    وَفِيضي آبارَ تبريز تِبْرَا

أَنَا إنْ عِشْتُ لَسْتُ أعْدَمُ قُوتاً   وَإذا متّ لَسْتُ أعْدَمُ قَبْرَا

همتي همَّة  الملوكِ ونفسي     نَفْسُ حُرٍّ تَرَى الْمَذَلَّة َ كُفْرَا

وإذا ما قنعتُ بالقوتِ عمري  فَلِمَاذَا أهابُ زَيْداً وَعَمْرَا

“Wahai gunung-gunung Sarnadib hujanlah dengan permata, dan wahai sumur-sumur Tibriz semburkan emas

 “ Saya, jika hidup, tidak akan kehabisan makanan, dan  jika saya mati, tidak kehabisan tanah kuburan. “

“Jika saya sudah qana’ah dengan rezeki (yang Allah berikan) dalam hidup saya, kenapa saya harus takut dengan Zaid dan Amr.”

 (3) Sifat Qana’ah para pemimpin dan pejabat akan menyelamatkan Negara dari kehancuran. Penjualan aset-aset Negara kepada asing dan aseng oleh asong, serta banyaknya korupsi adalah dampak dari jiwa yang tidak qana’ah dan tidak pernah kenyang dengan harta dunia. Maka,  kita diperintahkan untuk selalu berdo’a sebagaimana dalam hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

Pelajaran Ketiga :

Qana’ah dalam Kitab dan Sunnah

Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang qana’ah diantaranya:

(1). Firman Allah subhanahu wa ta'ala,

وَلا تَمُدَّنَ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.  Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs.Taha: 131)

(2). Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang berbunyi,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

  “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

         (3). Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu 'anhu,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

         “Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah.” (HR. Muslim)

         (4). Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” ((HR. Bukhari dan Muslim)

         (5). Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Ridhalah terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, niscaya kamu akan menjadi  orang yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi)

         (6). Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ubaidillah bin Muhshan radhiyallahu 'anhu,

مَنْ أصْبَحَ مِنْكُمْ آمِناً في سربِهِ ، مُعَافَىً في جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا

Barang siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, memiliki makanan hari itu, seolah dia telah mendapatkan kekayaan dunia.” (HR. Tirmidzi)

(7). Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:

يَا أَبَا ذَرٍّ , أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هِيَ الْغِنَى ؟ " , قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ هِيَ الْغِنَى . قَالَ: " وَتَرَى أَنَّ قِلَّةَ الْمَالِ هِيَ الْفَقْرُ ؟ " , قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ هِيَ الْفَقْرُ . قَالَ: " لَيْسَ كَذَلِكَ , إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ , وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

 

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya ?”  Berkata Abu Dzar : “Betul, wahai Rasulullah”. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” Berkata Abu Dzar :“Betul, wahai Rasulullah.” Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang disebut kaya adalah kayanya hati. Sedangkan fakir adalah fakirnya hati.” (HR. Ibnu Hibban)

 

          Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Atsqalani di dalam Fathu al-Bari (11/272 )  berkata : “ Ringkasnya, bahwa orang yang mempunyai sifat kaya hati, akan selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, tidak ingin banget menambah tanpa ada keperluan, begitu juga tidak akan memaksakan diri  di dalam mencari (harta) dan tidak pula di dalam memintanya. Tetapi justru dia ridha dengan apa yang sudah dibagikan Allah, seakan-akan dia mempunyai (harta) terus. Sebaliknya orang yang mempunyai sifat miskin jiwa, dia tidak puas dengan apa yang diberikan kepadanya, tetapi justru selalu mencari tambahan dari mana saja yang memungkinkan. Kemudian jika tidak mendapatkan apa yang dia cari, dia akan sedih seakan-akan dia orang yang tidak mempunyai harta.”

 

Pelajaran Keempat :

Orang Kafir Bangga dengan Harta

(بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ)

“Tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu”

Kalian wahai orang-orang kafir, mengira dengan harta yang sangat banyak tersebut akan mampu mencegah dakwah kami (Nabi Sulaiman) kepada tauhid.

(1). Ayat di atas menunjukkan bahwa kebanyakan orang kafir menganggap harta adalah segalanya. Mereka mengira bahwa harta bisa membuat bahagia. Mereka mengira dengan harta, mereka bisa membeli para pemimpin muslim seperti Nabi Sulaiman. Keyakinan seperti ini dibantah oleh Allah dalam banyak ayat-Nya, diantaranya firman-Nya :

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (5) نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7) إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (8) فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ

“Celakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (Qs. al-Humazah)

 

Juga firman Allah,

 

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ (55) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Qs. al-Mukminun: 55-56)

 

(2). Ayat di atas juga melarang orang beriman untuk berbangga-bangga dengan harta dan jabatan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,.” (Qs. Al-Hadid: 22-23)

 

Pelajaran Kelima

Qana’ah  dan Jihad Fi Sabilillah

 (1). Salah satu cara menghilangkan cinta dunia, harta, jabatan dan wanita dari diri masyarakat yaitu dengan menggalakkan jihad fi sabillah, mengobarkan ruh perjuangan sepanjang waktu. Allah berfirman,

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (Qs. An-Naml: 38)

Nabi Sulaiman sudah terbiasa mendidik rakyatnya untuk qana’ah dengan rezeki Allah yang diberikan kepada mereka.  Untuk menuju ke arah itu, diperlukan instrumen-instrumen pendukung, salah satunya adalah dengan i’dad (mempersiapkan diri ) setiap saat untuk berjihad di  jalan Allah. Ketika beliau mengancam Ratu Bilqis dengan pengiriman tentara besar-besaran, untuk mempersiapkannya tidak cukup sehari semalam. Tentunya, beliau sudah mempersiapkan pasukannya jauh sebelumnya, dengan latihan-latihan fisik dan mental. Mereka telah dilatih untuk berani mengorbankan jiwa dan nyawa. Sehingga mereka tidak sempat berpikir untuk mengumpulkan harta dan kekayaan, karena kehidupannya dipenuhi dengan ruh jihad fi sabilillah.

 (2). Salah satu manfaat jihad : menjadikan orang-orang kafir gemetar, tunduk dan takut. Sebagaimana Firman Allah, 

وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (Qs. An-Naml: 38)

Ini dikuatkan dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Qs. at-Taubah: 29)

Dikuatkan juga dengan Firman Allah,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. al-Anfal: 60)

Dikuatkan juga dengan hadits Jabir bin Abdillahu radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

“Aku diberi 5 perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun dari nabi-nabi sebelumku; 1.  Aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan merekasejauh sebulan perjalanan, 2. Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; di mana saja seorang laki-laki dari ummatku mendapati waktu shalat hendaknya ia shalat”, 3.  Dihalalkan harta rampasan untukku, 4. Nabi-nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, 5. Dan, Aku diberi (Hak) syafa’at (pertolongan bagi ummat-Nya di Akhirat kelak).” (HR. Bukhari dan Muslim)

(3). Jika umat Islam meninggalkan jihad, maka para musuh tidak gentar lagi, dan umat Islam akan diremehkan, sebagaimana hadits Abdullan bin Umar radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُـمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ شَيْئٌ حَتَّى تَرْجِعُواْ إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Apabila kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, berpegang pada ekor sapi, kalian ridha dengan hasil tanaman dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan membuat kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak ada sesuatu pun yang mampu mencabut kehinaan tersebut (dari kalian) sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)

 (4). Kondisi Indonesia saat ini mengingatkan umat Islam akan perjuangan para ulama, dan para mujahid di dalam merebut kemerdekaan, dan melawan pemberontakan PKI. Semangat jihad ini tidak boleh terhenti begitu saja, tapi harus terus dikobarkan, karena musuh-musuh Islam tidak henti-hentinya memerangi umat Islam, walau dalam bentuk yang lain. Wallahu A’lam.

Kesimpulan :

(1). Seorang pemimpin hendaknya tetap istiqamah pada prinsip dan ideologi yang ia pegang, tidak terpengaruh dengan bujukan, iming-iming harta, wanita dan tahta.

(2). Seorang pemimpin hendaknya  merasa cukup (qana’ah) dengan rezeki Allah yang diterimanya, walaupun sedikit.

(3). Sifat Qana’ah para pemimpin dan pejabat akan menyelamatkan Negara dari kehancuran.

(4). Jihad fi sabillah adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan cinta dunia, harta, jabatan dan wanita dari diri masyarakat, maka harus dikobarkan sepanjang waktu.

Senin, 09 Jumadil Awal 1438 H / 06 Februari 2017 M