Karya Tulis
6 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 27) Melihat Syetan


یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِیُرِیَهُمَا سَوۡءَ ٰ تِهِمَاۤۚ إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.”

(Qs. al-A'raf: 27)

 

Pelajaran (1) Fitnah Syetan

(1) Al-Biqai menyebutkan tujuan dari kisah para nabi, termasuk kisah Nabi Adam adalah untuk diambil pelajaran darinya. Dan salah satu pelajaran yang akan disampaikan pada ayat ini adalah bahayanya godaan syetan bagi manusia. Oleh karenanya, Allah memberikan peringatan kepada seluruh anak Adam agar berhati-hati dengan langkah-langkah dan tipu daya syetan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. 

(2) Bahkan menurut asy-Syenkiti, Allah telah memperingatkan Adam sebelum tergelincir dari surga bahwa syetan adalah musuh nyata baginya dan bagi anak keturunannya, sebagaimana di dalam firman-Nya, 

فَقُلْنا ياآدَمُ إنَّ هَذا عَدُوٌّ لَكَ ولِزَوْجِكَ فَلا يُخْرِجَنَّكُما مِنَ الجَنَّةِ فَتَشْقى

“Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka".” (Qs. Thaha: 117)

(3) Firman-Nya,

لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ

“Janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan.”

(a) Menurut al-Qurthubi maksudnya, “Jangan sampai syetan menjauhkan kalian dari ajaran agama, sebagaimana telah memperdayakan kedua orangtua kalian sehingga dikeluarkan dari surga.”

(b) Menurut Ibnu Athiyah, makna fitnah pada ayat ini adalah mengikuti keinginan dan hawa nafsu. Artinya: janganlah kalian mengikuti keinginan dan hawa nafsu dengan mendengar rayuan syetan dan mentaatinya. 

(4) Firman-Nya, 

كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا

“Sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya.”

(a) Berkata al-Qurthubi, “Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan agar kita berhati-hati sehingga nikmat Allah tidak diambil lagi oleh Allah, sebagaimana yang terjadi pada diri Adam.”

(b) Di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, 

عن عبد الله بن عمر - رضي الله عنهما - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: bersabda Rasulullah ﷺ: ‘Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan dari pindahnya keselamatan yang Engkau berikan, dan dari kedatangan sangsi-Mu yang tiba-tiba, serta dari seluruh murka-Mu’.” (HR. Muslim)

(c) Dalam hal ini, al-Biqai menyampaikan satu kaidah fikih yang berbunyi, 

إنَّ الدَّفْعَ أسْهَلُ مِنَ الرَّفْعِ

“Mencegah sesuatu (sebelum terjadi) itu lebih mudah daripada memperbaiki sesuatu yang rusak.”

Kaitannya dengan ayat ini adalah menjaga diri dan waspada dari godaan syetan, sehingga tidak terjerumus ke dalam kesesatan atau kemaksiatan jauh lebih mudah dan ringan akibatnya dari pada ketika sudah terjerumus kedalamnya, sangat sulit untuk memperbaikinya.

Kaidah ini hampir sama dengan istilah dalam dunia kesehatan bahwa preventif (pencegahan) lebih baik dan mudah daripada kuratif (penyembuhan). 

(d) Ibnu Asyur menyimpulkan: ayat ini memberikan isyarat bahwa syetan sangat berkepentingan untuk membuka aurat manusia, karena dia sangat senang jika manusia dalam keadaan yang buruk dan memalukan. 

 

Pelajaran (2) Melihat Syetan

إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”

(1) Para ulama berbeda pendapat tentang kemungkinan manusia melihat syetan (jin), sebagai berikut:

(a) Pendapat pertama mengatakan bahwa hanya para nabi saja yang bisa melihat syetan (jin). Ini pendapat as-Syafi'i, Ibnu Hazm, al-Qusyairi. 

(a.1) Berkata asy-Syafi'i, “Barangsiapa yang mengaku dirinya melihat syetan (jin) dalam bentuk aslinya, maka kami tolak kesaksiannya.” Beliau berdalil dengan ayat di atas. 

(a.2) Berkata al-Qusyairi, “Allah telah menetapkan suatu kebiasaan bahwa anak Adam tidak bisa melihat syetan hari ini.”

Dalil mereka adalah sebagai berikut:

Firman-Nya, 

إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs.al-A'raf:27)

Firman Allah, 

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Qs. an-Nas: 5)

Haditst Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 

 إن الشيطانَ يجري من ابنِ آدمَ مجرى الدمِ

“Sesungguhnya syetan mengalir dalam anak adam dalam aliran darahnya.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani.) 

(b) Pendapat kedua mengatakan bahwa sebagian orang, seperti para nabi dan yang lainnya bisa melihat syetan (jin) ini. Ini pendapat Ibnu al-‘Arabi, al-Qurthubi, al-Alusi dan yang lainnya. 

Dalil mereka adalah sebagai berikut:

(b.1) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya, Rasulullah ﷺ bersabda, 

إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَدَّ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَام رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي، فَرَدَّهُ اللَّهُ خَاسِيًا

“Sesungguhnya syetan menampkan diri kepadaku untuk memutuskan shalatku, maka Allah memberiku kekuatan sehingga dapat mengalahkannya, kemudian aku mencekiknya, dan aku benar-benar bermaksud mengikatnya pada sebuah tiang (masjid) sampai pada waktu pagi hari kalian bisa melihatnya, maka aku teringat ucapan Sulaiman "Tuhanku, berilah aku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku" lalu Allah mengembalikannya dengan terhina.” (HR. al-Bukhari) 

Berkata Ali Qari di dalam Mirqatu al-Mashabih, “Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang bisa melihat syetan (jin).”

Berkata al-Khaththabi, “Hadits ini merupakan dalil bahwa manusia bisa melihat syetan (jin). Walaupun dia makhluk halus, tetapi bukan berarti manusia tidak bisa melihatnya. Adapun firman Allah dalam (Qs.al-A'raf:27) maksudnya bahwa itu berlaku bagi kebanyakan manusia. Karena Allah ingin menguji mereka agar mereka mau memohon kepada Allah dari kejahatan dan tipu daya syetan. Namun hal ini, tidak menghalangi sebagian kecil dari hamba-Nya yang diberikan Allah kemampuan untuk melihat syetan (jin).”

Berkata al-Kirmani, “Tidak perlu menafsirkan ayat di atas sejauh itu, cukup kita katakan bahwa ayat itu tidak menafikan kemampuan manusia untuk melihat syetan jin. Ayat itu hanya menunjukkan bahwa kita sebagai manusia tidak bisa melihat syetan jin pada waktu dia melihat kita. Tetapi ada kemungkinan bahwa kita bisa melihatnya di waktu lain.”

(b.2) Haditst Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 

إنّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البارِحَةَ - أوْ كَلِمَةً نَحْوَها - لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاةَ، فأمْكَنَنِي اللهُ منه، فأرَدْتُ أنْ أرْبِطَهُ إلى سارِيَةٍ مِن سَوارِي المَسْجِدِ حتّى تُصْبِحُوا وتَنْظُرُوا إلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أخِي سُلَيْمانَ: {قالَ رَبِّ اغْفِرْ لي وهَبْ لي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِن بَعْدِي} [ص: ٣٥]، قالَ رَوْحٌ: فَرَدَّهُ خاسِئًا

“Sesungguhnya 'Ifrit dari bangsa jin baru saja menggangguku untuk memutuskan shalatku namun Allah menjadikan aku dapat menundukkannya lalu aku tangkap dan hendak mengikatnya pada tiang diantara tiang-tiang masjid hingga tiap orang dari kalian dapat melihatnya. Namun aku teringat akan do'a saudaraku, Nabi Sulaiman 'Alaihissalam; ("Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorangpun setelah aku"). (QS. Shad ayat 35). Maka kulepaskan kembali setan itu dalam keadaan hina.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) 

(c) Pendapat ketiga mengatakan bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat jin. Ini pendapat sebagian ahli hadits dalilnya adalah ayat ini (Qs.al-A'raf:27). 

Untuk mengetahui permasalahan ini secara lebih terperinci, silahkan merujuk: 

(c.1) Kitab ‘Alamu al-Marjan fi Ahkami al-Jan, karya Badruddin asy-Syibli (769 H) 

(c.2) Kitab ‘Alamu al-Jin fi al-Kitab wa as-Sunnah, karya Dr. Abdul Karim Ubaidat.

(c.3) Kitab ‘Alamu al-Jin wa asy-Syayathin, karya Umar Sulaiman al-Asyqar dan kitab lainnya yang serupa. 

(2) Pelajaran lain, bahwa ayat ini juga bertujuan untuk mengingatkan manusia agar berhati-hati terhadap tipu daya syetan. Berhati-hati artinya selalu mengawasi hal-hal yang akan memberikan madharat kepadanya sewaktu-waktu. 

Di sini Allah menjelaskan bahwa syetan yang mereka hindari itu melihat mereka, sedangkan mereka tidak bisa melihatnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya tipu daya syetan, sebaliknya betapa lemahnya pertahanan manusia. Syetan akan menyerangnya dari arah yang tidak disangka. 

Demikian penjelasan Ibnu Asyur. 

(3) Kata (قبيل) menurut al-Alusi artinya jama'ah, yaitu kumpulan orang. Jika berasal dari satu bapak, maka disebut qabilah. Tetapi maksud pada ayat ini adalah tentaranya. 

 

Pelajaran (3) Syetan Penolong Orang Kafir 

إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ 

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.”

(1) Menurut al-Baghawi kata (أَوۡلِیَاۤءَ) di sini artinya teman dan penolong bagi orang-orang yang tidak beriman. 

(2) Berkata az-Zujaj, “Maksudnya syetan akan menguasai mereka dan menambahkan kesesatan bagi mereka.”

(3) Menurut as-Sam'ani dan Makki, maksudnya bahwa Allah menjadikan syetan sebagai penolong orang-orang kafir di dalam kemaksiatan mereka. Ini sebagaimana firman-Nya, 

أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma'siat dengan sungguh-sungguh?” (Qs. Maryam: 83)

Maksud ayat ini (Qs. Maryam: 83) menurut Makki adalah syetan akan membawa mereka dengan sangat kuat kepada kekafiran dan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. 

 

***

Karawang, Rabu 20 September 2023

یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِیُرِیَهُمَا سَوۡءَ ٰ⁠ تِهِمَاۤۚ إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ 
لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ 
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(Qs. al-A'raf: 27)
Pelajaran (1) Fitnah Syetan
(1) Al-Biqai menyebutkan tujuan dari kisah para nabi, termasuk kisah Nabi Adam adalah untuk diambil pelajaran darinya. Dan salah satu pelajaran yang akan disampaikan pada ayat ini adalah bahayanya godaan syetan bagi manusia. Oleh karenanya, Allah memberikan peringatan kepada seluruh anak Adam agar berhati-hati dengan langkah-langkah dan tipu daya syetan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. 
(2) Bahkan menurut asy-Syenkiti, Allah telah memperingatkan Adam sebelum tergelincir dari surga bahwa syetan adalah musuh nyata baginya dan bagi anak keturunannya, sebagaimana di dalam firman-Nya, 
فَقُلْنا ياآدَمُ إنَّ هَذا عَدُوٌّ لَكَ ولِزَوْجِكَ فَلا يُخْرِجَنَّكُما مِنَ الجَنَّةِ فَتَشْقى
“Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka".” (Qs. Thaha: 117)
(3) Firman-Nya,
لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ
“Janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan.”
(a) Menurut al-Qurthubi maksudnya, “Jangan sampai syetan menjauhkan kalian dari ajaran agama, sebagaimana telah memperdayakan kedua orangtua kalian sehingga dikeluarkan dari surga.”
(b) Menurut Ibnu Athiyah, makna fitnah pada ayat ini adalah mengikuti keinginan dan hawa nafsu. Artinya: janganlah kalian mengikuti keinginan dan hawa nafsu dengan mendengar rayuan syetan dan mentaatinya. 
(4) Firman-Nya, 
كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا
“Sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya.”
(a) Berkata al-Qurthubi, “Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan agar kita berhati-hati sehingga nikmat Allah tidak diambil lagi oleh Allah, sebagaimana yang terjadi pada diri Adam.”
(b) Di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, 
عن عبد الله بن عمر - رضي الله عنهما - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: bersabda Rasulullah ﷺ: ‘Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan dari pindahnya keselamatan yang Engkau berikan, dan dari kedatangan sangsi-Mu yang tiba-tiba, serta dari seluruh murka-Mu’.” (HR. Muslim)
(c) Dalam hal ini, al-Biqai menyampaikan satu kaidah fikih yang berbunyi, 
إنَّ الدَّفْعَ أسْهَلُ مِنَ الرَّفْعِ
“Mencegah sesuatu (sebelum terjadi) itu lebih mudah daripada memperbaiki sesuatu yang rusak.”
Kaitannya dengan ayat ini adalah menjaga diri dan waspada dari godaan syetan, sehingga tidak terjerumus ke dalam kesesatan atau kemaksiatan jauh lebih mudah dan ringan akibatnya dari pada ketika sudah terjerumus kedalamnya, sangat sulit untuk memperbaikinya.
Kaidah ini hampir sama dengan istilah dalam dunia kesehatan bahwa preventif (pencegahan) lebih baik dan mudah daripada kuratif (penyembuhan). 
(d) Ibnu Asyur menyimpulkan: ayat ini memberikan isyarat bahwa syetan sangat berkepentingan untuk membuka aurat manusia, karena dia sangat senang jika manusia dalam keadaan yang buruk dan memalukan. 
Pelajaran (2) Melihat Syetan
إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”
(1) Para ulama berbeda pendapat tentang kemungkinan manusia melihat syetan (jin), sebagai berikut:
(a) Pendapat pertama mengatakan bahwa hanya para nabi saja yang bisa melihat syetan (jin). Ini pendapat as-Syafi'i, Ibnu Hazm, al-Qusyairi. 
(a.1) Berkata asy-Syafi'i, “Barangsiapa yang mengaku dirinya melihat syetan (jin) dalam bentuk aslinya, maka kami tolak kesaksiannya.” Beliau berdalil dengan ayat di atas. 
(a.2) Berkata al-Qusyairi, “Allah telah menetapkan suatu kebiasaan bahwa anak Adam tidak bisa melihat syetan hari ini.”
Dalil mereka adalah sebagai berikut:
Firman-Nya, 
إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs.al-A'raf:27)
Firman Allah, 
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Qs. an-Nas: 5)
Haditst Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 
 إن الشيطانَ يجري من ابنِ آدمَ مجرى الدمِ
“Sesungguhnya syetan mengalir dalam anak adam dalam aliran darahnya.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani.) 
(b) Pendapat kedua mengatakan bahwa sebagian orang, seperti para nabi dan yang lainnya bisa melihat syetan (jin) ini. Ini pendapat Ibnu al-‘Arabi, al-Qurthubi, al-Alusi dan yang lainnya. 
Dalil mereka adalah sebagai berikut:
(b.1) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya, Rasulullah ﷺ bersabda, 
إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَدَّ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَام رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي، فَرَدَّهُ اللَّهُ خَاسِيًا
