Tafsir An-Najah (Qs. 7: 130-133) 5 Musibah Menimpa Firaun

وَلَقَدۡ أَخَذۡنَاۤ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِینَ وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلثَّمَرَ ٰتِ لَعَلَّهُمۡ یَذَّكَّرُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.”
(Qs. al-A'raf: 130)
Pelajaran (1) Musim Paceklik dan Kekurangan Buah-buahan
(1) Pada ayat sebelumnya, telah dijelaskan tentang kehancuran Fir'aun dan bala tentaranya, maka pada ayat ini, Allah menjelaskan musibah demi musibah yang menimpa Fir'aun dan bala tentaranya sebagai pengantar akan dekatnya kehancuran mereka secara menyeluruh untuk selamanya.
(2) Firman-Nya,
وَلَقَدۡ أَخَذۡنَاۤ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِینَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang Panjang.”
(a) Allah menghukum Fir'aun dan para pengikutnya dengan datangnya musim paceklik yang sangat panjang.
(b) Kata (بِٱلسِّنِینَ) artinya musim paceklik.
Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah mendoakan kepada Suku Mudhar agar ditimpakan kepada mereka musim paceklik, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ اشْدُدْ وطْأَتَكَ على مُضَرَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْها عليهم سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ
“Ya Allah, timpahkanlah kerasnya siksa-Mu kepada Mudlar dan jadikanlah siksa-Mu untuk mereka berupa paceklik seperti paceklik yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(3) Firman-Nya,
وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلثَّمَرَ ٰتِ
“Dan kekurangan buah-buahan.”
Ar-Razi mengatakan bahwa musim paceklik lebih banyak menimpa para petani di kampung-kampung. Sedangkan kekurangan buah-buahan banyak dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di kota.
(4) Firman-Nya,
لَعَلَّهُمۡ یَذَّكَّرُونَ
“Supaya mereka mengambil pelajaran.”
(a) Tujuan Allah menimpakan musim paceklik dan kekurangan buah-buahan pada Fir'aun dan pengikutnya adalah agar mereka ingat dan kembali kepada Allah.
(b) Hal ini sesuai dengan beberapa firman-Nya, diantaranya:
(b.1) Firman-Nya,
وإذا مَسَّكُمُ الضُّرُّ في البَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إلّا إيّاهُ
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Qs. al-Isra’: 67)
(b.2) Firman-Nya,
وإذا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعاءٍ عَرِيضٍ
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Qs. Fushshilat: 51)
(b.3) Firman-Nya,
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِی ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِی ٱلنَّاسِ لِیُذِیقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِی عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. ar-Rum: 41)
Pelajaran (2) Menimpakan Kesialan
فَإِذَا جَاۤءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَـٰذِهِۦۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَیِّئَةࣱ یَطَّیَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥۤۗ أَلَاۤ إِنَّمَا طَـٰۤىِٕرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا یَعۡلَمُونَ
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami." Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. al-A’raf: 131)
(1) Firman-Nya,
فَإِذَا جَاۤءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَـٰذِهِۦۖ
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami".”
(a) Menurut al-Qurthubi kata (ٱلۡحَسَنَةُ) di sini mencakup kemakmuran, kesuburan tanah, banyaknya buah buahan, kesehatan, harta yang melimpah.
Sedangkan kata (سَیِّئَةࣱ) mencakup: musim paceklik, kekurangan makanan dan buah-buahan, menderita sakit.
(b) Jika ditimpa kebaikan mereka mengatakan ini adalah usaha dan jerih payah kita, maka kita mendapatkan rezeki yang banyak dan melimpah.
Al-Baghawi menyatakan bahwa mereka tidak menganggap hal itu sebagai nikmat dari Allah, sehingga mereka tidak mau mensyukurinya.
(2) Firman-Nya,
وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَیِّئَةࣱ یَطَّیَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥۤۗ
“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.”
(a) Kata (یَطَّیَّرُوا۟) artinya mereka menimpakan kesialan.
Berasal dari (طائر) artinya burung, kemudian bergeser kepada pesimisme ketika melihat atau mendengar sesuatu.
Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu menggantungkan nasib mereka kepada burung, jika dia terbang ke arah tertentu, mereka mengurungkan rencana mereka, karena dianggap akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka.
Kebiasaan jahiliyah tersebut kemudian dihapus oleh Islam. Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
لا عَدْوى ولا طِيَرَةَ، ولا هامَةَ ولا صَفَرَ
“Tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula shafar (menganggap bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(b) Adapun makna ayat di atas adalah jika Fir'aun dan pengikutnya ditimpa berbagai macam kesulitan dan musibah, seperti musim paceklik yang berkepanjangan, kekurangan buah-buahan, harga-harga barang yang mahal, penyakit yang menyebar dan kesulitan hidup lainnya, serta-merta mereka langsung menyalahkan Nabi Musa dan para pengikutnya. Menisbatkan kesialan ini kepada beliau.
(c) Jauh sebelumnya, kaum Tsamud juga pernah menimpakan kesialan kepada Nab Shalih, sebagaimana firman-Nya,
قَالُوا۟ ٱطَّیَّرۡنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَۚ قَالَ طَـٰۤىِٕرُكُمۡ عِندَ ٱللَّهِۖ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمࣱ تُفۡتَنُونَ
“Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu." Shalih berkata: "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji".” (Qs. an-Naml: 47)
(d) Penduduk desa yang kedatangan tiga rasul juga menimpakan kesialan kepada tiga rasul tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya,
قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ
“Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami".” (Qs. Yasin: 18)
(e) Begitu juga kaum Yahudi, sebagaimana disebutkan al-Farra', mereka pernah menimpakan kesialan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka mengatakan bahwa sejak kedatangan Nabi Muhammad ﷺ harga barang-barang menjadi naik, hujan mulai jarang turun, kehidupan menjadi susah.
Hal ini tersebut di dalam firman-Nya,
أَیۡنَمَا تَكُونُوا۟ یُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِی بُرُوجࣲ مُّشَیَّدَةࣲۗ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةࣱ یَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَیِّئَةࣱ یَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلࣱّ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ فَمَالِ هَـٰۤؤُلَاۤءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا یَكَادُونَ یَفۡقَهُونَ حَدِیثࣰا
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (Qs. an-Nisa': 78)
(f) Al-Baghawi meriwayatkan dari Said bin Jubair dan Muhammad bin al-Munkadir, keduanya menyebutkan bahwa kekuasaan Fir'aun berumur 400 tahun. Sedangkan dia sendiri hidup sampai 625 tahun, selama itu tidak pernah mendapatkan keburukan apapun. Seandainya selama rentang waktu panjang tersebut, Fir'aun pernah merasakan lapar satu hari atau demam satu malam atau sakit satu jam saja, niscaya dia tidak akan mengaku dirinya Tuhan
(3) Firman-Nya,
أَلَاۤ إِنَّمَا طَـٰۤىِٕرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا یَعۡلَمُونَ
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(a) Maksud ayat ini bahwa keburukan yang menimpa mereka semata-mata karena Takdir dan ketentuan dari Allah, dan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan keberadaan Nabi Musa dan pengikutnya.
(b) Inti dari ayat di atas, bahwa semua yang menimpa manusia, meliputi sesuatu yang buruk maupun yang sesuatu yang baik, semuanya atas takdir Allah. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Pelajaran (3) Lima Musibah yang Menimpa Fir'aun
(1) Firman-Nya,
وَقَالُوا۟ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَایَةࣲ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِینَ
“Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu".” (Qs. al-A’raf: 132)
(a) Di riwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Said bin Jubair serta yang lainnya bahwa ketika Nabi Musa mampu mengalahkan para tukang sihir, tetap saja Fir'aun pada kesesatannya dan tidak mau beriman. Maka, Allah menimpakan kepada mereka musim paceklik dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mau mengakui kesalahan dan bertaubat kepada Allah.
Tetapi, kenyataannya setelah empat mukjizat diperlihatkan kepada Fir'aun, yaitu tongkat, tangan, musim paceklik serta kekurangan buah-buahan, tetap saja Firaun berada pada kesesatannya.
(b) Fir'aun masih saja menganggap musibah yang menimpa mereka adalah hasil sihir yang dilakukan oleh Nabi Musa. Dia tidak bisa membedakan antara sihir dan mukjizat.
(2) Firman-Nya,
فَأَرۡسَلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ وَٱلۡجَرَادَ وَٱلۡقُمَّلَ وَٱلضَّفَادِعَ وَٱلدَّمَ ءَایَـٰتࣲ مُّفَصَّلَـٰتࣲ فَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ وَكَانُوا۟ قَوۡمࣰا مُّجۡرِمِینَ
“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (Qs. al-A’raf: 133)
(a) Setelah empat mukjizat sebelum tidak membuat Fir'aun bertaubat, maka Allah mengirimkan lima mukjizat berikutnya, yaitu: topan, belalang, kutu, katak, dan darah. Itu semua sebagai bukti yang terperinci atas kekuasaan Allah. Sehingga total mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa berjumlah sembilan mukjizat. Ini sesuai dengan dua firman-Nya, yaitu:
(a.1) Firman-Nya,
وَلَقَدۡ ءَاتَیۡنَا مُوسَىٰ تِسۡعَ ءَایَـٰتِۭ بَیِّنَـٰتࣲۖ فَسۡـَٔلۡ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰۤءِیلَ إِذۡ جَاۤءَهُمۡ فَقَالَ لَهُۥ فِرۡعَوۡنُ إِنِّی لَأَظُنُّكَ یَـٰمُوسَىٰ مَسۡحُورࣰا
“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir".” (Qs. al-Isra': 101)
(a.2) Firman-Nya,
وَأَدۡخِلۡ یَدَكَ فِی جَیۡبِكَ تَخۡرُجۡ بَیۡضَاۤءَ مِنۡ غَیۡرِ سُوۤءࣲۖ فِی تِسۡعِ ءَایَـٰتٍ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَقَوۡمِهِۦۤۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ قَوۡمࣰا فَـٰسِقِینَ
“Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik".” (Qs. an-Naml: 12)
Tetapi, walaupun begitu, Fir'aun dan pengikutnya tetap dalam kesombongan dan kesesatan mereka.
