Tafsir An-Najah (Qs. 7: 113-122) Dakwah Nabi Musa -3

وَجَاۤءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوۤا۟ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَـٰلِبِینَ قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِینَ
“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?" Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)".”
(Qs. al-A'raf: 113-114)
Pelajaran (1) Dialog antara Fir'aun dengan Tukang Sihir
(1) Firman-Nya,
وَجَاۤءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوۤا۟ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَـٰلِبِینَ
“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?”
Ketika para tukang sihir datang di hadapan Fir'aun, mereka langsung bertanya kepada Fir'aun, apakah ada imbalan bagi mereka jika bisa mengalahkan Nabi Musa.
Bukti bahwa tukang sihir bertanya tentang imbalan kepada Fir'aun adalah sebagai berikut;
(a) Walaupun pada ayat di atas tidak disebutkan kata tanya (hamzah istifham), tetapi sebenarnya kata tanya ini terkandung di dalamnya, cuma disembunyikan, sebagaimana juga yang terdapat di dalam firman-Nya,
فَلَمَّا جَنَّ عَلَیۡهِ ٱلَّیۡلُ رَءَا كَوۡكَبࣰاۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّیۖ فَلَمَّاۤ أَفَلَ قَالَ لَاۤ أُحِبُّ ٱلۡـَٔافِلِینَ
“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".” (Qs. al-An'am: 76)
Firman-Nya (هَـٰذَا رَبِّیۖ) di sini aslinya (أهَـٰذَا رَبِّی) “Apakah ini Tuhanku?” Mengandung kata tanya (hamzah istifham), tetapi tidak disebutkan.
(b) Hal ini diperjelas di dalam surat asy-Syu'ara' bahwa para tukang sihir bertanya kepada Fir'aun tentang imbalan dengan menyebut kata tanya (hamzah istifham) secara jelas, yaitu (أَىِٕنَّ لَنَا). Allah berfirman,
فَلَمَّا جَاۤءَ ٱلسَّحَرَةُ قَالُوا۟ لِفِرۡعَوۡنَ أَىِٕنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَـٰلِبِینَ
“Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada Fir'aun: "Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?"” (Qs. asy-Syu'ara’: 41)
(2) Firman-Nya,
قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِینَ
“Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)".” (Qs. al-A’raf: 114)
(a) Setelah itu, Fir'aun mengabulkan permintaan para tukang sihir untuk memberikan kepada mereka upah (أجر). Tidak sampai disitu saja, untuk memberikan motivasi kepada mereka agar terus semangat untuk melawan Nabi Musa, maka Fir'aun menambahkan pemberian tersebut dengan menjanjikan bahwa mereka akan dijadikan orang-orang yang dekat dengannya (ٱلۡمُقَرَّبِینَ).
(b) Rentetan peristiwa di atas, termasuk dialog antara Fir'aun dan tukang sihir menunjukkan bahwa keduanya dalam posisi lemah, makanya mereka melakukan kerjasama simbiosis mutualisme (kerjasama yang saling menguntungkan):
- Logikanya, seandainya Fir'aun adalah raja yang kuat tentu tidak perlu memerlukan bantuan tukang sihir untuk menundukkan Nabi Musa.
- Begitu juga, seandainya para tukang sihir tersebut adalah orang-orang hebat dan pemilik sihir yang kuat, tentunya mereka tidak akan meminta imbalan kepada Fir'aun. Bukankah dengan sihir, mereka bisa mengubah tanah menjadi emas? Maha benar Allah di dalam firman-Nya,
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
“Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (Qs.al-Hajj: 73)
Pelajaran (2) Pertemuan Nabi Musa dengan Tukang Sihir
(1) Firman-Nya,
قَالُوا۟ یَـٰمُوسَىٰۤ إِمَّاۤ أَن تُلۡقِیَ وَإِمَّاۤ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِینَ
“Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?"” (Qs. al-A’raf: 115)
(a) Ketika tukang sihir bertemu dengan Nabi Musa, mereka mempersilahkan kepada Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya terlebih dahulu sebelum mereka melemparkannya. Hal ini dilakukan oleh tukang sihir sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Musa.
(b) Menurut Al-Qurthubi, penghormatan mereka kepada Nabi Musa inilah yang mengantarkan mereka menemukan jalan hidayah dengan izin Allah, dan akhirnya merekapun beriman kepada Nabi Musa dan mengingkari Fir'aun.
(2) Firman-Nya,
قَالَ أَلۡقُوا۟ۖ فَلَمَّاۤ أَلۡقَوۡا۟ سَحَرُوۤا۟ أَعۡیُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَاۤءُو بِسِحۡرٍ عَظِیمࣲ
“Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan).” (Qs. al-A’raf: 116)
(2.1) Firman-Nya,
قَالَ أَلۡقُوا۟ۖ
“Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!"”
(a) Mendengar tawaran para tukang sihir untuk melemparkan tongkatnya terlebih dahulu, Nabi Musa menolaknya dengan cara halus dan berkata kepada mereka,
“Lemparkanlah tongkat dan tali-tali kalian terlebih dahulu.”
(b) Menurut Ibnu Katsir, Nabi Musa menginginkan agar manusia yang berkumpul di situ bisa melihat apa yang dilakukan oleh para tukang sihir terlebih dahulu, setelah itu beliau berharap agar Allah menurunkan pertolongan-Nya dengan mengirimkan kebenaran yang akan menghancurkan seluruh kebatilan yang mereka bangun. Jika hal itu terjadi, maka akan sangat mengesankan setiap yang melihat kejadian tersebut.
(2.2) Firman-Nya,
فَلَمَّاۤ أَلۡقَوۡا۟ سَحَرُوۤا۟ أَعۡیُنَ ٱلنَّاسِ
“Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang.”
(a) Ketika para tukang sihir tersebut melempar tongkat dan tali-tali mereka, maka seketika berubahlah menjadi ular-ular yang bergerak-gerak menurut pandangan manusia yang berada di tempat tersebut, sehingga mereka sangat ketakutan.
(b) Maksudnya menurut Ibnu Katsir, dikhayalkan di mata orang-orang bahwa apa yang dilakukan oleh para tukang sihir Fir'aun itu seakan-akan merupakan kenyataan, padahal hakikatnya hanyalah sulap dan ilusi belaka. Ini mirip dengan firman-Nya,
قَالَ بَلۡ أَلۡقُوا۟ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِیُّهُمۡ یُخَیَّلُ إِلَیۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ
“Berkata Musa: "Silahkan kamu sekalian melemparkan." Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (Qs. Thaha: 66)
(c) Oleh karena itu, sebagian ulama berdalil dengan ayat ini bahwa sihir itu hanya penipuan. Karena mereka hanya bisa menipu mata orang lain dengan menggunakan teknik-tehnik tertentu.
(2.3) Firman-Nya,
وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَاۤءُو بِسِحۡرٍ عَظِیمࣲ
“Dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan).”
Salah satu target yang hendak dicapai oleh tukang sihir adalah menakut-nakuti orang awam yang datang untuk menonton pertunjukan tersebut. Selanjutnya mereka akan dikondisikan agar percaya dengan sihir mereka.
Pertanyaannya, apakah Nabi Musa juga takut dengan adanya sihir tersebut:
(a) Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Musa juga merasa takut. Tetapi takutnya di sini adalah takut manusiawi yang wajar, yaitu takut terhadap sesuatunya yang akan membahayakan dirinya.
(a.1) Dalilnya adalah firman-Nya,
فَأَوۡجَسَ فِی نَفۡسِهِۦ خِیفَةࣰ مُّوسَىٰ ۞ قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ ۞
“Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)’.” (Qs. Thaha: 67-68)
(a.2) Sebagaimana beliau juga takut ketika pertama kali tongkatnya menjadi ular,
وَأَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَاۤنࣱّ وَلَّىٰ مُدۡبِرࣰا وَلَمۡ یُعَقِّبۡۚ یَـٰمُوسَىٰۤ أَقۡبِلۡ وَلَا تَخَفۡۖ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡـَٔامِنِینَ
“Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): ‘Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman’.” (Qs. al-Qashash: 31)
(a.3) Beliau juga pernah takut ketika diperintahkan untuk mendatangi Fir'aun.
قَالَا رَبَّنَاۤ إِنَّنَا نَخَافُ أَن یَفۡرُطَ عَلَیۡنَاۤ أَوۡ أَن یَطۡغَىٰ۞قَالَ لَا تَخَافَاۤۖ إِنَّنِی مَعَكُمَاۤ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ۞
“Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".” (Qs. Thaha: 45-46)
(b). Sebagian ulama yang lain mengatakan rasa takut Nabi Musa bukan karena ular yang berasal dari sihir, tetapi beliau takut jika kebenaran (mukjizat) terlambat mengatasi kebatilan tukang sihir.
Pelajaran (3) Nabi Musa Mengalahkan Tukang Sihir
(1) Firman-Nya,
وَأَوۡحَیۡنَاۤ إِلَىٰ مُوسَىٰۤ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِیَ تَلۡقَفُ مَا یَأۡفِكُونَ
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!" Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Qs. al-A’raf: 117)
(a) Ketika manusia sedang panik dan takut melihat banyak ular sihir yang bergerak, maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa agar melempar tongkatnya. Maka seketika juga tongkat tersebut berubah menjadi ular yang sangat besar dan panjang. Kemudian ular tersebut dengan cepat menelan ratusan ular tukang sihir yang sedang bergerak-gerak sampai habis dan tidak berbekas sama sekali. Setelah itu ular yang besar itu berubah lagi menjadi tongkat seperti semula.
(b) Kata (أَوۡحَیۡنَاۤ) maksudnya di sini menurut Ibnu Abbas adalah “Kami berikan ilham”, bukan wahyu dalam arti wahyu kenabian.
(c) Kata (یَأۡفِكُونَ) berasal dari kata (الإفك) membalikkan sesuatu. Maksudnya bahwa para tukang sihir tersebut telah membalikkan sesuatu yang bukan hakikatnya. Mengubah tongkat dan tali-tali sekan-akan itu adalah ular yang bisa bergerak. Padahal hakikatnya tidak demikian, ini hanyalah tipuan mata saja yang membuat banyak orang percaya kepada mereka.
(2) Firman-Nya,
فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ
“Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.” (Qs. al-A’raf: 118)
(a) Karena itu hanyalah tipu-tipu maka Allah mendatangkan mukjizat yang merupakan sebuah kebenaran untuk menghabisi ular tipu-tipuan tersebut.
(b) Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini bahwa hasil dari rekayasa dan tipuan cepat atau lambat akan dihancurkan Allah dan kebenaran akan datang menggantikannya, walau tidak secepat seperti yang kita inginkan.
(c) Paling tidak terdapat dua ayat yang menunjukkan hal ini, yaitu:
(c.1) Firman-Nya,
وَقُلۡ جَاۤءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَـٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقࣰا
“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. al-Isra': 81)
(c.2) Firman-Nya,
{ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَسَالَتۡ أَوۡدِیَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّیۡلُ زَبَدࣰا رَّابِیࣰاۖ وَمِمَّا یُوقِدُونَ عَلَیۡهِ فِی ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَاۤءَ حِلۡیَةٍ أَوۡ مَتَـٰعࣲ زَبَدࣱ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَ ٰلِكَ یَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَـٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَیَذۡهَبُ جُفَاۤءࣰۖ وَأَمَّا مَا یَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَیَمۡكُثُ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَ ٰلِكَ یَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ }
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs. ar-Ra'd: 17)
(3) Firman-Nya,
فَغُلِبُوا۟ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُوا۟ صَـٰغِرِینَ
“Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” (Qs. al-A’raf: 119)
(a) Para tukang sihir yang sebelumnya merasa tinggi dan sombong, dan yakin akan menang. Ketika melihat kenyataan bahwa tongkat dan tali-tali mereka dimakan oleh ular Nabi Musa, hati mereka menjadi ciut, merasa kalah dan hina.
(b) Salah satu tujuan diutusnya Rasul adalah menegakkan kebenaran dan membasmi kebatilan. Minimal jangan sampai kebatilan ini menjadi besar dan kuat, maka harus dilemahkan dan dihinakan agar tidak menjadi penghalang manusia untuk meniti jalan yang lurus.
Tujuan ini juga tersebut di dalam firman-Nya,
قَـٰتِلُوا۟ ٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ وَلَا یُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا یَدِینُونَ دِینَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ حَتَّىٰ یُعۡطُوا۟ ٱلۡجِزۡیَةَ عَن یَدࣲ وَهُمۡ صَـٰغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Qs. at-Taubah: 29)
Pelajaran (4) Bersegera Menggapai Ampunan Allah
(1) Firman-Nya,
قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ۞ قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ۞ قَالَ أَلۡقُواْۖ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ سَحَرُوٓاْ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ۞ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ ۞ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ۞ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ۞ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ ۞
“Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?" Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan). Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!" Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.” (Qs. al-A'raf: 114-120)
(a) Kenapa para tukang sihir bersujud? Karena mereka mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Musa bukan sihir, tetapi mukjizat yang datang dari Allah untuk menunjukkan bahwa Nabi Musa adalah seorang nabi dan rasul.
(b) Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular yang besar itu menelan apa saja yang menjadi senjata tukang sihir termasuk tongkat, kayu, tali-tali dan yang lainnya. Dari situ tukang sihir mengetahui bahwa Nabi Musa ini bukan tukang sihir tetapi utusan Allah, maka mereka bersujud.
(c) Berkata al-Akhfasyu, “Saking cepatnya mereka bersujud, maka digunakan kata (أُلۡقِیَ) “terlempar”, yaitu sekonyong-konyong mereka terlempar saking cepatnya bersujud.
(d) Ini juga mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah melakukan dosa atau maskiat, hendaknya sesegera mungkin untuk bertaubat kepada Allah, dan tidak mengundur-undurkannya. Diantaranya dalilnya:
(d.1) Allah berfirman,
وَسَارِعُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَ ٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِینَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali 'Imran: 133)
(d.2) Allah juga berfirman,
سَابِقُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَ ٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِیمِ
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. al-Hadid: 21)
(e) Dalam peristiwa taubatnya para tukang sihir di atas, sebagian ulama menyatakan bahwa di dalamnya terdapat isyarat tentang keutamaan ilmu. Ilmu inilah yang mengantarkan mereka untuk menyadari kesalahan mereka selama ini, dan segera mereka bertaubat dan beriman kepada Nabi Musa.
(f) Taubat dan permintaan ampun mereka kepada Allah, terekam di dalam beberapa firman Allah,
(f.1) Firman-Nya,
إِنَّا نَطۡمَعُ أَن یَغۡفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَـٰیَـٰنَاۤ أَن كُنَّاۤ أَوَّلَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ
“Sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman".” (Qs. asy-Syu'ara’: 51)
(f.2) Firman-Nya,
إِنَّاۤ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِیَغۡفِرَ لَنَا خَطَـٰیَـٰنَا وَمَاۤ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَیۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ وَٱللَّهُ خَیۡرࣱ وَأَبۡقَىٰۤ
“Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (adzab-Nya).” (Qs. Thaha: 73)
(2) Firman-Nya,
قَالُوۤا۟ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۞ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ ۞
“Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun".” (Qs. al-A’raf: 121-122)
(a) Kenapa mereka sujud terlebih dahulu dari pada mengucapkan bahwa mereka beriman? Jawabannya, mereka melakukan sujud setelah mengetahui kebenaran bahwa Tuhan mereka adalah Allah, bukan Fir'aun. Dengan sujud tersebut menunjukkan dua hal, yaitu:
(a.1) Menunjukkan kepasrahan dan ketundukan mutlak kepada Allah.
(a.2) Menunjukkan rasa syukur kepada Allah karena telah memberikan hidayah kepada mereka tentang ilmu yang benar yang mengantarkan mereka kepada keimanan.
(b) Untuk menguatkan hal itu, mereka mengucapkan, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. Yaitu Tuhannya Musa dan Harun.”
Persaksian ini mirip dengan persaksian dua kalimat syahadat ketika seseorang masuk ke dalam agama Islam.
(c) Ibnu Athiyah mengatakan bahwa ucapan, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam” saja tidak cukup, karena Fir'aun juga mengaku dirinya sebagai tuhan, sebagaimana diceritakan oleh Allah di dalam firman-Nya,
فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ
“(Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi".” (Qs. an-Nazi'at: 24)
Ketika mereka mengucapkan, “(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun” maka dari sini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud Tuhan di sini adalah Allah, sebagai Tuhan dari Nabi Musa dan Nabi Harun, bukan Fir'aun yang mengaku-ngaku dirinya sebagai tuhan.
***
Karawang, Jum'at, 10 November 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »