Karya Tulis
7 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 28-30) Dikembalikan Seperti Semula


 وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةࣰ قَالُوا۟ وَجَدۡنَا عَلَیۡهَاۤ ءَابَاۤءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَاۗ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَاۤءِۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”

(Qs. al-A'raf: 28)

 

Pelajaran (1) Taklid Buta

(1) Kata (فَـٰحِشَةࣰ) walaupun maknanya adalah perbuatan keji secara umum; tetapi menurut Ibnu Athiyah, maksudnya di sini adalah membuka aurat ketika melakukan thawaf.

(2) Al-Qasimi menyebutkan bahwa mereka yang melakukan perbuatan keji di atas, berdalih dengan dua hal:

(a) Mengikuti adat istiadat nenek moyang mereka.

(b) Mengaku bahwa Allah yang memerintahkannya.

Dua alasan di atas tidaklah benar alias batil, dikarenakan dua hal:

(a) Alasan pertama adalah bentuk taklid buta terhadap orang-orang bodoh. Taklid bukanlah cara yang bisa dipertanggungjawabkan karena tidak berdasarkan ilmu.

(b) Sedangkan alasan kedua hanyalah kebohongan belaka, karena Allah tidak memerintahkan hal itu.

(3) Firman-Nya,

قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَاۤءِۖ

“Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji".”

Maksudnya menurut al-Qasimi bahwa yang kalian kerjakan adalah perbuatan keji yang tidak mungkin Allah memerintahkannya. Karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak yang baik dan mempunyai sifat yang terpuji.

 

Pelajaran (2) Akan Dikembalikan Seperti Semula

قُلۡ أَمَرَ رَبِّی بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَقِیمُوا۟ وُجُوهَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدࣲ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَۚ كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ

“Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan." Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)".” (Qs. al-A'raf: 29)

(1) Kata (بِٱلۡقِسۡطِۖ) maksudnya menurut adh-Dhahak adalah tauhid, sedangkan menurut Mujahid adalah adil.

(2) Firman-Nya,

وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang.”

Ibnu Athiyah menyebutkan beberapa pendapat tentang penafsiran ayat di atas, sebagai berikut:

(a) Maksudnya adalah setiap melaksanakan shalat, hendaknya menghadap ke Ka'bah.

(b) Maksudnya hendaknya selalu menghadirkan niat karena Allah dalam setiap shalat.

(c) Maksudnya kebolehan melaksanakan shalat di setiap tempat.

(3) Firman-Nya,

كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ

“Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”

Terdapat dua penafsiran tehadap ayat ini, yaitu:

A. Pendapat pertama, maksudnya adalah sebagaimana Allah menciptakan kalian dalam keadaan ditakdirkan beriman atau kafir, maka Allah akan mengembalikan kalian pada waktu mati dalam keadaan beriman atau kafir.

Al-Qurthubi memberikan contoh tentang awal penciptaan Iblis, yang ditakdirkan sesat. Kemudian bersama kelompok malaikat dia beramal dengan amalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Tetapi pada akhirnya, Allah mengembalikannya kepada takdir awal, maka Allah berfirman,

وَكانَ مِنَ الْكافِرِينَ

“Dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Qs. al-Baqarah: 34)

Penafsiran ini dikuatkan oleh beberapa firman Allah, diantaranya:

(a) Firman Allah pada ayat sesudahnya,

فَرِيقًا هَدى وفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلالَةُ

“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.” (Qs. al-A’raf: 30)

(b) Dikuatkan juga oleh firman Allah yang lain,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكم فَمِنكم كافِرٌ ومِنكم مُؤْمِنٌ

“Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin.” (Qs. at-Taghabun: 2)

(c) Juga di dalam firman-Nya,

وَلَوۡ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰۖ وَلَا یَزَالُونَ مُخۡتَلِفِینَ ۞ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ وَلِذَ ٰ⁠لِكَ خَلَقَهُمۡۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِینَ ۞

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Qs. Hud: 118-119)

Maksudnya: “Demikianlah Kami ciptakan mereka ada yang beriman, ada juga yang kafir.”

(d) Ini dikuatkan dengan haditst Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا بَاعٌ -أَوْ: ذِرَاعٌ -فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلَهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا بَاعٌ -أَوْ: ذِرَاعٌ -فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya.” (HR. al-Bukhari)

(e) Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ على ما ماتَ عليه

“Setiap hamba dibangkitkan pada hari kiamat nanti sesuai dengan kondisi ketika dia meninggal dunia.” (HR.Muslim)

B. Pendapat kedua, maksudnya adalah “Sebagaimana Kami ciptakan kalian dalam keadaan tidak membawa apa-apa, maka kami kembalikan kalian ketika mati dalam keadaan tidak mempunyai apa-apa juga.”

Ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak diantaranya adalah:

(a) Firman Allah,

كَما بَدَأْنا أوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وعْدًا عَلَيْنا

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Qs. al-Anbiya’: 104)

(b) Firman Allah,

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali.” (Qs. ar-Rum: 27)

(c) Firman Allah,

 قُلْ يُحْيِيها الَّذِي أنْشَأها أوَّلَ مَرَّةٍ

“Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Qs. Yasin: 79)

(d) Firman Allah,

ياأيُّها النّاسُ إنْ كُنْتُمْ في رَيْبٍ مِنَ البَعْثِ فَإنّا خَلَقْناكم مِن تُرابٍ

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah.” (Qs. al-Hajj: 5)

e. Ini dikuatkan haditst Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,

قامَ فِينا رَسولُ اللهِ ﷺ خَطِيبًا بمَوْعِظَةٍ، فَقالَ: يا أيُّها النّاسُ إنّكُمْ تُحْشَرُونَ إلى اللهِ حُفاةً عُراةً غُرْلًا، {كما بَدَأْنا أوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وعْدًا عَلَيْنا إنّا كُنّا فاعِلِينَ} [الأنبياء: ١٠٤]

“Rasulullah ﷺ berdiri berkhutbah menyampaikan suatu nasehat ditengah-tengah kami, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan kulup 'Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.' (al-Anbiya`: 104)” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Pelajaran (3) Hidayah dan Kesesatan

فَرِیقًا هَدَىٰ وَفَرِیقًا حَقَّ عَلَیۡهِمُ ٱلضَّلَـٰلَةُۚ إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَیَحۡسَبُونَ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ

“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Qs. al-A'raf: 30)

(1) Pertanyaannya bagaimana cara mendudukan antara ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa Allah telah mentakdirkan setiap manusia di awal penciptaannya sebagai mukmin atau kafir, seperti Firman-Nya,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكم فَمِنكم كافِرٌ ومِنكم مُؤْمِنٌ

“Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin.”

Dengan ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah (Islam), diantaranya:

(a) Firman-Nya,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Qs. ar-Rum: 30)

(b) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

 كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرانه ويُمَجِّسانه

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

(c) Haditst ‘Iyadh bin Hamar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda (dalam hadits Qudsi),

 يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاء، فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دينهم

“Allah berfirman, ‘Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan lurus (di atas tauhid), dan telah datang kepada mereka setan-setan yang menyimpangkan mereka dari agama mereka’.” (HR. Muslim)

Jawabannya, sebagaimana yang disampaikan Ibnu Katsir bahwa pada awal penciptaan, Allah telah membekali manusia  dengan beberapa bekal, yaitu:

(a) Allah telah membekali mereka dengan fitrah untuk mengetahui-Nya dan mentauhidkan-Nya.

(b) Allah telah membekali mereka dengan pengetahuan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.

(c)  Allah telah membekali mereka dengan cara mengambil dari mereka suatu perjanjian di dalam sulbi anak Adam (Qs. al-A'raf:172) bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Dan menjadikan hal itu sebagai fitrah di dalam diri mereka.

Sekalipun demikian, pada akhirnya Allah tetap menakdirkan bahwa di antara mereka ada yang celaka (kafir) dan ada yang bahagia (mukmin). Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

“Dialah yang menciptakan kalian, maka di antara kalian ada yang kafir dan di antara kalian ada yang beriman.” (Qs. at-Taghabun: 2)

Di dalam haditst Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

 كانَ النبيُّ ﷺ في جَنازَةٍ، فأخَذَ شيئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ به الأرْضَ، فَقالَ: ما مِنكُم مِن أحَدٍ إلّا وقدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النّارِ، ومَقْعَدُهُ مِنَ الجَنَّةِ قالوا: يا رَسولَ اللهِ، أفلا نَتَّكِلُ على كِتابِنا، ونَدَعُ العَمَلَ؟ قالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِما خُلِقَ له، أمّا مَن كانَ مِن أهْلِ السَّعادَةِ فيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أهْلِ السَّعادَةِ، وأَمّا مَن كانَ مِن أهْلِ الشَّقاءِ فيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أهْلِ الشَّقاوَةِ، ثُمَّ قَرَأَ: {فَأَمّا مَن أعْطى واتَّقى وصَدَّقَ بالحُسْنى} الآيَةَ.

“Suatu ketika Rasulullah ﷺ berada dalam rombongan pelayat Jenazah, lalu beliau mengambil sesuatu dan memukulkannya ke tangah. Kemudian beliau bersabda: "Tidak ada seorang pun, kecuali tempat duduknya telah ditulis di neraka dan tempat duduknya di surga." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana bila kita bertawakkal saja terhadap takdir kita tanpa beramal?" beliau menajawab: "Ber'amallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya. Barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlus Sa'adah (penduduk surga), maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahlus Sa'adah. Namun, barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlusy Syaqa` (penghuni neraka), maka ia akan dimudahkan pula untuk melakukan amalan Ahlusy Syaqa`." Kemudian beliau membacakan ayat: "FA`AMMAA MAN `A'THAA WAT TAQAA WA SHADDAQA BIL HUSNAA (Dan barangsiapa yang memberi, dan bertakwa serta membenarkan kebaikan)” (HR. al-Bukhari)

Oleh karenanya, Allah berfirman,

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلالَةُ

“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.” (Qs. al-A’raf: 30)

Dan penyebab mereka sesat  adalah apa yang terdapat di dalam firman-Nya, yaitu:

إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah. (Qs. al-A'raf: 30)

(2) Pada ayat ini, menurut asy-Syinqithy, Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir telah menjadikan syetan sebagai pelindung mereka, tetapi pada saat yang sama, mereka mengaku bahwa mereka berada di atas petunjuk yang benar. Pesan ayat ini mirip  dengan pesan yang terdapat firman Allah pada surat yang lain

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكم بِالأخْسَرِينَ أعْمالًا ۞ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهم في الحَياةِ الدُّنْيا وهم يَحْسَبُونَ أنَّهم يُحْسِنُونَ صُنْعًا۞

“Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Qs. al-Kahfi: 103-104)

***

Karawang, Kamis, 21 September 2023

KARYA TULIS