Tafsir An-Najah (Qs. 7: 54) Segala Sesuatu Perlu Proses

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِی سِتَّةِ أَیَّامࣲ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ یُغۡشِی ٱلَّیۡلَ ٱلنَّهَارَ یَطۡلُبُهُۥ حَثِیثࣰا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَ ٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦۤۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
(Qs. al-A’raf: 54)
Pelajaran (1) Persesuaian Ayat
Terdapat beberapa hubungan erat antara ayat ini dengan ayat sebelumnya, diantaranya:
(a) Pada ayat-ayat sebelumnya diuraikan kisah kejadian manusia, maka pada ayat ini diuraikan kisah kejadian alam semesta.
(b) Pada ayat sebelumnya diuraikan akibat buruk perbuatan syirik yang berakhir dengan masuk neraka, maka pada ayat ini diuraikan tanda-tanda kekuasaan Allah, yang terkandung di dalamnya Tauhid.
(c) Inti dari al-Qur’an adalah penjelasan tentang tauhid, kenabian, hari kebangkitan serta qadha' dan qadar. Pada ayat yang lalu, dijelaskan tentang hari kebangkitan, selanjutnya ayat ini menguraikan masalah Tauhid.
Pelajaran (2) Enam Hari
إنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ والأرْضَ في سِتَّةِ أيّامٍ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.”
(1) Ayat ini menunjukkan bahwa yang mampu menciptakan langit dan bumi, Dia-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.
Yang menciptakan tidak sama dengan yang tidak menciptakan. Allah berfirman,
أَفَمَن یَخۡلُقُ كَمَن لَّا یَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (Qs. an-Nahl: 17)
Allah juga berfirman,
وَٱلَّذِینَ یَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا یَخۡلُقُونَ شَیۡـࣰٔا وَهُمۡ یُخۡلَقُونَ ۞ أَمۡوَ ٰتٌ غَیۡرُ أَحۡیَاۤءࣲۖ وَمَا یَشۡعُرُونَ أَیَّانَ یُبۡعَثُونَ ۞ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰحِدࣱۚ فَٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ بِٱلۡـَٔاخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةࣱ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ۞
“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.” (Qs. an-Nahl: 20-22)
(2) Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari.
Satu hari, menurut al-Qurthubi dihitung semenjak terbit matahari sampai terbenamnya. Jika tidak ada matahari maka tidak dianggap satu hari.
(3) Menurut Mujahid dan adh-Dhahak satu hari di sini setara dengan seribu tahun.
Berkata al-Qusyairi, “Satu hari ini di sini maksudnya satu hari hitungan akhirat, yaitu setara dengan seribu tahun hitungan dunia. Disebut demikian, untuk menggambarkan dahsyatnya penciptaan langit dan bumi.”
(4) Berkata Mujahid, “Dimulai hari Ahad dan berakhir pada hari Jum'at.”
Adapun hari Sabtu, menurut Ibnu Katsir, tidak ada penciptaan di dalamnya, karena sudah masuk pada hari ke tujuh. Dari sinilah dinamakan 'Sabtu', karena artinya terputus.
Sebagian ulama mengatakan enam hari hitungan dunia. Tetapi pendapat ini, menurut Ibnu al-Jauzi sangat lemah, karena dua hal:
(a) Bertentangan dengan atsar para ulama.
(b) Salah di dalam memahami kalimat kun fayakun.
(5) Mengapa Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari, padahal Dia mampu menciptakan keduanya dalam satu detik? Jawabannya:
(a) Agar manusia belajar bahwa segala sesuatu membutuhkan proses.
(b) Agar manusia di dalam mengambil keputusan perlu kehati-hatian dan tidak boleh tergesa-gesa. Karena sifat tergesa-gesa berasal dari syetan. Di dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
التَّأنِّي من اللهِ والعجَلَةُ من الشيطانِ
“Kehati-hatian adalah dari Allah dan tergesa-gesa adalah dari setan.” (HR. al-Baihaqi. Haditst ini dishahihkan oleh al-Albani)
Berkata al-Qurthubi, “Allah ingin mengajarkan kepada hamba-Nya agar bersikap lembut dan teliti.”
(c) Segala sesuatu di sisi Allah memiliki waktu tertentu. Oleh karenanya, seringkali Allah tidak langsung menghukum orang yang bermaksiat kepada-Nya, karena segala sesuatu memiliki waktu yang telah ditetapkannya.
