Tafsir An-Najah: Mukadimah Surah Al-A'raf

Muqaddimah Surat Al-A'raf
(206 Ayat)
Pelajaran (1) Urutan Surat dan Jenisnya
(1) Surat al-A'raf adalah surat yang ketujuh menurut urutan mushaf.
(2) Surat ini adalah Surat Makkiyah yang terpanjang, jumlah ayatnya 206 ayat.
(3) Surat al-A'raf, menurut Ibnu Abbas, al-Hasan, Ikrimah, Mujahid dan Atha', semua ayatnya diturunkan di Mekkah. Sebagian ulama, seperti: Qatadah mengatakan bahwa ayat 163 hingga 170 diturunkan di Madinah.
(4) Surat al-A'raf diturunkan sesudah turunnya surat Shad.
Pelajaran (2) Penamaan Surat
(1) Disebut Surat al-A'raf karena di dalamnya diterangkan tentang al-A'raf, yaitu suatu tempat yang tinggi (pagar) yang terletak antara surga dan neraka.
(a) Pagar ini disebutkan di dalam firman-Nya,
یَوۡمَ یَقُولُ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِیلَ ٱرۡجِعُوا۟ وَرَاۤءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُوا۟ نُورࣰاۖ فَضُرِبَ بَیۡنَهُم بِسُورࣲ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِیهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَـٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (Qs. al-Hadid: 13)
(b) Penghuni al-A'raf adalah mereka yang kebaikan dan keburukannya sama. Keburukannya menjauhkan mereka dari surga, sedangkan kebaikannya membawa mereka jauh adalah neraka, sehingga mereka harus berhenti di tempat tersebut sampai Allah memutuskan nasib mereka. Allah berfirman,
وَبَیۡنَهُمَا حِجَابࣱۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالࣱ یَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِیمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡا۟ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَـٰمٌ عَلَیۡكُمۡۚ لَمۡ یَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ یَطۡمَعُونَ
“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum." Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (Qs. al-A'raf: 46)
(2) Al-Fairuz Abadi di dalam Bashair Dzawi Tamziz, menyatakan bahwa surat ini juga disebut dengan surat 'al-Miqat' (waktu yang ditentukan Allah), sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya,
وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".” (Qs. al-A'raf: 143)
(3) Sebagian ulama menyebutnya dengan surat al-Mitsaq, karena di dalamnya dijelaskan tentang al-Mitsaq, yaitu perjanjian manusia kepada Allah untuk menyembahnya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Ini tercantum di dalam firman-Nya,
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِیۤ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدۡنَاۤۚ أَن تَقُولُوا۟ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِینَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".” (Qs. al-A'raf: 172)
Pelajaran (3) Keutamaan Surat
Keutamaan surat al-A'raf masuk di dalam keutamaan tujuh surat yang panjang. Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan surat al-A'raf, diantaranya:
(1) Hadits Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.
عَن عُرْوَة عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ: أَنَّهُ قَالَ لِمَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ: مَا لِي أَرَاكَ تَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ السُّوَرِ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُول الله -عَلَيْهِ الصّلاة والسّلام- يَقْرَأُ فِيهَا بِأَطْوَلِ الطُّولَيَيْنِ، قَالَ مَرْوَانُ قُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مَا أطول الطولين؟ قَالَ: الْأَعْرَافُ
“'Urwah az-Zubair bahwasanya Marwan bin al-Hakam telah mengabarkan kepadanya, sesungguhnya Zaid bin Tsabit berkata:"Kenapa kamu membaca surat pendek pada shalat Maghrib, padahal aku menyaksikan Rasulullah ﷺ membaca surat yang paling panjang dari dua surat yang panjang pada shalat Maghrib?" Aku berkata: "Wahai Abu ‘Abdullah surat apakah yang paling panjang dari dua surat yang panjang itu?" la menjawab: "Surah al-A'raf".” (HR. An-Nasa'i. Hadist ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahihnya dan an -Nawawi di dalam al-Majmu')
(2) Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha
عن أمّ المؤمنين عائشة رضي الله عنها، قالت: (أنَّ رسولَ اللَّهِ قرأَ في صلاةِ المغربِ بسورةِ الأعرافِ فرَّقَها في رَكعتين)
“Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah ﷺ membaca di dalam shalat Maghrib itu surat al-A’raf dalam dua raka’at.” (HR. an-Nasa'i. Hadits Shahih)
(3) Hadits Wailah bin al-Asqa' radhiyallahu ‘anha
عن واثلة بن الأسقع -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: (أُعطِيتُ مكانَ التَّوراةِ السَّبعَ الطّوالَ، وأُعطِيتُ مكانَ الزَّبورِ المئِينَ، وأُعطِيتُ مكانَ الإنجيلِ المثانيَ، وفُضِّلْتُ بالمفَصَّلِ)
“Dari Watsilah bin al-Asqa' sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: "Saya diberi ganti dari Taurat dengan as-Saba' (tujuh surat dalam al-Qur'an yang panjang-panjang). Saya diberi ganti dari Zabur dengan al-Ma`in (surat yang jumlah ayatnya sekitar seratus). Saya diberi ganti dari Injil dengan al-Matsani (yaitu surat yang terulang-ulang membacanya dalam setiap rekaat shalat) dan saya diberi tambahan dengan al-Mufashal (surat yang dimulai dari Qaf sampai akhir surat)".” (HR. Ahmad. Syauib al-Arnauth berkata, “Sanadnya hasan.”)
