Tafsir An-Najah (Qs.4:172-175):Bab 269 Enggan Menjadi Hamba Allah

لَنْ يَّسْتَنْكِفَ الْمَسِيْحُ اَنْ يَّكُوْنَ عَبْدًا لِّلّٰهِ وَلَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ وَمَنْ يَّسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ اِلَيْهِ جَمِيْعًا
“Almasih tidak akan pernah enggan menjadi hamba Allah dan begitu pula para malaikat yang dekat (kepada Allah). Siapa yang enggan menyembah-Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.”
(Qs. Al-Ma’idah: 172)
Pelajaran (1) Enggan Menjadi Hamba Allah
(1) Kata (يَّسْتَنْكِفَ) berasal dari (نكف) yang mempunyai beberapa arti, diantaranya:
(a) Mensucikan diri.
(b) Menghentikan, yaitu seseorang yang menghentikan atau menyeka air mata dari pipinya.
(c) Aib atau cela.
Jadi ayat di atas bisa diartikan bahwa Nabi Isa tersebut akan mensucikan diri, tidak merasa aib dan tercela untuk menjadi hamba Allah. Begitu juga para malaikat, mereka tidak enggan dan tidak keberatan menjadi hamba Allah. Menjadi hamba Allah bukanlah sesuatu yang tercela, aib atau sesuatu yang memalukan justru menjadi hamba Allah adalah kemuliaan.
(2) Diriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah rombongan dari kaum Nasrani Najran datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau mencela Isa bin Maryam?” Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang aku katakan?” Mereka menjawab, “Engkau katakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya.” Beliau ﷺ pun menjawab, “Tidak tercela menjadi hamba Allah.”
(3) Bahkan sebaliknya, menjadi hamba Allah merupakan puncak kemuliaan manusia. Rasulullah ﷺ ketika disuruh memilih antara menjadi raja dan rasul, atau menjadi hamba Allah dan rasul; beliau memilih menjadi hamba Allah dan rasul-Nya.
Allah menyebutkan Rasulullah ﷺ sebagai hamba Allah pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, karena hamba Allah adalah julukan yang paling mulia. Allah ﷻ berfirman,
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Al-Isra’: 1)
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa sebaik-baik nama adalah ‘Abdullah atau ‘Abdurrahman yang menunjukkan penghambaan kepada Allah ﷻ.
Pelajaran (2) Para Malaikat yang Didekatkan
وَلَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ
“Dan begitu pula para malaikat yang dekat (kepada Allah).”
(1) Pada ayat ini setelah penyebutan al-Masih Isa bin Maryam disebutkan para malaikat al-muqarrabun.
(a) Sebagian ulama menyebutkan bahwa hal ini menunjukkan bahwa para malaikat lebih mulia daripada para nabi. Sebagian ulama lain tidak setuju dengan pendapat ini. Karena tidak ada kata atau kalimat dalam ayat ini yang menunjukkan hal itu.
(b) Tetapi walaupun demikian, minimal secara makna hal ini bisa dibenarkan, tetapi bukan menunjukkan keutamaan secara mutlak. Maksudnya, jika Nabi Isa yang diciptakan Allah tanpa bapak dan membawa banyak mukjizat, serta mempunyai kedudukan tinggi di hadapan para pengikutnya, tidak enggan dan tidak angkuh untuk menjadi hamba Allah.
Begitu juga para malaikat yang lebih dari itu semua, karena diciptaakan dari cahaya tanpa bapak dan ibu, serta bisa berbuat hal-hal yang di luar nalar manusia dengan izin Allah serta makhluk yang didekatkan kepada Allah pun tidak sombong dan tidak angkuh untuk menjadi hamba Allah.
(2) Adapun pesan yang ingin disampaikan dalam ayat ini adalah perintah untuk menyembah Allah dan menjadi hamba-Nya. Jika makhluk yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah dan di hadapan manusia, seperti Nabi Isa dan para malaikat, bersedia menjadi hamba Allah; maka bagaimana dengan yang lainnya, yang tidak mempunyai kedudukan seperti itu? Apakah pantas dan layak untuk menolak menjadi hamba Allah?
(3) Oleh karenanya, Allah mengancam orang-orang yang tidak mau tunduk dan tidak bersedia menjadi hamba Allah dengan siksa yang pedih. Dan mereka juga akan dikumpulkan kepada-Nya semuanya di hari kiamat.
Pelajaran (3) Mereka yang Sombong
فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ اسْتَنْكَفُوْا وَاسْتَكْبَرُوْا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ وَّلَا يَجِدُوْنَ لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunia-Nya. Sementara itu, orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Mereka pun tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (Qs. an-Nisa’: 173)
Pada ayat ini Allah membagi manusia menjadi dua kelompok terkait dengan penghambaan kepada Allah.
Kelompok Pertama: Mereka adalah orang-orang beriman dan beramal shalih, yaitu mereka yang bersedia menjadi hamba-hamba Allah yang taat dan baik. Pahala mereka akan diberikan secara utuh dan tidak dikurangi, bahkan ditambah oleh Allah dari karunia-Nya.
Kelompok Kedua: Mereka yang tidak bersedia dan sombong menjadi hamba Allah. Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih dan mereka tidak mendapatkan pertolongan serta perlindungan dari Allah.
Ayat ini mirip dengan firman Allah yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak bersedia dan sombong untuk berdoa kepada Allah, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Berdoa sendiri termasuk bentuk penghambaan dan peribadatan kepada Allah. Allah ﷻ berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ
“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina”.” (Qs. Ghafir: 60)
Pelajaran (4) Burhan dan Cahaya
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ نُوْرًا مُّبِيْنًا
“Wahai manusia, sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran (Nabi Muhammad dengan mukjizatnya) dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an).” (Qs. an-Nisa’: 174)
(1) Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kedudukan Nabi Isa sebagai hamba Allah dan kewajiban setiap manusia untuk menjadi hamba Allah. Pada ayat ini, Allah memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa telah datang seprang rasul yang membawa kitab suci sebagai pedoman untuk seorang menjadi hamba Allah yang baik.
(2) Kata (بُرْهَانٌ) artinya “bukti dan hujjah”. Maksudnya di sini adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau disebut “Burhan” karena beiau membawa bukti-bukti dan mukjizat yang menunjukkan kebenaran apa yang beliau bawa. Kemudian Burhan (bukti yang kuat) ini datang (مِّنْ رَّبِّكُمْ) “dari Tuhan kalian”, Tuhan yang menciptakan kalian semua. Ini untuk menguatkan “Burhan” itu sendiri, yaitu datang dari Sang Pencipta.
(3) Firman-Nya (وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ)
(a) Di sini Allah menyebutkan bahwa “al-Qur’an diturunkan kepada kalian”, padahal al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian dan sayang kepada para hamba-Nya. Sehingga turunnya al-Qur’an dinisbahkan kepada mereka (manusia).
(b) Selain itu penisbatan al-Qur’an kepada mereka adalah untuk memberi pesan yang kuat bahwa al-Qur’an ini harus mereka amalkan isinya.
(c) Juga supaya tidak ada alasan bagi mereka untuk mengatakan bahwa belum datang peringatan kepada mereka.
(4) Firman-Nya (نُوْرًا مُّبِيْنًا) artinya “cahaya yang jelas”. Maksudnya di sini adalah al-Qur’an. Al-Qur’an disebut sebagai cahaya karena ia menerangi manusia dari kegelapan jahiliyah dan kegelapan kekafiran, sehingga mereka mengetahui jalan kebenaran.
Pelajaran (5) Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an
فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَاعْتَصَمُوْا بِهٖ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِيْ رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍۙ وَّيَهْدِيْهِمْ اِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۗ
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga) serta menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya.” (Qs. an-Nisa’: 175)
(1) Adapun orang-orang beriman kepada Allah berpegang teguh dengan al-Qur’an. Firman-Nya (وَاعْتَصَمُوْا بِهٖ) “berpegang teguhlah dengannya (al-Qur’an)”. Ini seperti di dalam firman Allah ﷻ,
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai.” (Qs. Ali ‘Imran: 103)
(2) Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah berpegang teguh kepada Allah. Ini mirip dengan firman-Nya,
وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Siapa yang berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.” (Qs. Ali ‘Imran: 101)
Juga di dalam firman-Nya,
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin.” (Qs. an-Nisa’: 146)
***
Jakarta, Kamis, 26 Mei 2022
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »