Karya Tulis
33 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 148-149) Penyembahan Patung Anak Sapi


وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا لَّهُۥ خُوَارٌۚ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ

“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.”

(Qs. al-A’raf: 148)

 

Pelajaran (1) Pembuatan Patung Anak Sapi

(1) Ketika Nabi Musa diangkat menuju Gunung Thur untuk bermunajat kepada Allah dan menerima Kitab Taurat, justru Bani Israel memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan maksiat besar, yaitu menyembah anak sapi.

(2) Mereka melakukan perbuatan tersebut dengan memanfaatkan kelembutan sifat Nabi Harun. Walaupun beliau sudah berusaha untuk mengingatkan kaumnya agar tidak melakukan perbuatan syirik, namun tetap saja tidak bergeming, dan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan perbuatan ini sampai Nabi Musa kembali kepada kami.”

Allah menceritakan kejadian ini secara detail di dalam firman-Nya,

وَلَقَدۡ قَالَ لَهُمۡ هَٰرُونُ مِن قَبۡلُ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا فُتِنتُم بِهِۦۖ وَإِنَّ رَبَّكُمُ ٱلرَّحۡمَٰنُ فَٱتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوٓاْ أَمۡرِي ۞ قَالُواْ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ ۞

“Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu. itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku." Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami".” (Qs. Thaha: 90-91)

(3) Patung anak sapi tersebut dibuat dari perhiasan emas dan perak yang dibawa oleh wanita-wanita Bani Israel. Namun sebenarnya perhiasan tersebut merupakan hasil pinjaman dari wanita-wanita al-Qibtiyah (penduduk asli Mesir).

Dengan dalih bahwa perhiasan-perhiasan tersebut tidak halal bagi mereka, maka as-Samiri salah satu tokoh Bani Israel membujuk para wanita untuk menyerahkan perhiasan tersebut kepadanya, dan dijadikannya sebuah patung anak sapi yang dapat mengeluarkan bunyi.  Kemudian as-Samiri berkata kepada Bani Israel bahwa “Patung anak sapi itu adalah Tuhan kalian, dan Tuhannya Musa, tetapi dia telah lupa.”

 

Pelajaran (2) Patung yang Tidak Bisa Berbicara

ۚ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?”

(1) Pertama, bahwa patung anak sapi tersebut tidak bisa berbicara kepada mereka dan tidak pula bisa memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Sebaliknya, Allah yang mampu berfirman dan memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus. Itulah Tuhan yang berhak disembah dan diagungkan.

(2) Kedua, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah bentuk perbuatan zhalim yang paling nyata karena menjadikan patung anak sapi yang tidak bisa berbicara dan tidak pula bisa memberikan manfaat apapun sebagai tuhan sesembahan.

Syirik adalah perbuatan yang paling zhalim, telah dinyatakan secara tegas di dalam firman-Nya,

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar".” (Qs. Luqman: 13)

 

Pelajaran (3) Bertaubat dari Perbuatan Syirik

وَلَمَّا سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا وَيَغۡفِرۡ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: "Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi".” (Qs. al-A’raf: 149)

(1) Ketika mereka menyesal atas perbuatan menyembah patung anak sapi, mereka langsung meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang mereka lakukan.

(2) Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan kerugian dalam hidup ini, kecuali ia yang mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah.

(3) Doa yang mereka panjatkan mirip dengan doa Nabi Adam dan doa Nabi Nuh ‘alaihima as-salam.

(a) Adapun doa Nabi Adam terdapat dalam firman-Nya,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. al-A’raf: 23)

(b) Sedangkan doa Nabi Nuh terdapat di dalam firman-Nya,

قَالَ رَبِّ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِكَ أَنۡ أَسۡـَٔلَكَ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞۖ وَإِلَّا تَغۡفِرۡ لِي وَتَرۡحَمۡنِيٓ أَكُن مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi".” (Qs. Hud: 47)

(4) Kalimat (سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ) diartikan terjadi penyesalan dalam diri mereka. hal itu disebabkan oleh beberapa hal:

(a) Orang yang menyesal biasanya menggigit jari-jari tangannya, seakan jari-jari tersebut jatuh di mulut mereka. penyesalan dengan menggigit jari ini disebutkan di dalam firman-Nya,

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".” (Qs. al-Furqan: 27)

(b) Orang yang menyesal biasanya membolak-balikkan tangannya sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya,

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu.” (Qs. al-Kahfi: 42)

 

***

Karawang, Jum’at, 24 November 2023

 

KARYA TULIS