Penulis
286 Hits

Catatan Harian #26


belajar bersama guru

Pertanyaan

Ustadz, saya sedang belajar membaca al-Qur’an dan materi lainnya dari seorang guru yang tempatnya agak jauh. Kadang kala saya merasa malas untuk pergi ke tempat tersebut. Saya pikir, belajar sendiri atau mendengar dari televisi atau radio sudah cukup, tidak perlu susah-susah pergi ke tempat jauh. Bagaimana menurut pandangan ustadz? (Eva, 17/9/2016)

Jawaban :

Belajar dari seorang guru adalah cara yang benar di dalam menuntut ilmu, walaupun harus menempuh perjalanan jauh. Karena dengan cara seperti itu, dia akan dibimbing langsung oleh gurunya, diluruskan hal-hal yang keliru, dan dia bisa bertanya langsung kepadanya. Selain itu, dia bisa mencontoh akhlaqnya, sikapnya, kesederhanaannya, bahkan mengambil berkah dari ilmunya.

Paling tidak, ada empat manfaat belajar dari gurunya secara langsung :

Pertama : Efisien Waktu Dan Tenaga.

Belajar dengan guru jauh lebih efisien dibanding belajar sendiri melalui buku. Seorang penuntut ilmu, jika tidak memahami suatu masalah, bisa  bertanya langsung kepada gurunya, tanpa susah payah mencari jawabannya di buku-buku yang belum tentu didapatinya. Seandainya mendapatinya, belum tentu bisa memahaminya.

Belajar dari guru, bisa meringkas perjalanan mencari ilmu, karena dia akan menerangkan apa yang belum dipahami secara langsung dan merekomendasikan buku-buku yang harus dibaca, bahkan kadang ditunjukkan halamannya. Efisien waktu dan tenaga…

Kedua : Meminimalisir Kesalahan

Seorang penuntut ilmu yang belajar dari guru, maka kesalahannya akan relatif lebih sedikit jika dibanding dengan yang belajar langsung dari buku. Banyak nasehat yang diberikan para ulama dalam masalah ini, diantaranya adalah :

مَنْ كَانَ شَيْخُهُ كِتَابَهُ ، كَانَ خَطَؤُهُ أَكْثَرُ مِنْ صَوَابِهِ

“Barang siapa yang gurunya buku, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.“

Ketiga : Belajar Bersikap Hati-Hati

Belajar dengan guru akan mendidik seseorang untuk bersikap hati-hati di dalam menentukan hukum. Akhir-akhir ini banyak orang mudah berfatwa tentang masalah-masalah agama yang dia tidak mengusainya. Dalam hal ini, Imam asy-Syafi’I pernah berkata :

مَنْ تَفَقَّهَ مِنَ الْكُتُبِ ضَيَّعَ الأَحْكَام

"Barang siapa belajar dari buku, maka dia akan banyak merusak hukum-hukum“

Keempat : Belajar adab dan sifat dari guru.

Tidak diragukan lagi, bahwa teman bergaul sangat mempengaruhi sikap dan sifat seseorang. Dalam mahfudhat disebutkan :

لَا تَسْأَلْ عَنِ المَرْءِ وَاسْأَلْ قَرِيْنَهُ ، فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْمَقَارِنِ يَقْتَدِي

"Janganlah engkau bertanya tentang seseorang kepada dirinya langsung, tapi tanyalah kepada temannya, karena seseorang akan selalu mengikuti temannya“.

Seorang penuntut ilmu yang selalu dekat dan sering bergaul dengan gurunya, niscaya dia akan terpengaruh dengan akhlaq, adat dan beberapa sifat dan sikapnya. Ini sangat penting sekali, karena akan memotivasi penuntut ilmu untuk selalu semangat dan tidak mudah putus asa, khususnya ketika melihat gurunya yang tenang, tegar dan tabah, serta sabar. Hal inilah yang sering tidak dipahami oleh para penuntut ilmu. Dalam suatu hikmah disebutkan :

تَشَبَّهُوْا بِالْكِرَامِ وَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِثَلَهُمْ ، فإن التشبه بِهِمْ فَلَاحٌ

“Dekat-dekatilah orang-orang yang baik, walaupun kamu belum bisa seperti mereka, karena dekat-dekat dengan mereka adalah suatu kesuksesan.“

Oleh karena itu, para penuntut ilmu yang selalu mendekati guru-gurunya, kemungkinan besar dikemudian hari, dia akan seperti mereka.

Sebagi tambahan, menghadiri Majlis-majlis Ilmu juga mempunyai manfaat yang tidak sedikit, diantaranya mendapatkan ketenangan jiwa, rahmat Allah akan turun di dalamnya, malaikat akan mengililinginya, bertemu dengan para penuntut ilmu lainnya, yang akan memotivasinya untuk terus semangat  belajar. Selain itu, dia bisa konsentrasi di hadapan gurunya dan akan kuat menahanan keinginannya untuk beranjak dari majlis, bahkan kadang merasa malu untuk sekedar menoleh, atau mengantuk, karena dia sadar berada di majlis ilmu.  Semua ini tidak didapatkan ketika belajar sendiri. Wallahu A’lam.

(Ahmad Zain An-Najah, Bogor, Senin, Jam 10.45 WIB, 17/12/1437- 19/9/2016 )

===================