Karya Tulis
171 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 10 Al-Khauf


 

I. Pengertian Al-Khauf

(1) Al-Khauf adalah rasa takut kepada Allah yang disertai rasa cinta, pengagungan, penghormatan kepada-Nya, yang menyebabkan seorang hamba taat kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ibnu al-Qayyim berkata di dalam Thariq al-Hijrataini (hal. 283) , “Seorang hamba semakin tahu tentang Allah, maka semakin mendalam rasa takut kepada-Nya. Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasa takut kepada Allah itu menjadi bukti bahwa seorang itu berilmu’.”

(2) Terdapat dua istilah yang hampir mirip maknanya, yaitu: al-khauf dan al-khasyah. Semuanya mengandung makna “rasa takut”, namun terdapat beberapa perbedaan tipis diantara keduanya. Penjelasannya sebagai berikut;

(a) Al-Khasyah lebih tinggi derajatnya dibandingkan al-khauf. Karena al-khasyah diambil dari perkataan syajaratun khasyah yaitu pohon yang kering dan layu (mati), yang menunjukkan totalitas. Sedangkan al-khauf diambil dari perkataan naqatu khaufa’ yaitu unta yang terkena penyakit, yang menunjukkan ada kekurangan dalam diri unta tersebut, tetapi belum mati.

Dari situ, kata al-khasyah diartikan “rasa takut khusus kepada Allah”. sedangkan kata al-khauf boleh digunakan untuk menyebut rasa takut kepada selain Allah. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Qs. ar-Ra’du: 21)

(b) Al-Khasyah biasanya digunakan untuk menunjukkan bahwa (objek) yang ditakuti itu  sesuatu yang besar. Hal itu dikarenakan al-khasyah terdiri dari tiga huruf:  (خ,ش,ي)yang menunjukkan sesuatu yang besar. Seperti halnya kata (شيخ), yang berarti “seseorang yang memiliki kedudukan tinggi lagi dihormati”, dan juga kata (خيش) yang berarti “baju yang tebal”. Ini sesuai dengan firman Alllah,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Fathir: 28)

Begitu juga di dalam firman-Nya,

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

“(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Qs. Qaf: 33)

Sedangkan al-khauf, biasanya digunakan untuk menunjukkan bahwa (subjek) yang merasa takut itu adalah sesuatu yang lemah.

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (Qs. an-Nahl: 50)

Malaikat walaupun secara penciptaan lebih besar daripada manusia, tetapi mereka merasa lemah di hadapan Allah, maka digunakan kata al-khauf.

(c) Kata al-khasyah sering digunakan untuk sesuatu lebih khusus daripada kata al-khauf. Karena makna al-khasyah adalah rasa takut yang diiringi dengan ilmu.

(d) Kata al-khauf  berarti juga “bergetarnya hati karena ada rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diinginkan atau lari dari sesuatu yang ditakuti”, sedangkan al-khasyah adalah “bergetarnya hati karena merasa tenang bersama Allah”. Urutannya seseorang akan merasa takut dulu (al-khauf) terhadap adzab Allah, kemudian hatinya akan menjadi tenang, yaitu al-khasyah.

 

II. Macam-macam al-Khauf

Al-Khauf terbagi menjadi dua, yaitu:

(1) Al-Khauf (rasa takut) kepada Allah. Ini disebut juga khauf al-’ibadah, yaitu rasa takut yang disertai dengan kecintaan, penghormatan, ketundukan, dan kehusyu’an. Rasa takut inilah yang mendorong seorang hamba untuk taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat-Nya. Ini sesuai dengan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ لأَصْحَابِهِ  :اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا  

“Sangat jarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari suatu majlis sehingga berdoa dengan doa ini untuk orang-orang yang duduk bersamanya: ‘Ya Allah, berikanlah kami rasa takut kepada-Mu yang bisa  menjadi penghalang  antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang bisa  menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan (berikanlah kami) keyakinan yang meringankan kami di dalam  menghadapi musibah dunia. (HR. at-Tirmidzi, an-Nasai. At-Tirmidzi berkata: Hadis ini Hasan Gharib)

Al-khauf  kepada Allah ini merupakan ibadah hati yang sangat agung dan diperintahkan oleh Allah di dalam firman-Nya,

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”  (Qs. Ali Imran: 175)

Ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu syarat menjadi orang beriman adalah takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Al-Khauf  kepada Allah dari sisi sifatnya, dibagi menjadi dua, yaitu:

(a) al-Khauf al-mamduh (rasa takut yang terpuji), yaitu rasa takut kepada Allah yang menimbulkan amal shalih. Ini hukumnya wajib dimiliki oleh setiap muslim.

(b) al-Khauf al-madzmum (rasa takut yang tercela), yaitu rasa takut kepada Allah yang berlebihan sehingga menimbulkan keputus-asaan dari rahmat Allah. Ini hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Dalilnya adalah firman-Nya,

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" .” (Qs. Yusuf: 87)

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

“Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Qs. al-Hijr: 56)

Apakah ini terjadi? Jawabannya: pernah terjadi. Ada seorang pemuda yang baru hijrah selama tiga bulan berturut-turut tidak bisa tidur, matanya merah, pandangannya kosong. Ketika ditanya penyebabnya, dia menjawab bahwa dirinya sangat takut terhadap dosa-dosa yang pernah dilakukannya dan dihantui dengan api neraka. Inilah yang disebut rasa takut yang berlebihan, sehingga merasa putus asa terhadap rahmat Allah. Padahal Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa yang dilakukan oleh hamba-Nya.

Al-Khauf  kepada Allah dari sisi objeknya, juga dibagi menjadi dua, yaitu:

(a) Khauf al-maqam, yaitu rasa takut terhadap kedudukan Allah Yang Maha Agung. Dia mampu Melihat seluruh apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya, dan mampu Memberikan sanksi yang berat. Ini biasanya terjadi pada hari kiamat, dimana seorang hamba sangat takut terhadap pertanyaan dari Allah terhadap apa yang dikerjakan selama ini. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Qs. ar-Rahman: 46)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۞ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى۞

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. an-Nazi’at: 40-41)

Salah satu sarana agar seseorang takut terhadap kedudukan Allah adalah dengan mempelajari asma-u al-husna dan sifat-Nya yang mulia.

(b) Khauf min adzabillah, yaitu rasa takut kepada adzab Allah yang berupa api neraka, yang Allah ancamkan kepada orang-orang yang menyelisihi ajaran-Nya. Al-khauf semacam ini tersebut di dalam firman Allah,

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan adzab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku wahai hamba-hamba-Ku.”  (Qs. az-Zumar: 16)

(2) Al-Khauf (rasa takut) kepada selain Allah. Rasa takut ini dibagi menjadi dua yaitu;

(a) al-khauf ath-thabi’i adalah rasa takut yang merupakan tabiat manusia, yaitu rasa takut kepada sesuatu yang membahayakan misalnya rasa takutnya seseorang terhadap binatang buas, rasa takut terhadap pemimpin yang zhalim, rasa takut terhadap musuh di medan perang. Rasa takut dalam bentuk ini bukanlah bagian daripada ibadah, sehingga tidak mengurangi keimanan seseorang. Walaupun begitu, tetap tidak boleh rasa takut ini berlebihan sehingga menghilangkan tawakkal kepada Allah, atau sampai dia meninggalkan kewajiban ibadah seperti meninggalkan shalat hanya karena takut kepada atasannya. Rasa takut seperti ini juga dirasakan oleh para nabi, sebagaimana rasa takutnya Nabi Musa ‘alaihi as-salam terhadap Fir’aun, di dalam firman-Nya,

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى

“Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami takut bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas".” (Qs. Thaha: 45)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

 وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

“Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku".” (Qs. asy-Syu’ara: 14)

Ini dikuatkan juga dengan firman-Nya,

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu".” (Qs. al-Qashash: 21)

(b) al-khauf al-muharram yaitu rasa takut yang menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban atau mengerjakan sesuatu yang haram, seperti seseorang yang mencari rezeki dengan cara yang haram, hanya karena takut tidak bisa makan; atau membuka aurat (menanggalkan jilbab) hanya karena takut di-PHK (Putus Hubungan Kerja).

 

III. Keutamaan Rasa Takut kepada Allah

Rasa takut kepada Allah adalah ibadah hati yang sangat agung. Diantara keutamaannya adalah sebagai berikut;

(1) Rasa takut kepada Allah merupakan perintah Allah kepada semua hamba-Nya dan merupakan salah satu syarat keimanan. Ini sebagaimana firman-Nya,

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”  (Qs. Ali Imran: 175)

(2) Rasa takut kepada Allah ini merupakan sifat para malaikat, sebagaimana firman-Nya,

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (Qs. an-Nahl: 50)

(3) Rasa takut kepada Allah ini merupakan sifat para nabi, sebagaimana firman-Nya,

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.”  (Qs. al-Ahzab: 39)

(4) Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu sifat para ulama. Ini sesuai dengan firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Fathir: 28)

(5) Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu sifat utama al-mukminun. Ini sesuai dengan firman Allah,

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Qs. al-Anfal: 2)

(6) Rasa takut kepada Allah merupakan sifat dari orang yang bersegera dalam kebaikan (para pemenang di dunia dan akhirat). sebagaimana di dalam firman-Nya,

 إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (57) وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (58) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ (59) وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60) أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (61)

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Qs. al-Mukminun: 56-61)

Ayat di atas menunjukkan dua rasa takut, yaitu: pertama, rasa takut kepada adzab-Nya (Qs. al-Mukminun: 57); kedua, rasa takut akan amalan mereka tidak diterima (Qs. al-Mukminun: 60)

 

IV. Manfaat Rasa Takut kepada Allah

(1) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang menjauhi maksiat, diantara dalilnya;

(a) Di dalam firman-Nya,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung.” (Qs. Yusuf: 23)

(b) Ini juga dikuatkan di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ لأَصْحَابِهِ  :اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ  

“Sangat jarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari suatu majlis sehingga berdoa dengan doa ini untuk orang-orang yang duduk bersamanya: ‘Ya Allah, berikanlah kami rasa takut kepada-Mu yang bisa  menjadi penghalang  antara kami dan maksiat kepada-Mu.” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasai. At-Tirmidzi berkata: Hadis ini Hasan Gharib)

(c) Juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, mengisahkan tiga orang yang terjebak di dalam gua dan diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Salah satu dari mereka adalah seorang pemuda yang ingin berzina kemudian diingatkan oleh wanita yang akan dizinahinya terhadap adzab Allah, sehingga dia takut dan mengurungkan niatnya berzina (meninggalkan zina).

(d) Juga dikuatkan dengan hadits tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah. Salah satu dari tujuh golongan tersebut adalah seorang pemuda yang dirayu wanita yang punya jabatan dan cantik, kemudian dia mengatakan, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, 'Aku takut kepada Allah.' Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian."  (HR. al-Bukhari dan Muslim. Matan hadits dari Muslim, 1712)

(2) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang bersemangat melakukan amal shalih, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ۞ إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ۞

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (Qs. al-Insan: 9-10)

Ayat di atas menunjukkan bahwa motivasi seseorang memberikan makan kepada orang miskin dan yatim karena rasa takut kepada Allah, dan takut kepada adzab Allah pada hari kiamat.

(3) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah yang disebutkan di atas.

(4) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang mendapatkan rasa aman pada hari kiamat. Sebagaimana di dalam hadits Qudsi, dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي - صلى الله عليه وسلم - فيما يرويه عن ربه جل وعلا أنه قال :  وعزتي لا أجمع على عبدي خوفين ولا أجمع له أمنين ، إذا أمنني في الدنيا أخفته يوم القيامة ، وإذا خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Rabbnya ‘azza wa jalla bahwasanya Allah berfirman, “Demi Kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan pada diri hamba-Ku dua rasa takut, dan tidak akan mengumpulkan pada dirinya dua rasa aman. Jika dia merasa aman dari adzab-Ku di dunia, maka akan Aku takut-takuti pada hari kiamat. Jika dia merasa takut kepada adzab-Ku di dunia, maka akan Aku beri rasa aman di hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban, al-Bazzar, dan al-Baihaqi. Hadits Qudsi ini dishahihkan oleh Ibnu Hajar dan al-Albani.)

(5) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang mendapatkan kemenangan terhadap orang-orang kafir dan mendapatkan kekuasaan di muka bumi. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.”  (Qs. Ibrahim: 13-14)

(6) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang mendapatkan ampunan dari Allah atas segala dosanya. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَسْرَفَ رَجُلٌ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ أَوْصَى بَنِيهِ فَقَالَ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اسْحَقُونِي ثُمَّ اذْرُونِي فِي الرِّيحِ فِي الْبَحْرِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبُنِي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ بِهِ أَحَدًا قَالَ فَفَعَلُوا ذَلِكَ بِهِ فَقَالَ لِلْأَرْضِ أَدِّي مَا أَخَذْتِ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ فَقَالَ لَهُ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ فَقَالَ خَشْيَتُكَ يَا رَبِّ أَوْ قَالَ مَخَافَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ بِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Seorang laki-laki telah melampui batas atas dirinya. Tatkala dia hendak meninggal, dia berwasiat pada anaknya seraya berkata; 'Apabila aku mati, maka bakarlah aku lalu buanglah aku, dan buanglah sebagiannya di laut. Demi Allah, jika Rabbku berkehendak, pasti Dia akan menyiksaku dengan suatu siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada seorangpun. (Perawi) berkata; lalu mereka melakukan wasiat tersebut. Kemudian Allah berfirman kepada bumi: "Tunaikan apa yang telah kamu ambil, lalu dia pun berdiri. Setelah itu Allah bertanya kepada orang tersebut: kenapa kamu melakukan hal tersebut? Dia menjawab; Karena takut kepada-Mu wahai Rabbku. Karena hal itu Allah mengampuninya." (HR. Muslim, 4950)

(7) Rasa takut kepada Allah menyebabkan seseorang dimasukkan ke dalam surga. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۞ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ۞

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. an-Nazi’at: 40-41)

Ini dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang takut maka dia berjalan, dan barangsiapa yang berjalan niscaya dia akan sampai ke tempat tinggal, ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu sangat mahal, ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga. (HR. at-Tirmidzi, 2374. Abu Isa berkata: Hadist ini hasan gharib.)

 

***

 

 Bekasi, 21 Oktober 2021

 

KARYA TULIS