Karya Tulis
360 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 4: 150-153): Bab 262 Pelanggaran Kaum Yahudi


اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍۙ وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًاۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah antara itu (keimanan atau kekufuran).”

(Qs. an-Nisa’: 150)

 

Pelajaran (1) Membedakan antara Allah dan Rasul-Nya

Pada ayat-ayat sebelumnya Allah ﷻ menyebutkan tentang keadaan orang-orang musyrik dan kaum munafik, maka pada ayat ini Allah ﷻ menjelaskan sifat-sifat Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang mengaku beriman kepada Allah ﷻ tetapi mengkafiri sebagian Rasul-Nya

(a) Firman-Nya,

 وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِه

“Dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya.” (Qs. an-Nisa’: 150)

Orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah ﷻ, tetapi tidak beriman kepada para rasul-Nya, mereka dianggap kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, karena Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk menyembah-Nya dengan cara-cara yang telah diajarkan melalui para Rasul. Jika mereka mengkufuri para Rasul, bagaimana cara mereka menyembah Allah ﷻ?

Oleh karenanya, tidak boleh membedakan antara Allah dan para Rasul-Nya.

(b) Firman-Nya,

وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍۙ

“Dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain).” (Qs. an-Nisa’: 150)

Begitu juga tidak dibenarkan mengakui beriman kepada Allah dan beriman kepada sebagian rasul saja, seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan kaum Nasrani.

Kaum Yahudi hanya beriman keapada Nabi Musa ‘alaihi as-salam, tetapi mengkufuri Nabi Isa ‘alaihi as-salam dan Nabi Muhammad ﷺ.

Begitu juga kaum Nasrani hanya beriman kepada Nabi Isa ‘alaihi as-salam tetapi mengkufuri Nabi Muhammad ﷺ. 

(c) Firman-Nya,

 وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًاۙ

“Serta bermaksud mengambil jalan tengah antara itu (keimanan atau kekufuran).” (Qs. an-Nisa’: 150)

Mereka yang membeda-bedakan antara para rasul tersebut, mereka menginginkan cara beragama seperti itu. Maksudnya: mereka ingin menempuh jalan (beragama) dengan cara menggabungkan antara keimanan dan kenabian atau mereka ingi menciptakan agama lain dengan cara menggabungkan antar agama.

(d) Firman-Nya,

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ حَقًّا ۚوَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا

“Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (Qs. an-Nisa’: 151)

Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa orang-orang yang beriman dengan Allah tetapi mengkafiri Rasul-Nya atau mengkafiri sebagian rasul, mereka adalah orang kafir yang sebenarnya.

Hal ini disebutkan secara tegas, untuk membantah anggapan sebagian orang bahwa mereka bukanlah orang kafir sepenuhnya, atau mereka adalah orang yang setengah kafir.

 

Pelajaran (2) Beriman yang Benar

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَلَمْ يُفَرِّقُوْا بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka (para rasul).” (Qs. an-Nisa’: 152)

Setelah menyebutkan orang-orang kafir, pada ayat ini Allah menyebutkan cara beriman yang benar, yaitu beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya serta tidak membedakan antara para rasul tersebut. Merekalah orang-orang yang imannya benar dan akan diberikan kepada mereka pahala atas keimanannya tersebut.

Diakhir ayat Allah ﷻ menyebutkan,

وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. an-Nisa’: 152)

Hal itu karena dalam beribadah kepada Allah, tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka ayat ini ditutup dengan menegaskan bahwa kesalahan dan kekurangan itu akan diampuni oleh Allah.

 

 Pelajaran (3) Ingin Melihat Allah ﷻ

يَسْـَٔلُكَ اَهْلُ الْكِتٰبِ اَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتٰبًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَقَدْ سَاَلُوْا مُوْسٰٓى اَكْبَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَقَالُوْٓا اَرِنَا اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ فَعَفَوْنَا عَنْ ذٰلِكَ ۚ وَاٰتَيْنَا مُوْسٰى سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا

“Ahlul Kitab meminta kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sungguh, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar daripada itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata.” Maka, petir menyambar mereka karena kezalimannya. Kemudian, mereka menjadikan anak sapi (sebagai sembahan), (padahal) telah datang kepada mereka bukti-bukti (ketauhidan) yang nyata, lalu Kami memaafkan yang demikian itu. Kami telah menganugerahkan kepada Musa kekuasaan yang nyata.” (Qs. an-Nisa’: 153)

(1) Diriwayatkan bahwa sekelompok orang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad ﷺ, meminta beliau untuk naik ke langit, kemudian turun lagi di hadapan mereka dengan membawa kitab suci yang bertulisan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah ﷻ.

(2) Sebelumnya, orang-orang Yahudi pada zaman Nabi Musa juga pernah bertanya kepada Nabi Musa ‘alaihi as-salam sesuatu yang lebih besar dari pada permintaan orang-orang Yahudi Madinah. Permintaan mereka adalah “Ingin mellihat Allah ﷻ dengan mata kepala mereka secara terang-terangan”. Akibat permintaan tersebut, mereka disambar petir karena kezhaliman mereka. Hal ini juga Allah jelaskan di dalam surah al-Baqarah,

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ثُمَّ بَعَثْنٰكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya). Kemudian, Kami membangkitkan kamu setelah kematianmu agar kamu bersyukur.” (Qs. al-Baqarah: 55-56)

(3) Menurut ar-Raghib al-Ashfahani bahwa kata (الصّٰعِقَةُ) mempunyai tiga makna, yaitu:

Kematian, seperti di dalam firman-Nya,

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ

“Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah).” (Qs. az-Zumar: 68)

Siksa, seperti di dalam firman-Nya,

فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَقُلْ اَنْذَرْتُكُمْ صٰعِقَةً مِّثْلَ صٰعِقَةِ عَادٍ وَّثَمُوْدَ ۗ

“Jika mereka berpaling, katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu (adzab berupa) petir seperti petir yang menimpa (kaum) ‘Ad dan (kaum) Samud.” (Qs. Fushshilat: 13)

Api, seperti di dalam firman-Nya,

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚوَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِۗ

“Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya.” (Qs. ar-Ra’du: 13)

Ketiga hal yang disebutkan di atas adalah akibat dari petir itu sendiri. Jadi (الصّٰعِقَةُ) adalah petir, dari petir itulah orang itu bisa mati, atau menjadi siksa atau keluar apinya.

 

Pelajaran (4) Menyembah Patung Anak Sapi

Kemudian orang-orang Yahudi tersebut menyembah patung anak sapi, padahal sudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata tentang ke-Esaan Allah ﷻ.

Mereka menyembah patung anak sapi, karena ketika selamat dari kejaran Fir’aun dan menyeberangi lautan, mereka melewati kaum yang menyembah patung. Merekapun meminta kepada Nabi Musa ‘alaihi as-salam membuatkan untuk mereka patung.

Ini disebutkan dalam firman-Nya,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰٓى اَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚقَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ

“Kami menyeberangkan Bani Israil (melintasi) laut itu (dengan selamat). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang masih tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa, buatlah untuk kami tuhan (berupa berhala) sebagaimana tuhan-tuhan mereka.” (Musa) menjawab, “Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.” (Qs. al-A’raf: 138)

Kemudian Allah ﷻ memaafkan perbuatan tersebut, setelah mereka dihukum untuk saling membunuh di antara mereka sendiri.

Peristiwa ini juga di sebutkan Allah ﷻ dalam firman-Nya,

وَاِذْ وٰعَدْنَا مُوْسٰىٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim. Setelah itu, Kami memaafkan kamu agar kamu bersyukur.” (Qs. al-Baqarah: 51-52)

Adapun hukuman Allah ﷻ kepada mereka untuk saling membunuh diri mereka sendiri akibat menyembah patung anak sapi disebutkan di dalam surat al-Baqarah,

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Baqarah: 54)

Adapun firman Allah ﷻ,

وَاٰتَيْنَا مُوْسٰى سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا

“Kami telah menganugerahkan kepada Musa kekuasaan yang nyata.” (Qs. an-Nisa’: 153)

Dikuatkan dengan firman Allah ﷻ,

وَاِذْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

“(Ingatlah) ketika Kami memberikan kitab (Taurat) dan furqān kepada Musa agar kamu memperoleh petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 53)

Yang dikuatkan dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَهْلَكْنَا الْقُرُوْنَ الْاُوْلٰى بَصَاۤىِٕرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“Sungguh, Kami benar-benar menganugerahkan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami membinasakan generasi terdahulu sebagai penerang, petunjuk, dan rahmat bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran.” (Qs. al-Qashash: 43)

 

***

Jakarta, Ahad, 22 Mei 2022

KARYA TULIS