Karya Tulis
76 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 3) Kewajiban Mengikuti Al-Qur’an


ٱتَّبِعُوا۟ مَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِیَاۤءَۗ قَلِیلࣰا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).

(Qs. al-A'raf: 3)

 

Pelajaran (1) Mengikuti Apa yang Diturunkan Allah

ٱتَّبِعُوا۟ مَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”

(1) Ayat ini menunjukkan kewajiban seluruh manusia untuk mengikuti apa yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ.

Berkata al-Qurthubi, “Ayat ini adalah perintah kepada seluruh manusia, yaitu ikuti agama Islam dan al-Qur'an, halalkan apa yang dihalalkannya, haramkan apa yang diharamkannya, ikuti perintahnya dan jauhi larangannya.”

(2) Menurut al-Qurthubi dan al-Qasimi bahwa maksud dari, “apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” adalah al-Qur'an dan as-Sunnah, karena Sunnah masuk dalam katagori wahyu, sebagaimana di dalam beberapa firman-Nya, yaitu:

(a) Firman-Nya,

 وَمَاۤ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا۟ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Qs. al-Hasyr: 7)

(b) Firman-Nya,

وَمَا یَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰۤ ۞ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡیࣱ یُوحَىٰ ۞

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. an-Najm: 3-4)

(3) Bahkan Ibnu Katsir lebih tegas lagi menyatakan hal ini “ikutikah jejak-jejak Nabi yang ummi, yang datang kepada kalian dengan membawa Kitab yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan segala sesuatu dan Yang memilikinya”.

(4) Firman-Nya (مِّن رَّبِّكُمۡ)

Maksudnya bahwa al-Qur'an ini diturunkan dari Tuhan yang menciptakanmu dan menciptakan orang-orang sebelummu. Dialah mengatur Mengaturmu dan mengatur seluruh urusanmu. Dia  mengetahui tentang maslahatmu.

(5) Melalui ayat ini, ar-Razi berusaha membuat kesimpulan dan mengatakan bahwa men-takhshish (mengkhususkan) keumuman al-Qur'an dengan Qiyas hukumnya tidak boleh. Karena keumuman al-Qur'an termasuk dalam kategori apa yang Allah turunkan, maka wajib untuk diikuti dan diamalkan. Hal ini, secara tidak langsung mengandung larangan untuk mengikuti Qiyas.

(6) As-Suyuthi di dalam al-Iklil menyebutkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa 'mubah' adalah sesuatu yang diperintahkan, karena termasuk dalam kategori apa yang diturunkan oleh Allah. Namun hal itu dibantah oleh al-Qasimi. Beliau mengatakan bahwa kesimpulan seperti ini sangat berlebihan, sebagaimana dikatakan oleh ahli hikmah, “Jika warna kulitnya sangat putih, maka justru seperti penderitaan penyakit kusta.”

 

Pelajaran (2) Larangan Mengikuti selain al-Qur'an

 وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِیَاۤءَۗ

“Dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”

(1) Redaksi para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan ayat di atas, yaitu:

(a) Menurut al-Baghawi, maksudnya adalah janganlah kalian mengambil pemimpin selain Allah, dimana kalian mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah.

(b) Menurut al-Qurthubi, maksudnya adalah janganlah engkau menyembah selain Allah dan jangan engkau jadikan mereka sebagai pelindungmu.

(c) Berbeda dengan sebelumnya, Ibnu Katsir lebih cenderung menafsirkan dengan larangan menyelisihi Rasulullah ﷺ, “Janganlah kalian menyimpang dari apa yang telah disampaikan oleh Rasul kepada kalian dengan menempuh jalan yang lain, yang akhirnya mengakibatkan kalian menyimpang pula dari hukum Allah kepada hukum selain-Nya.”

(2) Abu Hayyan menghubungkan akhir surat al-An'am dengan awal surat al-A'raf, tepatnya pada ayat ini. Beliau mengatakan bahwa di akhir surat al-An'am, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dengan tujuan menguji mereka. Ujian itu berupa taklif (tugas) yang hanya diketahui di dalam kitab suci yaitu al-Qur’an. Oleh karenanya pada ayat ini terdapat perintah untuk mengikuti kitab tersebut.

(3) Menurut al-Qurthubi bahwa ayat ini menunjukkan larangan mengikuti pendapat seseorang jika terdapat Nash (dari al-Qur'an dan Sunnah). Jauh sebelumnya, Makki telah menyebutkan hal yang sama.

 

Pelajaran (3) Sedikit yang Mengambil Pelajaran

قَلِیلࣰا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).”

(1) Menurut Makki terdapat dua makna pada ayat di atas:

(a) Sedikit hal yang kalian ambil pelajaran darinya.

(b) Sedikit waktu yang kalian ambil pelajaran di dalamnya. Disebutkan oleh Makki.

(2) Tetapi Ibnu Katsir nampaknya cenderung untuk mengartikannya dengan “sedikit dari kalian mengambil pelajaran”. Karena setelah itu beliau menyebutkan beberapa ayat yang mirip dengan ayat di atas:

 (a) Firman-Nya,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ.

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Qs. Yusuf: 103)

(b) Firman-Nya,

 وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Qs. al-An’am: 116)

(c) Firman-Nya,

 وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Qs. Yusuf: 106)

 

***

Karawang, Ahad, 9 September 2023

KARYA TULIS