Karya Tulis
96 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 44-46) Kisah Penghuni Al-A'raf


وَنَادَىٰۤ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَـٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقࣰّا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقࣰّاۖ قَالُوا۟ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَیۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (adzab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?" Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Betul." Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.”

(Qs. al-A'raf: 44)

 

Pelajaran (1) Penghuni Surga Memanggil

وَنَادَىٰۤ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَـٰبَ ٱلنَّار

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka.”

(1) Setelah mereka tinggal di dalam surga dengan tenang dan bahagia, maka penghuni surga memanggil penghuni neraka seraya mengecam atas perbuatan yang mereka lakukan di dunia.

(2) Kata (نَادَىٰۤ) arti memanggil. Ini menunjukkan bahwa jarak antara dua kelompok tersebut sangat jauh.

Di sini digunakan fi'il madhi, kata kerja masa lampau (past tense), padahal peristiwanya belum terjadi, ini untuk menunjukkan bahwa hal itu benar-benar akan terjadi.

(3) Firman-Nya,

أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقࣰّا

“Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami.”

Ini pernyataan penghuni surga tentang apa yang Allah janjikan sewaktu di dunia bahwa mereka akan mendapatkan pahala dan kenikmatan abadi ternyata benar adanya.

Oleh karenanya, untuk mengungkapkan kegembiraan tersebut, sekaligus ingin mengejek orang-orang kafir yang dahulu tidak percaya dengan janji Allah, para penhuni surga memanggil mereka dan menyampaikan kebenaran janji Allah.

(4) Firman-Nya,

فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقࣰّاۖ

“Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (adzab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?”

Pertanyaan ini disampaikan oleh penghuni surga kepada penghuni neraka untuk mengejek sekaligus mengecam mereka.

Pertanyaan yang sama juga disampaikan Rasulullah ﷺ kepada orang-orang kafir yang mati terbunuh dalam perang Badar, sebagaimana di dalam haditst ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya,

وَقَفَ النَّبيُّ ﷺ على قَلِيبِ بَدْرٍ، فقالَ: هلْ وجَدْتُمْ ما وعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا؟! ثُمَّ قالَ: إنَّهُمُ الآنَ يَسْمَعُونَ ما أقُولُ، فَذُكِرَ لِعائِشَةَ، فقالَتْ: إنَّما قالَ النَّبيُّ ﷺ: إنَّهُمُ الآنَ لَيَعْلَمُونَ أنَّ الذي كُنْتُ أقُولُ لهمْ هو الحَقُّ، ثُمَّ قَرَأَتْ ﴿إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتى﴾ [النمل: ٨٠] حتّى قَرَأَتِ الآيَةَ.

“"Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian dengan benar." Lalu beliau berkata lagi: "Sungguh mereka mendengar apa yang aku ucapkan." Kemudian hal ini diceritakan kepada 'Aisyah, maka dia berkata: "Sesungguhnya yang diucapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah: "Sesungguhnya sekarang mereka mengetahui bahwa apa yang aku katakan (risalahku) kepada mereka adalah benar." Kemudian 'Aisyah membaca firman Allah: {INNAKA LAA TUSMI'UL MAUTAA} (Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang yang sudah mati dapat mendengar) (QS. An-Naml: 80) hingga akhir ayat tersebut.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(5) Firman-Nya,

فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَیۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّـٰلِمِینَ

(a) Kata (فَأَذَّنَ) artinya diumumkan. Ini menunjukkan jarak antara penghuni surga dengan penghuni neraka tersebut sangat jauh.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,

كُنّا مع رَسُولِ اللهِ ﷺ، إذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقالَ النَّبيُّ ﷺ: تَدْرُونَ ما هذا؟ قالَ: قُلْنا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قالَ: هذا حَجَرٌ رُمِيَ به في النّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهو يَهْوِي في النّارِ الآنَ، حتّى انْتَهى إلى قَعْرِها. وفي رواية: هذا وَقَعَ في أَسْفَلِها، فَسَمِعْتُمْ وَجْبَتَها.

“Kami bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bertanya: "Tahukah kalian apa itu?" kami menjawab: Allah dan rasulNya lebih mengetahui. Beliau bersabda: "Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuhpuluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya".” (HR. Muslim)

(b) Al-Biqai menjelaskan bahwa kenikmatan yang didapat oleh penghuni surga akan lebih sempurna jika mereka bertetangga dengan orang-orang baik dan berjauhan dengan orang-orang jahat, makanya mereka merasa senang jika penghuni neraka sangat berjauhan dengan mereka.

 

Pelajaran (2) Tiga Sifat Orang Zhalim

ٱلَّذِینَ یَصُدُّونَ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ وَیَبۡغُونَهَا عِوَجࣰا وَهُم بِٱلۡـَٔاخِرَةِ كَـٰفِرُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat".” (Qs. al-A'raf: 45)

(1) Ayat ini menjelaskan tiga sifat orang-orang zhalim yang masuk neraka ;

(a) Selalu menghalangi manusia dari jalan Allah supaya mereka meninggalkan ketaatan dan mengerjakan maksiat. Mereka menyesatkan manusia lewat jalan syahwat.

(b) Membuat jalan Allah yang lurus menjadi bengkok, sehingga manusia yang berjalan di atas jalan tersebut tersesat dan tidak sampai pada tujuan. Mereka mengubah ajaran Islam dengan menambahkan sesuatu yang bukan dari bagiannya atau mengurangi sesuatu yang seharusnya bagian darinya. Mereka menyesatkan manusia dengan menyebarkan syubhat dan membuat keragu-raguan atas kebenaran Islam.

(c) Mengingkari adanya hari akhir. Hal ini akan menyebabkan seseorang berbuat sesuka hatinya dalam hidup ini, karena dia tidak takut dengan siksa pada hari akhir dan tidak pula berharap kepada pahala Allah. Mereka menyakini bahwa hidup hanya sekali dunia ini, tidak ada kehidupan lagi di akhirat. Ini sesuai dengan firman-Nya,

إِنۡ هِیَ إِلَّا حَیَاتُنَا ٱلدُّنۡیَا نَمُوتُ وَنَحۡیَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِینَ

“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.” (Qs. al-Mu'minun: 37)

(2) Ketiga sifat orang zhalim di atas, disebutkan juga di dalam firman-Nya,

ٱلَّذِینَ یَسۡتَحِبُّونَ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا عَلَى ٱلۡـَٔاخِرَةِ وَیَصُدُّونَ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ وَیَبۡغُونَهَا عِوَجًاۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ فِی ضَلَـٰلِۭ بَعِیدࣲ

“(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (Qs. Ibrahim: 3)

(3) Berkata Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang zhalim, yaitu mereka mengerjakan shalat bukan untuk Allah dan mereka mengagungkan sesuatu yang tidak diagungkan oleh Allah.

(4) Dua ayat ini, sebagaimana yang disebutkan oleh Mahmud asy-Syaltut:

(a) Menjelaskan tahapan lain dari siksaan yang ditimpakan kepada penduduk neraka. Ini tergambar dalam seruan penduduk surga kepada penduduk neraka yang menggambarkan kehinaan dan penyesalan yang sangat mendalam, khususnya ketika melihat adzab di depan mereka.

(b) Percakapan tersebut memperlihatkan kenikmatan, ketenangan dan keridhaan di satu sisi, namun sebaliknya di sisi lain terlihat pemandangan yang menyesakkan yang diliputi kehinaan, kebingungan dan penyesalan.

(c) Gambaran yang disampaikan ayat di atas telah mampu mengaduk-ngaduk perasaan, mengiris jiwa, melihat bagaimana kesudahan orang-orang zhalim yang sewaktu di dunia mereka selalu menghalangi manusia dari jalan Allah, membuatnya bengkok, dan mereka mengingkari pertemuan hari akhir.

 

Pelajaran (3) Pembatas antara Surga dan Neraka

وَبَیۡنَهُمَا حِجَابࣱۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالࣱ یَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِیمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡا۟ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَـٰمٌ عَلَیۡكُمۡۚ لَمۡ یَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ یَطۡمَعُونَ

“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum." Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (Qs. al-A'raf: 46)

(1) Firman-Nya,

وَبَیۡنَهُمَا حِجَابࣱۚ

“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas.”

Maksudnya antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat batas berupa pagar (dinding), sebagaimana yang tersebut di dalam firman-Nya,

یَوۡمَ یَقُولُ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِیلَ ٱرۡجِعُوا۟ وَرَاۤءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُوا۟ نُورࣰاۖ فَضُرِبَ بَیۡنَهُم بِسُورࣲ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِیهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَـٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ

“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (Qs. al-Hadid: 13)

(2) Firman-Nya,

وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالࣱ

“Dan di atas A'raaf itu ada orang-orang.”

(a) Kata (ٱلۡأَعۡرَافِ) jama' dari (عرف) yang berarti tempat yang tinggi. Yaitu pagar yang membatasi antara penghuni surga dan penghuni neraka.

Oleh karenanya jengger ayam disebut (عرف الديك) karena terletak paling atas dari anggota tubuh lainnya.

Berkata as-Suddi, “Tempat itu dinamakan al-A'raf, karena penghuninya bisa melihat manusia sekitarnya.”

 

Pelajaran (4) Penghuni Al-A'raf

وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالࣱ

“Dan di atas A'raaf itu ada orang-orang.”

Para ulama berbeda pendapat tentang penghuni al-A'raf, siapa mereka itu sebenarnya?

(1) Mayoritas ulama mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata, “Allah akan menghitung amal perbuatan manusia pada hari kiamat. Maka, barangsiapa yang kebaikannya lebih banyak dari kejelekan, walaupun satu poin saja, dia akan masuk surga. Sebaliknya, barangsiapa yang kejahatannya lebih banyak dari kebaikannya, walaupun satu poin, dia akan masuk neraka. Kemudian beliau membacakan firman Allah,

 فَمَن ثَقُلَتْ مَوازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ ومَن خَفَّتْ مَوازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أنفُسَهُمْ ۞ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَظۡلِمُونَ ۞

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Qs. al-A’raf: 8-9)

Kemudian Ibnu Mas'ud berkata, “Barangsiapa yang kebaikan dan keburukannya sama, maka mereka adalah para penduduk al-A'raf.”

(2) Terdapat beberapa pendapat lain terkait dengan penghuni al-A'raf, yaitu:

(a) Mereka yang berjihad di jalan Allah, tetapi belum mendapatkan izin dari kedua orang tuanya.

(b) Mereka yang salah satu dari kedua orang-tuanya ridha terhadap dirinya.

Menurut Ibnu al-Qayyim kedua pendapat di atas masuk dalam kategori orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama.

(c) Mereka yang hidup di zaman "fatrah" (zaman kekosongan dari nabi dan rasul) dan anak-anak orang kafir yang meninggal dunia waktu kecil.

(d) Sebagian ulama mengatakan bahwa penghuni al-A'raf adalah orang-orang yang tinggi derajatnya, seperti para nabi dan syuhada serta shalihin. Karena mereka berada di tempat yang tinggi dan bisa melihat keadaan penghuni surga dan neraka.

Al-Qasimi cenderung kepada pendapat ini dan mengatakan bahwa lafazh ayat di atas mencakup mereka. Kemudian konteks ayatpun menunjukkan atas mulianya kedudukan mereka, apalagi mereka menempati tempat yang tinggi yang mengisyaratkan suatu kehormatan.

 

Pelajaran (5) Tanda Ahli Surga dan Neraka

یَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِیمَىٰهُمۡ

“(Orang-orang yang) mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.”

(1) Kata (بِسِیمَىٰهُمۡۚ) menurut al-Qasimi artinya adalah dengan tanda-tanda yang ada pada mereka. Diambil dari kata (السِّيمَةُ). Orang Arab mengatakan,

سامَ إبِلَهُ

Artinya: dia telah melepaskan untanya yang telah diberi tanda di tempat penggembalaan.

(2) Berkata al-Baghawi, “Mereka mengetahui penghuni surga dari wajahnya yang putih dan mengetahui penghuni neraka dari wajahnya yang hitam.” Ini riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan adh-Dhahak.

(3) Ini sesuai dengan beberapa firman-Nya,

(a) Firman-Nya,

یَوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوهࣱ وَتَسۡوَدُّ وُجُوهࣱۚ فَأَمَّا ٱلَّذِینَ ٱسۡوَدَّتۡ وُجُوهُهُمۡ أَكَفَرۡتُم بَعۡدَ إِیمَـٰنِكُمۡ فَذُوقُوا۟ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu".” (Qs. Ali 'Imran: 106)

(b) Firman-Nya,

وُجُوهࣱ یَوۡمَىِٕذࣲ مُّسۡفِرَةࣱ ۞ ضَاحِكَةࣱ مُّسۡتَبۡشِرَةࣱ ۞ وَوُجُوهࣱ یَوۡمَىِٕذٍ عَلَیۡهَا غَبَرَةࣱ ۞ تَرۡهَقُهَا قَتَرَةٌ ۞ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ۞

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (Qs. 'Abasa: 38-42)

(4) Asy-Syinqithi menyebutkan beberapa ciri ahli surga dan neraka yang disebutkan di dalam al-Qur'an, sebagai berikut:

(a) Ciri ahli surga,

(a.1) Wajah mereka terlihat berseri penuh kebahagiaan, sebagaimana firman-Nya,

تَعْرِفُ في وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (Qs. al-Muthaffifin: 23)

(a.2) Juga dalam firman-Nya,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ ناضِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.” (Qs. al-Qiyamah: 22)

(b) Ciri ahli neraka,

(b.1) Wajah mereka gelap seperti malam, sebagaimana firman-Nya,

كَأنَّما أُغْشِيَتْ وُجُوهُهم قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا

“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (adzab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Yunus: 27)

(b.2) Wajahnya seakan tertutup debu, sebagaimana firman-Nya,

 وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْها غَبَرَةٌ

“Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (Qs. ‘Abasa: 40)

(b.3) Wajahnya berwarna biru, sebagaimana firman-Nya,

 وَنَحْشُرُ المُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

“(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala[942] dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram.” (Qs.Thaha: 102)

(5) Firman-Nya,

لَمۡ یَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ یَطۡمَعُونَ

“Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).”

(1) Ibnu al-Qayyim menyebutkan bahwa penghuni al-A'raf ketika berada di atas ash-Shirath cahaya yang didepan mereka tidak padam, tetapi amalan buruk merekalah yang menghalangi mereka untuk terus maju berjalan. Maka, walaupun belum masuk surga, mereka sangat berkeinginan. Dan akhirnya mereka dimasukkan ke dalam surga. Mereka adalah orang-orang yang terakhir masuk surga.

(2) Berkata al-Hasan, “Allah yang telah menjadikan keinginan yang kuat di dalam hati mereka dan Dialah yang akan menyampaikan keinginan mereka.”

(3) Menurut pendapat yang menyatakan bahwa penghuni al-A'raf adalah orang-orang orang-orang shalih, maka makna firman-Nya,

لَمۡ یَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ یَطۡمَعُونَ

Adalah para penghuni surga yang belum masuk ke dalam surga, sedangkan mereka sangat menginginkan hal itu.

 

***

Karawang, Ahad, 1 Oktober 2023

KARYA TULIS