Tafsir An-Najah (Qs.4:167-170):Bab267 Menghalangi dariJalan Allah

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ قَدْ ضَلُّوْا ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah tersesat jauh.”
(Qs. an-Nisa’: 167)
Pelajaran (1) Menghalangi dari Jalan Allah
(1) Pada ayat sebelumnya disebutkan bahwa Allah menjadi saksi akan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sedangkan pada ayat ini disebutkan orang-orang yang kafir kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.
(2) Kekafiran yang disertai perbuatan menghalangi manusia dari jalan Allah akan menyebabkan seseorang tersesat dari jalan kebenaran sejauh-jauhnya.
(3) Kata (صَدُّوْا) mengandung dua arti, yaitu:
(a) Mereka menghalangi diri mereka sendiri dari jalan Allah dan berpaling darinya.
Ini seperti orang-orang yang di depannya terpampang jalan lurus menuju ke arah surga, tetapi dia tidak mau mengikuti jalan tersebut, justru berpaling darinya dan mencari jalan lain.
(b) Mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.
Ini seperti orang yang berdiri di pinggir jalan lurus yang mengantarkan ke arah surga. Kemudian ada orang yang ingin mengikuti (melewati) jalan tersebut, namun dihalang-halanginya dengan berbagai cara, diantaranya dengan menutup jalan tersebut, atau dengan mengarahkan orang-orang ke jalan lain, atau dengan mengatakan bahwa jalan lurus tersebut akan mengantarkan ke jurang, atau yang lain-lainnya.
Pelajaran (2) Kafir dan Zhalim
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَظَلَمُوْا لَمْ يَكُنِ اللّٰهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيْقًاۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan melakukan kezhaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan kepada mereka jalan apa pun.” (Qs. an-Nisa’: 168)
(1) Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah tidak mengampuni dan tidak memberikan hidayah kepada orang yang mempunyai dua sifat, yaitu: kafir dan zhalim.
Apa yang dimaksud dengan zhalim di sini?
Para ulama memberikan beberapa penafsiran tentang zhalim di sini, diantaranya adalah:
(a) Zhalim di sini adalah menzhalimi diri sendiri, yaitu dengan menceburkan diri sendiri dalam berbagai perbuatan maksiat yang mengantarkan pada siksa neraka.
(b) Zhalim di sini juga mencakup menzhalimi orang lain, seperti menzhalimi Nabi Muhammad ﷺ dengan menghinanya dan mendustakan risalahnya. Juga menzhalimi kaum muslimin dengan menghalangi mereka dari jalan Allah, memusuhi dan memerangi mereka dengan berbagai cara.
(c) Zhalim di sini adalah perbuatan syirik sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezhaliman yang besar” (Qs. Luqman: 13)
Juga dikuatkan di dalam firman Allah ﷻ,
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (Qs. al-An’am: 82)
Zhalim di dalam (Qs. al-An’am: 82) ini maksudnya adalah syirik.
(2) Ayat ini berbicara tentang jalan menuju neraka. Allah berfirman,
اِلَّا طَرِيْقَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا
“Kecuali jalan ke (neraka) Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Hal itu bagi Allah (sangat) mudah.” (Qs. an-Nisa’: 169)
(a) Maksud ayat di atas bahwa Allah tidak memberikan petunjuk ke jalan kebaikan kepada mereka dan tidak pula dimudahkan untuk meraih sebab-sebab hidayah selama hidup di dunia.
Justru sebaliknya, Allah mengarahkan mereka untuk berjalan menuju neraka Jahannam, mereka akan masuk dan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
(b) Semua itu bagi Allah sangat mudah, yaitu mengarahkan orang-orang kafir dan zhalim ke jalan neraka, serta memasukkan mereka ke dalamnya.
Pelajaran (3) Dua Kelompok Manusia
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمُ الرَّسُوْلُ بِالْحَقِّ مِنْ رَّبِّكُمْ فَاٰمِنُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗوَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
“Wahai manusia, sungguh telah datang Rasul (Nabi Muhammad) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. Maka, berimanlah (kepadanya). Itu lebih baik bagimu. Jika kamu kufur, (itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya milik Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. an-Nisa’: 170)
(1) Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia bahwa telah datang kepada mereka seorang rasul, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa al-Haq (kebenaran), yaitu al-Qur’an yang datangnya dari Allah, Tuhan semesta alam.
Manusia dalam menyikapi kedatangan Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul terakhir hanya diberi dua pilihan:
Pertama: Beriman kepadanya. Dan ini lebih baik bagi mereka.
Lebih baik di sini tidak mesti lawannya juga baik. Kadang lebih baik itu lawannya adalah tidak baik atau jelek.
Dalam al-Qur’an, hal seperti ini sering disebutkan diantaranya adalah:
(a) Firman Allah ﷻ,
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ
“Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).” (Qs. adh-Dhuha: 4)
(b) Firman Allah ﷻ,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. al-Jumu’ah: 9)
(c) Firman Allah ﷻ,
تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ
“(Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. ash-Shaff: 11)
Kedua: Mengingkari dan menolak dakwahnya. Jika ini yang dipilih, maka Allah tidak membutuhkan manusia seperti ini. Atau kekafiran mereka tidak mempengaruhi kekuasaan Allah, karena Dia-lah yang memilih apa yang ada di langit dan di bumi. Artinya bahwa keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Allah.
Atau dengan kata lain, “Allah tidak butuh untuk disembah, tetapi manusia yang butuh untuk menyembah Allah.”
(2) Allah Maha Tahu siapa yang akan beriman dan siapa yang akan menjadi kafir. Dan Allah Maha Bijaksana dengan segala keputusan-Nya, yaitu memberikan petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.
***
Jakarta, Rabu, 25 Mei 2022
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »