Karya Tulis
85 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7:1-2) Al-Qur'an sbg Peringatan & Pelajaran


الۤمۤصۤ ۞ كِتَـٰبٌ أُنزِلَ إِلَیۡكَ فَلَا یَكُن فِی صَدۡرِكَ حَرَجࣱ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِینَ ۞

“Alif Laam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

(Qs. al-A'raf: 1-2)

 

Pelajaran (1) Ragu dan Sempit Dada

كِتَـٰبٌ أُنزِلَ إِلَیۡكَ فَلَا یَكُن فِی صَدۡرِكَ حَرَجࣱ مِّنۡهُ

“Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya.”

(1) Menurut Abu Ja'far bin Zubair sebagaimana dinukil oleh al-Biqai bahwa ayat ini menjelaskan tentang nikmat Allah kepada Nabi Muhammad saw dengan turunnya al-Qur'an kepadanya sebagai petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Sekaligus sebagai penghibur jiwanya agar tidak menjadi sempit di dalam menyampaikan risalah dan memberikan peringatan kepada manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi sebelumnya.

(2) Ath-Thanthawi mengatakan bahwa ayat ini bertujuan untuk menguatkan hati Nabi Muhammad  dan meneguhkan jiwanya, sekaligus menghiburnya dari cacian dan tekanan kaum musyrikin kepada dakwahnya. Ayat ini juga memberikan pelajaran kepada setiap dai yang mengajak manusia kepada jalan Allah di setiap waktu dan tempat, bahwa menjadi kewajiban baginya untuk memiliki hati yang kuat dan jiwa yang tenang di dalam menyampaikan tugasnya, tidak boleh terpengaruh dengan orang yang menyelesihi dan mengingkarinya.

(3) Kata (أُنزِلَ) 'diturunkan', di sini tidak disebutkan siapa yang menurunkannya. Hal itu, karena sudah jelas yang menurunkan adalah Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga tidak perlu disebutkan. Ini sekaligus untuk menunjukkan kemuliaan dan kebesaran-Nya.

(4) Kata (حَرَجࣱ) mempunyai dua makna:

Makna pertama adalah ragu-ragu, maksudnya jangan engkau ragu bahwa al-Qur’an adalah wahyu dari Tuhanmu. Ini pendapat Mujahid, Qatadah, as-Suddi,  Ibnu Qutaibah.

Diantara ayat-ayat yang menunjukkan hal ini adalah:

(a) Firman-Nya,

 الحَقُّ مِن رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ المُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Qs. al-Baqarah: 147)

(b) Firman-Nya,

الحَقُّ مِن رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ المُمْتَرِينَ

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata".” (Qs. Ali ‘Imran: 60)

(c) Firman-Nya,

فَإنْ كُنْتَ في شَكٍّ مِمّا أنْزَلْنا إلَيْكَ فاسْألِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الكِتابَ مِن قَبْلِكَ لَقَدْ جاءَكَ الحَقُّ مِن رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ المُمْتَرِينَ

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (Qs. Yunus: 49)

Kata (حَرَجࣱ) makna aslinya adalah sempit, tetapi di sini diartikan ragu-ragu, karena keraguan di dalam hati akan membuat sempit dalam dada. Sebaliknya orang yang yakin, dadanya akan lapang.

Makna kedua adalah sempit, maksudnya adalah sempit dada, ini mempunyai dua makna juga, yaitu:

(a) Yaitu jangan sampai dadamu sempit untuk menyampaikan isi al-Qur'an ini dan jangan takut kepada manusia.

(b) Yaitu jangan sampai dadamu sempit karena mereka mendustakanmu.

Makna sempit dada ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Diantara ayat-ayat yang menunjukkan hal ini adalah:

(a) Firman-Nya,

فَلَعَلَّكَ تارِكٌ بَعْضَ ما يُوحى إلَيْكَ وضائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ

“Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu.” (Qs. Hud: 12)

(b) Firman-Nya,

 وَلَقَدْ نَعْلَمُ أنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِما يَقُولُونَ

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. (Qs. Hijr: 97)

(c) Firman-Nya,

 فَلَعَلَّكَ باخِعٌ نَفْسَكَ عَلى آثارِهِمْ إنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذا الحَدِيثِ أسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur’an).” (Qs. al-Kahfi: 6)

(d) Firman-Nya,

 لَعَلَّكَ باخِعٌ نَفْسَكَ ألّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (Qs. asy-Syu’ara’: 3)

(5) Kalimat “… maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ...”  penyebutannya didahulukan untuk menunjukkan bahwa lapang dada sangat penting di dalam menyampaikan dakwah. Oleh karenanya, Nabi Musa ‘alaihi as-salam ketika diutus menghadap Fir'aun, beliau berdoa agar dadanya dilapangkan dan urusannya dimudahkan, sebagaimana dalam firman-Nya,

قَالَ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِی صَدۡرِی۞ وَیَسِّرۡ لِیۤ أَمۡرِی۞ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةࣰ مِّن لِّسَانِی۞ یَفۡقَهُوا۟ قَوۡلِی۞

“Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Qs. ThaHa: 25-28)

 

Pelajaran (2) Al-Qur'an sebagai Peringatan dan Pelajaran

لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِینَ

“Supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

(1) Ayat ini menunjukkan bahwa al-Qur'an berfungsi sebagai peringatan sekaligus pelajaran. Peringatan untuk orang-orang kafir dan pelajaran bagi orang-orang beriman.

Berkata al-Mawardi, “Ayat ini manfaatnya kembali kepada dua kelompok, yaitu orang-orang beriman dan orang-orang kafir.”

(2) Kedua fungsi al-Qur'an tersebut juga disebutkan dalam beberapa ayat lain, diantaranya:

(a) Firman-Nya,

فَإنَّما يَسَّرْناهُ بِلِسانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ المُتَّقِينَ وتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

“Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang” (Qs. Maryam: 97)

(b) Firman-Nya,

 وَذَكِّرْ فَإنَّ الذِّكْرى تَنْفَعُ المُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. adz-Dzariyat: 55)

(c) Firman-Nya,

فَذَكِّرْ بِالقُرْآنِ مَن يَخافُ وعِيدِ

“Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (Qs. Qaf: 45)

(3) Sedangkan al-Biqai berusaha menghubungkan penutupan ayat ini dengan penutupan akhir surat al-An'am, yaitu Allah memberikan peringatan kepada orang-orang kafir dengan pernyataan-Nya, “Allah sangat cepat hukuman-Nya”. Sebaliknya, Dia memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan “ampunan dan kasih sayang-Nya”. Pada awal surat al-A'raf ini, Allah menyebutkan bahwa al-Qur'an sebagai peringatan kepada orang-orang kafir dan pelajaran kepada orang-orang beriman.

(4) Firman-Nya (لِتُنذِرَ بِهِۦ) “supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu”. Dalam ayat ini tidak disebutkan objeknya kepada siapa peringatan itu ditujukan? Jawabannya ada dua kemungkinan, yaitu:

Pertama, peringatan itu ditujukan kepada orang-orang kafir.

Kedua, peringatan itu ditujukan kepada orang-orang beriman.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

(a) Firman Allah,

وَأَنذِرۡ بِهِ ٱلَّذِینَ یَخَافُونَ أَن یُحۡشَرُوۤا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ لَیۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِیࣱّ وَلَا شَفِیعࣱ لَّعَلَّهُمۡ یَتَّقُونَ

“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.” (Qs. al-An'am: 51)

Perintah untuk memberikan peringatan pada ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang takut akan hari kebangkitan. Dalam hal ini, maksudnya adalah orang-orang beriman. Walaupun menurut Ibnu Athiyah, hal itu mencakup juga kaum Yahudi dan Nasrani.

(b) Asy-Syinqithi berpendapat bahwa perintah untuk memberikan “peringatan” dalam al-Qur'an jika disampaikan dalam bentuk umum, sebenarnya maksudnya adalah kepada orang-orang beriman. Karena hanya merekalah yang mengambil manfaat dari peringatan tersebut.

Di antara ayat-ayat yang menunjukkan hal itu adalah sebagai berikut:

(b.1) Firman-Nya,

ياأيُّها المُدَّثِّرُ قُمْ فَأنْذِرْ

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!” (Qs. al-Muddatstsir: 1-2)

(b.2) Firman-Nya,

 تَبارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الفُرْقانَ عَلى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمِينَ نَذِيرًا.

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Qs. al-Furqan: 1)

(5) Kata (ذِكۡرَىٰ) di sini artinya pelajaran. Menurut Makki bin Abi Thalib maksudnya adalah mengingat tentang akhirat. Pendapat ini juga benar karena dalam kenyataannya, memang al-Qur'an sering menyebut hari kiamat dan tanda-tandanya dan juga menceritakan keadaan manusia di alam akhirat.

(6) Kata (لِلۡمُؤۡمِنِینَ) disebutkan di sini orang-orang beriman secara khusus, karena hanya merekalah yang bisa mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Ini sesuai dengan beberapa firman-Nya,

(a) Firman-Nya,

 وَذَكِّرْ فَإنَّ الذِّكْرى تَنْفَعُ المُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. adz-Dzariyat: 55)

(b) Firman-Nya,

فَذَكِّرْ بِالقُرْآنِ مَن يَخافُ وعِيدِ

“Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (Qs. Qaf: 45)

(c) Firman-Nya,

تَبۡصِرَةࣰ وَذِكۡرَىٰ لِكُلِّ عَبۡدࣲ مُّنِیبࣲ

“Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).” (Qs. Qaf: 8)

(d) Firman-Nya,

أَمَّنۡ هُوَ قَـٰنِتٌ ءَانَاۤءَ ٱلَّیۡلِ سَاجِدࣰا وَقَاۤىِٕمࣰا یَحۡذَرُ ٱلۡـَٔاخِرَةَ وَیَرۡجُوا۟ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ یَسۡتَوِی ٱلَّذِینَ یَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِینَ لَا یَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا یَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. az-Zumar: 9)

 

***

 Karawang, Ahad, 10 September 2023

KARYA TULIS