(b) Adapun lima mukjizat tersebut adalah:
Pertama: Topan
- Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud topan di sini adalah hujan deras yang turun siang dan malam selama satu pekan, sehingga mereka tidak bisa keluar rumah dan tidak bisa melihat matahari, sehingga terjadi banjir bandang di mana-mana.
- Diriwayatkan bahwa rumah Bani Israel dengan penduduk asli Mesir (al-Qibthi) saling berdekatan tetapi yang aneh bahwa banjir tersebut hanya menimpa rumah orang-orang al-Qibthi saja.
Melihat hal itu, Fir'aun meminta Nabi Musa untuk berdoa agar Allah menghentikan musibah tersebut, dan Fir'aun berjanji akan beriman kepadanya. Maka Allah mengangkat musibah tersebut. Kemudian menumbuhkan pepohonan dan tanaman yang hijau dan menghasilkan biji-bijian, sayuran serta buah-buahan yang sangat banyak.
Namun hal itu menyebabkan Fir'aun lupa, bahkan mengatakan musibah banjir yang menimpa mereka berarti sesuatu yang baik untuk mereka, sehingga mereka tidak mau beriman kepada Allah. Kemudian Allah mengirimkan belalang.
Kedua: Belalang
Setelah satu bulan, Fir'aun dan para pengikutnya menikmati apa yang berikan kepada mereka dari berbagai makanan dan buah-buahan, rezeki yang melimpah dan kesehatan serta kesenangan hidup. Karena mereka tidak bersyukur juga. Maka, Allah kirimkan kepada mereka mukjizat berikutnya yaitu munculnya belalang.
Belalang ini memakan tanaman-tanaman mereka, buah-buahan yang baru muncul kembangnya, bahkan daun-daun pohonnyapun ikut dimakan. Belalang ini nampaknya sangat kelaparan dan tidak pernah kenyang, bahkan sampai jendela, pintu, atap rumah mereka pun ikut dimakan. Tetapi anehnya, pepohonan, tumbuh-tumbuhan dan rumah milik Bani Israel tidak disentuh oleh belalang-belalang yang lapar itu. Dan ini berlangsung selama satu pekan dari Sabtu ke Sabtu berikutnya. Kemudian Fir'aun memohon Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar mengangkat musibah ini dan berjanji akan beriman. Ketika Allah mengangkat musibah ini, mereka mendapatkan beberapa sisa dari makanan dan buah-buahan yang cukup untuk bekal mereka. Akhirnya mereka lupa dan tidak bertaubat kepada Allah.
Ketiga: Kutu
Kemudian Allah mengirimkan kutu yang memakan seluruh persedian makanan, masuk ke dalam makanan yang ada di piring-piring mereka, masuk ke baju dan selimut mereka. Tidak ada satu tempatpun yang ada di sekitar mereka kecuali dikepung oleh kutu-kutu tersebut. Mereka berteriak histeris dan mengalami stres berat. Dan ini berlangsung selama satu pekan dari Sabtu ke Sabtu berikutnya.
Kemudian Fir'aun meminta Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar mengangkat musibah ini dan berjanji akan beriman. Ketika Allah mengangkat musibah ini, mereka menyelisihi janji dan tetap di dalam kekufuran.
Mereka menikmati hidup normal selama satu bulan.
Keempat: Katak
Kemudian Allah mengirimkan katak kepada mereka. Tidak ada tempat kecuali terdapat katak di dalamnya. Mereka membuka panci dan wajan, tiba-tiba di dalamnya terdapat katak. Di kolam, sumur, kamar mandi, kloset dipenuhi dengan katak. Katak-katak tersebut kadang melompat dan berada di kepala, pundak, bahkan ketika berbicara kadang melompat ke mulut mereka.
Dan ini berlangsung selama satu pekan dari Sabtu ke Sabtu berikutnya.
Kemudian Fir'aun meminta Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar mengangkat musibah ini dan berjanji akan beriman. Ketika Allah mengangkat musibah ini, mereka menyelisihi janji dan tetap di dalam kekufuran.
Kelima: Darah
Kemudian Allah mengirimkan darah kepada mereka. Air Sungai Nil berubah menjadi darah, sumur-sumur dan seluruh sumber air berubah menjadi darah. Mereka akhirnya kehausan tidak bisa minum. Diriwayatkan bahwa orang-orang Qibthi meminta minum Bani Israel karena air mereka tidak ternodai dengan darah, tetapi ketika dituangkan ke gelas dan bejana orang-orang Qibthi, seketika berubah menjadi darah. Akhirnya mereka pasrah dan meminta Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar mengangkat musibah ini dan berjanji akan beriman. Ketika Allah mengangkat musibah ini, mereka menyelisihi janji dan tetap di dalam kekufuran.
***
Karawang, Selasa, 14 November 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »