Tafsir An-Najah (Qs.4:154-155): Bab 263 Pelanggaran Kaum Yahudi-2

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّوْرَ بِمِيْثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَّقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوْا فِى السَّبْتِ وَاَخَذْنَا مِنْهُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا
“Kami pun telah mengangkat gunung (Sinai) di atas mereka untuk (menguatkan) perjanjian mereka. Kami perintahkan kepada mereka, “Masukilah pintu gerbang (Baitulmaqdis) itu sambil bersujud”. Kami perintahkan pula kepada mereka, “Janganlah melanggar (peraturan) pada hari Sabat.” Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh.”
(Qs. an-Nisa’: 154)
Pelajaran (1) Empat Perintah kepada Bani Israel
Ayat ini mengandung empat perintah Allah yang dilanggar oleh Bani Israel. Keempat perintah tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama: Diangkatnya Gunung Tursina
وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّوْرَ بِمِيْثَاقِهِمْ
“Kami pun telah mengangkat gunung (Sinai) di atas mereka untuk (menguatkan) perjanjian mereka.”
Allah memerintahkan malaikat untuk mencabut Gunung Thursina dan membawanya di atas kepala orang-orang Yahudi yang tidak mau mengamalkan Kitab Taurat. Gunung tersebut seperti awan yang menyelimuti mereka. Jadi suasananya sangat gelap dan mencekam. Saat itu juga diambil dari mereka perjanjian agar mereka berpegang teguh pada Kitab Taurat. Jika mereka menolak, Allah akan menimpakan gunung tersebut kepada mereka. Mereka pun ketakutan dan bersujud sebagai bukti ketundukan dan taubat kepada Allah.
(1) Peristiwa ini disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa”.” (Qs. al-Baqarah: 63)
(2) Juga dikuatkan di dalam firman Allah ﷻ,
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkannya, tetapi kami tidak menaatinya.” Diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekufuran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh keimananmu kepadamu jika kamu orang-orang mukmin!” (Qs. al-Baqarah: 93)
(3) Juga disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
وَاِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَاَنَّهٗ ظُلَّةٌ وَّظَنُّوْٓا اَنَّهٗ وَاقِعٌۢ بِهِمْۚ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ࣖ
“(Ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung (dari akarnya) ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Kami berfirman kepada mereka,) “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu bertakwa”.” (Qs. al-A’raf: 171)
Kedua: Memasuki Baitul Maqdis
وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا
“Kami perintahkan kepada mereka, “Masukilah pintu gerbang (Baitulmaqdis) itu sambil bersujud”.”
Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Kota Baitul Maqdis melalui pintu yang bernama (بابُ حِطَّةٌ) “Pintu Hitthah” yang memiliki arti: pintu tempat dihapuskannya dosa-dosa.
Mereka juga diperintahkan untuk memasuki pintu tersebut dengan cara (سُجَّدًا) yaitu “sambal menunduk”, seperti orang yang sedang ruku’ sebagai bentuk ketawadhu’an, tidak dalam kesombongan.
Ketiga: Menjaga Kesucian Hari Sabtu
وَّقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوْا فِى السَّبْتِ
“Kami perintahkan pula kepada mereka, ‘Janganlah melanggar (peraturan) pada hari Sabat’.”
Allah memerintahkan Bani Israel untuk menjaga kesucian hari Sabtu. Karena pada hari Sabtu, orang-orang Yahudi beristirahat dari bekerja dan beraktifitas, untuk fokus beribadah saja. Tetapi mereka melanggar aturan tersebut, secara sengaja memasang jaring ikan pada hari Jumat dan mengambilnya pada hari Sabtu.
Peristiwa ini juga disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ
“Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina!’” (Qs. al-Baqarah: 65)
Peristiwa ini secara lebih rinci dijelaskan di dalam firman Allah ﷻ,
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِۘ اِذْ يَعْدُوْنَ فِى السَّبْتِ اِذْ تَأْتِيْهِمْ حِيْتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَّيَوْمَ لَا يَسْبِتُوْنَۙ لَا تَأْتِيْهِمْ ۛ كَذٰلِكَ ۛنَبْلُوْهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ
“Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, (yaitu) ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka bermunculan di permukaan air. Padahal, pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka karena mereka selalu berlaku fasik.” (Qs. al-A’raf: 163)
Keempat: Allah Mengambil Perjanjian yang Kuat dari Mereka
وَاَخَذْنَا مِنْهُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا
“Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh.”
Dalam ayat ini tidak dirinci tentang perjanjian yang kuat itu. Jadi, masih bersifat umum, mencakup seluruh perjanjian yang pernah Allah ambil dari Bani Israel, diantaranya:
(1) Perjanjian untuk mengamalkan isi Taurat pada saat Gunung Thursina diletakkan di atas kepala mereka. Sebagaimana tersebut di dalam:
(a) Qs. al-Baqarah: 63 dan 93
(b) Qs. an-Nisa’: 154
(c) Qs. al-A’raf: 171
(2) Perjanjian untuk melaksanakan tujuh perintah, yaitu:
(a) Menyembah Allah saja,
(b) Berbuat baik kepada orang tua,
(c) Berbuat baik kepada kerabat,
(d) Berbuat baik kepada anak yatim,
(e) Berbuat baik kepada orang miskin,
(f) berkata baik kepada manusia,
(g) menegakkan shalat dan menunaikan zakat.
Tujuh perintah di atas disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Qs. al-Baqarah: 83)
(c) Perjanjian untuk menjelaskan isi Taurat dan larangan menyembunyikan isinya, termasuk di dalamnya tentang berita kebenaran Nabi Muhammad ﷺ. Ini disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Allah membuat perjanjian dengan orang-orang yang telah diberi Alkitab (dengan berfirman), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkan (isi Alkitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” Lalu, mereka melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung mereka (mengabaikannya) dan menukarnya dengan harga yang murah. Maka, itulah seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan.” (Qs. Ali ‘Imran: 187)
(d) Perjanjian yang disebut di dalam firman Allah ﷻ,
وَلَقَدْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۚ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيْبًاۗ وَقَالَ اللّٰهُ اِنِّيْ مَعَكُمْ ۗ لَىِٕنْ اَقَمْتُمُ الصَّلٰوةَ وَاٰتَيْتُمُ الزَّكٰوةَ وَاٰمَنْتُمْ بِرُسُلِيْ وَعَزَّرْتُمُوْهُمْ وَاَقْرَضْتُمُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّاُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَلَاُدْخِلَنَّكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ
“Sungguh, Allah benar-benar telah mengambil perjanjian dengan Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Allah berfirman, “Aku bersamamu. Sungguh, jika kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku dan membantu mereka, serta kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Aku masukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka, siapa yang kufur di antaramu setelah itu, sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.” (Qs. al-Ma’idah: 12)
(e) Perjanjian-perjanjian lain termasuk perjanjian untuk tidak melanggar larangan Allah pada hari Sabtu.
Pelajaran (2) Empat Pelanggaran Bani Israel
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَقَتْلِهِمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَّقَوْلِهِمْ قُلُوْبُنَا غُلْفٌ ۗ بَلْ طَبَعَ اللّٰهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
“Maka, (Kami hukum mereka karena mereka melanggar perjanjian itu, kafir terhadap keterangan-keterangan Allah, membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan mengatakan, “Hati kami tertutup.” Sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekufurannya. Maka, mereka tidak beriman kecuali hanya sebagian kecil (dari mereka).” (Qs. an-Nisa’: 155)
Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan empat pelanggaran yang dilakukan oleh Bani Israel, sehingga mereka mendapatkan laknat dari Allah dan berbagai hukuman berat lainnya. Keempat pelanggaran itu adalah sebagai sebagai berikut:
Pertama: Melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati dengan Allah ﷻ. Hal ini sebagai penegasan dari ayat sebelumnya. Perjanjian-perjanjian tersebut sudah dijelaskan pada penafsiran ayat sebelumnya (Qs. an-Nisa’: 154).
Kedua: Mengkufuri ayat-ayat Allah ﷻ.
Di antara ayat-ayat yang mereka kufuri adalah ayat yang mereka kufuri adalah ayat yang menunjukkan akan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan ayat-ayat perjanjian yang mereka langar.
Ketiga: Membunuh para nabi.
Di antara nabi yang mereka bunuh adalah Nabi Zakariya dan Nabi Yahya. Berikut ini beberapa ayat yang menyebutkan perbuatan mereka membunuh para nabi, diantaranya:
(1) Firman Allah ﷻ,
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَقَفَّيْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ بِالرُّسُلِ ۖ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ اَفَكُلَّمَا جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌۢ بِمَا لَا تَهْوٰىٓ اَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ ۚ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami menyusulkan setelahnya rasul-rasul. Kami juga telah menganugerahkan kepada Isa, putra Maryam, bukti-bukti kebenaran, serta Kami perkuat dia dengan Ruhulkudus (Jibril). Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagian(-nya) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh?” (Qs. al-Baqarah: 87)
(2) Firman Allah ﷻ,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
“Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.” (Qs. Ali ‘Imran: 112)
(3) Firman Allah ﷻ,
اَلَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ عَهِدَ اِلَيْنَآ اَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُوْلٍ حَتّٰى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ ۗ قُلْ قَدْ جَاۤءَكُمْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِيْ بِالْبَيِّنٰتِ وَبِالَّذِيْ قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوْهُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
“(Mereka adalah) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami agar kami tidak beriman kepada seorang rasul sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api (yang datang dari langit).’ Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sungguh, beberapa rasul sebelumku telah datang kepadamu dengan (membawa) bukti-bukti yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar?’” (Qs. Ali ‘Imran: 183)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar).
وَقَتْلِهِمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar).”
Ini bukan berarti boleh membunuh para nabi dengan hak, karena semua nabi dibunuh tanpa hak. Jika demikian apa manfaat penyebutan “tanpa hak” di sini?
Jawabannya: Hal itu untuk menunjukkan betapa dahsyatnya kejahatan mereka itu. Begitu juga untuk menunjukkan pembunuhan para nabi tersebut menurut mereka sendiri juga tanpa hak. Artinya mereka sendiri tidak memiliki alasan apapun untuk membunuh para nabi, kecuali hanya karena kedengkian, kebencian dan mengikuti bisikan hawa nafsu.
Keempat: Mereka mengatakan bahwa hati mereka tertutup.
وَّقَوْلِهِمْ قُلُوْبُنَا غُلْفٌ
“Dan mengatakan, ‘Hati kami tertutup’.”
(1) Kata (غُلْفٌ) mempunyai dua makna, yaitu:
(a) Tertutup.
Kata (غُلْفٌ) di sini jamak dari (أَغْلَفُ) yang artinya “tertutup”.
Ini seperti kata (حُمْرٌ) jamak dari (أَحْمَرُ) yang artinya merah.
Maksudnya mereka telah menutup diri untuk tidak menerima kebenaran. Mereka meremehkan apa yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Mereka sudah tidak mau mendengar nasehat apapun juga. Bahkan mereka mengatakan bahwa Allah menciptakan hati mereka seperti itu, tidak bisa memahami apa yang disampaikan oelh para rasul.
Makna ini mirip dengan firman Allah ﷻ,
وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ
“Mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau serukan kepada kami. Dalam telinga kami ada penyumbat dan di antara kami dan engkau ada tabir. Oleh sebab itu, lakukanlah (apa yang kamu sukai). Sesungguhnya kami akan melakukan (apa yang kami sukai)”.” (Qs. Fushshilat: 5)
(b) Wadah.
Kata (غُلْفٌ) jamak dari (غِلَافٌ) yang artinya “wadah”.
Ini seperti kata (كُتُبٌ) jamak dari (كِتَابٌ) yang artinya buku.
Maksudnya bahwa mereka menganggap hati mereka bagai “wadah ilmu”. Mereka merasa sudah mempunyai ilmu banyak, maka disebut Ahlul Kitab, mereka menganggap sudah tidak membutuhkan ilmu baru dari para nabi dan rasul.
Inti dari dua arti di atas adalah pada hakikatnya sama, yaitu mereka menolak apa yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Mereka menolak kebenaran apapun yang berasal dari luar kalangan mereka.
(2) Hati yang terkunci.
بَلْ طَبَعَ اللّٰهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ
“Sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekufurannya.”
Potongan ayat ini merupakan bantahan terhadap perkataan orang-orang Yahudi Bani Israel bahwa hati mereka tercipta dalam keadaan tertutup. Padahal Allah menciptakan semua hati manusia dalam keadaan bersih di atas fitrah, bisa menerima kebenaran dari manapun asalnya. Ini sesuai dengan firman Allah ﷻ,
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. ar-Rum: 30)
Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah manusia adalah cenderung pada kebenaran Islam. Hal ini dikuatkan hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Jika demikian bisa disimpulkan bahwa tertutupnya hati orang-orang Yahudi bukan karena tercipta dalam keadaan tertutup. Akan tetapi, karena dosa-dosa dan perbuatan munkar yang mereka lakukan, maka Allah menutup hati mereka.
Kata (طَبَعَ) berasal dari (الطَّبْعُ) yang berarti “ditutup secara permanen dan rapat” sehingga tidak ada celah untuk keluar.
(3) Iman yang sedikit.
فَلَا يُؤْمِنُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
“Maka, mereka tidak beriman kecuali hanya sebagian kecil (dari mereka).”
Terdapat tiga makna dalam potongan ayat ini, yaitu:
(a) Maka mereka tidaklah beriman, kecuali iman yang sedikit, yaitu iman mereka kepada Nabi Musa. Akan tetapi iman ini tidak bermanfaat pada hari kiamat, sebab hanya beriman kepada satu nabi dan mengkufuri nabi-nabi yang lainnya, sama dengan mengkufuri semua nabi. Dan ini dianggap kafir yang sesungguhnya.
(b) Maka mereka tidaklah beriman, kecuali pada waktu yang sebentar (sedikit), kemudian mereka kafir kembali sampai mereka mati. Dan iman seperti ini juga tidak ada manfaatnya.
(c) Maka mereka tidaklah beriman, kecuali jumlah yang sedikit. Maksudnya sebagian besar orang Yahudi kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ, kecuali hanya beberapa orang saja yang beriman, seperti ‘Abdullah bin Salam dan beberapa kawannya.
***
Jakarta, Senin, 23 Mei 2022
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »