Karya Tulis
314 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.4:171): Bab 268 Berlebihan dalam Beragama


يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰىهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ ۖفَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا ࣖ

“Wahai Ahlul Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.”

(Qs. an-Nisa’: 171)

 

Pelajaran (1) Berlebihan dalam Beragama

(1) Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan secara panjang lebar tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, termasuk di dalamnya menuduh Maryam dan putranya yaitu Nabi Isa, dengan tuduhan yang keji.

Pada ayat ini, Allah melarang orang-orang Nasrani yang mempunyai sikap berlawanan dengan sikap orang-orang Yahudi, yaitu terlalu berlebih-lebihan dalam mengangkat dan menghormati Nabi Isa, hingga mengatakan bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan.

 (2) Firman-Nya,

لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ

“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu.”

(a) Kata (الغُلُو) artinya “melampaui batas”. Maksudnya di sini adalah melampaui batas dalam beragama dan melebihi dari batas yang ditentukan. Oleh karenanya, ayat ini walaupun mencakup kaum Yahudi dan Nasrani, tetapi lebih ditujukan kepada kaum Nasrani sebab mereka berlebihan dalam menghormati Nabi Isa, sehingga mengangkatnya sebagai anak Tuhan.

Biasa berlebihan dalam mengamalkan ajaran agama ini disebabkan oleh semangat yang tidak dibekali dengan ilmu yang cukup, sehingga menjadi sesat.

(b) Allah telah menjelaskan hal ini di dalam surah al-Fatihah,

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” (Qs. al-Fatihah: 7)

(c) Orang-orang Nasrani selain berlebihan dalam menghormati Nabi Isa dan menjadikannya sebagai anak Tuhan, mereka juga berlebihan dalam menghormati para pemuka agama mereka.

Orang-orang Nasrani menganggap para pendeta mereka terjaga dari kesalahan, sehingga mereka mengikuti secara mutlak apa yang dikatakan oleh para pendeta tersebut. Meskipun para pendeta menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Allah berfirman,

اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah325) serta (Nasrani mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam. Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. at-Taubah: 31)

(3) Di dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari)

 

Pelajaran (2) Berdusta tentang Allah

وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah.”

(1) Ayat ini menunjukkan larangan kepada orang-orang Nasrani untuk berkata tentang Allah kecuali yang benar. Karena selama ini, orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Allah adalah al-Masih Isa putra Maryam, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ اَنْ يُّهْلِكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۗوَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sungguh, benar-benar telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Jika benar begitu,) siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam, ibunya, dan seluruh yang berada di bumi?” Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. al-Ma’idah: 17)

Ini dikuatkan dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“Sungguh, telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Almasih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu!” Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” (Qs. al-Ma’idah: 72)

(2) Mereka juga mengatakan bahwa Allah adalah salah satu di antara tiga. Ini sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Sungguh, telah kufur orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa adzab yang sangat pedih.” (Qs. al-Ma’idah: 73)

(3) Mereka juga mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, sebagaimana di dalam firman-Nya,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا ۞ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا اِدًّا ۙ ۞

“Mereka berkata, “(Allah) Yang Maha Pengasih telah mengangkat anak.” Sungguh, kamu benar-benar telah membawa sesuatu yang sangat mungkar.” (Qs. Maryam: 88-89)

 

Pelajaran (3) Empat Hal tentang Nabi Isa

اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰىهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ

“Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.”

Ayat ini menjelaskan tentang hakikat Nabi Isa dalam empat hal:

Pertama: Nabi Isa adalah putra Maryam.

Artinya beliau adalah seorang manusia yang dilahirkan oleh seorang ibu. Hal ini sebenarnya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Nabi Isa bukanlah tuhan, sebab tuhan tidak dilahirkan oleh seorang ibu. Mereka berdua juga memakan makanan. Sebagaimana manusia lain juga memakan makanan.

Ini dijelaskan Allah di dalam firman-Nya,

مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

“Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlul Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran).” (Qs. al-Ma’idah: 75)

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah tidak menyebutkan wanita di dalam al-Qur’an secara terus terang kecuali Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa. Beliau disebut namanya kira-kira sebanyak 30 kali di dalam al-Qur’an.

Salah satu hikmahnya bahwa kebiasaan para raja dan bangsawan tidak menyebut nama permaisuri mereka secara terus terang di depan masyarakat umum, kecuali hanya disebut gelar atau nama kehormatan saja. Sedangkan jika para raja dan pemimpin itu mempunyai budak, mereka tidak segan-segan untuk menyebut nama atau sifatnya sebagai budak.

Demikian pula ketika orang-orang Nasrani menjadikan Maryam dan putranya sebagai tuhan, Allah pun menyebut nama Maryam dan putranya secara terus terang. Ini menunjukkan bahwa Maryam dan putranya adalah hamba Allah, bukan tuhan.

Begitu juga ketika disebut Isa bin Maryam, menunjukkan bahwa Nabi Isa tidak mempunyai bappak. Dan ini harus menjadi keyakinan setiap muslim, sekaligus bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang menuduh Maryam berzina dengan seorang laki-laki.

Kedua: Nabi Isa adalah seorang utusan Allah.

Yaitu seorang manusia yang dipilih Allah untuk menyampaikan wahyu dari Allah kepada manusia, sebagaimana telah berlalu para rasul sebelumnya.

Jika orang-orang Nasrani percaya dengan para rasul sebelum Nabi Isa, bahwa para rasul adalah manusia yang diutus oleh Allah; maka semestinya mereka juga harus mempercayai bahwa Nabi Isa merupakan seorang rasul yang diutus oleh Allah. Allah ﷻ berfirman,

مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

“Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlul Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran).” (Qs. al-Ma’idah: 75)

Ketiga:  Nabi Isa adalah alimat Allah yang disampaikan kepada Maryam.

Adapun yang dimaksud Kalimat Allah pada ayat ini adalah:

(1) Allah menciptakan Nabi Isa dengan Kalimat Allah (كُنْ) “jadilah” maka jadilah seorang manusia bernama Isa. Maksudnya bahwa Nabi Isa tercipa tanpa melalui hubungan suami istri, sebagaimana penciptaan manusia lainnya. Tetapi tercipta dengan Kalimat (كُنْ) yaitu atas kehendak dan kekuasaan Allah.

(2) Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud “kalimat” di sini adalah kabar gembira yang disampaikan Jibril kepada Maryam. Hal ini berdasarkan pada firman Allah ﷻ,

اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ

“(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Qs. Ali ‘Imran: 45)

(3) Sebagian lain berpendapat bahwa maksud “kalimat” di sini adalah ayat-ayat Allah. Ini berdasarkan pada firman Allah ﷻ,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ ࣖ

“Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat.” (Qs. at-Tahrim: 12)

Juga di dalam firman-Nya,

وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) ditambah tujuh lautan lagi setelah (kering)-nya, niscaya tidak akan pernah habis kalimatullah (ditulis dengannya). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Luqman: 27)

Keempat: Nabi Isa adalah Ruh dari Allah.

Di sinilah orang-orang Nasrani tergelincir dan salah dalam memahami maksud “Ruh dari Allah”. Mereka memahami bahwa “Ruh dari Allah” adalah bagian dari Allah, sesuatu yang merupakan dari Allah berarti Allah juga; hingga mereka menganggap Nabi Isa adalah Allah. Tentunya ini adalah pemahaman yang menyimpang dan logika yang sesat.

Para ulama berusaha memberikan jawaban atas kesesatan orang-orang Nasrani dan menerangkan maksud “Ruh dari Allah”. Berbagai macam jawaban para ulama tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

(1) Berkata Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu bahwa Allah menciptakan arwah anak-anak Adam ketika Allah mengambil perjanjian dari mereka sebagaimana di dalam (Qs. al-A’raf: 172). Kemudian arwah tersebut dikembalikan ke sulbi Nabi Adam. Hanya ruh Nabi Isa saja yang tidak dikembalikan, akan tetapi Allah menahannya hingga ketika menciptakan Nabi Isa. Ruh tersebut disampaikan kepada Maryam sehingga menjadi Nabi Isa. Itulah makna “Ruh dari Allah”.

(2) Semua ruh manusia dari Allah. Maksudnya di sini, yang menciptakan adalah Allah ﷻ. Hanya saja Nabi Isa disebutkan secara khusus sebagai Ruh dari Allah sebagai bentuk penghormatan, sebagaimana Ka’bah disebut sebagai “Rumah Allah”, padahal semua masjid adalah rumah Allah. Dan Ka’bah disebut secara khusus sebagai bentuk penghormatan. Allah ﷻ berfirman,

وَاِذْ بَوَّأْنَا لِاِبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْـًٔا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْقَاۤىِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“(Ingatlah) ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan berfirman), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, mukim (di sekitarnya), serta rukuk (dan) sujud.” (Qs. al-Hajj: 26)

(3) Disebut “Ruh Allah” karena Jibril meniupkan ruh ke dalam diri Maryam, maka jadilah Nabi Isa. Tiupan itu disebut ruh karena seperti angin yang berasal dari ar-Ruh (Jibril). Disebut “ruh Allah” karena Dia-lah yang memerintahkan Jibril untuk meniupkan ruh tersebut kepada Maryam.

Di sana terdapat jawaban-jawaban lainnya dari para ulama, tetapi tiga jawaban di atas sudah mewakilinya.

 

Pelajaran (4) Trinitas yang Dilarang

فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ

“Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu.”

(1) Ketika sudah jelas tentang hakikat Nabi Isa, bahwa beliau adalah seorang manusia yang dipilih Allah sebagai salah satu utusan-nya, maka hendaknya kalian wahai Ahlul Kitab terutama orang-orang Nasrani, untuk beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, tapna membedakan antara satu dengan yang lainnya.

 (2) Firman-Nya,

وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ

“Dan janganlah kamu mengatakan, (Tuhan itu) tiga.”

Sudah diterangkan sebelumnya bahwa orang-orang Nasrani meyakini Nabi Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan. Atau mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga. Mereka mengatakan Tuhan itu ada tiga, yaitu: Allah, Maryam dan Isa.

Hal ini diterangkan oleh Allah di dalam beberapa ayat, diantaranya:

(a) Firman Allah yang menunjukkan perkataan mereka bahwa Allah adalah Isa bin Maryam,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ اَنْ يُّهْلِكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۗوَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sungguh, benar-benar telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Jika benar begitu,) siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam, ibunya, dan seluruh yang berada di bumi?” Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al-Ma’idah: 17)

Juga di dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“Sungguh, telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Almasih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu!” Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” (Qs. al-Ma’idah: 72)

(b) Firman Allah yang menunjukkan perkataan mereka bahwa Nabi Isa dan Maryam adalah Tuhan,

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗقَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗاِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

“(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib”.” (Qs. al-Ma’idah: 116)

(c) Firman Allah yang menunjukkan perkataan mereka bahwa Isa adalah anak Allah,

 وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

“Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang kufur sebelumnya. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (Qs. at-Taubah: 30)

(d) Firman Allah yang menunjukkan perkataan mereka bahwa Allah adalah salah satu dari tiga,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Sungguh, telah kufur orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa adzab yang sangat pedih.” (Qs. al-Ma’idah: 73)

(3) Firman-Nya,

ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ

“Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu.”

Allah memerintahkan mereka untuk berhenti mengatakan trinitas (Tuhan itu tiga) itu lebih baik bagi mereka. Artinya kalua mereka tidak mau berhenti, maka itu adalah sesuatu yang buruk, yang akan mengantarkan mereka ke neraka.

Ancaman Allah kepada mereka ini disebutkan secara tegas di dalam firman Allah ﷻ,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۞ اَفَلَا يَتُوْبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهٗۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ۞

“Sungguh, telah kufur orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa adzab yang sangat pedih. Tidakkah mereka bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?” (Qs. al-Ma’idah: 73-74)

 

Pelajaran (5) Allah Maha Esa

اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا

“Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.”

Pada ayat ini Allah mempertegas lagi bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, satu-satunya “Ilah” yang berhak disembah. Maha Suci Allah untuk mengambil anak. Karena milik-Nya semua apa yang ada di langit dan di bumi. Dia tidak membutuhkan kepada satu makhluk pun. Justru sebaliknya, seluruh makhluk membutuhkan-Nya. Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan firman-Nya,

وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا

Untuk menunjukkan bahwa Dia-lah yang dibutuhkan semua makhluk dan Dia-lah sebaik-baik Wakil yang mengurusi para makhluk tersebut, sebaik-baik tempat bersandar.

***

Jakarta, Rabu, 25 Mei 2022

KARYA TULIS