Penulis
263 Hits

Catatan Harian #25


Belajar Untuk Berubah

Pertanyaan :

Ustadz, saya seorang ibu rumah tangga yang aktif bertahun-tahun mengikuti kajian-kajian Islam di berbagai tempat sekitar Jabodetabek. Tetapi saya tidak merasakan perkembangan ilmu dalam diri saya. Sebenarnya bagaimana cara belajar tentang Islam yang benar itu? (Mita, Cibubur, 19/9/2016 )

Jawaban :

Semangat ibu-ibu dalam mencari ilmu dengan mengikuti kajian-kajian Islam di beberapa tempat perlu diapresiasi dan disyukuri. Selain mengisi waktu kosong, mereka insya Allah mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Tetapi yang perlu diperhatikan, bahwa banyak dari mereka yang sekedar ikut-ikutan ngaji, tidak tahu untuk apa mereka mengaji, tidak memiliki target-target tertentu, dan tidak tahu materi-materi apa yang harus dipelajari terlebih dahulu, tidak ada pula jenjang-jenjang yang harus dilalui serta tidak ada buku-buku tertentu yang menjadi panduan. Maka hasilnya tidak jelas dan ilmu yang didapat tidak maksimal. Sehingga walau sudah berpuluh-puluh tahun mengaji, yang didapat itu-itu saja.  Bahkan sebagian dari mereka belum bisa membaca al-Qur’an, apalagi memahami bahasa Arab.

Kita anjurkan, agar ibu belajar kepada seorang guru secara urut dan rutin, menggunakan buku tertentu, satu-persatu sesuai dengan jenjangnya. Dimulai dari belajar membaca al-Qur’an yang benar, sambil menghafal semampunya. Kemudian mempelajari dasar-dasar ilmu, dari beberapa disiplin ilmu, seperti Tafsir, Fiqh, Bahasa Arab, Aqidah, dari yang mudah, sederhana, kemudian meningkat yang lebih tinggi.

Jika ada kajian, hendaknya memilih kajian yang berurutan dan menggunakan buku panduan. Jangan terpukau dengan tabligh akbar atau pengajian-pengajian yang banyak pengikutnya, tetapi yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana manfaat yang ibu dapat dari pengajian-pengajian tersebut. Maka harus dibedakan antara KAJIAN dan PENGAJIAN. 

Kajian adalah majlis ilmu yang membahas ilmu secara urut, rutin, dan terukur serta terkontrol. Ini bisa mencetak kader-kader ilmu yang kuat. Sedang pengajian adalah wejangan, taushiyah, nasehat, agar pendengar semangat dan taat beragama. Sifatnya sementara dan tidak urut. Biasanya tematik tetapi tidak sistematik. Bisa membuat orang sadar, tapi dari sisi keilmuan kurang mengakar, sehingga mudah goyah dan lemah ilmu.Namun keduanya tetap diperlukan setiap muslim, tetapi ada prioritas masing-masing. Untuk mengetahui secara mendetail jenjang-jenjang ilmu dan tahapan-tahapan yang harus dilaluinya, bisa membaca buku “ Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan. “ Wallahu A’lam. (Ahmad Zain An-Najah, Bogor, Senin, Jam 10.30 WIB, 17/12/1437- 19/9/2016 )

===================