Hal ini sesuai dengan firman-Nya,
وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّن قَرۡنٍ هُمۡ أَشَدُّ مِنۡهُم بَطۡشࣰا فَنَقَّبُوا۟ فِی ٱلۡبِلَـٰدِ هَلۡ مِن مَّحِیصٍ
“Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (Qs. Qaf: 36)
Setelah menyebutkan kehancuran para umat terdahulu, Allah berfirman,
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَیۡنَهُمَا فِی سِتَّةِ أَیَّامࣲ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبࣲ ۞ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا یَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ ۞
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (Qs. Qaf: 38-39)
Dalam ayat ini Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk bersabar atas gangguan orang-orang kafir, karena cepat atau lambat mereka akan dihancurkan Allah. Sekali lagi perlu kesabaran, karena Allahpun menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.
(d) Untuk memperlihatkan kepada malaikat tentang dahsyatnya proses penciptaan langit dan bumi tahapan demi tahapan.
(e) Untuk mengajarkan manusia tentang urutan hari dalam satu pekan, dimulai dari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jum'at serta Sabtu.
(f) Untuk mengajarkan manusia tentang hitungan, dimulai dengan angka enam.
Pelajaran (3) Allah Bersemayam di Atas ‘Arsy
ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ
“Lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.”
(1) Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, bahkan al-Qurthubi di dalam buku Al-Asna fi Syarhi Asma-i Allah al-Husna wa Shifatihi al-'Ulya menyebutkan empat belas pendapat ulama.
Adapun pendapat para ulama salaf, yaitu mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, tetapi mereka tidak mempertanyakan bagaimana caranya. Ini sesuai dengan perkataan Imam Malik, “al-Istiwa' sesuatu yang sudah diketahui, tetapi caranya adalah sesuatu majhul, bertanya tentangnya adalah perbuatan bid'ah.”
(2) Ibnu Katsir pun dalam menafsirkan ayat di atas mengikuti pandangan para ulama salaf:
(a) Beliau menyebutkan bahwa cara yang dipakai para ulama salaf, seperti: Malik, al-Auza'i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa'ad, asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih serta yang lainnya dari kalangan para imam kaum muslimin, baik yang terdahulu maupun yang sekarang, yaitu menafsirkan ayat di atas seperti apa adanya, tanpa mempertanyakan caranya, tanpa menyerupakan dengan sesuatu dan tanpa menafikan maknanya.
(b) Sebenarnya, apa yang sering terpikir dalam benak orang-orang yang senang menyerupakan Allah, adalah hal yang tidak ada bagi Allah. Karena tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya. Allah berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. asy-Syura: 11)
(c) Ibnu Katsir melanjutkan, “Masalah sebenarnya adalah seperti apa yang dikatakan oleh para imam, diantaranya: Nu'im bin Hammad al-Khuza'i (guru Imam al-Bukhari). Ia mengatakan, “Bahwa barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari sifat yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya sendiri, maka dia telah kafir.”
(d) Maka apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, juga apa yang disifatkan Rasul-Nya, bukanlah bagian dari penyerupaan. Oleh karenanya, barangsiapa yang menetapkan untuk Allah dengan apa yang disebutkan oleh ayat-ayat yang jelas dan hadits-hadits yang sahih, kemudian diartikan sesuai dengan keagungan Allah dan meniadakan sifat-sifat yang kurang dari Allah, berarti ia telah menempuh jalan hidayah.
(3) Jauh sebelumnya al-Baghawi pernah berkata, “Ahlus Sunnah berpendapat bahwa al-Istiwa' di atas al-Arsy adalah sifat Allah, tidak boleh dipertanyakan caranya. Setiap orang wajib beriman dengan ini, dan menyerahkan ilmunya kepada Allah.”
(4) Al-Qasimi menukil riwayat dari Abdurrahman bin Abi Hatim, “Saya pernah bertanya kepada ayahku dan kepada Abu Zur'ah tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam Ushuluddin dan apa yang pernah mereka berdua temui dari kalangan ulama di segala penjuru. Mereka berdua berkata, “Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh penjuru: di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam dan Yaman. Mereka menyakini bahwa Allah di atas ‘Arsy terpisah dari makhluk-Nya, sebagaimana yang Allah sifati untuk diri-Nya, tanpa harus kita mengetahui caranya, dan Dia mengetahui segalanya.”
Pelajaran (4) Malam Menutupi Siang
یُغۡشِی ٱلَّیۡلَ ٱلنَّهَارَ
“Dia menutupkan malam kepada siang”
(1) Dalam ayat ini hanya disebut bahwa malam menutupi siang, dan tidak disebut sebaliknya (yaitu: siang menutupi malam). Karena kalimat pertama dianggap mewakili kalimat kedua. Hal seperti ini banyak disebut di dalam al-Qur’an, di antaranya:
(a) Firman-Nya,
سَرابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ
“Baju yang menghalangi dari panas (dan dari dingin).” (Qs. an-Nahl: 81)
(b) Firman-Nya,
بِيَدِكَ الْخَيْرُ
“Di tangan-Mu lah segala kebaikan (dan keburukan).” (Qs. Ali Imran: 26)
(2) Firman-Nya,
يَطْلُبُهُ حَثِيثاً
“Yang mengikutinya dengan cepat”
(a) Berkata al-Qurthubi, “(Malam) mengejar siang secara terus menerus, tanpa berhenti.”
(b) Berkata Ibnu Katsir, “Mengejarnya secara cepat sehingga tidak ketinggalan.”
(c) Ayat lain yang mirip dengan ini adalah firman-Nya,
وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ ۞ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ۞ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ ۞ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ ۞
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin: 37-40)
Pelajaran (5) Ciptaan dan Perintah
أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.”
(1) Maksudnya, menurut al-Baghawi bahwa semua ciptaan milik Allah karena Dialah yang menciptakan mereka. Dan Dia berhak memerintah mereka sesuai dengan kehendak-Nya.
(2) Berkata Ibnu Uyainah, “Dalam ayat ini, Allah telah membedakan antara ciptaan dan perintah. Barangsiapa yang menyamakan keduanya, maka dia telah kafir. Karena ciptaan-Nya adalah makhluk; sedangkan perintah-Nya adalah bagian dari firman-Nya yang bukan makhluk, yaitu kata (kun) sebagaimana dalam firman-Nya,
إِنَّما أَمْرُهُ إِذا أَرادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” (Qs. Yasin: 82)
Hal ini sekaligus sebagai bantahan terhadap kelompok yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
(3) Ayat-ayat lain yang menunjukkan hal ini sebagai berikut:
(a) Firman-Nya,
وَمِنْ آياتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّماءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (Qs. ar-Rum: 25)
(b) Firman-Nya,
وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّراتٍ بِأَمْرِهِ
“Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya.” (Qs. al-A'raf: 54)
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa langit, bumi, matahari, bulan dan bintang semuanya adalah makhluk yang diciptakan dan diatur dengan perintah-Nya.
(c) Firman-Nya,
وَما خَلَقْنَا السَّماواتِ وَالْأَرْضَ وَما بَيْنَهُما إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu.” (Qs. al-Hijr: 67)
Ayat di atas menunjukkan bahwa langit dan bumi diciptakan dengan al-Haq, yaitu kata (kun) fayakun.
(4) Haditst yang menjelaskan bahwa segala perintah dan urusan adalah milik Allah adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,
أنَّ رجلًا قال للنَّبيِّ ﷺ: أيَّ الدُّعاءِ خيرًا أدعو به في صلاتي؟ قال: نزل جبريلُ عليه السَّلامُ، فقال: إنَّ خيرَ الدُّعاءِ أن تقولَ في الصَّلاةِ: اللَّهمَّ لك الحمدُ كلُّه، ولك الملْكُ كلُّه، ولك الخَلقُ كلُّه، إليك يُرجعُ الأمرُ كلُّه، أسألُك من الخيرِ كلِّه، وأعوذُ بك من الشَّرِّ كلِّه
“Sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Doa manakah yang paling baik aku panjatkan dalam shalatku?’ Beliau bersabda, “Jibril ‘alaihis salam turun dan mengucapkan, ‘Sesungguhnya sebaik-baik doa untuk engkau baca dalam shalat: Ya Allah, bagi-Mu segala puji, bagi-Mu segala kekuasaan, pada kekuasaan-Mu segala kebaikan dan kepada-Mu pula kembali segala urusan. Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan’.” (Hadits ini disebutkan oleh al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar. Serta disebutkan oleh Ibnu Katsir dengan riwayat Abu Darda')
(5) Firman-Nya,
تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
“Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
Kata (تَبَارَكَ) mempunyai empat makna, yaitu:
(a) Allah Maha Agung dan Maha Tinggi.
(b) Allah Maha Suci.
(c) Allah membawa setiap keberkahan, yaitu kebaikan yang banyak untuk hamba-Nya.
(d) Keberkahan dalam segala sesuatu akan terwujud dengan menyebut nama-Nya.
***
Karawang, Selasa, 10 Oktober 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »