Karya Tulis
115 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 51-53) Mereka Menunggu Takwilnya


ٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ دِینَهُمۡ لَهۡوࣰا وَلَعِبࣰا وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۚ فَٱلۡیَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ كَمَا نَسُوا۟ لِقَاۤءَ یَوۡمِهِمۡ هَـٰذَا وَمَا كَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یَجۡحَدُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

(Qs. al-A'raf: 51)

 

Pelajaran (1) Menjadikan Agama sebagai Permainan

(1) Berkata Ibnu Katsir, “Kemudian Allah menggambarkan perihal orang-orang kafir, yang dahulu waktu di dunia, mereka menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau serta terjebaknya mereka dengan tipu daya dunia dan kegerlapannya, sehingga mereka lupa dengan apa yang diperintahkan yaitu beramal untuk negeri akhirat.”

(2) Firman-Nya,

ٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ دِینَهُمۡ لَهۡوࣰا وَلَعِبࣰا

“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau.”

Menurut ar-Razi ini mempunyai dua makna, yaitu:

(a) Mereka menyakini suatu agama, tetapi tidak serius di dalam menjalankannya, dan cenderung bermain-main.

(b) Mereka menjadikan permainan dan senda gurau sebagai agama mereka.

Menurut al-Baghawi yaitu dengan mengharamkan binatang al-Bahirah, Saibah, Washilah, Ham. Begitu juga bertepuk tangan dan bersiul di Masjidil Haram dan beberapa kebiasaan jahiliyah lainnya.

(3) Firman-Nya,

وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَا

“Dan kehidupan dunia telah menipu mereka.”

(a) Sebenarnya dunia tidak bisa menipu mereka, tetapi maksudnya bahwa mereka menginginkan hidup panjang dengan bergelimang harta dan segala kenikmatan, sehingga mereka lupa beramal shalih untuk bekal menghadap Allah di hari akhir.

(b) Cinta dunia menyebabkan seseorang melupakan akhirat kemudian menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau, mengkafiri ayat-ayat Allah, kemudian berakhir dengan masuk neraka.

Hal ini membuktikan bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kejahatan.

Di dalam suatu atsar disebutkan,

حُبُّ الدُّنيا رأسُ كُلِّ خَطيئةٍ

“Cinta akan (kehidupan) dunia merupakan kepala dari setiap perbuatan kesalahan (dosa).”

Menurut Ibnu Taimiyah ini perkataan Jundub bin Abdullah al-Bajali. Sedangkan menurut ulama lain, seperti az-Zarkasy, al-Iraqi, as-Sakhawi, al-Baihaqi dan Ibnu Abi Dunya ini adalah perkataan al-Hasan al-Bashri.

 

Pelajaran (2) Allah Melupakan Mereka

فَٱلۡیَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ كَمَا نَسُوا۟ لِقَاۤءَ یَوۡمِهِمۡ هَـٰذَا

“Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini.”

Dalam ayat ini terdapat dua penafsiran:

(1) Pertama, maksudnya bahwa Allah memperlakukan mereka seperti orang yang melupakan mereka. Allah sendiri tidak pernah lupa terhadap apapun juga, sebagaimana di dalam firman-Nya,

قَالَ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّی فِی كِتَـٰبࣲۖ لَّا یَضِلُّ رَبِّی وَلَا یَنسَى

“Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Qs. Tha-Ha: 52)

Berkata Ibnu Katsir, “Allah melakukan hal itu sebagai pembalasan serupa terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Ini seperti dalam beberapa firman-Nya:

(a) Firman-Nya,

ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضࣲۚ یَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَیَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَیَقۡبِضُونَ أَیۡدِیَهُمۡۚ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَنَسِیَهُمۡۚ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. at-Taubah: 67)

(b) Firman-Nya,

قَالَ كَذَ ٰ⁠لِكَ أَتَتۡكَ ءَایَـٰتُنَا فَنَسِیتَهَاۖ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡیَوۡمَ تُنسَىٰ

“Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".” (Qs. Thaha: 126)

(c) Firman-Nya,

وَقِیلَ ٱلۡیَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ كَمَا نَسِیتُمۡ لِقَاۤءَ یَوۡمِكُمۡ هَـٰذَا وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّـٰصِرِینَ

“Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong".” (Qs. al-Jatsiyah: 34)

(d) Hal ini dikuatkan dengan haditst Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda bersabda menceritakan percakapan Allah dengan hamba-Nya pada hari kiamat,

فَيَلْقى العَبْدَ، فيَقولُ: أَيْ فُلْ، أَلَمْ أُكْرِمْكَ، وَأُسَوِّدْكَ، وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لكَ الخَيْلَ والإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟! فيَقولُ: بَلى، قالَ: فيَقولُ: أَفَظَنَنْتَ أنَّكَ مُلاقِيَّ؟ فيَقولُ: لا، فيَقولُ: فإنِّي أَنْساكَ كما نَسِيتَنِي،

“Allah menemui seorang kafir lain, lalu bertanya kepadanya. "Wahai fulan! Tidakah ketika dunia, aku telah memuliakanmu dan memberimu jodoh, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Aku berikan kesempatan untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan? "Memang benar, Wahai Tuhanku! Jawab orang itu. Apakah ketika di dunia engkau percaya bahwa engkau akan bertemu denganku?" Tanya Allah selanjutnya. "Tidak!" Jawab orang itu. Kini kubiarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakanku ketika engkau hidup di dunia".” (HR. Muslim)

(2) Kedua, menurut Mujahid, maksud Allah melupakan mereka di sini, yaitu membiarkan mereka di dalam api neraka. Sedangkan menurut as-Suddi, maksudnya Allah membiarkan mereka tidak mendapat rahmat.

 

Pelajaran (3) Kitab yang Telah Dijelaskan

وَلَقَدۡ جِئۡنَـٰهُم بِكِتَـٰبࣲ فَصَّلۡنَـٰهُ عَلَىٰ عِلۡمٍ هُدࣰى وَرَحۡمَةࣰ لِّقَوۡمࣲ یُؤۡمِنُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. al-A'raf: 52)

(1) Menurut Ibnu Katsir, dalam ayat ini, Allah sudah mengutus rasul dan menurunkan kitab yang terperinci kepada mereka, jika mereka tidak beriman, maka Allah akan menurunkan siksa kepada mereka di dunia dan di akhirat.

(2) Firman-Nya,

فَصَّلۡنَـٰهُ عَلَىٰ عِلۡمٍ

“Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami.”

(2.1) Pertama, para ulama berbeda pendapat di dalam menafsirkan firman-Nya, “Kami telah jelaskan”,

(a) Maksudnya, “Kami telah jelaskan di dalam Al-Qur’an ini tentang kebenaran dan kebatilan.”

(b) Maksudnya, “Kami telah jelaskan tentang pengertian halal dan haram, tentang janji dan ancaman, tentang sejarah para umat terdahulu.”  Dua pendapat ini disebutkan Ibnu al-Jauzi.

(2.2) Kedua, para ulama juga berbeda di dalam menafsirkan firman-Nya, “Atas pengetahuan Kami”, sebagai berikut:

(a) Maksudnya, Kami jelaskan ayat-ayat tersebut atas pengetahuan Kami, tidak ada yang kelupaan ataupun terjadi kesalahan. Ini sesuai dengan firman-Nya,

قَالَ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّی فِی كِتَـٰبࣲۖ لَّا یَضِلُّ رَبِّی وَلَا یَنسَى

“Musa menjawab: ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa’.” (Qs. Tha-Ha: 52)

(b) Maksudnya menurut al-Baghawi, Kami jelaskan ayat-ayat tersebut “Atas pengetahuan Kami” bahwa di dalamnya terhadap maslahat bagi manusia.

(c) Maksudnya menurut al-Qasimi, Kami mengetahui bagaimana cara menjelaskan hukum-hukumnya, nasehat-nasehatnya, kisah-kisahnya, dan makna-makna yang terkandung di dalamnya sehingga menjadi kuat dan lurus serta tidak bengkok.

