Ilmu
154 Hits

Doa Qunut Witir

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA.


Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, lindungilah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau lindungi, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau yang memutuskan dan tidak diputuskan atas-Mu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga. Engkau Maha Berkah dan Maha Tinggi.” (HR. Abu Daud 1425, an-Nasai 1745, at-Tirmidzi 464. al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Syarah hadits;

 

Pertama: Macam-Macam Hidayah

 

Untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, tidak ada jalan lain, kecuali melalui ajaran nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karenanya, setiap muslim diperintahkan untuk mempelajari hadist-hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, agar mengetahui petunjuk yang ada di dalamnya. 

Secara umum hidayah bisa dibagi menjadi dua: (1) Hidayatu al-Irsyad atau Hidayatu al-Bayan. (2) Hidayatu at-Taufiq. Masing-masing akan diterangkan di bawah ini secara singkat;

 

(1) . Hidayatu al-Irsyad atau Hidayatu al-Bayan atau al-Hidayah al-‘Amah adalah petunjuk menuju suatu jalan. Sebagai contoh, jika seseorang tersesat di jalan, dan tidak tahu ke mana harus melangkah, dia diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang mengetahui jalan. Orang yang mengetahui jalan dan mampu menunjukkan orang yang tersesat tersebut dikatakan orang yang bisa memberi petunjuk (Hidayatu al-Irsyad). 

Oleh karena itu, hidayah dalam bentuk ini, bisa dilakukan oleh siapa saja, yang penting dia mengetahui ilmunya. Tanpa ilmu maka tidak mungkin dia bisa memberikan petunjuk kepada orang lain. Di dalam pepatah Arab disebutkan, 

فاقد الشيء لا يعطيه 

“Orang yang tidak memiliki sesuatu itu, tidak akan bisa memberinya kepada orang lain.”

Hidayatu al-Irsyad inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mempunyai ilmu tentang Islam yang beliau dapatkan dari Allah melalui wahyu, maka beliau mengajarkannya kepada orang lain. Inilah yang dimaksud di dalam firman Allah,  

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”  (Qs. asy-Syura: 52)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri juga membutuhkan hidayah dalam bentuk ini. Dahulu beliau adalah orang yang tidak mengetahui ilmu dan al-Qur’an, kemudian Allah memberikan Hidayatu al-Irsyad dengan mengajarkannya al-Qur’an. Ini sebagaimana  di dalam firman-Nya, 

كَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. Asy-Syura:52)

Juga sesuai dengan firman-Nya,  

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”  (Qs. adh-Dhuha: 6-8)

 

(2). Hidayatu at-Taufiq atau al-Hidayah al-Khassah adalah petunjuk dengan cara menggerakan hati seseorang agar dia berjalan pada jalan yang lurus, sebagaimana dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Hidayah dalam bentuk ini hanya dimiliki Allah saja, tidak satupun dari manusia yang sanggup melakukannya, bahkan seorang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sekalipun tidak sanggup memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib, sebagaimana firman Allah,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk (hidayah taufik) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk (hidayah taufik) kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs. al-Qashas: 56)

Sebelumnya, Nabi Nuh tidak sanggup memberikan hidayah kepada anaknya, sebagaimana firman Allah, 

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43)

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”  (Qs. Hud: 42-43)

Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak sanggup memberikan hidayah kepada istrinya, sebagaimana di dalam firman-Nya, 

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ 

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)." (Qs. At-Tahrim:10)

 

Syekh al-‘Utsaimin di dalam salah satu ceramahnya menyebutkan bahwa (al-Huda) jika disebut secara sendiri, maka mencakup dua macam hidayah yang diterangkan di atas. Tetapi jika ada keterangan di belakang, maka maknanya akan mengikuti keterangan tersebut apakah masuk dalam Hidayatu al-Irsyad, atau Hidayatu at-Taufiq.

Ini dikuatkan dengan doa sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘auhu, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terjaga (dari perbuatan yang merusak kehormatan) dan kekayaan." (HR. Muslim)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala (Qs. al-A’raf: 43)

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

Kedua: Memohon Keselamatan

 

(1) Kita diperintahkan untuk memanfaatkan keselamatan dan kesehatan sebelum datang waktu sakit, sebagaimana di  dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki sambil menasehatinya,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ : شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ 

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. al-Hakim. Imam adz-Dzahabi menyatakan hadits ini sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim) 

 

(2) Keselamatan dan kesehatan di dalam hidup ini, harus dijaga dan dipertahankan sebisa mungkin. Maka, tidak boleh seorang muslim bercita-cita bertemu musuh. Karena jika musuh datang menyerang, akan berpotensi menghilangkan keselamatan dan kesehatan, dan merubahnya menjadi bencana dan musibah. Betapa banyak umat Islam di beberapa negara yang dulunya hidup aman, damai dan sejahtera, ketika perang meletus, tiba-tiba mereka menderita dan sengsara dalam waktu yang panjang. 

Di dalam hadist ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ 

“Wahai manusia, janganlah kalian berangan-angan bertemu musuh dan mintalah kepada Allah keselamatan. Maka, jika kalian bertemu dengan musuh, bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berkata Imam an-Nawawi: “Larangan untuk berangan-angan bertemu musuh, karena (keinginan bertemu musuh) itu mengesankan sikap ‘ujub (sombong), bertawakkal kepada diri sendiri, serta yakin dengan kekuatannya. Ini bentuk sikap semena-mena. Padahal Allah telah menjamin orang yang dilakukan semena-mena, akan ditolongnya. Begitu juga (keinginan bertemu musuh) itu mengesankan tidak ada perhatiannya terhadap musuh dan meremehkan kekuatan mereka. Ini bertentangan dengan sikap hati-hati dan sungguh-sungguh.” 

 

(3) Ini dikuatkan oleh hadits Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

سَلُوا الله العَفْوَ والعافيةَ، فإنَّ أحداً لَم يُعْطَ بعد اليَقين خَيراً من العافية

“Mintalah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak memberikan sesuatu yang paling baik kepada seorang hamba, setelah keyakinan, daripada keselamatan.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, serta dishahihkan al-Albani)

 

(4) Ini juga dikuatkan oleh hadist ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan doa di bawah ini ketika pagi dan petang, 

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي،اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah tutupilah auratku, tenangkanlah kepanikanku. Ya Allah jagalah aku dari arah depanku, dari arah belakangku, dari kananku, dari kiriku, dari arah atasku. Dan aku berlindung kepada Keagungan-Mu dari dicelakakan dari arah bawahku.”  (Hadits Shahih. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

 

Ketiga: Perlindungan Allah

 

Di bawah ini beberapa ayat yang menunjukkan Allah sebagai pelindung,

(1) Firman Allah, Qs. al-Baqarah: 257

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

(2) Firman Allah, Qs. al-Maidah: 56-57

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57)

(3) Firman Allah, Qs. al-A’raf: 196

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

(4) Firman Allah, Qs. Yusuf: 101

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

(5) Firman Allah, Qs. Fushilat: 31

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

 

Keempat: Menggapai Keberkahan

 

(1) Berkah berasal dari al-birkah yang berarti kolam. Kolam adalah kumpulan air yang terdapat pada tempat tertentu, sebagaimana juga waduk, bendungan dan danau. Kumpulan air tersebut memberikan manfaat yang sangat banyak kepada masyarakat luas untuk keperluan irigasi, mandi, minum, dan keperluan lainnya. Tanpa air tersebut masyarakat akan kekeringan dan bisa menyebabkan kematian, sebagaimana terjadi di benua Afrika. Manfaat yang banyak itu jika berlangsung terus-menerus dan dalam jangka waktu yang sangat panjang, itulah yang disebut dengan keberkahan.

 

(2) Keberkahan di dalam makanan sebagaimana di dalam hadits Abu Umamah ......berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengangkat hidangannya beliau berdo’a,

الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، غَيْرَ مَكْفِىٍّ ، وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ ، رَبَّنَا

“Segala puji hanyalah milik Allah, yang Allah tidak butuh pada makanan dari makhluk-Nya, yang Allah tidak mungkin ditinggalkan, dan semua tidak lepas dari butuh pada Allah, wahai Rabb kami.” (HR. Bukhari 5458)

 

(3) Keberkahan di dalam al-Qur’an, sebagaimana di dalam Firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Qs. Shad: 29,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ 

Ayat di atas menunjukkan tiga fungsi al-Qur’an, yaitu; (1) diambil keberkahannya, (2) untuk ditadabburi ayat-ayatnya, (3) untuk diambil pelajarannya.

 

(4) Keberkahan ini juga diperlihatkan oleh Nabi Isa ‘alaihissalam sebagaimana dalam firman Allah surah Maryam ayat 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Isa dijadikan Allah sebagai nabi yang membawa berkah kemana dia berada. Hal itu dikarenakan Nabi Isa mengobati dan menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita oleh masyarakat sehingga hidupnya dipenuhi keberkahan karena bermanfaat bagi masyarakat luas. 

 

(5) Pasangan suami-istri yang menikah disunnahkan untuk didoakan dengan doa sebagai berikut,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

Doa itu ditujukan kepada pasangan suami-istri karena orang yang menikah itu membawa kebaikan yang sangat banyak, diantaranya pasangan suami-istri saling menyayangi, memberi dan melindungi satu sama lain. Mereka bagaikan baju bagi pasangannya, sebagaimana firman-Nya surah Al-Baqarah ayat 187,

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Begitu juga mereka akan memiliki keturunan; satu, dua, tiga dan seterusnya, kemudian merawatnya, membimbingnya serta mendidiknya hingga besar. Itulah bentuk kebaikan yang sangat banyak kepada orang lain.

 

(6) Keberkahan pada suatu negara jika penduduknya merasa nyaman dan tentram serta mendapatkan rezeki yang cukup, sebagaimana firman-Nya surah Al-A’raf ayat 96,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Ayat di atas menyebutkan bahwa Allah akan menurunkan keberkahan kepada penduduk suatu negeri yang beriman dan bertakwa. Di sini disebut “keberkahan” bukan kekayaan, karena kekayaan belum tentu membawa kebahagiaan. Sebaliknya keberkahan pasti membawa kebaikan yang banyak dan langgeng, serta otomatis akan menjadikan penduduknya bahagia dan sejahtera. 

Keberkahan suatu bangsa bisa diwujudkan manakala penduduknya berinteraksi dengan al-Qur’an dan menjadikannya sebagai sumber hukum di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

 

(7) Keberkahan juga akan diperoleh ketika seseorang beraktifitas mulai pagi hari sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن صخر بن وداعة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  اللهم بارك لأمتي في بكورها

Bekerja pada pagi hari disebut berkah karena potensi mendapatkan rezeki sangat terbuka, termasuk udara yang masih segar dan bersih, dan jalan lancar belum ada kemacetan, serta manfaat-manfaat lainnya.

 

Kelima: Berlindung dari Takdir Buruk

 

Pelajaran Ketiga: Buruknya Takdir

 وَسُوءِ الْقَضَاءِ 

“Buruknya takdir”

Termasuk keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada takdir yang baik, maupun takdir yang buruk. 

 

Maksud dari (Su’u al-Qadha’)  dalam  hadits di atas, ada dua hal: 

(1) Su’u al-Qadha’ artinya buruknya hukuman atau putusan. 

Kadangkala seseorang keliru ketika memutuskan suatu hukuman kepada orang lain. Ini berlaku bagi para hakim yang menghukumi perkara manusia. Berlaku juga pada perorangan yang menghukumi atau memutuskan sesuatu pada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain, kemudian ternyata hukuman dan putusan tersebut keliru. Maka kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kesalahan atau kekeliruan dalam menghukum atau memutuskan.

 

(2) Su’u al Qadha’ artinya buruknya takdir Allah.

Maksud dari buruknya takdir Allah adalah akibat buruk yang dirasakan seseorang dari suatu takdir, bukan takdir Allah yang buruk. Sebagai contoh, seseorang ditakdirkan mengalami kecelakan yang menyebabkan kakinya patah. Orang yang mengalami kecelakan ini merasakan sakit yang berkepanjangan. Ini yang dimaksud dengan buruknya takdir atau takdir buruk. 

Ketika Allah mentakdirkan sesuatu yang kelihatan buruk di mata manusia, tidak serta merta hal itu berakibat buruk juga, kadang justru malah membawa kebaikan bagi hamba tersebut. Ini sesuai dengan firman Allah,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah: 216) 

Nabi Yusuf 'alaihi as-sallam yang ditakdirkan masuk ke dalam sumur, dan masuk penjara, ternyata itu semua mengantarkannya kepada kekuasaan di Mesir. Nabi Musa 'alaihi as-sallam  yang waktu bayi dihanyutkan di sungai Nil, ternyata membawanya ke istana Fir’aun. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita dapatkan orang yang sakit disuntik oleh dokter. Suntik bagi pasien itu menyakitkan, tetapi membawa kebaikan baginya. 

 

Ayat Qur’an tentang Su’u al-Qadha’ 

 

Diantara ayat yang menunjukkan adanya (Su’u al-Qadha’) di dalam kehidupan manusia adalah firman Allah, 

لَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejelekan  bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.” (Qs. Yunus: 11)

 

Begitu juga Firman Allah subhanahu wa ta'ala,

  قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!’ (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).” (Qs. al-An’am: 40-41)

 

Kejelekan Tidak kepada Allah 

 

Pernyataan bahwa semua takdir bagi Allah baik, tidak ada yang buruk bagi-Nya ternyata sesuai dengan hadist Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

“Kami menyambut panggilan-Mu, semua kebaikan ada pada diri-Mu dan kejelekan itu bukan kepada-Mu.” (HR. Muslim) 

 

Imam an-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim (3/121) menjelaskan lima pendapat ulama di dalam menafsirkan kalimat (‘dan kejelekan bukan kepada-Mu’) dalam hadist di atas, yang ringkasannya sebagai berikut;

(1) Artinya bahwa tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang jelek. 

(2) Artinya bahwa kejelekan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah secara sendiri, seperti perkataan: “Ya, Allah Yang Maha Pencipta Kejelekan, Yang Menciptakan anjing dan babi.” Tetapi hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, Yang Maha Pencipta segala sesuatu.” 

(3). Artinya bahwa kejelekan itu tidak akan naik kepada-Nya, tetapi yang naik kepada-Nya adalah kata-kata yang baik dan amal shalih. 

(4) Artinya bahwa kejelekan itu tidak dinisbatkan kepada Allah, tetapi kepada makhluk-Nya. Ketika Allah menciptakan sesuatu yang kelihatan jelek atau buruk di mata manusia, sebenarnya baik di sisi Allah, karena di balik kejelekan itu terdapat hikmah yang begitu banyak . 

(5) Artinya bahwa kejelekan itu tidak ada di dalam sifat dan nama Allah, karena sifat dan nama Allah semuanya baik. 

 

Ayat al-Qur’an tentang Kejelekan bukan kepada Allah

 

Di bawah ini beberapa contoh dari ayat-ayat al-Qur’an bahwa kejelekan bukan kepada Allah, di antaranya adalah sebagai berikut,

 وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana.  Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf.  Dan berkata Yusuf:  ‘Wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.  Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.  Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Qs. Yusuf: 100)

Pada ayat di atas, Nabi Yusuf 'alaihi as-sallam  menisbatkan seluruh kebaikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, seperti; terwujud takwil mimpinya dalam kenyataan, keluarnya dari penjara, datangnya keluarganya ke Mesir. Sebaliknya, beliau menisbatkan perselisihannya dengan saudara-saudaranya kepada syaithan. 

 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

 أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا (79)  وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80)  فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا (81)  وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (82)

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (Qs. al-Kahfi: 79-82)

 

Juga dalam firman-Nya,

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78)  وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79)  وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80)  وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)  وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82)

“(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (Qs. asy-Syu’ara: 78-82)

 

Pada ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam menisbatkan penciptaan, petunjuk, memberi makanan dan minuman, kesembuhan, mematikan, menghidupkan, ampunan kepada Allah. Adapun sakit, beliau nisbatkan kepada dirinya sendiri bukan kepada Allah.

 وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا 

“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (Qs. al-Jin: 10)

 

Berkata Ibnu Katsir: “Ini adalah adab mereka di dalam bertutur kata, mereka menisbatkan kejelekan tanpa menyebut pelakunya. Sedangkan kebaikan, mereka nisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.”

 

Wallahu a’lam.

 

Vila Besakih, 9 Ramadhan 1441/2 Mei 2020