Karya Tulis
36 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 142) Tiga Nasehat Musa


وَوَ ٰعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِینَ لَیۡلَةࣰ وَأَتۡمَمۡنَـٰهَا بِعَشۡرࣲ فَتَمَّ مِیقَـٰتُ رَبِّهِۦۤ أَرۡبَعِینَ لَیۡلَةࣰۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِیهِ هَـٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِی فِی قَوۡمِی وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِیلَ ٱلۡمُفۡسِدِینَ

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan".”

(Qs. al-A’raf: 142)

 

Pelajaran (1) Berpuasa dan Bermunajat

وَوَ ٰعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِینَ لَیۡلَةࣰ وَأَتۡمَمۡنَـٰهَا بِعَشۡرࣲ فَتَمَّ مِیقَـٰتُ رَبِّهِۦۤ أَرۡبَعِینَ لَیۡلَةࣰۚ

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam.”

(1) Diriwayatkan bahwa Nabi Musa menjanjikan kepada Bani Israel pada waktu di Mesir bahwa dia akan mendatangkan kitab suci dari Allah kepada mereka setelah kehancuran Fir'aun dan para tentaranya. Ketika Fir'aun dan bala tentaranya tenggelam di laut, maka Nabi Musa meminta kepada Allah agar diturunkan kitab suci untuk Bani Israel. Maka turunlah ayat ini.

(2) Jadi ayat ini merupakan jawaban Allah dari permohonan Nabi Musa di atas. Atau menurut Ibnu Katsir ayat ini merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada Bani Israel dengan diturunkan Kitab Taurat kepada Nabi Musa.

(3) Sebelum diturunkan Kitab Taurat, Allah memerintahkan Nabi Musa menunggu selama tiga puluh hari dengan berpuasa, yaitu pada bulan Dzulqa'dah. Kemudian ditambahkan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah, untuk bermunajat kepada Allah. Sehingga semuanya menjadi empat puluh hari.

(4) Pertanyaannya kenapa dalam ayat ini disebutkan tiga puluh hari ditambah sepuluh, tidak langsung disebut empat puluh hari saja?

Al-Mawardi menyebutkan tiga jawaban para ulama, yaitu:

(a) Karena kaum Nabi Musa terlambat datang dari waktu yang telah ditentukan tersebut, maka Allah memberikan tambahan waktu.

(b) Karena kaum Nabi Musa justru menyembah patung sapi setelah itu, maka Allah tambahkan sepuluh hari lagi sebagai hukuman

(c) Hal itu sebagai pilihan untuk kaum Nabi Musa untuk mengetahui siapa yang mukmin dan siapa yang munafik.

(5) Ayat di atas menunjukkan bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah harus melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah seperti puasa dan bermunajat. Di dalam ajaran Islam perintah berpuasa digabung juga dengan perintah untuk bermunajat kepada Allah, sebagaimana yang terdapat dalam Qs. al-Baqarah 183 dan 186. Jika kedua hal itu dilakukan dengan baik, maka seseorang akan meraih derajat takwa.

(6) Kemudian di sini digunakan kata (مِیقَـٰتُ) bukan (وقت). Menurut al-Mawardi terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu kata (مِیقَـٰتُ) adalah waktu yang ditentukan untuk suatu amal, sedangkan (وقت) adalah waktu tidak mesti ditentukan untuk suatu amal.

 

Pelajaran (2) Tiga Nasehat Nabi Musa

وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِیهِ هَـٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِی فِی قَوۡمِی وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِیلَ ٱلۡمُفۡسِدِینَ

Nabi Musa meminta saudaranya, Nabi Harun untuk melakukan tiga hal:

(1) Pertama: menggantikannya selama beliau pergi bermunajat kepada Allah selama empat puluh hari.

Ini mengisyaratkan adanya kaderisasi. Seorang pemimpin harus mengkader anggotanya dan mempersiapkannya sebagai pemimpin untuk menggantikannya ketika dia udzur sementara atau udzur permanen.

(2) Kedua: melakukan perbaikan.

Di dalam kaderisasi harus ada arahan dari pemimpin, diantara arahan Nabi Musa kepada Nabi Harun adalah mengadakan perbaikan.

(a) Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud mengadakan perbaikan adalah berlaku lembut dan berbuat baik kepada rakyat dan bawahan. Karena jika seorang pemimpin berlaku kasar terhadap bawahan akan mengakibatkan mudharat dan kerusakan.

(a.1) Hal ini sesuai dengan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana dalam firman-Nya,

فَبِمَا رَحۡمَةࣲ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِیظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِی ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِینَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Qs. Ali 'Imran: 159)

(a.2) Juga di dalam firman-Nya,

وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun.” (Qs. asy-Syu'ara’: 215)

(b) Adapun menurut al-Baghawi, maksud mengadakan perbaikan adalah mengarahkan bawahannya agar taat kepada Allah. Karena dengan taat kepada Allah, semua kehidupannya akan diperbaiki oleh Allah, sebagaimana firman-Nya,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا ۞ یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِیمًا ۞

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Qs. al-Ahzab: 70-71)

(3) Ketiga: larangan mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.

Orang-orang yang membuat kerusakan mempunyai tiga sifat, yaitu:

(3.1) Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui tentang ajaran Allah dan para rasul-Nya.

(a) Ini sesuai dengan firman-Nya,

قَالَ قَدۡ أُجِیبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِیمَا وَلَا تَتَّبِعَاۤنِّ سَبِیلَ ٱلَّذِینَ لَا یَعۡلَمُونَ

“AlIah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui".” (Qs. Surat Yunus: 89)

Pada ayat ini, Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan untuk istiqamah di atas jalan syariat, dan dilarang mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui syariat.

(b) Hal ini dikuatkan dengan firman-Nya,

ثُمَّ جَعَلۡنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِیعَةࣲ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَ ٱلَّذِینَ لَا یَعۡلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Qs. al-Jatsiyah: 18)

Pada ayat Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk mengikuti syariat-Nya, dan dilarang untuk mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui syariat.

Tentunya, orang yang tidak mengerti tentang ajaran Allah dan para rasul-Nya akan membuat kerusakan di muka bumi ini. Karena perbaikan kehidupan manusia hanya bisa dilakukan dengan merujuk kepada aturan Allah dan para rasul-Nya.

(3.2) Menurut al-Baghawi, orang-orang yang membuat kerusakan adalah orang-orang yang bermaksiat kepada Allah. Beliau berkata, “(Maksudnya wahai Harun) Janganlah engkau taati orang yang bermaksiat kepada Allah dan jangan engkau ikuti urusannya.”

Diantara dalil-nya adalah sebagai berikut:

(a) Firman-Nya,

وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفࣰا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِیبࣱ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. al-A'raf: 56)

Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud larangan membuat kerusakan di muka bumi pada ayat ini adalah dengan melakukan kemaksiatan.

(b) Firman-Nya,

وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِینَ یَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِیِّ یُرِیدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَیۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِیدُ زِینَةَ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطࣰا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Qs. al-Kahfi: 28)

Pada ayat ini disebutkan bahwa orang yang lupa berdzikir kepada Allah, dia akan mengikuti hawa nafsunya. Jika demikian, maka urusannya akan menjadi kacau dan rusak.

(3.3) Mereka adalah orang-orang yang bertindak melampaui batas dalam segala hal. Ini sesuai dengan Firman-Nya,

وَلَا تُطِیعُوۤا۟ أَمۡرَ ٱلۡمُسۡرِفِینَ ۞ ٱلَّذِینَ یُفۡسِدُونَ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا یُصۡلِحُونَ ۞

“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan."” (Qs. asy-Syu'ara’: 151-152)

 

***

Karawang, Senin, 20 November 2023

KARYA TULIS