Karya Tulis
403 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 5:20-21) Bab 287 Tanah yang Dijanjikan


وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikanmu (terhormat seperti) para raja, dan menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah Dia anugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain.”

(Qs. al-Ma’idah: 20)

 

Pelajaran (1) Sikap kepada Nabi Musa

(1) Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan sikap Bani Israel kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu menolak kedatangan beliau, dan mengikuti apa yang dibawa beliau ﷺ. Pada ayat ini, Allah menjelaskan sikap Bani Israel kepada Nabi Musa, yaitu menolak perintah-Nya untuk berjihad di jalan Allah.

Dari sini, terlihat kesamaan karakter antara nenek moyang dengan anak cucunya. Akibat sikap mereka yang tidak mau mengikuti perintah para nabi yang diutus Allah, maka Allah memberikan hukuman kepada mereka.

 

Pelajaran (2) Tiga Nikmat Allah

اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikanmu (terhormat seperti) para raja, dan menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah Dia anugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain.”

(1) Sebelum memberikan perintah kepada Bani Israel, Nabi Musa mengingatkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. hal ini bertujuan agar mereka bersyukur kepada Allah, dan mau melaksanakan segala perintah-Nya. Tetapi kenyataannya, mereka tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dan tidak mau melaksanakan perintah Allah untuk berjihad di jalan-Nya.

(2) Dalam ayat ini disebutkan tiga nikmat Allah kepada Bani Israel.

Pertama: Allah mengangkat para nabi dari kalangan mereka.

اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ

“Ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu.”

Para nabi dari kalangan Bani Israel jumlahnya sangat banyak, diantaranya adalah Nabi Yusuf, Nabi Musa dan Nabi Harus. Setelah Nabi Musa, terdapat Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, dan Nabi Isa.

Kedua: Allah menjadikan mereka (seperti) para raja.

وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ

“Menjadikanmu (terhormat seperti) para raja.”

(a) Maksud para raja di sini adalah bahwa mereka dibebaskan dari perbudakan. Dahulu ketika mereka tinggal di Mesir, mereka dijadikan budak oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Mereka disiksa dengan berbagai macam siksaan, anak laki-laki Bani Israel dibunuh dan dibiarkan para wanitanya. Kemudian Allah menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir’aun, dan menjadikan mereka orang-orang yang merdeka.

(b) Orang yang merdeka dianggap seperti raja atas dirinya sendiri. Dia bebas melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya tanpa ada yang mengaturnya atau melarangnya. Khususnya jika seseorang memiliki rumah, kendaraan, dan pembantu, maka keadaannya seperti para raja.

(c) Di dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri disebutkan,

كان بَنُو إِسْرائِيلَ إذا كان لأَحَدِهمْ خادمٌ ودابَّةٌ وامرأةٌ كُتِبَ مَلِكًا

“Dahulu Bani Israil, apabila salah seorang dari mereka memiliki seorang pelayan, kendaraan, dan istri, maka dia dicatat sebagai seorang raja.” (HR. Abu Daud)

(d) Dalam riwayat Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

من كان له بيتٌ وخادم فهو ملك

“Barangsiapa yang memiliki rumah dan pembantu, maka dia adalah raja” (HR. Abu Daud)

(e) Di dalam hadits,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits Hasan.)

Ketiga: Allah memberikan kepada mereka sesuatu yang tidak dibeirkan kepada bangsa lain.

وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah Dia anugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain.”

 Allah memberikan kepada mereka beberapa nikmat diantaranya:

(a) Terbelahnya lautan untuk menyelamatkan mereka.

(b) Ditenggelamkannya musuh mereka.

(c) Mereka dinaungi awan di tengah padang pasir.

(d) Diturunkan kepada mereka makanan manna dan as-salwaa.

(e) Terpancarnya 12 mata air dari batu untuk masing-masing kabilah mereka.

(f) Kenikmatan-kenikmatan lain yang tidak diberikan kepada mereka.

Kata (الْعٰلَمِيْنَ) artinya “umat-umat lain”, maksudnya di sini adalah umat lain pada zamannya. Dengan demikian, hal ini tidak menunjukkan bahwa Bani Israel adalah umat yang paling mulia di dunia ini, dan tidak pula menunjukkan bahwa mereka lebih utama daripada umat Islam.

Telah disebutkan di dalam al-Qur’an bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, sebagaimana firman Allah ﷻ,

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlul Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Qs. Ali ‘Imran: 110)

 

Pelajaran (3) Tanah yang Dijanjikan

يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

(1) Setelah menyebut tiga nikmat besar yang Allah berikan kepada Bani Israel, Nabi Musa memerintahkan mereka untuk berangkat berjihad di jalan Allah melawan orang-orang zhalim yang menduduki Baitul Maqdis di Palestina.

(2) Firman-Nya (الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ) “tanah yang disucikan”, maksudnya adalah Baitul Maqdis. Tempat tersebut disebut tanah suci karena banyaknya nabi yang mengunjunginya.

(3) Firman-Nya (الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ) “yang Allah tetapkan bagi kalian”. Maksudnya bahwa Allah menetapkan Baitul Maqdis untuk menjadi tempat tinggal mereka dan mereka akan mampu mengalahkan orang-orang zhalim yang sedang menguasai tempat tersebut. Itu semua akan terwujud dengan syarat mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya (Nabi Musa ‘alaihi as-salam) serta mau melaksanakan perintahnya.

(4) Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Baitul Maqdis dan Tanah Palestina milik orang-orang Yahudi, sebagaimana klaim mereka selama ini. Syarat bagi mereka untuk memiliki dan menempati tanah suci tersebut adalah dengan taat kepada Allah dan para rasul-Nya, sedangkan mereka selama ini membangkang dari ketaatan.

(5) Pada ayat selanjutnya akan dijelaskan bahwa tanah Palestina diharamkan bagi Bani Israel selama 40 tahun disebabkan maksiat yang mereka lakukan.

 

Pelajaran (4) Mundur Sebelum Perang

وَلَا تَرْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ

“Dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

(1) Dalam ayat ini terdapat larangan untuk mundur dari medan perang. Mundur di sini ada dua kemungkinan:

(a) Mundur setelah masuk ke dalam peperangan, bahkan perang sudah mulai berperang.

(b) Mundur setelah siap perang.

(2) Dalam dua keadaan ini, seorang muslim dilarang untuk mundur atau lari dari peperangan. Begitu juga Nabi Musa dalam ayat ini, melarang Bani Israel untuk mundur dari medan perang.

Jadi terdapat kesamaan antara ajaran Rasulullah ﷺ dengan ajaran Nabi Musa, karena semuanya berasal Allah ﷻ. Yang berbeda adalah para pengikutnya. Pengikut Nabi Musa menolak ajakan berjihad sehingga menjadi umat yang terhina. Sedangkan pengikut Nabi Muhammad ﷺ menerima ajakan dan seruan jihad tersebut dengan penuh semangat, sehingga menajdi umat yang mulia.

Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah larangan mundur dari ketaatan Nabi Musa di dalam memerangi orang-orang kafir.

 

Pelajaran (5) Empat Hikmah

Beberapa pelajaran dari ayat (Qs. al-Ma’idah: 20-21):

(1) Dalam dua ayat ini, Nabi Musa menggunakan dua metoda dakwah atau pendekatan, yaitu:

(a) Mengingat nikmat sebelum memberikan perintah. Hal ini bertujuan agar yang diberi perintah lebih siap menerimanya, kemudian melaksanakannya.

(b) Menggabungkan antara at-targhib dan at-tarhib, atau rewards dan punishment, atau memberikan motivasi dan ancaman, atau at-tabsyir dan at-tahdzir.

(2) Salah satu penyebab suatu kaum meninggalkan jihad adalah cinta pada kehidupan dunia. Ini sebagaimana firman Allah ﷻ,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan cenderung pada (kehidupan) dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Qs. at-Taubah: 387)

(3) Kaum yang meninggalkan jihad akan diancam dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah ﷻ,

اِلَّا تَنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْـًٔاۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan adzab yang pedih serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. at-Taubah: 39)

Di dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا، لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ»

“Apabila kalian berjual beli dengan cara ‘inah (riba terselubung), dan kalian sibuk memegang ekor-ekor sapi (disibukkan dengan peternakan), dan kalian ridha dengan pertanian, serta kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, dan Dia tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Daud)

(4) Kaum yang menyelisihi perintah rasul atau nabi, mereka diancam akan ditimpakan musibah dan adzab yang pedih.

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul (Nabi Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (Qs. an-Nur: 63)

 

***

Jakarta, Ahad, 5 Juni 2022

KARYA TULIS