Karya Tulis
564 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.4: 125-126) Bab 250 Sebaik-baik Agama


وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

“Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya).”

(Qs. an-Nisa’: 125)

 

Pelajaran (1) Dua Kepasrahan

(1) Setelah menyebutkan agama para penyembah berhala pada ayat-ayat sebelumnya, di sini Allah menjelaskan agama yang benar, yaitu agama Nabi Ibrahim dan ciri-cirinya.

(2) Firman-Nya,

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا

“Siapakah yang lebih baik agamanya.”

Pertanyaan pada ayat ini mengandung pernyataan bahwa agama yang paling baik adalah agama yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama: Kepasrahan mutlak kepada Allah.

مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ

“Daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah.”

Wajah di sini artinya dirinya, karena wajah seseorang merupakan perwakilan dari penyebutan diri seseorang.

Kepasrahan mutlak kepada Allah meliputi dua hal:

(a) Kepasrahan pertama,

Kepasrahan kepada syariat-Nya dan tunduk kepada hukum-hukum yang diturunkan-Nya, baik yang termaktub di dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi-Nya ﷺ.

Kepasrahan ini dijelaskan di dalam beberapa firman-Nya, diantaranya:

(a.1) Firman Allah ﷻ,

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nur: 51)

(a.2) Firman Allah ﷻ,

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. al-Ahzab: 36)

(a.3) Firman Allah ﷻ,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs. an-Nisa’: 65)

(b) Kepasrahan kedua,

Kepasrahan kepada Qadha’ dan Qadar-Nya (ketetapan dan ketentuan Allah pada alam semesta dan kehidupan manusia).

Kepasrahan dalam bentuk kedua ini dijelaskan di dalam beberapa firman-Nya dan hadits, diantaranya:

(b.1) Firman Allah ﷻ,

أَفَغَيۡرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبۡغُونَ وَلَهُۥٓ أَسۡلَمَ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (Qs. Ali ‘Imran: 83)

(b.2) Firman Allah ﷻ,

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Isra’: 144)

(b.3) Firman Allah ﷻ,

وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ۞ وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ ۞ لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ۞

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin: 38-40)

(b.4) Di dalam hadits doa sebelum tidur disebutkan kepasrahan mutlak kepada Allah.

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا فُلَانُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا

Dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Hai fulan, jika engkau mendatangi kasurmu, maka panjatkanlah doa:

“Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, dan kuhadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap-harap cemas kepada-Mu, sesungguhnya tidak ada tempat bersandar dan tempat keselamatan selain kepada-Mu, saya beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan nabi-Mu yang Engkau utus).”

Maka sekiranya engkau meninggal di malam hari, maka engkau meninggal di atas fitrah, dan jika engkau bangun pagi harinya, maka engkau peroleh pahala.” (HR. al-Bukhari)

(b.5) Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: "Jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah, terimalah pemberian Allah kepadamu dengan ridha niscaya kau menjadi orang terkaya. (HR. At-Tirmidzi)

(b.6) Ini dikuatkan dengan hadits ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ berdoa,

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَكَلِمَةَ الْعَدْلِ وَالْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لاَ يَبِيدُ، وَقُرَّةَ عَيْنٍ لاَ تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَأَسْأَلُكَ الشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ‏.‏

Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang gaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh makhluk, panjangkanlah umur hidupku bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku, dan matikanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar aku selalu takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku memohon kepada-Mu agar dapat berpegang dengan kalimat hak (kebenaran) ketika marah atau ridha dengan sesuatu. Aku memohon kepada-Mu agar aku bisa selalu sederhana, baik ketika miskin maupun kaya. Aku memohon kepada-Mu agar aku diberi nikmat yang tidak akan habis dan penyejuk mata yang tidak akan terputus. Aku memohon kepada-Mu agar aku dapat ridha dengan segala qadha-Mu. Aku mohon kepada-Mu (agar diberi) kehidupan yang menyenangkan setelah mati, dan Aku memohon kepada-Mu kenikmatan menatap wajah-Mu (di surga). Aku memohon kepada-Mu (agar) rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari-Mu.” [Qs. 5: 12]. (HR. Ibnu Hibban)

 

Pelajaran (2) Siapa al-Muhsin itu?

Kedua: Berbuat baik dan beramal shalih.

وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan).”

Kepasrahan total kepada Allah harus diikuti dengan pelaksanaan segala perintah-Nya, yang kemudian terimplementasi dalam ‘perbuatan baik’ atau ‘amal shalih’.

Sebuah amal dikatakan shalih jika amal tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Jika amal tersebut tidak sesuai dengan tuntunannya maka amal tersebut tertolak, sebagaimana yang tersebut di dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ مِنْ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal tidak berdasarkan tuntunan kami (Rasulullah ﷺ) maka amalan tersebut tertolak.”

Kedua syarat tersebut teringkas di dalam firman Allah ﷻ,

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk: 2)

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh bahwa yang dimaksud (أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ) pada ayat di atas adalah amal yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima oleh Allah, mempunyai dua syarat: ikhlas dan benar. Disebut ‘ikhlas’ yaitu jika amal tersebut dilakukan karena Allah semata. Sedangkan ‘benar’ yaitu jika amalan tersebut berdasarkan sunnah.

 

Pelajaran (3) Mensikapi Millah Ibrahim

وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا

“Dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif.”

(1) Kata (مِلَّةَ) di ini maksudnya adalah agama atau ajaran. Sedangkan kata (حَنِيْفًا) artinya condong kepada kebenaran dan menjauhi kebatilan.

(2) Agama Nabi Ibrahim juga mengajarkan kepasrahan mutlak kepada Allah dan menjauhi kesyirikan. Di antara dalil-dalilnya adalah:

(a) Firman Allah ﷻ,

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (Qs. an-Nahl: 120)

(b) Firman Allah ﷻ,

إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".” (Qs. al-Baqarah: 131)

(c) Firman Allah ﷻ,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Qs. Ibrahim: 35)

(d) Firman Allah ﷻ,

إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. al-An’am: 79)

(3) Nabi Muhammad ﷺ juga diperintahkan untuk mengikuti agama Nabi Inrahim ‘alaihi as-salam, sebagaimana di dalam firman-Nya,

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. an-Nahl: 123)

Bukan saja Nabi Muhammad yang diperintahkan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya pun diperintahkan untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,

وَٱتَّبَعۡتُ مِلَّةَ ءَابَآءِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ مَا كَانَ لَنَآ أَن نُّشۡرِكَ بِٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۚ ذَٰلِكَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ عَلَيۡنَا وَعَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ

“Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).” (Qs. Yusuf: 38)

Dikuatkan di dalam firman Allah ﷻ,

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".” (Qs. al-Baqarah: 133)

 

Pelajaran (4) Nabi Ibrahim adalah Khalilullah

وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

“Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya).”

(1) Kata (خَلِيْلًا) artinya teman dekat yang selalu menyertai seseorang, dan mengetahui seluruh masalah-masalah yang mempunyai rahasia-rahasia yang ada di dalam dirinya.

Kata (الخَلِيلُ) secara bahasa merujuk kepada tiga akar kata:

(a) الخِلَالُ artinya kecintaan yang masuk ke dalam hati dan memenuhi jiwa seseorang.

(b) الخَلِلُ artinya kekurangan. Maksudnya dua sahabat yang berteman, dimana satu dengan yang lain saling melengkapi kekurangannya masing-masing.

(c) الخَلَّةُ artinya sifat. Maksudnya kedua teman yang mempunyai sifat-sifat yang mirip.

(2) Adapun sebab Nabi Ibrahim disebut sebagai “Khalilullah” adalah sebagai berikut:

(a) Karena begitu besar kecintaannya kepada Allah sehingga masuk ke relung jiwanya yang paling dalam.

(b) Karena beliau telah melaksanakan seluruh perintah Allah dengan sebaik-baiknya. Ini sesuai dengan firman Allah ﷻ,

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zhalim".” (Qs. al-Baqarah: 124)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ

“Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (Qs. an-Najm: 37)

(c) Karena beliau berakhlak seperti akhlak Allah. Maksudnya akhlak yang bisa diterapkan oleh manusia, bukan akhlak (Sifat yang khusus bagi Allah), seperti penyayang, penyantun, bijak, lembut, pemaaf, dan yang lainnya.

Di antara hadits yang membahas dengan Khalil adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bawahsanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لو كنت متخذاً من أهل الأرض خليلاً لاتخذت أبا بكر خليلاً،ولكن صاحبكم خليل الرحمن

“Jika aku boleh menjadikan penduduk bumi sebagai khalilku, aku pasti menjadikan Abu Bakr sebagai khalilku, akan tetapi aku adalah khalilurrahman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(3) Allah Pemilik Langit dan Bumi

وَلِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٖ مُّحِيطٗا

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (Qs. an-Nisa’: 126)

Maksudnya bahwa Allah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam sebagai kesayangan-Nya (hamba yang disayang Allah), bukan karena Allah membutuhkan Nabi Ibrahim. Allah tidak membutuhkan sedikitpun terhadap makhluk-Nya. Dia-lah pemilik langit dan bumi dengan segala isinya, serta Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Tetapi Allah memiliki Nabi Ibrahim karena ketaatan dan rasa cintanya kepada Allah yang sangat besar dan mendalam, sekaligus Allah ingin memuliakannya di dunia dan akhirat.

 

***

Jakarta, Senin, 16 Mei 2022

KARYA TULIS