Tujuh surat yang panjang, termasuk di dalamnya surat al-A'raf.
Pelajaran (4) Hubungan dengan Surat Sebelumnya
Adapun hubungannya dengan surat sebelumnya yaitu surat al-An'am, bahwa surat al-A'raf memerinci hal-hal yang sudah disampaikan secara global di dalam surat al-An'am. Terutama masalah pokok-pokok keyakinan, seperti kisah-kisah para nabi bersama kaumnya, mulai dari Nabi Adam, Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, Musa dan Nabi Muhammad ﷺ.
Pelajaran (5) Tujuan Surat
(1) Tujuan utama surat al-A'raf adalah untuk menjelaskan keesaan Allah dan kebenaran rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan kedatangan hari kiamat.
(2) Al-Biqai mengatakan bahwa tujuan surat al-A'raf adalah memberikan peringatan kepada siapa saja yang berpaling dari ajakan al-Qur’an yang telah disampaikan dalam surat al-An'am.
(3) Surat ini juga menampilkan pertarungan antara haq dan batil sepanjang masa. Yang dimulai dengan kisah permusuhan antara Adam dan Iblis, kemudian dilanjutkan dengan kisah para nabi dengan kaumnya.
(4) Menjelaskan juga bahwa kebatilan selalu menimbulkan kerusakan di muka bumi.
Pelajaran (6) Cara Penyajian Surat
Adapun cara penyajian surat al-A'raf ada dua cara:
(1) Pertama selalu mengingatkan nikmat Allah kepada manusia, diantaranya adalah nikmat diberikan kehidupan di muka bumi, nikmat penciptaan dalam bentuk yang paling baik, nikmat fasilitas-fasilitas yang Allah berikan kepada manusia di dalam kehidupan di dunia.
(2) Kedua, memberikan ancaman akan siksa yang pedih bagi yang berpaling dari kebenaran dan menentang para rasul.
Pelajaran (7) Kandungan Surat
Adapun kandungan surat al-A'raf berisi beberapa pokok agama, diantaranya:
(1) Al-Qur'an
Surat ini dimulai dengan penjelasan bahwa al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan umat Islam. Mereka diperintahkan untuk mengikutinya agar memberatkan timbangan pada hari kiamat.
(2) Kisah Nabi Adam
Kemudian dilanjutkan dengan kisah penciptaan Nabi Adam dan perintah malaikat untuk sujud kepadanya, kecuali iblis. Dari sini dimulailah pertarungan antara kebenaran yang diwakili oleh nabi Adam dan kebatilan yang diwakili oleh iblis.
(3) Pengertian Tauhid
Kemudian surat ini berbicara tentang tauhid yang harus dibuktikan dengan keikhlasan ibadah kepada-Nya, termasuk hak menghalalkan dan mengharamkan hanyalah Allah. Sehingga terdapat larangan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, atau menghalkan apa yang diharamkan Allah. Adapun hal-hal yang diharamkan Allah sudah jelas, diantaranya adalah kesyirikan mendustakan ayat-ayat Allah, serta berbagai bentuk maksiat lahir maupun batin.
(4) Keadaan Hari Kiamat
Surat ini berbicara tentang keadaan hari kiamat dan perbincangan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Serta disinggung pula penduduk al-A'raf.
(5) Sunatullah dalam kehidupan
Surat ini berbicara tentang sunnatullah dalam kehidupan, yaitu bahwa hidup ini adalah ujian dari Allah. Manusia yang taat kepada Allah, akan mendapatkan berkah dari langit dan bumi serta mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada-Nya, hidupnya akan sengsara di dunia dan akhirat.
(6) Kisah Para Nabi
Kemudian surat ini berbicara tentang pertarungan antara kebenaran dan kebatilan yang digambarkan dalam kisah para nabi. Dimulai dari Nabi Nuh, kemudian Nabi Hud, Shalih, Luth, Syu’aib.
Setelah itu diikuti dengan kisah Nabi Musa yang dijelaskan secara panjang lebar, bahkan sampai sekitar 70 ayat, yang berakhir dengan tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya. Kemudian diikuti dengan kisah Nabi Musa bersama kaumnya.
(7) Perjanjian dengan Allah
Surat ini juga menjelaskan tentang perjanjian manusia kepada Allah ketika berada di sulbi anak Adam. Mereka berjanji untuk menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.
Pelajaran (8) Penutupan Surat
Surat al-A'raf ditutup dengan menjelaskan keesaan Allah sebagaimana pada pembukaannya. Di dalamnya juga berisi ajakan manusia agar berakhlak mulia, seperti mudah memaafkan dan berpaling dari orang-orang yang jahil.
Semoga dengan penjelasan singkat ini, bisa memberikan gambaran secara global kepada para pembaca tentang surat al-A'raf sebelum membaca lebih rinci tentang tafsirnya.
***
Karawang, Sabtu, 9 September 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-78
Lihat isinya
Lihat isinya »