Tafsir An-Najah (Qs. 7: 4-7) Musibah yang Datang Mendadak

وَكَم مِّن قَرۡیَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَا فَجَاۤءَهَا بَأۡسُنَا بَیَـٰتًا أَوۡ هُمۡ قَاۤىِٕلُونَ
“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.”
(Qs. al-A'raf: 4)
Pelajaran (1) Musibah yang Datang Mendadak
(1) Menurut al-Qasimi maksudnya adalah betapa banyak negeri-negeri yang kami ingin hancurkan karena menyelisihi apa yang diturunkan Allah sehingga datanglah siksa kami di malam atau siang hari.
(2) Kesimpulan yang beliau ambil bahwa kehancuran sebuah negeri akibat dari keengganan penduduknya untuk mengikuti aturan Allah. Berarti, ayat ini terkait dengan ayat sebelumnya yang memerintahkan untuk mengikuti Al-Qur'an.
(3) Firman-Nya (أَهۡلَكۡنَـٰهَا) walaupun menggunakan fi'il madhi, tetapi artinya “Kami ingin hancurkan”. Ini seperti dalam firman-Nya,
فَإذا قَرَأْتَ القُرْآنَ فاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (Qs. an-Nahl: 98)
Juga dalam firman-Nya,
إذا قُمْتُمْ إلى الصَّلاةِ فاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ
“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu.” (Qs. al-Ma’idah: 6)
Gaya bahasa seperti menunjukkan bahwa hal itu benar-benar akan terjadi.
(4) Kata (قَرۡیَةٍ) artinya negeri atau kota. Tetapi maksudnya di sini adalah penduduknya. Sengaja tidak disebutkan “penduduk” secara eksplisit pada ayat ini untuk menunjukkan bahwa hal ini bersifat umum, berlaku untuk semua negeri yang mendustakan ayat-ayat Allah. Selain itu, juga bertujuan menyindir kaum musyrikin Mekkah yang telah mendustakan Nabi Muhammad ﷺ.
Hal ini mirip dengan firman-Nya,
ما آمَنَتْ قَبْلَهم مِن قَرْيَةٍ أهْلَكْناها أفَهم يُؤْمِنُونَ
“Tidak ada (penduduk) suatu negeripun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebeIum mereka; maka apakah mereka akan beriman.” (Qs. al-Anbiya’: 6)
(5) Kata (بَأۡسُنَا) artinya adzab kami. Berasal dari kata (بأس) yang berarti sesuatu yang menyakitkan. Kata ini sering dipakai terkait dengan peperangan. Sebagaimana yang tersebut di dalam firman-Nya,
والصّابِرِينَ في البَأْساءِ والضَّرّاءِ وحِينَ البَأْسِ
“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.” (Qs. al-Baqarah: 177)
(6) Kata (بَیَـٰتًا) artinya malam hari sebelum waktu Subuh. Ini seperti adzab yang menimpa kaum Nabi Luth, yaitu datang di waktu sahur, sebelum datangnya Subuh. Allah berfirman,
قَالُوا۟ یَـٰلُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن یَصِلُوۤا۟ إِلَیۡكَۖ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعࣲ مِّنَ ٱلَّیۡلِ وَلَا یَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِیبُهَا مَاۤ أَصَابَهُمۡۚ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَیۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِیبࣲ
“Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?."” (Qs. Hud: 81)
(7) Kata (قَاۤىِٕلُونَ) artinya waktu tidur siang. Ini seperti adzab yang menimpa kaum Nabi Syu'aib yaitu datang di siang hari. Allah berfirman berkenaan dengan kaum Syu’aib,
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمۡ عَذَابُ یَوۡمِ ٱلظُّلَّةِۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَذَابَ یَوۡمٍ عَظِیمٍ
“Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa 'adzab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya adzab itu adalah 'adzab hari yang besar.” (Qs. asy-Syu'ara: 189)
Yang dimaksud dengan (یَوۡمِ ٱلظُّلَّةِۚ) pada ayat di atas adalah hari yang sangat panas dan awan yang memancarkan api dan sinar yang sangat panas. Ini semuanya terjadi pada siang hari.
(8) Pesan yang hendak disampaikan ayat di atas bahwa adzab Allah itu datang secara mendadak, justru ketika mereka dalam keadaan lengah dan tidak mengira akan terjadi musibahnya besar yang akan menimpa mereka. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun bawa itu akan terjadi.
(9) Beberapa ayat yang mirip dengan ayat di atas adalah sebagai berikut:
(a) Firman Allah,
أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰۤ أَن یَأۡتِیَهُم بَأۡسُنَا بَیَـٰتࣰا وَهُمۡ نَاۤىِٕمُونَ ۞ أَوَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰۤ أَن یَأۡتِیَهُم بَأۡسُنَا ضُحࣰى وَهُمۡ یَلۡعَبُونَ ۞ أَفَأَمِنُوا۟ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا یَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ ۞
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. al-A'raf: 97-99)
(b) Firman-Nya,
أَفَأَمِنَ ٱلَّذِینَ مَكَرُوا۟ ٱلسَّیِّـَٔاتِ أَن یَخۡسِفَ ٱللَّهُ بِهِمُ ٱلۡأَرۡضَ أَوۡ یَأۡتِیَهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَشۡعُرُونَ ۞ أَوۡ یَأۡخُذَهُمۡ فِی تَقَلُّبِهِمۡ فَمَا هُم بِمُعۡجِزِینَ ۞ أَوۡ یَأۡخُذَهُمۡ عَلَىٰ تَخَوُّفࣲ فَإِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفࣱ رَّحِیمٌ ۞
“Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya adzab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengadzab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (adzab itu), atau Allah mengadzab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa)[830]. Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Qs. an-Nahl: 45-47)
Pelajaran (2) Pengakuan yang Terlambat
فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَاۤءَهُم بَأۡسُنَاۤ إِلَّاۤ أَن قَالُوۤا۟ إِنَّا كُنَّا ظَـٰلِمِینَ
“Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim".” (Qs. al-A'raf: 5)
(1) Firman-Nya (دَعۡوَىٰهُمۡ) mempunyai dua arti, yaitu:
(a) Doa, yaitu tidak ada doa dan perkataan mereka kecuali mengatakan “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim”.
(b) Pengakuan, yaitu tidak ada pengakuan mereka kecuali mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim”.
(2) Pengakuan seperti ini mirip dengan yang tersebut di dalam firman-Nya,
وَكَمْ قَصَمْنَا مِن قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأَْ بَعْدَهَا قَوْمًا آخَرِينَ ۞ فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ ۞ لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَى مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ ۞ قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ ۞ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ دَعْوَاهُمْ حَتَّى جَعَلْنَاهُمْ حَصِيدًا خَامِدِين ۞
“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zhalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan adzab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata: "Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zaIim. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi.” (Qs. al-Anbiya’: 11-15)
(3) Juga tersebut di dalam hadits ‘Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu.
عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مَا هَلَكَ قَوْمٌ حَتَّى يُعْذِروا مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidaklah hancur suatu kaum hingga mereka mencari dalih (udzur) kesalahan mereka.” (HR. Abu Daud dan ath-Thabrani. Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir)
Pelajaran (3) Pertanyaan dari Allah
فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِینَ أُرۡسِلَ إِلَیۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِینَ
“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami).” (Qs. al-A'raf: 6)
(1) Berkata Ibnu Katsir, “Nanti pada hari kiamat, Allah akan bertanya kepada semua umat tentang jawaban mereka terhadap para rasul yang membawa risalah-Nya kepada mereka. Allah akan bertanya pula kepada para rasul tentang tugas mereka untuk menyampaikan risalah-Nya.”
Perkataan Ibnu Katsir di atas sama dengan apa yang disampaikan oleh Makki jauh sebelumnya.
(2) Agak berbeda sedikit dengn Ibnu Katsir, al-Qasimi menafsirkan ayat di atas sebagai berikut: Allah akan bertanya kepada para umat tentang jawaban mereka kepada para rasul yang diutus kepada mereka. Ini seperti dalam firman-Nya,
وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ
“Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Apakah jawabanmu kepada para rasul?” (Qs. al-Qashash: 65)
Dan Allahpun akan bertanya kepada para rasul tentang jawaban para umat kepada mereka, sebagaimana di dalam firman-Nya,
يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ
“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?" Para rasul menjawab: "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib."” (Qs. al-Ma’idah: 109)
(3) Menurut Makki, tujuan pertanyaan kepada para umat adalah untuk mengecam orang-orang kafir atas sikap mereka terhadap para rasul. Sedangkan tujuan pertanyaan kepada para Rasul adalah untuk memastikan kebenaran jawaban para umat. Hal itu, karena mereka mengaku bahwa tidak ada satupun rasul yang datang kepada mereka sebagaimana dalam Firman-Nya,
یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ قَدۡ جَاۤءَكُمۡ رَسُولُنَا یُبَیِّنُ لَكُمۡ عَلَىٰ فَتۡرَةࣲ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُوا۟ مَا جَاۤءَنَا مِنۢ بَشِیرࣲ وَلَا نَذِیرࣲۖ فَقَدۡ جَاۤءَكُم بَشِیرࣱ وَنَذِیرࣱۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱ
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan." Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. al-Ma'idah: 19)
Maka, para rasul menjawab bahwa mereka telah menyampaikan risalah. Ini artinya bahwa para umat jawaban para umat telah berbohong atas pengakuan mereka.
(4) Menurut al-Qurthubi ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir akan ditanya dan dihisab amal perbuatan mereka pada hari kiamat. Dalilnya adalah firman Allah,
ثُمَّ إِنَّ عَلَیۡنَا حِسَابَهُم
“Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (Qs. al-Ghasyiyah: 26)
Adapun ayat yang menyatakan bahwa mereka tidak ditanya pada hari kiamat, seperti firman-Nya,
وَلَا یُسۡـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ
“Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (Qs. al-Qashash: 78)
Maksudnya adalah ketika mereka sudah berada di dalam api neraka.
(5) Perlu diketahui bahwa di akhirat terdapat beberapa kondisi, yaitu kondisi di mana mereka akan ditanya untuk dilakukan perhitungan. Tetapi juga terdapat kondisi dimana mereka tidak ditanya lagi tentang amal perbuatan mereka, karena mereka sudah berada di dalam api neraka.
Pelajaran (4) Buku Catatan Amal
فَلَنَقُصَّنَّ عَلَیۡهِم بِعِلۡمࣲۖ وَمَا كُنَّا غَاۤىِٕبِینَ
“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (Qs. al-A'raf: 7)
(1) Kata (فَلَنَقُصَّنَّ) menurut Ibnu Athiyah artinya “Kami akan memperlihatkan secara detail amal perbuatan mereka satu persatu.”
(2) Kata (بِعِلۡمࣲۖ) yaitu dengan data yang menyakinkan. Berkata Ibnu ‘Abbas, “Pada hari kiamat, buku catatan amal akan dibuka dan akan menceritakan amal mereka secara detail”. Ini sesuai dengan firman-Nya,
هَـٰذَا كِتَـٰبُنَا یَنطِقُ عَلَیۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
“(Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan".” (Qs. al-Jatsiyah: 29)
***
Karawang, Senin, 11 September 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-78
Lihat isinya
Lihat isinya »