Karya Tulis
367 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.4: 145-147) Bab 260 Taubatnya Orang Munafik


 إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

(Qs. an-Nisa’: 145)

 

Pelajaran (1) Neraka yang Paling Bawah

(1) Ayat ini menunjukkan bahwa siksaan yang dirasakan oleh orang-orang munafik lebih pedih dan lebih berat daripada siksaan yang dirasakan oleh orang-orang kafir.

(2) Ayat di atas juga menunjukkan bahwa neraka mempunyai tingkatan sebagaimana surga juga mempunyai tingkatan. Tingkatan surga disebut dengan “derajat” yaitu tingkatan dari bawah ke atas. Semakin tinggi derajatnya, semakin tinggi posisinya. Adapun tingkatan di neraka disebut “darakat”, yaitu tingkatan dari atas ke bawah. Semakin besar dosanya, maka semakin rendah kedudukannya (posisinya) di dalam neraka dan semakin keras siksaannya.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa neraka memiliki tujuh darakat (dari bawah ke atas), yaitu:

(a) Neraka Jahannam

(b) Neraka Lazha

(c) Neraka al-Huthamah

(d) Neraka as-Sa’ir

(e) Neraka Saqar

(f) Neraka al-Jahim

(g) Neraka al-Hawiyah

Terkadang semua neraka disebut dengan Jahannam. Terkadang juga disebut dengan darakat yang lain. Tetapi yang jelas semuanya disebut neraka.

 

Pelajaran (2) Empat Syarat

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَٱعۡتَصَمُواْ بِٱللَّهِ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ لِلَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا

“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (Qs. an-Nisa’: 146)

(1) Ayat di atas menunjukkan empat syarat yang harus dipenuhi oleh orang munafik jika ingin selamat dari api neraka. Keempat syarat tersebut adalah:

(a) Bertaubat dengan taubat nasuha. Ini dikuatkan dengan firman Allah ﷻ,

يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُواْ بَعۡدَ إِسۡلَٰمِهِمۡ وَهَمُّواْ بِمَا لَمۡ يَنَالُواْۚ وَمَا نَقَمُوٓاْ إِلَّآ أَنۡ أَغۡنَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ مِن فَضۡلِهِۦۚ فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيۡرٗا لَّهُمۡۖ وَإِن يَتَوَلَّوۡاْ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ عَذَابًا أَلِيمٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَمَا لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (Qs. at-Taubah: 74)

(b) Memperbaiki perkataan dan perbuatan yang selama ini dikerjakan dan menggantinya dengan perbuatan baik dan amal shalih. Ini seperti firman Allah ﷻ,

إِلَّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسۡنَۢا بَعۡدَ سُوٓءٖ فَإِنِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Tetapi orang yang berlaku zhalim, kemudian ditukarnya kezhalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka seaungguhnya Aku Maha Pangampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. an-Naml: 11)

Juga di dalam firman Allah ﷻ,

إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Qs. Hud: 114)

(c) Berpegang teguh dengan Allah dan dengan kitab suci-Nya, yaitu al-Qur’an, mempelajari serta mengamalkan isinya.

(d) Mengikhlaskan niat dalam beramal dan beribadah, yaitu hanya mencari ridha Allah semata.

(2) Firman-Nya,

فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا

“Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”

Orang-orang munafik yang sudah mengerjakan empath al di atas maka mereka akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman (mukminin). Disebutkan seperti itu sebagai penghormatan mereka yang sudah bertaubat dan memenuhi empat syarat di atas. Sedangkan Allah akan memberikan pahala besar bagi para mukminin.

Kata (سَوۡفَ) “akan” menunjukkan hal itu pasti terjadi, tidak mungkin luput. Karena hal itu merupakan janji dari Allah dan janji Allah itu pasti benar adanya.

 

Pelajaran (3) Bersyukur dan Beriman

مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nisa’: 147)

(1) Dalam ayat ini, Allah menafikan siksaan kepada orang yang mau bersyukur dan beriman. Atau dengan ungkapan lain bahwa syukur dan iman bisa menolak siksaan Allah.

(2) Bersyukur kepada Allah adalah dengan menyembah-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

(a) Firman Allah ﷻ,

إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.” (Qs. al-‘Ankabut: 17)

(b) Firman Allah ﷻ,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Qs. al-Baqarah: 172)

(c) Firman Allah ﷻ,

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ۞ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ۞ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ۞

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. al-Luqman: 12-14)

Pada ayat (12), Allah memberikan al-Hikmah kepada Luqman. Hikmah tersebut berupa “rasa syukur” kepada Allah. Pada ayat (13) diterangkan bahwa bentuk kesyukuran adalah dengan tidak berbuat syirik. Sedangkan pada ayat (14), Allah memerintahkan setiap orang untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua. Maksudnya adalah untuk menyembah-Nya dan untuk melakukan birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua).

(3) Dalam ayat ini (Qs. an-Nisa’: 147), mengapa syukur lebih didahulukan daripada keimanan?

Jawabannya adalah bahwa syukur itu menyebabkan munculnya keimanan. Hal itu karena seseorang yang melihat nikmat Allah yang begitu besar kepadanya dan kepada manusia, kemudian merenungi nikmat-nikmat tersebut maka akan membawanya kepada keimanan kepada Allah.

Dalil terhadap hal itu sangat banyak, diantaranya:

(a) Firman Allah ﷻ,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 21)

(b) Firman Allah ﷻ,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs. an-Nisa’: 1)

(c) Firman Allah ﷻ,

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ۞ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ۞

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Qs. al-‘Alaq: 1-2)

(d) Firman Allah ﷻ,

أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (Qs. an-Nahl: 17)

Keempat ayat di atas menunjukkan bahwa nikmat penciptaan langit, bumi, dan manusia, jika mau merenungi niscaya akan membawa orang kepada keimanan kepada Allah Sang Pencipta alam semesta.

(4) Firman-Nya,

وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا

“Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”

Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya yang menyembah-Nya dan taat kepada-Nya dengan memberikan pahala yang setimpal kepada mereka, serta tidak menyiksanya.

Ini juga dimaksudkan untuk memuliakan mereka yang taat kepada-Nya, bahwa amalan mereka tidak akan disia-siakan begitu saja.

***

Jakarta, Sabtu, 21 Mei 2022

KARYA TULIS