(3) Bahwa al-Qur’an telah dijelaskan secara detail oleh Allah, juga telah disebutkan di dalam firman-Nya,

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (Qs. Hud: 1)

(4) Bahwa al-Qur’an telah diturunkan atas pengetahuan Allah juga tersebut di dalam firman-Nya,

لَّـٰكِنِ ٱللَّهُ یَشۡهَدُ بِمَاۤ أَنزَلَ إِلَیۡكَۖ أَنزَلَهُۥ بِعِلۡمِهِۦۖ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ یَشۡهَدُونَۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِیدًا

“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” (Qs. an-Nisa': 166)

 

Pelajaran (4) Telah Datang Takwilnya

هَلۡ یَنظُرُونَ إِلَّا تَأۡوِیلَهُۥۚ یَوۡمَ یَأۡتِی تَأۡوِیلُهُۥ یَقُولُ ٱلَّذِینَ نَسُوهُ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَاۤءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَاۤءَ فَیَشۡفَعُوا۟ لَنَاۤ أَوۡ نُرَدُّ فَنَعۡمَلَ غَیۡرَ ٱلَّذِی كُنَّا نَعۡمَلُۚ قَدۡ خَسِرُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَفۡتَرُونَ

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?" Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.” (Qs. al-A’raf: 53)

(1) Firman-Nya,

هَلۡ یَنظُرُونَ إِلَّا تَأۡوِیلَهُۥۚ

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu.”

(a) Maksud kata (تَأۡوِیلَهُ) "takwil" di sini,

  • Menurut Mujahid artinya adalah "balasan" yaitu: mereka tidaklah menunggu kecuali balasan yang akan mereka terima, berupa siksa karena mendustakan al-Qur’an.
  • Menurut Qatadah artinya "akibat" yaitu: mereka tidaklah menunggu, kecuali akibat dari perbuatan mereka yang mendustakan al-Qur’an, berupa siksa.

Kedua pendapat itu maknanya sama, hanya berbeda redaksinya saja.

(b) Sebagian ulama mengatakan bahwa mereka tidaklah menunggu, kecuali datangnya hari kiamat.

(2) Firman-Nya,

یَوۡمَ یَأۡتِی تَأۡوِیلُهُۥ یَقُولُ ٱلَّذِینَ نَسُوهُ مِن قَبۡلُ

“Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu.”

Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu, berupa hari kiamat atau siksaan di akhirat berkatalah orang-orang yang “melupakannya” sebelum itu.

Maksud “melupakannya” di sini menurut Ibnu ‘Abbas yaitu mereka telah meninggalkan amal shalih atau melupakan amal shalih.

(3) Firman-Nya,

قَدۡ جَاۤءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّ

“Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak.”

Ini adalah pengakuan dari mereka pada saat tidak ada manfaat pengakuan tersebut. Karena pengakuan itu diucapkan di akhirat.

(4) Firmannya,

أَوۡ نُرَدُّ فَنَعۡمَلَ غَیۡرَ ٱلَّذِی كُنَّا نَعۡمَلُۚ

“atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”

Mereka ingin dikembalikan lagi ke dunia agar bisa beramal shalih. Ini seperti dalam firman-Nya,

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۞ بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ ۞

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (Qs. al-An’am: 27-28)

(5) Firman-Nya,

قَدۡ خَسِرُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ

“Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri.”

(a) Maknanya mereka merugi dan tidak bisa mengambil manfaat darinya. Setiap yang tidak bermanfaat padanya, maka dikatakan dia telah merugi.

(b) Sebagian ulama mengatakan bahwa mereka rugi karena tidak mendapatkan nikmat dari Allah dan tidak mendapatkan jatah untuk diri mereka.

(c) Menurut Ibnu Katsir bahwa mereka telah merugi karena telah masuk neraka dan kekal di dalamnya.

(6) Firman-Nya,

وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَفۡتَرُونَ

“Dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.”

Berkata Ibnu Katsir, "Maksudnya lenyaplah apa yang dahulu mereka sembah selain Allah; sembahan-sembahan tersebut tidak dapat memberikan syafaat kepada mereka, tidak dapat menolong mereka, dan tidak dapat menyelamatkan mereka dari azab yang mereka alami."

 

***

Karawang, Ahad, 8 Oktober 2023

KARYA TULIS