Tafsir An-Najah (Qs. 7: 94-95) Musibah Sebagai Peringatan

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا فِی قَرۡیَةࣲ مِّن نَّبِیٍّ إِلَّاۤ أَخَذۡنَاۤ أَهۡلَهَا بِٱلۡبَأۡسَاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمۡ یَضَّرَّعُونَ
“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.”
(Qs. al-A’raf: 94)
Pelajaran (1) Agar Mereka Bersimpuh
(1) Pada ayat-ayat sebelumnya telah dijelaskan secara rinci umat-umat yang mendustakan para nabi yang berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan. Mereka adalah kaum Nabi Nuh kaum Nabi Hud, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Luth. Kemudian pada ayat ini, Allah menjelaskan sunnatullah secara umum kepada semua umat bahwa ketika mereka mendustakan para rasul, maka akan berakibat seperti yang dialami oleh umat sebelumnya.
(2) Menurut al-Qurthubi bahwa maksud dari kata (قَرۡیَةࣲ) di sini adalah penduduk suatu negeri yang mendustakan nabinya.
(3) Ayat-ayat ini ditujukan kepada kaum Quraisy agar tidak mendustakan Nabi Muhammad ﷺ karena akibatnya mereka dihancurkan oleh Allah, sebagaimana Allah menghancurkan umat-umat sebelumnya.
(4) Kata (البأساء) artinya kekerasan dalam hidup, seperti kefakiran dan dampak dari peperangan.
(5) Kata (ٱلضَّرَّاۤءِ) artinya apa-apa yang memberikan mudharat pada badan, seperti sakit dan sejenisnya. Sebagian ulama, seperti Ibnu Katsir menafsirkan (الْبَأْسَاءِ) dengan sakit dan (ٱلضَّرَّاۤءِ) dengan kemiskinan.
(6) Firman-Nya,
لَعَلَّهُمۡ یَضَّرَّعُونَ
“Supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.”
Tujuan Allah menurunkan musibah, sakit, kekurangan makanan dan kemiskinan kepada manusia agar mereka mengakui bahwa mereka adalah makhluk yang lemah, makhluk yang membutuhkan bantuan dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka seharusnya bersimpuh, tunduk dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka. Sambil memohon kepada-Nya agar kehidupan mereka menjadi lebih baik di dunia saat ini dan di akhirat kelak.
Pelajaran (2) Harta Mereka Mulai Berkembang
ثُمَّ بَدَّلۡنَا مَكَانَ ٱلسَّیِّئَةِ ٱلۡحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوا۟ وَّقَالُوا۟ قَدۡ مَسَّ ءَابَاۤءَنَا ٱلضَّرَّاۤءُ وَٱلسَّرَّاۤءُ فَأَخَذۡنَـٰهُم بَغۡتَةࣰ وَهُمۡ لَا یَشۡعُرُونَ
“Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan", maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.” (Qs. al-A’raf: 95)
(1) Firman-Nya,
ثُمَّ بَدَّلۡنَا مَكَانَ ٱلسَّیِّئَةِ ٱلۡحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوا۟
“Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak.”
(a) Kata (ٱلۡحَسَنَةَ) artinya kebaikan yang mencakup: kenikmatan, kelapangan dan kesehatan.
(b) Setelah mereka diuji dengan kemiskinan dan berbagai macam penyakit, kemudian Allah menggantikannya dengan kenikmatan, kelapangan, serta kesehatan.
(c) Kata (عَفَوا۟) artinya bertambah banyak dan menumpuk. Maksudnya di sini bahwa kenikmatan yang Allah limpahkan kepada mereka, semakin hari semakin bertambah. Bahkan menurut Ibnu Zaid bukan harta saja, tetapi anak merekapun juga bertambah banyak.
(d) Makna (عَفَوا۟) juga disebutkan di dalam firman-Nya,
وَیَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَا یُنفِقُونَۖ قُلِ ٱلۡعَفۡوَۗ كَذَ ٰلِكَ یُبَیِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Qs. al-Baqarah: 219)
Kata (ٱلۡعَفۡوَۗ) pada ayat ini artinya harta yang berlebih. Itulah yang wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan harta yang tidak berlebih, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya.
(2) Firman-Nya,
وَّقَالُوا۟ قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ
“Dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasakan penderitaan dan kesenangan".”
(a) Berkata al-Qurthubi, "Mereka telah diuji oleh dengan kesengsaraan tetapi mereka tidak juga mau sabar, begitu juga ketika diberikan kenikmatan yang melimpah, mereka pun tidak mau bersyukur."
(b) Mereka berkeyakinan bahwa datangnya kesengsaran berupa munculnya berbagai macam penyakit, kekurangan makanan dan kemiskinan yang menimpa mereka adalah fenomena kehidupan yang biasa terjadi pada manusia dan hal ini juga pernah menimpa nenek moyang mereka. Sehingga menurut keyakinan mereka, semua itu tidak ada kaitannya dengan murka Allah atas kemaksiatan dan kesyirikan yang mereka lakukan.
(3) Firman-Nya,
فَأَخَذۡنَـٰهُم بَغۡتَةࣰ وَهُمۡ لَا یَشۡعُرُونَ
“Maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.”
Karena kerasnya hati, dan rusaknya fitrah dalam diri mereka, maka Allah menimpakan kepada mereka siksa yang sangat pedih di dunia ini secara tiba-tiba sedangkan mereka tidak menyadarinya.
***
Karawang, Jum'at 3 November 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »