Penulis
3489 Hits

Alumni Ponpes Ngruki Gelar Muktamar

almukminnIkatan Alumni Pondok Pesantren Islam Al Mukmin (Ikappim) Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, menggelar silaturahmi dan muktamar II di Ponpes Ngruki, Sukoharjo, 4-5 Juli 2008. Acara itu diadakan tanpa ada muatan kepentingan apapun selain menjalin hubungan baik antar alumnus.

Dalam sambutan pembukaan, Jumat (4/7/2008) malam, Ketua Ikappim Ali Usman menyatakan rasa bangga sebagai alumni Al Mukmin serta para alumninya. Menurutnya, Al Mukmin dan para alumninya telah menunjukkan diri sebagai pribadi yang tegar dan berpendirian di tengah cobaan yang sangat kuat.

Stigma dan propaganda buruk selalu diarahkan kepada Al Mukmin dan lulusannya. Namun sebagai pesantren Al Mukmin tetap eksis, alumninya juga banyak yang berhasil menduduki posisi penting di berbagai bidang. Harapan kita lulusan Al Mukmin bisa menduduki posisi elit negara ini, menggantikan para elit yang korup itu," ujarnya berapi-api.

Pembukaan Muktamar II Ikappim tersebut dihadiri tidak kurang dari 300 alumni dari periode awal hingga lulusan paling akhir. Tema utama muktamar adalah aktualisasi pendidikan dan ekomoni menyonsong era globalisasi. Seluruh rangkaian acara berakhir Sabtu sore dan akan menghasilkan kepengurusan Ikappim baru.

Terkait degan tema muktamar, Sabtu pagi hingga siang akan digelar seminar pendidikan dan ekonomi dengan menghadirkan narasumber Ikhwan Abidin Basri dari Dewan Syariah MUI Pusat, Anggota DPR RI Zulkifli Halim dan Dosen Pascasarjana UI Ahmad Zain Annajah.

Seusai pembukaan, Ali Usman mengatakan acara silaturahmi dan muktamar tersebut digelar sebagai acara rutin biasa. "Tidak ada kaitan dengan peristiwa atau kepentingan apapun selain silaturahmi sesama alumni. Acara ini hanya acara periodik saja," ujar pengusaha Solo lulusan Sosiologi UGM tersebut. ( mbr / irw ) ( sumber  detik.com )

Seminar Nasional di Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki
Posted :   Senin, 07/07/2008 | 09:56:09
Solo- Ikatan Alumni Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki (IKAPPIM NGRUKI) menghajat Seminar Nasional dengan tema "Aktualisasi Pendidikan dan Ekonomi Menyongsong Era Globalisasi" dalam rangka rangkaian kegiatan Muktamar IKAPPIM NGRUKI II dan Silaturrahim Alumni Nasional di komplek pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki 4-5 Juli 2008. Seminar ini menghadirkan tiga pembicara: Ikhwan Abidin Basri, MA (Dewan Syariah MUI Pusat), Drs. Zulkifli Halim, M.Si (DPR RI Fraksi PAN) dan  Dr. Ahmad Zain Annajah, M.A. (Dosen Pasca Sarjana UI), tampil sebagai moderator yaitu Edit Estetika, S.T., M.Si (Manager Bank Permata Syariah).

Seminar yang diselenggarakan Sabtu (5/7) merupakan hari kedua setelah Muktamar IKAPPIM NGRUKI II ini dihadiri banyak alumni yang berasal dari berbagai wilayah tanah air.

Dalam seminar ini Ikhwan Abidin Basri, M.A.,  sebagai Dewan Syariah MUI Pusat menyoroti beberapa kendala Perbankan Syariah di Indonesia. Beliau memaparkan makalahnya bahwa penduduk muslim Indonesia adalah terbesar di dunia namun potensi kependudukan yang begitu besar ternyata tidak secara otomatis memuluskan pelaksanaan sosialisasi perbankan syariah, karena sebagian penduduk Indonesia tidak melakukan transaksi lewat jasa perbankan. Faktornya antara lain: isu perbankan syariah merupakan isu yang relatif masih baru dalam dunia Islam, terlalu terpaku dengan fiqh Ibadah dan mengabaikan Fiqh Muamalah, ikhtilaf para ulama tentang haramnya bunga dan terbatasnya Sumber Daya Insani (SDI). Lebih lanjut pakar ekonomi Syariah ini menawarkan solusi tentang berbagai kendala perbankan syariah di Indonesia yaitu dengan melakukan berbagai pendekatan yang bersifat sosio-kultural, sosio-politik dan akademisi.

Kemudian Drs. Zulkifli Halim, M.Si,  yang mengemban amanah sebagai anggota DPR/MPR-RI No. A-179 Fraksi PAN memaparkan pengembangan perekonomian dan sumber daya manusia Indonesia. Beberapa hal dijelaskan tentang keterpurukan perekonomian dengan jumlah orang kaya dan jumlah orang miskin sama-sama meningkat. Ini menjadi fenomena yang aneh, jika melihat beberapa negara lain, perekonomiannya tumbuh secara nyata, dan señalan dengan pertumbuhannya maka orang kayanya bertambah, sehingga fenomena itu masih tergolong waras. Lebih lanjut terkait dengan masalah sumber daya alam yang banyak dikuras habis oleh perusahaan-perusahaan besar asing yang sangat merugikan negara dan menyengsarakan rakyat sehingga kekayaan melimpah-ruah ini belum bisa dinikmati, dikembangkan dan diberdayakan oleh sumber daya manusia bangsa Indonesia. Beliau menjelaskan pula tentang Lembaga Keuangan Syariah dalam melawan riba. Kuncinya adalah pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Sementara Dr. Ahmad Zain Annajah, M.A. selaku Dosen Pasca Sarjana UI menjelaskan konsep pendidikan yang humanis. Menurutnya belajar itu harus dengan bahagia sehingga akan tercipta fitrah manusia dengan segala potensinya. Lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia perlu adanya kerja sama dengan berbagai pihak, melakukan lompatan-lompatan signifikan terhadap program pendidikan, dan pengiriman kader ke tempat lain sehingga akan membawa perubahan.

Dari seminar pendidikan dan ekonomi tersebut dapat menjadi wacana bahwa kedua komponen itu harus sinergis sehingga mampu menyongsong era globalisasi dalam beraktualisasi.[ngadiyo/MD] ( Sumber Muslimdaily.net )

Assalamualaikum wr.wb

Pada acara temu alumni pondok kali ini, aku sangat bahagia. Selain pertemuanku dengan teman-teman, kakak-kakak, adik-adik sesame alumni dari berbagai pelosok dan kedatangan sahabat baikku( teman sekamar dan sekelas dipondok dan sekampus di UGM ) yang baru saja pulang dari Mesir setelah menjalani tugas dari fakultasnya (Ilmu budaya jurusan sastra arab), pembicara yang dihadirkan juga alumni-alumni yang keren-keren dan membuat semangatku untuk menuntut ilmu semakin menggebu-gebu. Belum lagi cerita kakak-kakak senior yang sudah malang melintang menghadapi berbagai macam permasalahan hidup dengan segala hikmah dibalik peristiwa yang terjadi juga semakin menyadarkanku akan banyak hal. Terimakasih, kakak-kakak….

Meski kedatanganku pada acara ini bisa dikatakan terlambat karena beberapa agenda lain harus kutunaikan lebih dulu, namun ada beberapa hal yang sempat kutangkap dari temu alumni kemarin. Sekedar berbagi, supaya teman-teman yang belum sempat hadir bisa membacanya.

Pertama, puji syukur yang patut kita haturkan kepada ALLAh yang atas ridlo-Nya lah forum alumni yang selama ini diidam-idamkan bisa terbentuk. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga patut kita persembahkan untuk para founding father dan pengurus pertama IKAPPIM yang telah dengan susah payah mempelopori adanya forum alumni ini. perjuangan yang tidak ringan, karena harus mengumpulkan alumni sejak awal berdirinya pondok berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai alumni yang terakhir. Padahal alumni tersebut sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, sehingga untuk mencarinyapun bukan suatu hal yang mudah. Bertahun-tahun usaha yang telah dilakukan mulai menampakkan hasil, hingga akhirnya terbentuklah IKAPPIM (ikatan alumni ponpes islam Almukmin) ini. meski kekurangan masih banyak terdapat disana-sini, namun itulah yang menjadi tugas dan kewajiban kita (yang merasa sebagai alumni) untuk memperbaikinya.

Seringkali, dalam berbagai perbincangan dengan teman-teman alumni, banyak kritikan-kritikan, ungkapan kekecewaan terhadap pola pendidikan pesantren yang terlontar. Sayangnya, hasil pembicaraan itu hanya berhenti pada saat itu dan tidak ada tindak lanjut. Mungkin banyak sekali ide, saran, ataupun kritikan dalam benak masing-masing alumni untuk pondok namun belum dapat tersalurkan karena media yang belum tersedia. Adanya IKAPPIM ini, diharapkan dapat menjadi mediator yang menghubungkan almni dengan pihak pesantren sehingga kritikan dan saran tersebut dapat ditindak lanjuti. Hal ini masih mencakup dalam internal pesantren.

Masalah berikutnya adalah kesinergisan pemberdayaan alumni. Sebagai pondok dengan usia yang sudah cukup tua, alumni-alumni kita tidak diragukan lagi. Tersebar diberbagai bidang, pakar, dan daerah. Namun kesinergisan untuk menyatukan potensi-potensi tersebut guna memajukan almamater khususnya dan umat islam umumnya belum tampak. Masing-masing masih berjalan sendiri. Hal inilah yang akan dicoba untuk dibangun. Bagaimana potensi-potensi dari alumni dapat disinergiskan dan dioptimalkan untuk almamater dan ummat?

Kedua, ini yang paling ‘nyantol’ dikepala saya (soalnya disampaikan ketika rasa kantuk saya sudah hilang.he2x). pesan ini disampaikan oleh Ust.ahmad Zain An-najah (alumni ngruki, mantan ketua PCI muhammadiyah Mesir dan pengurus bag.Ghozwul Fikri DDII pusat) terkait dengan pola pendidikan pesantren. Cita-cita ustadz senior kita, ustadz abu bakar ba’asyir untuk menegakkan syariah, tentu saja tidak cukup hanya dengan mengandalkan alumni yang menjadi pengajar dipesantren. Penegakan syariah juga tidak cukup hanya dengan alumni-alumni pesantren yang menjadi pakar dalam bidang syariah (agama) saja. Keragaman alumni inilah yang sebenarnya merupakan sebuah potensi. Pesantren memang tidak harus mencetak orang-orang yang pakar dalam bidang ‘syariah’ seluruhnya. Adanya alumni yang menjadi dokter, guru, psikolog, ekonom, ARSITEK, dan sebgainya merupakan sebuah nilai plus tersendiri. basic keagamaan yang telah ditanamkan ketika dipesantren dan terus dipupuk, tidak hanya akan melahirkan pakar syariah, tapi juga dokter yang paham syariah, ekonom paham syariah, arsitek paham syariah, atau profesi apapun yang faham akan syariah.

Sudah saatnya paradigm alumni pesantren harus bergelut dibidang keagamaan dirubah. Pesantren harus mampu mengarahkan santrinya untuk mendalami dan menekuni bidang yang diminatinya dan memotivasinya untuk benar-benar mendalami disamping pemahaman terhadap agama yang juga harus dijadikan dasar. Pola pengajaran yang bersifat pemaksaan sudah tidak selayaknya diterapkan. Banyak contoh kasus yang disebutkan oleh pembicara tentang alumni-alumni ngruki yang ‘gagal’ kuliahnya di Mesir karena paksaan orang tua. Keinginannya untuk belajar kedokteran, ekonomi, ataupun ilmu umum lainnya harus terhambat oleh keinginan orang tua yang mewajibkan anaknya sebagai alumni pesantren untuk melanjutkan ke Al-azhar. Tidak jarang, karena rasa keterpaksaan ini, semangat belajar menjadi menurun dan tidak sungguh-sungguh. Akibatnya, hasil yang dicapai menjadi tidak maksimal. Ustadz mengutip sebuah ayat dalam alquran surat AL-isra’ : 84

84. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[Termasuk dalam pengertian Keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya] masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.

Allah memerintahkan agar Muhammad saw menyampaikan kepada umatnya bahwa tiap-tiap orang itu bekerja menurut kemauannya sendiri-sendiri. Ada orang yang suka bersyukur kepada Allah setiap ia memperoleh nikmat dari pada Nya, dan ada pula orang yang mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya; semuanya bekerja menurut tabiat, watak dan kecerdasan mereka masing-masing.
Dalam pada itu Allah SWT, Penguasa semesta alam mengetahui siapa di antara manusia yang mengikuti yang hak dan siapa di antara mereka yang mengikuti yang

semua akan diberi keputusan dengan adil; tidak ada seorangpun yang tidak memperoleh keputusan dengan adil dari Allah. Seandainya manusia ada yang tetap kafir, janganlah dipaksa beriman.
Allah berfirman :

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (135)

Artinya:
Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapat keberuntungan”. (Q.S. Al An’am: 135)

Dengan demikian, yang perlu dibangun adalah budaya untuk semangat menuntut ilmu dan berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kebahagiaan dunia-akhirat. Adapun caranya diserahkan pada kemampuan, minat, dan bakat masing-masing. Caranya tidak mutlak harus dengan kuliah sampai S3, karena tidak jarang professor justru berbuat hal-hal yang tidak mendatangkan kebahagiaan dunia akhirat. Sedangkan Orang tanpa gelar juga tidak pasti intelektualnya rendah. Bisa jadi ilmunya justru lebih tinggi daripada professor dan rasa takutnya kepada Allah (sebagai ciri dari ulama) justru lebih besar.

Ustadz Zain juga memotivasi kepada alumni untuk pantang menyerah pada keadaan. Biaya pendidikan yang mahal, komersialisasi pendidikan jangan sampai menjadi penghalang untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Mengutip perkataan ustadz Nurhadi (mudir ma’had Aly) : Berkelit di era sulit >> MELEJITT…. Justru dengan semakin banyaknya himpitan seharusnya memacu semangat dan pengorbanan yang lebih ekstra sehingga nilai perjuangannya lebih tinggi dan insya Allah ilmu yang didapat bisa lebih barokah. Kemahalan pendidikan terjadi karena sistem. Dan sebagai orang yang tidak masuk dalam sistem, dan tidak bisa mengendalikan atau merubahnya, tidak sepantasnya hanya mengeluh dan menyerah. Untuk saat ini, carilah jalan dan celah untuk bisa mengatasinya. Jika sudah lolos dan berhasil, masuklah kedalam sistem dan rubahlah sistem itu.

Banyak alternative yang dapat dilakukan. Beasiswa dan bekerja, merupakan beberapa contoh pilihan yang dapat dilakukan. Dipenghujung acara, Ust. Zain juga menawarkan sebuah kabar gembira. Beliau menawarkan program DDII kerjasama dengan BAZNAS untuk ‘mencetak 1000 kader ulama’. 1000 kader ulama ini diharapkan akan muncul dari berbagai bidang, sehingga terbuka untuk semua jurusan, baik umum maupun keagamaan. Programnya adalah beasiswa 200 S3, 400 S2, dan 400 non gelar. Biaya sekolah akan ditanggung sampai lulus. Syaratnya mengirimkan CV ke bagian Ghozwul Fikri DDII pusat. CV yang masuk akan diseleksi. info ini masih belum dipublikasikan secara luas (masih info eksklusif, tapi karena pesertanya alumni Ngruki, sehingga ustadz memotivasi teman-teman alumni untuk berpartisipasi). Info lebih lanjut silahkan menghubungi bagian Ghozwul fikri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat. ( Sumber qolbimuth.wordpress.com )