Tafsir An-Najah (Qs. 7: 88-93) Dakwah Nabi Syu'aib -2

قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوا۟ مِن قَوۡمِهِۦ لَنُخۡرِجَنَّكَ یَـٰشُعَیۡبُ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَعَكَ مِن قَرۡیَتِنَاۤ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِی مِلَّتِنَاۚ قَالَ أَوَلَوۡ كُنَّا كَـٰرِهِینَ
“Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami." Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?"”
(Qs. al-A’raf: 88)
Pelajaran (1) Benci Kembali kepada Kekafiran
(1) Firman-Nya,
قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوا۟ مِن قَوۡمِهِۦ
“Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata,”
(a) Para pembesar dari penduduk Madyan memberikan ancaman kepada Nabi Syu'aib dan pengikutnya dengan dua hal:
(a.1) Keluar dari Kota Madyan.
(a.2) Kembali kepada agama mereka.
(b) Mereka menentang dakwah Nabi Syu'aib karena khawatir kedudukan mereka akan tergerus dan berkurang, bahkan akan hilang dengan datangnya Nabi Syu'aib. Jadi, penentangan mereka terhadap dakwah Nabi Syu'aib disebabkan karena kecintaan dunia yang berlebihan.
(c) Di dalam suatu atsar al Hasan al-Bashri disebutkan,
حبُّ الدنيا رأسُ كلِّ خطيئةٍ
“Cinta dunia merupakan inti dari segala kesalahan.” (Atsar ini disebutkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya di dalam az-Zuhdu, al-Iraqi di dalam Takhrij al-Ihya’, as-Sakhawi dalam Fathu al-Mughits.)
(2) Firman-Nya,
لَنُخۡرِجَنَّكَ یَـٰشُعَیۡبُ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَعَكَ مِن قَرۡیَتِنَاۤ
“Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami.”
(a) Sudah menjadi sunnatullah bahwa para nabi diusir dari kampung halaman mereka, sebuah resiko dakwah dan sudah menjadi sunnatullah dalam perjuangan menegakkan tauhid.
(b) Hal ini sudah dijelaskan di dalam firman-Nya,
وَإِن كَادُوا۟ لَیَسۡتَفِزُّونَكَ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ لِیُخۡرِجُوكَ مِنۡهَاۖ وَإِذࣰا لَّا یَلۡبَثُونَ خِلَـٰفَكَ إِلَّا قَلِیلࣰا ۞ سُنَّةَ مَن قَدۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِن رُّسُلِنَاۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحۡوِیلًا ۞
“Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekkah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja. (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.” (Qs. al-Isra': 76-77)
(c) Ayat dalam surat al-Isra' di atas menjelaskan bahwa kaum Quraisy mengusir Rasulullah ﷺ dari kampung halamannya, yaitu Mekkah dan setelah pengusiran tersebut kaum Quraisy dibinasakan oleh Allah.
(d) Ini dikuatkan juga di dalam firman-Nya,
وَإِذۡ یَمۡكُرُ بِكَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ لِیُثۡبِتُوكَ أَوۡ یَقۡتُلُوكَ أَوۡ یُخۡرِجُوكَۚ وَیَمۡكُرُونَ وَیَمۡكُرُ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَیۡرُ ٱلۡمَـٰكِرِینَ
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Qs. al-Anfal: 30)
(e) Demikian hukum Allah di dalam kehidupan manusia, suatu kaum yang mengusir utusan Allah dan para pembawa kebenaran, maka Allah akan menghancurkan mereka. Dan inilah yang terjadi pada kaum Nabi Syu'aib.
(3) Firman-Nya,
أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِی مِلَّتِنَاۚ
“Atau kamu kembali kepada agama kami.”
(a) Perkataan ini ditujukan kepada pengikut Nabi Syu'aib tetapi Nabi Syu'aib masuk di dalamnya, karena mereka dahulu adalah orang-orang kafir sebelum datangnya Syu'aib.
(b) Ini menunjukkan keberhasilan dakwah Nabi Syu'aib, karena mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik daripada sebelumya. Beliau dengan izin Allah mampu mengeluarkan seseorang dari kegelapan syirik menuju cahaya Islam.
(4) Firman-Nya,
قَالَ أَوَلَوۡ كُنَّا كَـٰرِهِینَ
“Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?"”
(a) Salah satu tanda seseorang mendapatkan kelezatan iman adalah sangat membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah mendapatkan keimanan, sebagaimana dia sangat membenci untuk dikembalikan kepada api neraka.
(b) Hal ini tertuang di dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
ثَلاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ حَلاوَةَ الإيمانِ: أنْ يَكونَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممّا سِواهُما، وأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلّا لِلَّهِ، وأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ كما يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النّارِ.
“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Pelajaran (2) Pasrah kepada Keputusan-Nya
قَدِ ٱفۡتَرَیۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِی مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ وَمَا یَكُونُ لَنَاۤ أَن نَّعُودَ فِیهَاۤ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَیۡءٍ عِلۡمًاۚ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَیۡنَنَا وَبَیۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَیۡرُ ٱلۡفَـٰتِحِینَ
“Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (Qs. al-A’raf: 89)
(1) Firman-Nya,
قَدِ ٱفۡتَرَیۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِی مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَا
“Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya.”
(a) Ayat ini menunjukkan bahwa dosa murtad dari agama Islam sama dengan dosa orang berbohong kepada Allah.
(b) Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang kafir yang masuk Islam, berarti dia telah diselamatkan Allah dari api neraka.
(2) Firman-Nya,
وَمَا یَكُونُ لَنَاۤ أَن نَّعُودَ فِیهَاۤ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ
“Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya).”
(a) Salah satu keyakinan Ahlus Sunnah, menurut az-Zujaj bahwa tidaklah seseorang kembali kepada kekufuran, kecuali dengan kehendak Allah.
(b) Kalimat yang diucapkan oleh Nabi Syu'aib di atas adalah bentuk kepasrahan mutlak kepada Allah, ini seperti firman-Nya,
وَما تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah.” (Qs. Hud: 88)
(c) Ibnu Juzai menyebutkan bahwa pernyataan Nabi Syu'aib di atas merupakan bentuk kepasrahan kepada keputusan Allah dan penyerahan segala urusan kepada-Nya, karena hati manusia ini berada di tangan Allah, Dialah yang membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.
(d) Jika ada yang mengatakan bahwa hal ini hanya berlaku untuk para pengikut Nabi Syu'aib, bukan untuk Nabi Syu'aib karena dia adalah seorang nabi yang maksum dan terjaga dari dosa-dosa besar.
Jawabannya, bahwa Nabi Syu'aib mengatakan seperti ini sebagai adab dan sopan santun kepada Allah.
Hal yang sama dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Di dalam hadist Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ sering mengucapkan doa,
يا مُقلِّبَ القلوبِ ثبِّتْ قَلبي على دِينِكَ
“Wahai Dzat yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad. Hadist ini dishahihkan oleh al-Arnauth)
Padahal Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa Allah akan meneguhkan pendiriannya, tetapi walaupun begitu beliau tetap memanjatkan doa tersebut sebagai bentuk adab kepada Allah.
(e) Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat Ini diucapkan oleh Nabi Syu'aib untuk memastikan bahwa beliau tidak akan memeluk agama penduduk Madyan. Kepastian ini seperti yang tercantum di dalam firman-Nya,
إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰبُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰلِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Qs. al-A'raf: 40)
(3) Firman-Nya,
وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَیۡءٍ عِلۡمًاۚ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ
“Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal.”
Menurut Makki, ilmu Allah mencakup segala sesuatu. Jika dalam ilmu-Nya yang lampau, bahwa Nabi Syu'aib dan para pengikutnya tidak akan kembali kepada kekufuran, maka hal itu pasti terwujud dalam kehidupan ini.
(4) Firman-Nya,
رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَیۡنَنَا وَبَیۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَیۡرُ ٱلۡفَـٰتِحِینَ
“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
Menurut Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi Syu'aib adalah orang yang sangat rajin mengerjakan shalat. Ketika melihat kaumnya semakin hari semakin bertambah kesesatannya dan tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki, beliau mendoakan atas mereka dengan doa ini. Kemudian Allah mengabulkan doa tersebut dan membinasakan mereka dengan gempa bumi.
Pelajaran (3) Terjadinya Gempa yang Dahsyat
وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِن قَوۡمِهِۦ لَىِٕنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَیۡبًا إِنَّكُمۡ إِذࣰا لَّخَـٰسِرُونَ ۞ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُوا۟ فِی دَارِهِمۡ جَـٰثِمِینَ ۞
“Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.” (Qs. al-A’raf: 90-91)
(1) Para pembesar penduduk Madyan melecehkan para pengikut Nabi Syu'aib bahwa dengan mengikuti ajaran Nabi Syu'aib, mereka akan merugi karena akan dikucilkan dari keluarga bahkan akan diusir dari kampung halaman mereka.
(2) Tetapi justru yang merugi adalah para pembesar Madyan dan pengikutnya. Mereka akan mendapatkan siksa dari Allah di dunia dan di akhirat. Dan ternyata benar, Allah menimpakan musibah besar kepada mereka sehingga mereka binasa.
(3) Al-Baghawi menyebutkan bahwa Allah mengirim angin panas kepada mereka selama tujuh hari. Mereka sangat kepanasan dan kehausan yang luar biasa. Ke manapun mereka pergi, panas itu akan selalu mengikutinya. Sehingga pada suatu saat Allah mengirimkan awan dingin kepada mereka, lalu mereka datang berduyun-duyun untuk berada di bawahnya, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak. Tetapi tiba-tiba Allah mengirimkan api kepada mereka dan terjadi gempa bumi yang dahsyat sampai mereka terbakar menjadi abu.
Pelajaran (4) Kaum Syu'aib Merugi
ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ شُعَیۡبࣰا كَأَن لَّمۡ یَغۡنَوۡا۟ فِیهَاۚ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ شُعَیۡبࣰا كَانُوا۟ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرِینَ
“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. al-A’raf: 92)
(1) Kata (یَغۡنَوۡا۟) artinya tinggal dan menempati suatu tempat. Yaitu seakan-akan kaum Syu'aib belum pernah menempati tempat tersebut karena telah dibinasakan Allah sampai akar-akarnya.
(2) Menurut al-Qurthubi, Allah mengulangi lagi pernyataan-Nya bahwa orang-orang yang mendustakan Nabi Syu'aib, mereka-lah yang merugi. Tujuan pengulangan ini untuk menekankan betapa buruknya perilaku mereka. Ini sekaligus sebagai jawaban atas pernyataan mereka sebelumnya, bahwa para pengikut Nabi Syu'aib adalah orang-orang yang merugi. Tapi justru merekalah yang binasa dan merugi.
Pelajaran (5) Tidak Sedih dengan Kehancuran Mereka
فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ یَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّی وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ فَكَیۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمࣲ كَـٰفِرِینَ
“Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?"” (Qs. al-A'raf: 93)
(a) Nabi Syu'aib berpaling dari mereka, setelah peristiwa yang dahsyat tersebut dan mengatakan, “Aku telah menyampaikan risalah Tuhanku dan memberikan nasihat kepada kalian, bagaimana aku sedih terhadap kehancuran orang-orang kafir.”
(b) Kata (ءَاسَىٰ) artinya sedih yang sangat.
Maksudnya di sini bahwa Nabi Syu'aib tidak tidak sedih atas kehancuran penduduk Madyan, karena mereka berhak mendapatkan adzab yang di dunia dan di akhirat atas pendustaan mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
***
Karawang, Ahad, 29 Oktober 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »