Karya Tulis
109 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 103-105) Dakwah Nabi Musa -1


ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِم مُّوسَىٰ بِـَٔایَـٰتِنَاۤ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِی۟هِۦ فَظَلَمُوا۟ بِهَاۖ فَٱنظُرۡ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِینَ

“Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.”

(Qs. al-A’raf: 103)

 

Pelajaran (1) Orang-orang yang Membuat Kerusakan

(1) Firman-Nya,

ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِم مُّوسَىٰ

“Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu.”

(1)   Kemudian setelah itu, Allah mengutus Nabi Musa sebagai nabi dan rasul.

Nama Nabi Musa adalah Musa bin ‘Imran bin Lay bin Ya'kub.

(2) Mengapa kisah Nabi Musa dan Fir'aun lebih panjang dan terperinci dibandingkan dengan kisah-kisah Nabi sebelumnya? Menurut ar-Razi terdapat dua faktor:

(a) Mukjizat Nabi Musa lebih kuat dan lebih beragam dibandingkan dengan mukjizat para nabi sebelumnya.

(b) Kebodohan kaum Nabi Musa jauh lebih parah dibandingkan dengan kebodohan para nabi sebelumnya.

(3) Ibnu ‘Asyur menjelaskan dua hal tentang hubungan kisah Nabi Musa dengan Nabi Muhammad ﷺ pada ayat ini:

(a) Kisah Nabi Musa merupakan pengantar untuk menyambut kedatangan Nabi besar Muhammad ﷺ. Oleh karenanya, umatnya tidak dihancurkan Allah, tetapi terus ada bahkan sampai kedatangan Nabi Muhammad ﷺ.

(b) Manusia terbagi dua kelompok besar di dalam menyikapi dakwah Nabi Musa, kelompok yang beriman kepadanya dan kelompok yang menentangnya. Begitu juga yang terjadi pada dakwah Nabi Muhammad ﷺ.

(4) Firman-Nya,

بِـَٔایَـٰتِنَاۤ

“Dengan membawa ayat-ayat Kami.”

(a) Maksudnya adalah mukjizat yang menunjukkan kebenaran akan kenabian Nabi Musa.

(b) Jumlah ayat yang dibawa Nabi Musa adalah sembilan ayat, sebagaimana di dalam firman-Nya,

وَلَقَدۡ ءَاتَیۡنَا مُوسَىٰ تِسۡعَ ءَایَـٰتِۭ بَیِّنَـٰتࣲۖ فَسۡـَٔلۡ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ إِذۡ جَاۤءَهُمۡ فَقَالَ لَهُۥ فِرۡعَوۡنُ إِنِّی لَأَظُنُّكَ یَـٰمُوسَىٰ مَسۡحُورࣰا

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir".” (Qs. al-Isra': 101)

(5) Firman-Nya,

إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِی۟هِۦ

“Kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya.”

(a) Dalam ayat ini disebutkan Fir'aun dan para pembesarnya, tidak disebut Fir'aun dan kaumnya, karena yang berbuat zhalim hakekatnya adalah para penguasa sedangkan kaumnya tidak meridhai perbuatan mereka.

(b) Sebenarnya Nabi Musa diutus kepada Bani Israel, hanya saja, menurut Ibnu ‘Asyur, mereka masih tertahan di dalam kekuasan Fir'aun dan para pembesarnya. Maka, Allah mengutusnya kepada Fir'aun agar membebaskan Bani Israel, sekaligus mendakwahi Fir'aun agar beriman kepada Allah.

(c) Beberapa gelar raja di setiap daerah:

  • Fir'aun gelar untuk raja Mesir,
  • Kisra gelar untuk raja Persia,
  • Kaisar gelar untuk raja Romawi,
  • An-Najasyi gelar untuk raja Habasyah,
  • Namrud gelar untuk raja Kan'an,
  • Tuba' gelar untuk raja Yaman,
  • Khan gelar untuk raja Turki.

(d) Adapun nama Fir'aun pada zaman Nabi Musa adalah Minfithah II, masuk dalam keluarga ke-19 dari keluarga yang menguasai Mesir.

(6) Firman-Nya,

فَظَلَمُوا۟ بِهَاۖ

“Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu.”

(a) Maksudnya, mereka mengkufuri ayat-ayat yang dibawa Nabi Musa. Berkata Ibnu ‘Abbas, "Mereka mendustakan ayat-ayat tersebut. "

Menurut al-Qurthubi bahwa asal arti “zhalim” adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, syirik disebut kezhaliman yang besar karena menjadikan hak Allah untuk disembah diberikan kepada selain Allah.

(b) Perbuatan zhalim yang mereka lakukan juga disebutkan di dalam firman-Nya,

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenarannya). Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. an-Naml: 14)

(7) Firman-Nya,

فَٱنظُرۡ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِینَ

“Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.”

 (a) Ayat ini menunjukkan dua hal:

(a.1) Perbuatan zhalim akan menyebabkan kerusakan di muka bumi. Karena perbuatan tersebut akan merusak keseimbangan yang Allah ciptakan dalam kehidupan dunia ini.

(a.2) Orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi akan berakhir dengan kebinasaan di dunia ini dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat.

(b) Berkata Ibnu Katsir, yaitu “Lihatlah, wahai Muhammad, bagaimana Kami tenggelamkan mereka semuanya di depan pandangan mata Musa dan para pengikutnya.”

(c) Ini sangat melegakan hati kaum muslimin, mereka bisa melihat kehancuran musuh mereka dengan mata kepala mereka sendiri.

Ini seperti di dalam firman-Nya,

قَـٰتِلُوهُمۡ یُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَیۡدِیكُمۡ وَیُخۡزِهِمۡ وَیَنصُرۡكُمۡ عَلَیۡهِمۡ وَیَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمࣲ مُّؤۡمِنِینَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (Qs. at-Taubah: 14)

 

Pelajaran (2) Berbicara dengan Lembut

وَقَالَ مُوسَىٰ یَـٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّی رَسُولࣱ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۞  حَقِیقٌ عَلَىٰۤ أَن لَّاۤ أَقُولَ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ قَدۡ جِئۡتُكُم بِبَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ فَأَرۡسِلۡ مَعِیَ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰۤءِیلَ  ۞

“Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel (pergi) bersama aku".” (Qs. al-A’raf: 104-105)

(1) Firman-Nya,

وَقَالَ مُوسَىٰ یَـٰفِرۡعَوۡنُ

“Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun,”

(a) Nabi Musa berbicara kepada Fir'aun dengan lembut dan memanggilnya dengan panggilan kehormatan, karena kata "Fir'aun" menunjukkan  kedudukan tinggi, yaitu raja Mesir.

(b) Menurut al-Biqai, Nabi Musa telah melaksanakan perintah Allah untuk berkata lembut kepada Fir'aun, sebagaimana dalam firman-Nya,

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".” (Qs. ThaHa: 44)

(c) Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ pada peristiwa “Fathu Makkah”, ketika beliau menerima Abu Sufyan sebagai pemimpin kaum Quraisy. Kemudian beliau mengumumkan bahwa barang siapa yang masuk rumah Ahu Sufyan, maka dia akan aman. Artinya beliau menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukannya.

(2) Firman-Nya,

إِنِّی رَسُولࣱ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

“Sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam.”

"Rabbu al-Alamin" menunjukkan bahwa Tuhan yang berhak disembah adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Hal ini diungkapkan oleh Nabi Musa kepada Fir'aun untuk menyindirnya bahwa dia tidak berhak untuk mengklaim dirinya sebagai tuhan, karena dirinya tidak menciptakan alam semesta ini, bahkan dirinya hanyalah makhluk biasa seperti manusia pada umumnya.

(3) Firman-Nya,

حَقِیقٌ عَلَىٰۤ أَن لَّاۤ أَقُولَ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ

“Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak.”

(a) Sebagai seorang utusan, Nabi Musa tidak berhak untuk berkata tentang Allah, kecuali sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

(b) Terdapat dua makna dari kata (حَقِیقٌ), yaitu:

(b.1) Maknanya: seyogyanya atau seharusnya

(b.2) Maknanya: berusaha sekuat mungkin.

(4) Firman-Nya,

قَدۡ جِئۡتُكُم بِبَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ فَأَرۡسِلۡ مَعِیَ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰۤءِیلَ

“Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel (pergi) bersama aku.”

(a) Kata (بِبَیِّنَةࣲ) artinya penjelasan. Maksudnya di sini adalah mukjizat dan bukti bahwa Nabi Musa adalah seorang utusan Allah. Berkata Ibnu ‘Abbas, “Maksudnya adalah tongkat.”

(b) Salah satu tujuan kedatangan Nabi Musa kepada Fir'aun adalah membebaskan Bani Israel dari perbudakan. Berkata Ibnu Juzai, “Mereka dipaksa untuk bekerja dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.” Kerja paksa seperti pada zaman penjajahan Belanda disebut dengan Rodi, dan pada zaman penjajahan Jepang disebut Romusha.

(c) Menurut Ibnu Juzai, mereka akan diajak Nabi Musa untuk pergi ke Baitul Maqdis tanah para leluhur mereka.

 

***

Karawang, Senin, 6 November 2023

KARYA TULIS