Penulis
1733 Hits

STID Mohammad Natsir adakan Seminar Pemikiran Islam tentang Karakter Sains dan Pendidikan

Pada beberapa sudut jalan di ibu kota Jakarta banyak kita temui spanduk berukuran besar tertulis kalimat, “Mari Berinfaq Untuk Generasi Masa Depan”. Spanduk yang katanya untuk menyambut hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2008, meski tidak terungkap, tentunya merupakan bentuk kegelisahan dan kegundahan masyarakat tentang kualitas dan peran pendidikan nasional di masa sekarang.  Ketidakmampuan pemerintah dalam mengucurkan 20% dana APBN untuk pendidikan merupakan satu dari banyaknya sebab terendamnya pendidikan di negeri ini. Timbul pertanyaan, bagaimana mengangkat kualitas bangsa dengan 1001 problem negara yang 40% penduduknya miskin ?

Meski banyak lembaga pendidikan bertebaran, negeri ataupun swasta, namun belum terlihat adanya dukungan kebijakan pemerintah untuk menjadikan sektor pendidikan tersebut menjadi pilar strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Lembaga-lembaga swasta hanya suka membangun ‘fisik’ lembaga pendidikan, tapi kurang memikirkan mutu para anak didiknya dan cenderung membuat jurusan dan program studi yang ‘gemuk’ tanpa kesiapan SDM, visi dan misi yang jelas. Tentu keinginan membuat lembaga pendidikan tidak bisa disamakan dengan hasrat untuk membuat parpol.

Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir juga merasakan hal itu. Banyak yang hilang dalam perumusan pendidikan di Indonesia karena kita keliru dalam menata pendidikan ini. Lembaga pendidikan dianggap sukses bila gedungnya modern, sarananya lengkap, dan sebagainya. Padahal karakter sains dan pendidikan yang terumus dalam visi dan misi lembaga tersebut sangat menentukan kualitas proses dan hasil pendidikan. Dalam konteks pendidikan Islam, pembelaan terhadap nilai, fitrah manusia, dan absolutnya wahyu Tuhan juga menjadi dasar dalam pencarian Ilmu. Mengawali bulan mei 2008 ini STID Mohammad Natsir mencoba menegaskan framework Pemikiran Islam tentang Karakter Sains dan Pendidikan dalam bentuk seminar sehari. Seminar yang diadakan pada tanggal 3 Mei 2008 dan bertempat di Kampus A STID Mohammad Natsir, Jl. Kramat Raya no.45 ini menghadirkan beberapa praktisi pendidikan, antara lain Dr. Daud Rasyid, MA (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.Ed (Purek III ISID Gontor), Dr. Mukhlis Hanafi, MA (Manajer Program Pusat Studi Al-Qur’an Jakarta), Dr. Ahmad Zain an-Najah, MA (Anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah) dan Dr. Syairozi Dimyati, M.Ed (PD Akademik Fakultas Dirosah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Acara ini merupakan seminar keempat yang diadakan STID Mohammad Natsir dengan tiap-tiap acaranya memiliki tema berbeda.

Masih dalam suasana hari pendidikan nasional, seminar ini juga menyoroti tentang masalah pendidikan Islam di tanah air yang masih carut marut, bukan saja pada sistemnya tapi juga pada kualitas para lulusannya. Akar masalah pendidikan Islam di Indonesia, menurut Dr. Mukhlis Hanafi, MA ada pada undang-undang sisdiknas yang diskriminatif dan itu sudah berlangsung lama. Ide-ide besar umat Islam yang masuk ke dalam lembaga pendidikan Islam Depertemen Agama tidak bisa diterjemahkan dalam bentuk konsep pendidikan, sebaliknya ide-ide yang tidak berguna malah masuk dalam nomenklatur konsep pendidikan. Parahnya lagi, lembaga-lembaga pendidikan Islam yang seharusnya bersinergi malah melakukan aktifitas masing-masing, pendidikan hanya sekedar pelepas dahaga intelektual saja.

Ada paradigma yang sengaja di bangun untuk memisahkan ilmu dari Islam, bahwa Islam cukup hanya mengurusi masalah-masalah keagamaan saja, sedangkan untuk ilmu pengetahuan lainnya dapat mengambil rujukannya dari Barat. Hal ini juga diungkapkan oleh Dr. Syairozi Dimyati, M.Ed yang mengatakan bahwa sebab kemunduran peradaban Islam selain penjajahan  adalah umat Islam dicekoki oleh paradigma yang menggambarkan Islam menganut dikotomi dalam pendidikan agama dan umum. Paradigma ini dibantah oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.Ed. Menurutnya, Islam bukanlah sekedar agama, tetapi lebih dari itu adalah sebagai pandangan hidup. “Islam itu agama dan peradaban”, tegasnya. Jika konsep-konsep dalam pandangan hidup Islam dibingkai dalam susunan yang sistematik dan saling berkaitan antara satu sama lainnya serta membentuk suatu keseluruhan yang integral, maka ia akan menjadi asas epistemologi dan bahkan dapat menjadi framework kajian berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam. Bahkan, ia meragukan kemurnian hasil penemuan-penemuan yang dihasilkan peradaban Barat. “Penemuan yang dihasilkan Barat adalah hasil dari terjemahan ulama Islam, ini bukan omong kosong, bisa dibuktikan”, tantangnya. Ia mencontohkan Copernicus yang begitu terkenal di dunia Barat ternyata mencuri teori Heleosentris-nya Ibnu al-Shatir dengan menterjemahkan bukunya.

Peradaban Islam pernah memiliki khazanah ilmu yang sangat luas dan menghasilkan para ilmuwan yang begitu luar biasa. Jika saja mereka tidak berperang antar sesama mereka, atau tentara Kristen tidak mengusir mereka dari Spanyol, atau orang-orang mongol tidak menyerang dan merusak bagian-bagian dari negeri-negeri Islam di Baghdad, maka umat Islam akan mampu menciptakan seorang Descartes, Gassendi, Hume, atau Copernicus, karena bibit-bibit Filsafat, Mekanika, Empirisme, dan teori Heliosentris berasal dari ilmu pengetahuan Islam. Demikianlah ungkapan Dr. Hamid yang juga sebagai Direktur INSISTS ini. Maka, adalah suatu keharusan jika kita harus kembali kepada ilmu untuk meraih kembali kejayaan peradaban Islam. Karena ilmu, menurutnya, adalah suatu hal yang menyebabkan berkuasanya peradaban Islam selama 12 abad. Untuk dapat mengislamkan ilmu, kita harus membebaskan diri dari konsep sekuler dan liberal, baru kemudian memasukkan konsep-konsep Islam yang berpusat pada ‘tauhid’. Mengapa tauhid ? Karena ia adalah kalimat thayyibah yang mewarnai seluruh konsep. Tauhid memusatkan seluruh konsep kepada Tuhan dan bukan sekedar mentauhidkan Tuhan semata. “Ketika kita berbicara ilmu maka kita berbicara tentang nilai, dan nilai sangat berkaitan dengan Tuhan”, ungkapnya. Apabila ilmu tidak dikaitkan dengan Tuhan, maka ia mencontohkan seperti seorang Darwin dengan teori evolusinya yang menafikan adanya Tuhan.

Sementara itu Dr. Daud Rasyid, MA dalam orasinya memperingatkan tentang kedudukan sains dan perangkat ilmu dalam Islam yang sudah tidak steril lagi akibat pengaruh dari filsafat (mantiq Yunani). Menurutnya, sulit untuk memahami ilmu karena hampir semua ilmu sudah terpengaruhi, termasuk tafsir dan ushul fiqih hingga dalam masalah tauhid juga termasuk yang tidak terkecuali. “Hanya ilmu hadits saja yang masih steril dari pengaruh pemikiran filsafat Yunani”, tegasnya. Oleh karena itu, umat harus diarahkan untuk kembali merujuk kepada turats Islam yang murni, kemudian mendudukan manhaj yang mereka gunakan dalam memahami agama dan mengamalkannya dengan baik. Kebanggaan pada turats harus ditinjau ulang, karena hanya turats-turats aslilah yang harus dikembangkan agar Islam mudah difahami dan lebih bermanfaat. Hal ini didukung pula oleh pendapat Dr. Ahmad Zain an-Najah, MA yang mengatakan bahwa tidak semua turats bisa diamalkan begitu saja karena ia adalah hasil budaya sarjana muslim yang tidak terlepas dari kesalahan. Meski demikian, menolak keseluruhan juga merupakan kecerobohan. Turatslafadz maupun maknanya. Tidak bisa seseorang memahami al-Qur’an dan sunnah begitu saja tanpa melalui penjelasan para ulama. Oleh karenanya, menurut Dr. Zain, jika isi-isi turats sudah ijma’ maka sifatnya menjadi ma’sum. Kemunduran umat Islam kini pun tidak terlepas dari rendahnya mereka memahami sejarah peradaban Islam dan kitab-kitab peninggalannya. Ditambah pula usaha Barat yang ingin memecah belah dengan memunculkan dikotomi antara turats dan mu’ashirah. Dalam pandangan Barat, kitab-kitab terdahulu termasuk al-Qur’an dan hadits adalah turats yang identik jumud dan kuno sehingga bisa dikritik. Mereka berusaha memenggal hubungan antara generasi masa lalu dengan generasi sekarang agar generasi muda tidak mengenal turats. Di Indonesia, masih banyak pondok pesantren yang tetap mempertahankan kitab-kitab yang dipengaruhi filsafat Yunani dan mereka bangga akan hal itu. Dalam hal ini posisi Indonesia adalah lâ ilâ wala ilâ hawla’i (tidak kemana-mana), gamang sikapnya adalah sarana yang ditakdirkan Allah untuk menjaga al-Qur’an baik dari

Jika kita berbicara tentang pendidikan Islam maka pendidikan terbaik sepanjang masa adalah pendidikan yang sejalan dengan al-Qur’an. Hal inilah yang diungkapkan Dr. Mukhlis dalam makalahnya. Menurutnya, pendidikan adalah proses transformasi ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk membentuk generasi rabbâniyyun, yaitu seseorang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah, bertakwa, mawas diri dalam berbicara dan bertindak, memadukan antara ilmu dan amal serta mengabdikan dirinya untuk mengajarkan sesuatu yang bermanfaat. Kerangka pendidikan yang mesti dijaga menurutnya, “mempertahankan orisinilitas tetapi tidak tertutup, mengikuti perkembangan tetapi tidak lebur”. Hal ini, menurut Dr. Syairozi, dapat kita lihat pada masa di mana Islam mengalami kejayaan intelektualitasnya, yaitu pada masa hidupnya Rasulullah saw dan para sahabat. Menurut doktor pendidikan lulusan al-Azhar ini, itulah potret pendidikan Islam yang unggul. Masa itu merupakan masa gemilang yang tidak akan pernah ada sesudahnya, dimana dalam tempo 23 tahun saja beliau mampu mengubah sebuah peradaban yang jahiliyah. Dalam hal ini Dr. Daud Rasyid  memuji pemerintah Arab Saudi yang mengembangkan manhaj as-shalaf as-shalih dalam memelihara kemurnian Islam (as-shâlah). Menurutnya, pada zaman Rasulullah saw, para sahabat dan tabi’in tidak pernah didapatkan orang-orang yang berilmu tidak mengamalkan al-Qur’an dan hadits.

Terlepas dari itu semua, proses pendidikan harus mengarah pada pembentukan karakter peserta didiknya. Tujuannya adalah pengabdian kepada Allah SWT semata. Mengutip pendapat Dr. Mukhlis, ilmu haruslah berkelanjutan dengan iman. Ilmu yang benar sejatinya mengantarkan kepada iman, dan keimanan yang sejati bisa mengantarkan kepada kekhusyu’an dan ketundukan. Jika hati tunduk maka raga pun tunduk. Maka, membangun pendidikan tidak cukup hanya dengan sarana lengkap saja, namun karakter sains dan pendidikan haruslah berada dalam sekoci-sekoci yang memiliki daya tampung dan perangkat metodologi yang telah teruji, dan inilah yang diwariskan ulama masa silam. Metodologi ataupun manhaj ilmu dalam Islam mampu memelihara orisinalitas mutu keilmuan Islam. Tentu muhaddisîn, mufassirîn, fuqoha’, dan para intelektual muslim lampau telah meraup nikmatnya berenang di lautan ilmu-ilmu yang belum disekulerkan ketika itu. Namun, membangun pendidikan dengan sarana ala kadarnya pada saat kini, dengan alasan apapun, dikhawatirkan malah turut menenggelamkan generasi akan datang. Software dan hardware pendidikan harus seimbang tak terpisah, ada sekala prioritas (aham min muhim). Pengadaan sarana-sarana pendidikan seperti SDM, perpustakaan, dan seterusnya tidak cukup hanya berbekal semangat, meskipun  dengan niat telah berpahala. Realitas umat kini menanti hadirnya pendidikan Islam yang unggul, bukan hanya niat dan spanduk besar.(Ulil Amri) ( Sumber dewandakwah.info )