“Sesungguhnya syetan menampkan diri kepadaku untuk memutuskan shalatku, maka Allah memberiku kekuatan sehingga dapat mengalahkannya, kemudian aku mencekiknya, dan aku benar-benar bermaksud mengikatnya pada sebuah tiang (masjid) sampai pada waktu pagi hari kalian bisa melihatnya, maka aku teringat ucapan Sulaiman "Tuhanku, berilah aku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku" lalu Allah mengembalikannya dengan terhina.” (HR. al-Bukhari) 
Berkata Ali Qari di dalam Mirqatu al-Mashabih, “Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang bisa melihat syetan (jin).”
Berkata al-Khaththabi, “Hadits ini merupakan dalil bahwa manusia bisa melihat syetan (jin). Walaupun dia makhluk halus, tetapi bukan berarti manusia tidak bisa melihatnya. Adapun firman Allah dalam (Qs.al-A'raf:27) maksudnya bahwa itu berlaku bagi kebanyakan manusia. Karena Allah ingin menguji mereka agar mereka mau memohon kepada Allah dari kejahatan dan tipu daya syetan. Namun hal ini, tidak menghalangi sebagian kecil dari hamba-Nya yang diberikan Allah kemampuan untuk melihat syetan (jin).”
Berkata al-Kirmani, “Tidak perlu menafsirkan ayat di atas sejauh itu, cukup kita katakan bahwa ayat itu tidak menafikan kemampuan manusia untuk melihat syetan jin. Ayat itu hanya menunjukkan bahwa kita sebagai manusia tidak bisa melihat syetan jin pada waktu dia melihat kita. Tetapi ada kemungkinan bahwa kita bisa melihatnya di waktu lain.”
(b.2) Haditst Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 
إنّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البارِحَةَ - أوْ كَلِمَةً نَحْوَها - لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاةَ، فأمْكَنَنِي اللهُ منه، فأرَدْتُ أنْ أرْبِطَهُ إلى سارِيَةٍ مِن سَوارِي المَسْجِدِ حتّى تُصْبِحُوا وتَنْظُرُوا إلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أخِي سُلَيْمانَ: {قالَ رَبِّ اغْفِرْ لي وهَبْ لي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِن بَعْدِي} [ص: ٣٥]، قالَ رَوْحٌ: فَرَدَّهُ خاسِئًا
“Sesungguhnya 'Ifrit dari bangsa jin baru saja menggangguku untuk memutuskan shalatku namun Allah menjadikan aku dapat menundukkannya lalu aku tangkap dan hendak mengikatnya pada tiang diantara tiang-tiang masjid hingga tiap orang dari kalian dapat melihatnya. Namun aku teringat akan do'a saudaraku, Nabi Sulaiman 'Alaihissalam; ("Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorangpun setelah aku"). (QS. Shad ayat 35). Maka kulepaskan kembali setan itu dalam keadaan hina.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) 
(c) Pendapat ketiga mengatakan bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat jin. Ini pendapat sebagian ahli hadits dalilnya adalah ayat ini (Qs.al-A'raf:27). 
Untuk mengetahui permasalahan ini secara lebih terperinci, silahkan merujuk: 
(c.1) Kitab ‘Alamu al-Marjan fi Ahkami al-Jan, karya Badruddin asy-Syibli (769 H) 
(c.2) Kitab ‘Alamu al-Jin fi al-Kitab wa as-Sunnah, karya Dr. Abdul Karim Ubaidat.
(c.3) Kitab ‘Alamu al-Jin wa asy-Syayathin, karya Umar Sulaiman al-Asyqar dan kitab lainnya yang serupa. 
(2) Pelajaran lain, bahwa ayat ini juga bertujuan untuk mengingatkan manusia agar berhati-hati terhadap tipu daya syetan. Berhati-hati artinya selalu mengawasi hal-hal yang akan memberikan madharat kepadanya sewaktu-waktu. 
Di sini Allah menjelaskan bahwa syetan yang mereka hindari itu melihat mereka, sedangkan mereka tidak bisa melihatnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya tipu daya syetan, sebaliknya betapa lemahnya pertahanan manusia. Syetan akan menyerangnya dari arah yang tidak disangka. 
Demikian penjelasan Ibnu Asyur. 
(3) Kata (قبيل) menurut al-Alusi artinya jama'ah, yaitu kumpulan orang. Jika berasal dari satu bapak, maka disebut qabilah. Tetapi maksud pada ayat ini adalah tentaranya. 
Pelajaran (3) Syetan Penolong Orang Kafir 
إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ 
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(1) Menurut al-Baghawi kata (أَوۡلِیَاۤءَ) di sini artinya teman dan penolong bagi orang-orang yang tidak beriman. 
(2) Berkata az-Zujaj, “Maksudnya syetan akan menguasai mereka dan menambahkan kesesatan bagi mereka.”
(3) Menurut as-Sam'ani dan Makki, maksudnya bahwa Allah menjadikan syetan sebagai penolong orang-orang kafir di dalam kemaksiatan mereka. Ini sebagaimana firman-Nya, 
أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا
“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma'siat dengan sungguh-sungguh?” (Qs. Maryam: 83)
Maksud ayat ini (Qs. Maryam: 83) menurut Makki adalah syetan akan membawa mereka dengan sangat kuat kepada kekafiran dan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. 
***
Karawang, Rabu 20 September 2023

 

 

KARYA TULIS