Karya Tulis
42 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 138-141) Ujian Tauhid


وَجَـٰوَزۡنَا بِبَنِیۤ إِسۡرَ ٰۤءِیلَ ٱلۡبَحۡرَ فَأَتَوۡا۟ عَلَىٰ قَوۡمࣲ یَعۡكُفُونَ عَلَىٰۤ أَصۡنَامࣲ لَّهُمۡۚ قَالُوا۟ یَـٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَاۤ إِلَـٰهࣰا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةࣱۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمࣱ تَجۡهَلُونَ

“Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".”

(Qs. al-A’raf: 138)

 

Pelajaran (1) Kebodohan Bani Israel

(1) Setelah selamat dari kekejaman Fir'aun dan bala tentaranya, Bani Israel berhasil menyeberangi lautan luas dengan pertolongan Allah. Kemudian mereka mendatangi suatu kaum penyembah berhala. Kaum tersebut adalah orang-orang Kan'an, atau sering disebut dengan 'Amaliqah. Al-Baghawi mengatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang Lakhmin.

(2) Menurut ath-Thabari orang-orang Kan'an inilah yang Allah perintahkan Nabi Musa dan Bani Israel untuk memerangi mereka.

Berkata Ibnu Juraij, mereka menyembah patung sapi dan dari sinilah kisah penyembahan patung anak sapi oleh Bani Israel dimulai.

(3) Bani Israel yang baru saja diselamatkan Allah dari kekejaman Fir'aun dan balatentaranya meminta kepada Nabi Musa agar membuatkan patung untuk mereka sebagai Tuhan sesembahan sebagaimana kaum Kan'an menyembah patung.

(4) Tentunya, Nabi Musa sangat heran dengan permintaan kaumnya tersebut, karena mereka cepat sekali berubah dan terpengaruh dengan tradisi masyarakat setempat

Padahal tradisi tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Musa yang selama ini beliau ajarkan kepada kaumnya, yaitu hanya menyembah kepada Allah saja dan tidak mensyirikan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Sangat wajar jika Nabi Musa menyematkan kepada kaumnya sebagai kaum yang bodoh.

(5) Kaum muslimin yang baru masuk Islam ketika terjadi pembukaan kota Mekkah, pernah juga meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang dilihatnya dalam perjalanan menuju Hunain. Sebagaimana dalam hadits Abu Waqid al-Laitsi, beliau berkata,

 أنَّ رسولَ اللهِ ﷺ لمّا خرَجَ إلى حنين، مَرَّ بشجرةٍ للمشركينَ يُقالُ لها: ذاتُ أَنْواطٍ، يُعلِّقونَ عليها أسلحتَهم، فقالوا: يا رسولَ اللهِ اجعَلْ لنا ذاتَ أَنْواطٍ كما لهم ذاتُ أَنْواطٍ، فقال النبيُّ ﷺ: سُبحانَ اللهِ! هذا كما قال قَومُ موسى: ﴿اجْعَلْ لَنا إِلَهًا كَما لَهُمْ آلِهَةٌ﴾ [الأعراف: ١٣٨]، والذي نَفْسي بيدِه، لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَن كان قَبلَكم.

“Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pergi ke Hunain, beliau melintasi sebuah pepohonan kaum musyrikin bernama Dzat Anwath, mereka biasa menggantungkan persenjataan mereka di pohon itu, para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, buatkan kami Dzat Anwath seperti milik mereka, lalu nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Subhaanallaah, ini seperti yang dikatakan kaum Musa: 'Buatkan kami ilah seperti ilah-ilah mereka.' Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, kalian akan melakukan perilaku-perilaku orang sebelum kalian".” (HR. at-Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Ahmad Syakir, Syuaib al-Arnauth dan al-Albani)

(6) Ayat dan hadist di atas menunjukkan bahwa orang yang bodoh dan tidak tahu, akan dimaafkan jika keliru di dalam memahami hal-hal yang berhubungan dengan masalah tauhid dan syirik. Hal itu karena Nabi Musa ‘alaihi as-salam dan Nabi Muhammad ﷺ tidak menghukumi kafir kepada mereka yang meminta sesuatu yang bertentangan dengan Tauhid. Keduanya memaklumi bahwa kebodohanlah yang mendorong mereka melakukan hal seperti itu.

(7) Al-Baghawi menjelaskan bahwa Bani Israel sebenarnya tidak meragukan ke-Esaan Allah. Mereka hanya menginginkan sesuatu yang bisa mengantarkan mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini karena kebodohan mereka.

 

Pelajaran (2) Hancurnya Segala Bentuk Kesyirikan

إِنَّ هَـٰۤؤُلَاۤءِ مُتَبَّرࣱ مَّا هُمۡ فِیهِ وَبَـٰطِلࣱ مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ

“Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (Qs. al-A’raf: 139)

(1) Nabi Musa menjelaskan kepada kaumnya dua hal:

(a) Bahwa para penyembah berhala dan patung-patung sesembahan mereka, akan binasa. Ini sesuai dengan firman-Nya,

إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَ ٰ⁠رِدُونَ

“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (Qs. al-Anbiya': 98)

(b) Selain binasa fisiknya, amalan mereka juga akan tertolak dan dinyatakan batil, alias tidak sah.

Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"” (Qs. al-Furqan: 23)

(2) Kata (مُتَبَّرࣱ) dari (تبار) yang menurut al-Qurthubi berarti kehancuran. Ini sebagaimana di dalam firman-Nya,

رَّبِّ ٱغۡفِرۡ لِی وَلِوَ ٰ⁠لِدَیَّ وَلِمَن دَخَلَ بَیۡتِیَ مُؤۡمِنࣰا وَلِلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِینَ إِلَّا تَبَارَۢا

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan".” (Qs. Nuh: 28)

 

Pelajaran (3) Menguatkan Kembali Ajaran Tauhid

(1) Firman-Nya,

قَالَ أَغَیۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِیكُمۡ إِلَـٰهࣰا وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ

“Musa menjawab: ‘Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat’.” (Qs. al-A’raf: 140)

(a) Nabi Musa mengajarkan kepada kaumnya bahwa tidak boleh seorang hamba mencari Tuhan yang disembah kecuali Allah. Beliau mengulangi kembali ajaran Tauhid yang mungkin sudah dilupakan oleh kaumnya.

(b) Ath-Thabari menjelaskan bahwa sangat bodohlah mereka yang menyembah selain Allah, padahal Dia-lah yang mengangkat derajat mereka pada waktu itu di atas umat yang lainnya.

(c) Menurut ayat ini, Bani Israel adalah umat yang dilebihkan di atas umat yang lain. Apa maksudnya?

Menurut al-Qurthubi maksudnya ada dua kemungkinan:

  • Mereka dilebihkan atas umat yang lain pada zaman itu saja. Karena ketika datang Nabi Muhammad ﷺ, umat yang terbaik adalah umat Islam, sebagaimana dalam firman-Nya,

كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَـٰبِ لَكَانَ خَیۡرࣰا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Ali 'Imran: 110)

  • Mereka dilebihkan oleh Allah dengan ditenggelamkannya musuh mereka, yaitu Fir'aun dan balatentaranya.

(2) Firman-Nya,

وَإِذۡ أَنجَیۡنَـٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ یَسُومُونَكُمۡ سُوۤءَ ٱلۡعَذَابِ یُقَتِّلُونَ أَبۡنَاۤءَكُمۡ وَیَسۡتَحۡیُونَ نِسَاۤءَكُمۡۚ وَفِی ذَ ٰلِكُم بَلَاۤءࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِیمࣱ

“Dan (ingatlah hai Bani Israel), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengadzab kamu dengan adzab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu".” (Qs. al-A'raf: 141)

(a) Salah satu faktor yang mendorong seseorang istiqamah di dalam ajaran tauhid adalah selalu mengingat nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, apalagi nikmat dihindarkan dari bahaya kematian atau bahaya-bahaya besar lainnya.

(b) Sebagian ulama, seperti ath-Thabari mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, karena nikmat yang didapatkan oleh nenek moyang mereka dianggap nikmat mereka juga sebagai anak keturunannya.

 

***

Karawang, Sabtu, 18 November 2023

KARYA TULIS