Tafsir An-Najah (Qs.4: 116-117) Bab 247 Larangan Syirik

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.”
(Qs. an-Nisa’: 116)
Pelajaran (1) Allah Mengampuni Dosa Selain Syirik
(1) Diriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah seorang laki-laki tua yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah orang yang sudah tua yang berlumuran dosa, tetapi saya tidak pernah melakukan kesyirikan semenjak saya beriman. Sekarang saya bertaubat kepada Allah, bagaimana kedudukan saya di sisi Allah?” Maka turunlah ayat ini.
(2) Maksud ayat di atas bahwa seorang yang telah melakukan kesyirikan kemudian mati dalam keadaan syirik, maka Allah tidak mengampuni dosanya. Akan tetapi jika dia bertaubat sebelum meninggal dunia, Allah akan mengampuninya.
Bukankah sebagian besar para sahabat dahulu di masa jahiliyah, mereka adalah orang-orang musyrik, kemudian bertaubat kepada Allah dan masuk Islam?
(3) Terdapat perbedaan redaksi pada ayat 48 dan ayat 116 dari surah an-Nisa’. Pada ayat 48, Allah berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.” (Qs. an-Nisa’: 48)
Penutup ayat 48 di atas menerangkan bahwa barangsiapa yang mensyirikkan Allah, sungguh dia telah berbuat dosa besar. Hal itu dikarenakan ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang telah mengetahui kebenaran Nabi Muhammad ﷺ, serta mengetahui juga bahwa syariat Islam telah menghapus syariat Nabi Musa dan syariat-syariat sebelumnya. Akan tetapi mereka tetap pada Agama Yahudi dikarenakan hasad yang ada di dalam hati mereka, sehingga mereka dianggap sebagai orang-orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah ﷻ.
Sedangkan pada ayat 116 ditutup dengan firman-Nya,
وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.”
Orang yang menyekutukan Allah dianggap telah sesat sejauh-jauhnya, karena ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang kafir Quraisy yang tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, sehingga mereka tersesat dari jalan yang benar dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.
Pelajaran (2) Doa Adalah Ibadah
اِنْ يَّدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلَّآ اِنٰثًاۚ وَاِنْ يَّدْعُوْنَ اِلَّا شَيْطٰنًا مَّرِيْدًاۙ
“Mereka tidak menyembah selain Dia, kecuali berhala dan mereka juga tidak menyembah, kecuali syetan yang durhaka.” (Qs. an-Nisa’: 117)
(1) Ayat ini merinci apa yang dilakukan kaum musyrikin terhadap berhala dan sesembahan mereka.
Kata (يَّدْعُوْنَ) artinya mereka memanggil atau mereka berdoa. Berdoa di sini bisa diartikan beribadah atau menyembah. Ini sesuai dengan hadits dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
إن الدعاء هو العبادة
“Sesungguhnya doa adalah ibadah.” (HR. al-Bukhari)
(2) Doa bermakna ibadah juga, sebagaimana disebutkan dalam beberapa firman Allah, diantaranya:
(a) Firman Allah ﷻ,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina”.” (Qs. Ghafir: 60)
(b) Firman Allah ﷻ,
وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا ۞ فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۙوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا ۞
“Aku akan menjauh darimu dan apa yang engkau sembah selain Allah. Aku akan berdoa kepada Tuhanku semoga aku tidak kecewa dengan doaku kepada Tuhanku.” Maka, ketika dia (Ibrahim) sudah menjauh dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya (seorang anak) Ishaq dan (seorang cucu) Ya‘qub. Masing-masing Kami angkat menjadi nabi.” (Qs. Maryam: 48-49)
Pelajaran (3) Mereka Menyembah Perempuan
Kata (اِنٰثًاۚ) artinya perempuan. Tetapi maksud (اِنٰثًاۚ) pada ayat ini, para ulama berbeda pendapat:
(1) Maksudnya adalah berhala-berhala. Karena orang-orang musyrik menamakan berhala-berhala mereka dengan nama-nama perempuan, seperti Lata, ‘Uzza, dan Manaat.
Bahkan kadang mereka memakaikan pada berhala-berhala mereka pakaian wanita dan memberikan perhiasan, persis denga napa yang dilakukan oleh perempuan dari kalangan manusia.
(2) Maksudnya adalah para malaikat. Karena sebagian orang-orang musyrik menyembah malaikat, dan mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah,
وَجَعَلُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبٰدُ الرَّحْمٰنِ اِنَاثًا ۗ اَشَهِدُوْا خَلْقَهُمْ ۗسَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْـَٔلُوْنَ
“Mereka menganggap para malaikat, hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu, berjenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaannya? Kelak kesaksian (yang mereka karang sendiri itu) akan dituliskan dan akan dimintakan pertanggungjawaban.” (Qs. az-Zukhruf: 19)
(3) Maksudnya adalah benda-benda mati. Karena patung-patung dan berhala-berhala yang mereka sembah merupakan makhluk tidak hidup (benda mati). Orang Arab menganggap benda mati berjenis perempuan dalam bahasa percakapan mereka.
Dari tiga pendapat di atas, yang paling kuat adalah pendapat pertama, bahwa yang dimaksud (اِنٰثًاۚ) dalam ayat di atas adalah berhala-berhala. Pendapat ini juga yang dipilih oleh ath-Thabari di dalam tafsirnya.
Pelajaran (4) Syetan yang Membangkang
وَاِنْ يَّدْعُوْنَ اِلَّا شَيْطٰنًا مَّرِيْدًاۙ
“Dan mereka juga tidak menyembah, kecuali syetan yang durhaka.” (Qs. an-Nisa’: 117)
(1) Kata (شَيْطٰنًا) artinya syetan.
Yang dimaksud syetan di sini adalah Iblis yang telah menyesatkan mereka dari jalan yang lurus sehingga mereka menyembah berhala. Mereka mengikuti dan menaati bisikan dari perintah Iblis. Barangsiapa menaatinya seakan dia menyembahnya, sebagaimana di dalam firman-Nya,
اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah325) serta (Nasrani mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam. Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. at-Taubah: 31)
Mereka sebenarnya tidak menyembah para pendeta dan tokoh agama mereka. akan tetapi karena mereka menaatinya dalam setiap urusan, walaupun bertentangan dengan perintah Allah, maka mereka dianggap telah menyembahnya.
(2) Kata (مَّرِيْدًاۙ) artinya durhaka dan tidak mempunyai kebaikan sama sekali. Disebut pohon … yaitu pohon yang tidak mempunyai daun sama sekali. Kata (الأمراد) artinya anak kecil yang belum mempunyai kumis dan jenggot.
Disebutkan di dalam al-Qur’an,
قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ
“Sesungguhnya ini hanyalah lantai licin (berkilap) yang terbuat dari kaca.” (Qs. an-Naml: 44)
Yaitu kosong dari hiasan dan penutupnya bening sehingga terlihat apa-apa yang ada di bawahnya.
Jadi (شَيْطٰنًا مَّرِيْدًاۙ) syetan yang disebutkan di dalam ayat ini adalah syetan yang kosong dari kebaikan. Pekerjaannya hanyalah melakukan kedurhakaan kepada Allah ﷻ.
***
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »