Karya Tulis
194 Hits

(Qs. Al-Baqarah: 26) Bab 20 - Permitsalan Seekor Nyamuk


PERMITSALAN SEEKOR NYAMUK

 

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ  

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,”

(Qs. al-Baqarah: 26)

 

(1)  Sebab Turunnya Ayat

Ada beberapa pendapat tentang turunnya ayat di atas, di antaranya:

Ayat di atas turun dengan berkenaan dengan permitsalan orang munafik pada ayat sebelumnya, yaitu seperti orang yang menyalakan api dan orang yang terkena hujan. Mendengar hal itu orang-orang kafir mengatakan bahwa Allah itu Maha Tinggi dan Mulia tidak mungkin memberikan permitsalan seperti itu, maka turunlah ayat ini.

Pendapat lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan permitsalan berhala yang disembah orang musyrik, tidak bisa berbuat apa-apa ketika seekor lalat hinggap di atasnya. Begitu ketika Allah memberikan permitsalan orang-orang musyrik seperti laba-laba yang membuat rumah. Mendengar hal itu, mereka mengolok-olok al-Qur'an dan Nabi Muhammad, maka turunlah ayat ini.

Pendapat ketika menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan permitsalan yang Allah turunkan dalam al-Qur'an tentang lalat dan laba-laba. Mendengar hal itu orang Yahudi tertawa dan berkata, “Ini bukan firman Allah.” Maka turunlah ayat ini.

Dari ketiga pendapat di atas, disimpulkan bahwa orang-orang kafir seringkali meremehkan dan mengejek permitsalan-permitsalan tersebut. Padahal permitsalan-permitsalan tersebut mengandung pelajaran yang sangat banyak dan bermanfaat bagi orang yang bisa memahaminya. Allah berfirman,

وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ  

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Qs. al-Ankabut: 43)

(2)  Tidak Malu dengan Kebenaran

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah tidak malu memberikan permitsalan dengan makhluk kecil seperti nyamuk.

Di sana ada nash-nash lain yang serupa menyebut sifat ini, di antaranya:

(a) Firman Allah,

 إِنَّ ذَٰلِكُمۡ كَانَ يُؤۡذِي ٱلنَّبِيَّ فَيَسۡتَحۡيِۦ مِنكُمۡۖ وَٱللَّهُ لَا يَسۡتَحۡيِۦ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ  

“Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (Qs. al-Ahzab: 53)

(b) Hadist Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Abu Thalhah berkata,

 يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنَّ اَللَّهَ لَا يَسْتَحِي مِنْ اَلْحَقِّ, فَهَلْ عَلَى اَلْمَرْأَةِ اَلْغُسْلُ إِذَا اِحْتَلَمَتْ? قَالَ: "نَعَمْ.‏ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ

“Ya Rasulullah! Allah tidak malu dengan kebenaran. Apakah mandi wajib bagi seorang wanita ketika dia mengalami mimpi seksual?” Dia shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya! Ketika dia melihat tanda-tanda cairan.” (HR. al-Bukhari, 127 dan Muslim, 471)

(c) Hadist dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdo’a dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.” (HR. Muslim)

(3) Keajaiban Penciptaan Nyamuk

Ketika Allah menyebutkan nama seekor binatang di dalam al-Qur'an menunjukkan bahwa binatang tersebut mempunyai kelebihan dan keistimewaan, bisa sesuatu yang baik ataupun buruk, ataupun sesuatu yang masih umum dan netral.

Nyamuk, walaupun bentuknya sangat kecil, tetapi membuat repot manusia. Bahkan manusia yang mati karena nyamuk, karena penyakit malaria dan demam berdarah jauh lebih banyak dibanding dengan kematian manusia yang disebabkan binatang yang besar seperti singa, harimau, macan, gajah, jerapah, badak, onta dan lain-lainnya.

Permitsalan ini juga menunjukkan bahwa nyamuk walaupun bentuknya kecil, manusia tidak boleh meremehkannya. Bahkan di sana ada binatang yang lebih kecil dari nyamuk ( فَمَا فَوۡقَهَاۚ), seperti bakteri dan virus yang menyebabkan aktivitas manusia seluruh dunia lumpuh total, dan kematian demi kematian terjadi setiap hari. Negara-negara besar dengan teknologi canggih yang dimilikinya tidak berkutik sedikit pun ketika menghadapi sebuah virus corona. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

(4) Sarana Bertambah Keimanan  

Tidak disangka bahwa seekor nyamuk bisa menyebabkan seseorang bertambah keimanannya dengan meyakini bahwa binatang tersebut adalah salah satu ciptaan Allah untuk menguji keimanan hamba-Nya. Orang beriman akan bertambah keyakinannya kepada Allah bahwa Dia-lah satu-satunya Sang Pencipta. Tidaklah menciptakan sesuatu kecuali ada hikmah dan pelajaran di baliknya.

Di antara dalil dari pernyataan ini adalah sebagai berikut:

(a) Firman Allah,

 فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡ

“Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka.” (Qs. al-Baqarah: 26)

(b) Firman Allah,

قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ   

“Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung".” (Qs. al-Mu’minun: 113)

(c) Firman Allah,

وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا لَٰعِبِينَ  

“Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Qs. al-Anbiya’: 16)

(d) Firman Allah,

رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali-Imran: 191)

(5)  Orang Kafir Berburuk Sangka kepada Allah

Adapun orang-orang kafir selalu berburuk sangka kepada Allah dalam menyikapi sebuah kejadian. Termasuk dalam menyikapi penciptaan dan permitsalan seekor nyamuk. Mereka bertanya dengan nada pengingkaran, tanpa ketidaksetujuan mereka kepada Allah.

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ

“Dan adapun orang-orang kafir mereka mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?"” (Qs. al-Baqarah: 26)

Pernyataan orang-orang kafir di atas menunjukkan kebodohan mereka dan tidak ada penghormatan sama sekali kepada Allah.

Allah berfirman,

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ   

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. az-Zumar: 67)

(6)  Hidayah dan Kesesatan di Tangan Allah

Dengan permitsalan seeokor nyamuk, Allah memberikan hidayah kepada banyak manusia, dan dengannya pula, Allah menyesatkan banyak manusia. Allah berfirman,

فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ

“Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 16)

Ini sekaligus untuk membantah kelompok sesat yang berpendapat bahwa hidayah dan sesat itu pilihan manusia sendiri, tidak ada campur tangan dari Allah.

Pada penutupan ayat Allah menyatakan bahwa tidak ada yang disesatkan dalam hal ini oleh Allah kecuali orang-orang yang fasik. Siapa orang fasik yang dimaksud dalam ayat ini?

Penjelasannya akan diuraikan pada tafsir ayat selanjutnya.

 

***

Ahmad Zain An-Najah

KARYA TULIS