Karya Tulis
109 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 100-102) Menyelisihi Perjanjian


أَوَلَمۡ یَهۡدِ لِلَّذِینَ یَرِثُونَ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ أَهۡلِهَاۤ أَن لَّوۡ نَشَاۤءُ أَصَبۡنَـٰهُم بِذُنُوبِهِمۡۚ وَنَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا یَسۡمَعُونَ

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”

(Qs. al-A’raf: 100)

 

Pelajaran (1) Mereka Tidak Mengambil Pelajaran

(1) Pada ayat-ayat sebelumnya, telah dijelaskan baik secara global maupun secara rinci, bagaimana Allah telah menghancurkan umat-umat yang mendustakan para rasul. Dan tujuan dari penjelasan ini adalah sebagai pelajaran bagi umat manusia yang datang sesudah mereka.

(2) Firman-Nya,

أَوَلَمۡ یَهۡدِ لِلَّذِینَ یَرِثُونَ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ أَهۡلِهَاۤ

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya.”

(a) Kata (یَهۡدِ) artinya hidayah, tetapi maksudnya di sini adalah penjelasan.

Jadi diartikan, "Apakah belum jelas bagi yang mewarisi suatu negeri... "

(b) Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan orang-orang yang mewarisi negeri pada ayat di atas:

  • Menurut as-Suddi adalah orang-orang musyrik Mekkah dan sekitarnya yang mewarisi tempat tersebut dari umat-umat sebelumnya yang dibinasakan Allah.
  • Menurut yang lain, ayat ini mencakup seluruh penduduk negeri yang hidup sesudah dibinasakannya umat sebelum mereka. Tidak hanya penduduk Mekkah saja.

(3) Firman-Nya,

أَن لَّوۡ نَشَاۤءُ أَصَبۡنَـٰهُم بِذُنُوبِهِمۡۚ

“Bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosanya.”

Maksudnya bahwa Kami (Allah) mampu menurunkan adzab kepada mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan, sebagaimana Kami (Allah) telah membinasakan umat-umat sebelum mereka.

(4) Firman-Nya,

وَنَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا یَسۡمَعُونَ

“Dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”

Maksudnya bahwa hati mereka ditutup oleh Allah karena mereka tidak mau mendengar dan mengambil pelajaran dari umat-umat yang dihancurkan sebelum mereka.

(5) Beberapa ayat yang mirip dengan ayat di atas:

(a) Qs. al-An'am: 6

(b) Qs. as-Sajdah: 29

(c) Qs. Ibrahim: 44-45

(d) Qs. Maryam: 98

(e) Qs. al-Ahqaf: 25-27

(f) Qs. Thaha: 128

 

Pelajaran (2) Cerita Umat-umat Terdahulu

 تِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّ عَلَیۡكَ مِنۡ أَنۢبَاۤىِٕهَاۚ وَلَقَدۡ جَاۤءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَیِّنَـٰتِ فَمَا كَانُوا۟ لِیُؤۡمِنُوا۟ بِمَا كَذَّبُوا۟ مِن قَبۡلُۚ كَذَ ٰلِكَ یَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ

“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.” (Qs. al-A’raf: 101)

(1) Firman-Nya,

تِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّ عَلَیۡكَ مِنۡ أَنۢبَاۤىِٕهَاۚ

“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu.”

Maksud (ٱلۡقُرَىٰ) di sini adalah kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Luth dan kaum Nabi Syu'aib yang telah diterangkan berita kehancuran mereka pada ayat-ayat sebelumnya.

(2) Firman-Nya,

فَما كانُوا لِيُؤْمِنُوا بِما كَذَّبُوا مِن قَبْلُ

“Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.”

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud ayat ini:

(2.1) Pendapat pertama bahwa orang-orang kafir tidak akan beriman dengan para rasul yang membawa bukti dan mukjizat setelah sebelumnya mereka mendustakan mereka ketika mereka belum membawa bukti tersebut.

Jadi, orang-orang kafir berada dalam dua keadaan:

(a) Para rasul datang kepada mereka dengan tidak memperlihatkan bukti (mukjizat), maka mereka langsung mendustakannya.

(b) Para rasul datang dengan membawa bukti dan mukjizat, merekapun tetap tidak mau beriman sebagaimana sebelum membawa bukti, merekapun tidak beriman.

Pendapat ini dipilih oleh ath-Thabari, Ibnu Athiyah dan Ibnu Katsir. Dalil mereka adalah firman-Nya,

وَأَقۡسَمُوا۟ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَیۡمَـٰنِهِمۡ لَىِٕن جَاۤءَتۡهُمۡ ءَایَةࣱ لَّیُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡـَٔایَـٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ وَمَا یُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَاۤ إِذَا جَاۤءَتۡ لَا یُؤۡمِنُونَ

“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah." Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.” (Qs. al-An'am: 109)

(2.2) Pendapat kedua bahwa orang-orang kafir, jika dikembalikan ke dunia setelah mati, mereka pun tidak akan beriman, sebagaimana sebelumnya merekapun tidak beriman ketika masih hidup di dunia. Pendapat ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَلَوۡ تَرَىٰۤ إِذۡ وُقِفُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُوا۟ یَـٰلَیۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔایَـٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ ۞ بَلۡ بَدَا لَهُم مَّا كَانُوا۟ یُخۡفُونَ مِن قَبۡلُۖ وَلَوۡ رُدُّوا۟ لَعَادُوا۟ لِمَا نُهُوا۟ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَـٰذِبُونَ ۞

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (Qs. al-An'am: 27-28)

 

Pelajaran (3) Tidak Menepati Janji

وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدࣲۖ وَإِن وَجَدۡنَاۤ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَـٰسِقِینَ

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (Qs. al-A'raf: 102)

(1) Maksud (لِأَكۡثَرِهِم) adalah para umat terdahulu.

(2) Para ulama berbeda pendapat tentang maksud (عَهۡدࣲۖ) “perjanjian” dalam ayat ini:

(2.1) Menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah perjanjian manusia kepada Tuhan mereka ketika mereka dalam sulbi Nabi Adam.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

(a)  Firman-Nya,

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِیۤ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدۡنَاۤۚ أَن تَقُولُوا۟ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِینَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan)".” (Qs. al-A'raf: 172)

(b) Hadist ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah ﷺ bahwasanya Allah berfirman,

وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan lurus semuanya, mereka didatangi oleh setan lalu dijauhkan dari agama mereka, setan mengharamkan yang Aku halalkan pada mereka dan memerintahkan mereka agar menyekutukanKu yang tidak Aku turunkan kuasanya.” (HR. Muslim)

(c) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

 كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(2.2) Menurut al-Hasan maksudnya adalah perjanjian mereka dengan para nabi untuk tidak mensyirikan Allah.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

(a) Firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” (Qs. al-Anbiya’: 25)

(b) Firman-Nya,

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?"” (Qs. az-Zukhruf: 45)

(c) Firman-Nya,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.” (Qs. an-Nahl: 36)

(3) Intinya bahwa kebanyakan manusia di dunia ini tidak memenuhi janji mereka untuk hanya menyembah kepada Allah dan mensyirikan-Nya dengan suatu apapun juga.

 

***

Karawang, Sabtu, 4 November 2023

KARYA TULIS