Karya Tulis
100 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 47-49) Menjauhi Orang-orang Zalim


وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَـٰرُهُمۡ تِلۡقَاۤءَ أَصۡحَـٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu".”

(Qs. al-A'raf: 47)

 

Pelajaran (1) Menjauhi Orang-orang Zalim

(1) Firman-Nya,

وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَـٰرُهُمۡ تِلۡقَاۤءَ أَصۡحَـٰبِ ٱلنَّارِ

“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka.”

Menurut al-Biqai bahwa pandangan mereka diarahkan di luar keinginan mereka untuk melihat penduduk neraka yang sedang disiksa dengan siksaan  yang sangat pedih. Oleh karenanya, mereka langsung berdoa supaya tidak digabungkan dengan orang-orang zhalim.

(2) Firman-Nya,

قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu".”

(a) Ayat ini menunjukkan kewajiban untuk menjauhi orang-orang yang zhalim di dunia, agar tidak dikumpulkan bersama mereka di akhirat.

Menurut Abu Su'ud, para penduduk al-A'raf meminta Allah agar tidak dikumpulkan bersama orang-orang zhalim tanpa menyinggung sama sekali siksa yang mereka rasakan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak saja ingin menjauhi adzab, tetapi juga ingin menjauhi penyebab datangnya adzab, yaitu perbuatan zhalim.

(b) Beberapa ayat berisi pesan berupa larangan bergabung dengan orang-orang zhalim, diantaranya adalah:

(b.1) Firman-Nya,

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ ، وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ، ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Qs. Hud: 113)

(b.2) Firman-Nya,

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰۤ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَـٰنَ أَسِفࣰا قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِی مِنۢ بَعۡدِیۤۖ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِیهِ یَجُرُّهُۥۤ إِلَیۡهِۚ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِی وَكَادُوا۟ یَقۡتُلُونَنِی فَلَا تُشۡمِتۡ بِیَ ٱلۡأَعۡدَاۤءَ وَلَا تَجۡعَلۡنِی مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: "Wahai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim".” (Qs. al-A'raf: 150)

(c) Al-Qurthubi berpendapat bahwa ketika penduduk al-A'raf berdoa supaya tidak digabungkan bersama orang-orang zhalim, sebenarnya mereka sudah tahu bahwa Allah tidak menggabungkan mereka bersama-sama zhalim, tetapi mereka tetap berdoa sebagai bentuk kepasrahan mereka kepada Allah. Dan mereka sangat menikmat doa tersebut.

 

Pelajaran (2) Kesombongan yang Tidak Bermanfaat

وَنَادَىٰۤ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالࣰا یَعۡرِفُونَهُم بِسِیمَىٰهُمۡ قَالُوا۟ مَاۤ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ

“Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu".” (Qs. al-A'raf: 48)

(1) Kata (رِجَالࣰا) menurut al-Baghawi maksudnya adalah para pemimpin dan pembesar dari penduduk neraka.

(2) Kata (بِسِیمَىٰهُمۡ) artinya dengan adanya tanda-tanda yang ada dalam diri mereka, yaitu:

(a) Menurut al-Baghawi, tanda mereka adalah mempunyai harta yang melimpah dan anak (pengikut) yang banyak ketika di dunia.

(b) Menurut al-Alusi, tanda mereka adalah mempunyai wajah yang hitam dan mata yang biru di akhirat.

(3) Firman-Nya,

قَالُوا۟ مَاۤ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ

“Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.”

(a) Kalimat ini bisa berupa pertanyaan yang berisi sindiran dan ejekan kepada mereka. Bisa juga berupa penafian yang artinya tidak ada manfaatnya kelompok dan kesombongan kalian selama di dunia.

(b) Sombong di sini artinya sombong terhadap ayat-ayat Allah sehingga menolak kebenaran. Atau sombong di hadapan manusia.

(4) Asy-Syinqithi menyebutkan bahwa pada hari kiamat setiap manusia datang sendiri-sendiri, tidak ada yang menemaninya baik istri, anak, ajudan, pengawal, dan tidak pula membawa harta.

Beberapa ayat yang menunjukkan hal itu:

(a) Firman-Nya,

وَلَقَدْ جِئْتُمُونا فُرادى كَما خَلَقْناكم أوَّلَ مَرَّةٍ وتَرَكْتُمْ ما خَوَّلْناكم وراءَ ظُهُورِكُمْ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia).” (Qs. al-An’am: 94)

(b) Firman-Nya,

وَنَرِثُهُ ما يَقُولُ ويَأْتِينا فَرْدًا

“Dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang diri.” (Qs. Maryam: 80)

(c) Firman-Nya,

وَكُلُّهم آتِيهِ يَوْمَ القِيامَةِ فَرْدًا﴾

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Qs. Maryam: 95)

 

Pelajaran (3) Tidak Khawatir dan Tidak Sedih

أَهَـٰۤؤُلَاۤءِ ٱلَّذِینَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا یَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡكُمۡ وَلَاۤ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ  

“(Orang-orang di atas A'raaf bertanya kepada penghuni neraka): "Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?" (Kepada orang mukmin itu dikatakan): "Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati".” (Qs. al-A’raf: 49)

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini, apakah merupakan perkataan Allah, atau Malaikat atau penduduk al-A'raf?

(1) Pendapat pertama, ini adalah perkataan penduduk al-A'raf kepada penduduk neraka tentang orang-orang lemah dari kalangan orang-orang beriman.

(a) Berkata al-Kalbi, “Para penduduk al-A'raf menyeru dari tempat yang tinggi, ‘Wahai Walid bin al-Mughirah, wahai Abu Jahal, wahai Fulan...’ Kemudian mereka menoleh ke arah surga dan melihat penduduknya yang kebanyakan adalah orang-orang miskin dan lemah yang sering diolok-olok para pembesar tadi, mereka adalah Salman, Shuhaib, Khabab, Bilal dan yang lainnya.”

Kemudian penduduk al-A'raf berkata kepada para pembesar, “

 أَهَـٰۤؤُلَاۤءِ ٱلَّذِینَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا یَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ

“Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”

Kata (أَهَـٰۤؤُلَاۤءِ) di sini artinya “Apakah orang-orang lemah seperti Salman, dkk kalian anggap mereka tidak masuk surga?”

Kemudian malaikat berkata kepada penduduk al-A'raf,

ٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡكُمۡ وَلَاۤ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ

“Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.”

(b) Berkata Ibnu Juzai, “Hal itu dikarenakan dahulu ketika di dunia, orang-orang kafir bersumpah bahwa Allah tidak akan memberikan rahmat kepada orang-orang beriman dan tidak akan memperhatikan mereka, ternyata faktanya tidak demikian.”

(2) Pendapat kedua mengatakan bahwa ayat ini bagian dari perkataan Allah atau Malaikat kepada penduduk neraka,

أَهَـٰۤؤُلَاۤءِ ٱلَّذِینَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا یَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ

“Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”

Kata (أَهَـٰۤؤُلَاۤءِ) di sini artinya, “Apakah penduduk al-A'raf ini kalian sangka tidak akan mendapat rahmat Allah?”

 Kemudian malaikat berkata kepada penduduk al-A'raf,

ٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡكُمۡ وَلَاۤ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ

“Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.”

 

***

Karawang, Selasa, 3 Oktober 2023

KARYA TULIS