Tafsir An-Najah (Qs. 7: 150-154) Marah Karena Agama

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim".”
(Qs. al-A’raf: 150)
Pelajaran (1) Kemarahan Nabi Musa
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا
“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati.”
(1) Ketika Nabi Musa kembali kepada kaumnya dan menyaksikan langsung bagaimana kaumnya telah menyeleweng jauh dari ajarannya, bahkan sampai berani menyembah patung anak sapi, maka beliau menjadi sangat murka.
(2) Kata (أَسِفٗا) mempunyai dua makna, yaitu:
(a) Marah, ini sesuai dengan firman Allah,
فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ أَجۡمَعِينَ
“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (Qs. az-Zukhruf: 55)
(b) Sedih, ini sesuai dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ
“Sesungguhnya Abu Bakr adalah orang yang sering merasakan kesedihan.”
(3) Menurut al-Wahidi, dua makna di atas sangat berdekatan karena rasa marah itu muncul dari rasa sedih, dan sedih itu muncul dari kemarahan. Bedanya kalau marah diungkapkan kepada orang yang di bawahnya, sedangkan sedih diungkapkan kepada orang di atasnya.
Pelajaran (2) Dua Pernyataan Nabi Musa
قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ٓۖ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ
“Berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’”
Nabi Musa mengeluarkan dua pernyataan ketika beliau marah tatkala mengetahui dan melihat kaumnya telah menyembah berhala. Pernyataan pertama adalah generasi yang buruk, dan pernyataan kedua adalah mendahului perintah Allah.
(1) Pernyataan Pertama: Generasi yang Buruk
قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ
“Berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!’”
(a) Ketika seorang pemimpin pergi untuk sementara atau selamanya, maka akan meninggalkan generasi pengganti di belakangnya. Generasi yang baik akan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelumnya dan meneruskan kebaikan-kebaikan yang diajarkan kepada mereka.
Sebaliknya, generasi yang buruk akan meninggalkan ajaran kebaikan orang-orang sebelumnya, atau bahkan mengubah ajaran tersebut dan menyelewengkannya.
Itulah yang terjadi dalam diri Bani Israel yang ditinggal sementara oleh Nabi Musa hanya dalam 40 hari. Mereka mengubah total ajaran tauhid yang selama ini diajarkan Nabi Musa kepada mereka. mereka tidak lagi menyembah Allah, akan tetapi mereka berpaling dan menyembah patung anak sapi.
(b) Generasi yang butuk telah disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya,
فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Qs. Maryam: 59)
Generasi buruk pada ayat di atas mempunyai dua sifat, yaitu: meninggalkan shalat dan mengikuti bisikan hawa nafsu.
(c) Sebaliknya, generasi yang baik juga disebutkan di dalam firman Allah,
فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ
“Maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (Qs. an-Nisa’: 34)
Pada ayat di atas Allah menyebutkan dua sifat wanita shalihah ketika ditinggal suaminya pergi, yaitu: (1) selalu menjaga ketaatannya kepada Allah, dan (2) menjaga dirinya dan harta suaminya.
(2) Pernyataan Kedua: Mendahului Perintah Allah
أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ
“Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?”
Allah memerintahkan Bani Israel melalui lisan Nabi Musa agar tetap istiqamah di atas ajaran Nabi Musa, yaitu ikhlas beribadah hanya kepada Allah, selama masa penantian empat puluh hari empat puluh malam.
Para ulama menyebutkan penyebab mereka menyeleweng dari ajaran Nabi Musa, yaitu:
(a) Mereka merasa sangat lama menunggu kedatangan Nabi Musa. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh as-Samiri untuk menipu mereka dengan membuatkan patung anak sapi bagi mereka. Akhirnya mereka merasa gembira sambal bernyanyi dan berjoget di sekitar patung anak sapi tersebut.
(b) Tersebar isu dan rumor bahwa Nabi Musa wafat, sehingga mereka berani mengubah ajaran Nabi Musa, sebagaimana yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya ketika nabi mereka meninggal dunia.
Kita mendapati juga pada umat Islam bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, Sebagian dari mereka ada yang murtad dan tidak mau membayar zakat.
(c) Terjadi kesalahpahaman di antara mereka karena menganggap kepergian Nabi Musa untuk bermunajat kepada Allah selama dua puluh hari dan dua puluh malam, yang mereka jumlah menjadi empat puluh. Padahal maksudnya adalah empat puluh hari dan empat puluh malam.
Pelajaran (3) Dampak Kemarahan Nabi Musa
وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ
“Musapun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya.”
Kemarahan Nabi Musa berdampak pada dua hal:
(1) Pertama, melemparkan papan tulis.
Nabi Musa ketika datang dan menyaksikan secara langsung kaumnya menyembah patung anak sapi, menjadi sangat marah hingga melempar papan tulis yang berisi firman Allah (Taurat). Kemarahan beliau karena Allah dan membela agama tauhid yang sedang dilecehkan oleh kaumnya sendiri.
Al-Alusi memberikan klarifikasi dalam perkara ini, yaitu dengan mengatakan bahwa Nabi Musa tidak ada maksud sedikitpun untuk melecehkan Kitab Taurat sama sekali. Kejadian yang sebenarnya, beliau hanya meletakkan papan tulis (Kitab Taurat) dalam keadaan tergesa-gesa sebab dipicu oleh amarah yang sedang memuncak. Hal itu tergambar seolah-olah beliau melemparnya.
(2) Kedua, menarik kepala Nabi Harun.
Akibat kemarahan yang begitu hebat, Nabi Musa menarik rambut kepala Nabi Harun, sebab dianggap membiarkan kemungkaran berlangsung tanpa adanya amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Pelajaran (4) Sikap Nabi Harun
قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Harun berkata: "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.”
Melihat keadaan Nabi Musa yang sedang memuncak amarahnya, Nabi Harun berusaha menenangkan beliau dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Terdapat empath al yang disampaikan oleh Nabi Harun kepada Nabi Musa.
(1) Mengingatkan hubungan keluarga.
Nabi Musa dan Nabi Harun adalah dua bersaudara. Untuk menengkan hatinya, Nabi Harun menyebut Nabi Musa dengan panggilan, “Wahai anak ibuku.” Hal ini penting dilakukan oleh siapa saja yang berselisih dengan seseorang yang masih memiliki hubungan tali persaudaraan atau kekerabatan. Tabiat manusia akan merasa dekat dengan keluarga atau kerabatnya.
Pentingnya hubungan kekeluargaan dan kekerabatan ini juga disampaikan oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana di dalam firman-Nya,
ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًا إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ
“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Qs. asy-Syura: 23)
(2) Tekanan dari Bani Israel terhadap dirinya.
Nabi Harun sebenarnya sudah melakukan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin pengganti Nabi Musa selama empat puluh hari. Beliau telah mengajak kaumnya untuk selalu istiqamah di atas jalan yang lurus, dan melarang mereka berbuat syirik. Namun tetap saja mereka tidak bergeming di atas kesesatannya, bahkan mengancam akan membunuh Nabi Harun.
(3) Jangan biarkan musuh senang.
Nabi Harun mengingatkan Nabi Musa agar mereka berdua tidak berselisih dalam menangani Bani Israel. Sebab perselisihan kedua nabi akan membuat musuh mereka merasa senang.
Larangan membiarkan musuh merasa senang terdapat di dalam hadits,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Bahwasanya Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya takdir dan senangnya musuh (karena musibah yang menimpa umat Islam).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(1) Menghindari orang-rang zhalim.
Nabi Harun meminta kepada Nabi Musa agar tidak menuduh dirinya sebagai orang zhalim, dan jangan pula menganggap dirinya menolong orang-orang zhalim, terutama mereka para penyembah patung anak sapi. Beliau telah melarang mereka dan berlepas diri dari seluruh perbuatan tercela kaumnya.
Larangan cenderung kepada orang-orang zhalim tersebut di dalam firman-Nya,
وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Qs. Hud: 113)
Juga firman-Nya,
وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ لَقَدۡ كِدتَّ تَرۡكَنُ إِلَيۡهِمۡ شَيۡـٔٗا قَلِيلًا ۞ إِذٗا لَّأَذَقۡنَٰكَ ضِعۡفَ ٱلۡحَيَوٰةِ وَضِعۡفَ ٱلۡمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيۡنَا نَصِيرٗا ۞
“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.” (Qs. al-Isra’: 74-75)
Pelajaran (5) Tanggapan Nabi Musa
قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
“Musa berdoa: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang".” (Qs. al-A’raf: 151)
Mendengar empat jawaban Nabi Harun, Nabi Musa langsung sadar bahwa saudaranya tersebut tidaklah berbuat salah. Maka, kemudian Nabi Musa berdoa kepada Allah dan memohon tiga hal, yaitu:
(1) Meminta ampun atas kesalahannya yang bersikap keras terhadap saudaranya dan menyangka Nabi Harun tidak melakukan kewajiban sebagaimana mestinya.
(2) Memintakan ampun untuk saudaranya. Barangkali ada beberapa hal yang kurang tepat yang pernah dilakukannya selama kepergian Nabi Musa, dimana beliau tidak mengetahuinya, namun Allah Maha Mengetahui.
(3) Memohon agar Allah memasukkan mereka berdua ke dalam golongan orang-orang yang mendaatkan rahmat-Nya.
Pelajaran (6) Ancaman kepada Penyembah Patung
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ۞ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا وَءَامَنُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ۞
“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-A’raf: 152-153)
(1) Dua ayat di atas menjelaskan ancaman kepada orang-orang yang melakukan perbuatan syirik dan tidak mau bertaubat. Ancaman tersebut berupa:
(a) Kemurkaan Allah kepada mereka di akhirat, dengan memasukkan mereka ke dalam neraka Jahannam.
(b) Mereka akan mendapatkan kehinaan dalam kehidupan di dunia ini.
(2) Adapaun mereka yang mau bertaubat dari perbuatan syirik dan perbuatan dosa lainnya, maka Allah akan mengampuni mereka, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih.
Pelajaran (7) Amarah yang Mereda
وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ أَخَذَ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ وَفِي نُسۡخَتِهَا هُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ
“Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (Qs. al-A’raf: 154)
(1) Mendengar penjelasan dari Nabi Harun dan keinginan bertaubat dari kaumnya, maka amarah Nabi Musa mulai mereda.
(2) Kemudian beliau mengambil papan tulis yang dilemparkannya ketika beliau marah. Hal ini menunjukkan bahwa papan tulis yang berisi Taurat tersebut bukanlah pecah, tetapi masih utuh dan tetap bisa dibaca.
(3) Di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Allah. Artinya yang bisa mengambil manfaat dari Taurat tersebut sebagai petunjuk, hanyalah orang-orang yang sangat takut terhadap siksaan Allah.
***
Karawang, Sabtu, 25 November 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »