Tafsir An-Najah (Qs. 5:7-10) Bab 280 Adil dan Takwa

وَاذْکُرُوْ انِعْمَةَ اللهِ عَلَیْکُمْ وَمِیْثَاقَهُ الَّذِیْ وَاثَقَکُمْ بِهۤ ۙ اِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا وَاتَّقُوا اللهَ ؕ اِنَّ اللهَ عَلِیْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
“Dan ingatlah akan karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya1 yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, "Kami mendengar dan kami menaati." Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”
(Qs. al-Ma’idah: 7)
Pelajaran (1) Mengingat Nikmat Allah
(1) Pada ayat ini Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingat nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Nikmat Allah yang diberikan kepada manusia sangat banyak dan manusia sangat sulit untuk menghitung nikmat tersebut. Allah berfirman,
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ
“Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zhalim lagi sangat kufur.” (Qs. Ibrahim: 34)
(2) Adapun nikmat Allah dalam ayat ini bersifat umum, tetapi penekanannya pada nikmat Islam dan nikmat hidayah serta nikmat ajaran-ajaran-Nya yang sebelumnya telah diterangkan, yaitu syarat berwudhu, mandi junub dan tayammum.
Pelajaran (2) Perjanjian dengan Rasulullah ﷺ
(1) Ayat ini juga memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingat perjanjian yang pernah mereka ambil. Maksudnya adalah perjanjian dengan Rasulullah ﷺ di awal beliau diutus. Perjanjian yang diambil itu para sahabat dari Rasulullah ﷺ antara lain:
(a) Perjanjian Ba’iat Aqabah,
(b) Perjanjian Ba’iat Ridwan,
yang tersebut di dalam firman-Nya,
لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ
“Sungguh, Allah benar-benar telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menganugerahkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan berupa kemenangan yang dekat.” (Qs. al-Fath: 18)
(2) Di dalam dua perjanjian itu, para sahabat mengatakan: (سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا) “Sami’na wa atha’na.” Mujahid berpendapat bahwa maksud perjanjian pada ayat ini adalah perjanjian yang Allah ambil dari semua manusia ketika berada di sulbi Adam, sebagaimana firman-Nya,
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini”.” (Qs. al-A’raf: 172)
(3) Tetapi oleh banyak ulama, pendapat ini dianggap lemah karena perjanjian dalam (Qs. al-A’raf: 172) adalah untuk semua manusia, sedangkan perjanjian di dalam (Qs. al-Ma’idah: 7) adalah khusus untuk orang-orang beriman.
(4) Firman-Nya,
وَاتَّقُوا اللهَ ؕ اِنَّ اللهَ عَلِیْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
“Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”
(a) Mengingat nikmat Allah berupa hidayah Islam dan mengingat perjanjian yang pernah Allah ambil dari hamba-Nya akan menyebabkan seorang hamba bertambah takwanya kepada Allah ﷻ.
(b) Allah Maha Mengetahui setiap jiwa yang melakukan perjanjian dan bai’at, apakah benar-benar tulus karena karena Allah atau tidak. Juga mengetahui setiap jiwa yang diajarkan syariat wudhu’, mandi besar dan tayammum, apakah melaksanakannya atau tidak.
Pelajaran (3) Adil Lebih Dekat dengan Ketakwaan
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Ma’idah: 8)
(1) Ayat ini merupakan rincian dari ayat (Qs. al-Ma’idah: 7) yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menyempurnakan perjanjian. Salah satu bentuk perjanjian orang-orang beriman kepada Allah adalah selalu bertindak adil dalam setiap urusan, termasuk terhadap musuh sekalipun.
(2) Ayat ini mirip dengan firman Allah ﷻ,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” (Qs. an-Nisa’: 135)
(a) Perbedaan antara kedua ayat di atas diantaranya bahwa dalam ayat (Qs. an-Nisa’: 135) didahulukan kata (بِالْقِسْطِ) “adil” sebelum kata (شُهَدَاۤءَ) “para saksi”, karena konteksnya dalam pengadilan, serta letak ayatnya setelah kasus seorang muslim yang menuduh seorang Yahudi yang tidak bersalah dan setelah kasus hubungan yang retak antara suami dan istri. Maka yang tepat adalah mendahulukan keadilan sebelum berbicara tentang para saksi.
Sedangkan ayat ini (Qs. al-Ma’idah: 8) konteksnya adalah pembicaraan tentang menyempurnakan perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya. Maka yang didahulukan tentang penegakkan perjanjian tersebut karena Allah.
(b) Sebagian ulama berpendapat bahwa konteks ayat (Qs. an-Nisa’: 135) tentang penegakan keadilan terhadap diri sendiri, orang tua dan kerabat, maka wajar jika yang didahulukan adalah keadilan (بِالْقِسْطِ).
Adapun konteks ayat (Qs. al-Ma’idah: 8) untuk meninggalkan permusuhan, maka wajar jika yang didahulukan adalah berbuat karena Allah.
(c) Sebagaimana ulama lain mengatakan perkataan keduanya bahwa (Qs. an-Nisa’: 135) turun berkenaan dengan orang-orang musyrik. Sedangkan (Qs. al-Ma’idah: 8) turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi.
(3) Firman-Nya,
اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ
“Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa.”
(a) Maksudnya bahwa berbuat adil itu lebih dekat kepada ketakwaan daripada berbuat tidak adil.
(b) Hal ini menunjukkan bahwa adil adalah jalan menuju ketakwaan dan salah satu tanda ketakwaan adalah berbuat adil.
(c) Hal ini juga menunjukkan bahwa ketakwaan tidak terbatas pada amalan-amalan ibadah mahdha seperti shalat, puasa, dan membaca al-Qur’an, tetapi ketakwaan mencakup dalam bermuamalat seperti berbuat adil kepada diri sendiri, teman, bahkan kepada musuh sekalipun.
Pelajaran (4) Ampunan dan Pahala Besar
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۙ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ ۞ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ۞
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bahwa) bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni (neraka) Jahim.” (Qs. al-Ma’idah: 9-10)
(1) Pada ayat ini Allah menjanjikan orang-orang beriman dan beramal shalih dengan ampunan dan pahala yang besar.
(a) Amal shalih di sini mencakup beberapa hal yang disebutkan pada ayat sebelumnya, yaitu:
- Menyempurnakan perjanjian, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun kepada Allah.
- Menjauhi larangan Allah untuk tidak menodai syiar-syiar Allah.
- Tidak bekerjasama dalam dosa dan pelanggaran.
- Menjauhi makanan-makanan yang dilarang.
- Menikahi wanita-wanita yang dihalalkan Allah.
- Melaksanakan ibadah wudhu, mandi junub dan tayammum sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
- Menegakkan keadilan kepada siapa saja, termasuk kepada musuh sekalipun.
(b) Ampunan Allah sangat diperlukan bagi setiap orang beriman, karena dalam melaksanakan ibadah pasti terdapat kekurangan dan kesalahan.
(c) Pahala yang sangat besar maksudnya adalah surga. Jadi surga akan diperoleh oleh seorang mukmin jika sudah mendapatkan ampunan dari Allah, sebagaimana di dalam firman Allah ﷻ,
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali ‘Imran: 133)
(2) Sedangkan orang-orang kafir dan mendustkana ayat-ayat Allah, termasuk hukum-hukum Allah yang telah dijelaskan sebelumnya, mereka adalah para penghuni neraka Jahannam.
***
Jakarta, Selasa, 31 Mei 2022
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »