Tafsir An-Najah (Qs. 7: 155-156) Proses Pertaubatan

وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ قَوۡمَهُۥ سَبۡعِينَ رَجُلٗا لِّمِيقَٰتِنَاۖ فَلَمَّآ أَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ قَالَ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ وَإِيَّٰيَۖ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya".”
(Qs. al-A’raf: 155)
Pelajaran (1) Tujuh Puluh Orang Pilihan
وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ قَوۡمَهُۥ سَبۡعِينَ رَجُلٗا لِّمِيقَٰتِنَاۖ
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.”
(1) Ayat ini menjelaskan tentang proses pertaubatan yang dilakukan Bani Israel setelah peristiwa penyembahan patung anak sapi. Nabi Musa memilih tujuh puluh orang terbaik dari kalangan Bani Israel untuk menemani Nabi Musa pergi ke Gunung Thur. Tujuh puluh orang tersebut diperintahkan oleh Nabi Musa untuk berada di suatu tempat yang berbeda dengan tempat Nabi Musa bermunajat kepada Allah.
(2) Diriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq bahwa Musa memilih tujuh puluh orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israel, semuanya adalah orang-orang yang terpilih (terkemuka) dari kalangan mereka. Musa berkata, "Berangkatlah kalian kepada Allah, dan bertaubatlah kepada-Nya dari apa yang telah kalian perbuat, dan mintakanlah kepada-Nya taubat buat orang-orang yang kalian tinggalkan di belakang kalian dari kalangan kaum kalian. Berpuasalah, bersucilah, dan bersihkanlah pakaian-pakaian kalian terlebih dahulu." Kemudian Musa membawa mereka pergi menuju Bukit Thursina untuk memenuhi janji yang telah ditetapkan untuknya oleh Tuhan-Nya Tersebutlah bahwa Musa tidak berani datang ke tempat itu kecuali dengan seizin dan pemberitahuan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala Lalu ketujuh puluh orang itu —menurut kisah yang sampai kepadaku— setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Musa kepada mereka dan Musa membawa mereka untuk bersua dengan Tuhannya, berkatalah mereka kepada Musa, "Mintakanlah bagi kami agar kami dapat mendengar suara Tuhan kami." Musa menjawab, "Akan aku lakukan." Ketika Musa berada di dekat bukit itu, tiba-tiba gunung itu diliputi oleh awan yang berbentuk tiang raksasa sehingga menutupi seluruh kawasan bukit tersebut. Musa mendekat dan masuk ke dalamnya, lalu ia berkata kepada kaumnya, "Mendekatlah kalian." Disebutkan bahwa apabila Musa sedang diajak bicara oleh Tuhannya, maka dari keningnya memancarlah nur yang sangat cemerlang, tiada seorang manusia pun yang mampu memandangnya. Maka dibuatkanlah hijab (oleh Allah) untuk menutupinya. Kaum itu mendekat, dan manakala mereka masuk ke dalam awan itu, maka mereka terjatuh bersujud; dan mereka mendengar Allah sedang berbicara kepada Musa seraya mengeluarkan titah dan larangan-Nya kepada Musa, yakni lakukanlah anu dan tinggalkanlah anu. Setelah Allah selesai dari pembicaraan-Nya kepada Musa dan awan telah lenyap dari Musa, maka Musa datang menemui mereka, tetapi mereka berkata kepadanya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kalian disambar halilintar. (Qs. al-Baqarah: 55) Yang dimaksud dengan sa'iqah sama dengan rajfah. Maka nyawa mereka semuanya melayang, dan matilah mereka. Lalu Musa bangkit memohon kepada Tuhannya dan berdoa serta memohon dengan penuh harap kepada-Nya. Untuk itu Musa mengatakan: Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini (Qs. al-A’raf : 155) Sedangkan mereka benar-benar orang-orang yang bodoh, maka apakah Engkau membinasakan orang-orang Bani Israel yang ada di belakangku?
(3) Sebagian ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum adanya pemberitahuan dari Allah kepada Nabi Musa bahwa kaumnya telah menyembah patung anak sapi selama kepergian Nabi Musa bermunajat kepada Allah.
(4) Di antara kaum Nabi Musa yang begitu banyak jumlahnya, terdapat orang-orang baik di antara mereka. Oleh karenanya, seorang pemimpin hendaknya mampu memilih orang-orang terbaik untuk menjadi pendukung utamanya dalam berdakwah atau dalam urusan-urusan penting, seperti permintaan taubat kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan oleh kaumnya.
(5) Nabi Muhammad ﷺ juga memilih beberapa orang terbaik dari para sahabatnya untuk menjadi pendukung dalam dakwah menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Di antara mereka terdapat empat khalifah rasyidah, sepuluh orang yang dijamin masuk surga, tujuh puluh sahabat terbaiknya sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, tiga ratus tiga belas sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar, dan seterusnya.
Pelajaran (2) Musibah Akibat Dosa
فَلَمَّآ أَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ
“Maka ketika mereka digoncang gempa bumi”
(1) Mereka ditimpa gempa bumi sehingga mati (pingsan) disebabkan oleh dosa mereka, yaitu mengatakan tidak akan beriman kepada Nabi Musa sampai mereka bisa melihat Allah secara nyata.
(2) Dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia akan menyebabkan kesengsaraan mereka di dunia dan akhirat. Ini sesuai dengan beberapa firman Allah,
(a) Firman-Nya,
كَدَأۡبِ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ وَأَغۡرَقۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَۚ وَكُلّٞ كَانُواْ ظَٰلِمِينَ
“(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.” (Qs. al-Anfal: 54)
(b) Firman-Nya,
فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. al-‘Ankabut: 40)
Pelajaran (3) Kepasrahan Total
قَالَ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ وَإِيَّٰيَۖ
“Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini’.”
(1) Ayat ini menunjukkan kepasrahan total kepada ketetapan Allah, karena manusia tidak memiliki daya dan upaya sedikitpun di hadapan Allah.
(2) Jika Allah menhendaki, Dia bisa membinasakan siapa saja termasuk membinasakan seluruh Bani Israel, juga membinasakan Nabi Musa dan Nabi Harun.
(3) Allah juga pernah menyampaikan bahwa jika Dia berkehendak, bisa saja membinasakan Nabi Isa dan ibunya serta seluruh yang ada di muka bumi, dan tidak ada satupun yang mampu menghalanginya. Allah berfirman,
لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۚ قُلۡ فَمَن يَمۡلِكُ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا إِنۡ أَرَادَ أَن يُهۡلِكَ ٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُۥ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗاۗ وَلِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam." Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?" Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. al-Ma’idah: 17)
Pelajaran (4) Pengaruh Dosa Orang Lain
أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ
“Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?”
(1) Kadang Allah membinasakan seseorang karena dosa yang dilakukan oleh orang lain. Diantara dalilnya adalah:
(a) Firman Allah,
وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Qs. al-Anfal: 25)
(b) Hadits Zainab binti Jahsyi radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia berkata,
اسْتَيْقَظَ النبيُّ ﷺ مِنَ النَّوْمِ مُحْمَرًّا وجْهُهُ يقولُ: لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، ويْلٌ لِلْعَرَبِ مِن شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ اليومَ مِن رَدْمِ يَأْجُوجَ ومَأْجُوجَ مِثْلُ هذِه وعَقَدَ سُفْيانُ تِسْعِينَ أوْ مِئَةً قيلَ: أنَهْلِكُ وفينا الصّالِحُونَ؟ قالَ: نَعَمْ، إذا كَثُرَ الخَبَثُ.
“"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun dari tidurnya dengan wajah merah sambil bersabda: "Laa Ilaha illa Allah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), celakalah orang-orang arab dari keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibukakan pemisah antara Ya'juj dan Ma'juj seperti ini," kemudian Nabi membuat lingkaran, maka aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah-tengah kita?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Ya, apabila kerusakan sudah merajalela".” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(c) Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia berkata,
قُلْتُ: يا رسولَ اللهِ إنَّ اللهَ إذا أنزَل سَطوتَه بأهلِ الأرضِ وفيهم الصّالحونَ فيهلِكونَ بهلاكِهم؟ فقال: (يا عائشةُ إنَّ اللهَ إذا أنزَل سَطوتَه بأهلِ نِقمَتِه وفيهم الصّالحونَ فيُصابونَ معهم ثمَّ يُبعَثونَ على نيّاتِهم وأعمالِهم)
“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika Allah menurunkan siksaan-Nya kepada penduduk di bumi dan di dalamnya ada orang-orang yang shalih, maka apakah orang-orang shalih itu binasa bersama kebinasaan mereka?’ Maka Rasulullah ﷺ menjawaba, ‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya jika Allah menurunkan siksaan-Nya atas suatu kaum dan di dalamnya terdapat orang-orang shalih, maka mereka pun akan terkena bersama. Lalu mereka dibangkitkan sesuai niat dan amalan-amalan mereka’.” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Syu'aib al-Arnauth)
(2) Pada ayat di atas Nabi Musa memohon kepada Allah agar beliau dan para pengikutnya yang masih istiqamah di atas jalan yang lurus tidak dibinasakan akibat perbuatan sebagian orang bodoh di antara Bani Israel.
Pelajaran (5) Ujian di Balik Sebuah Peristiwa
إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ
“Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.”
(1) Allah kadang menguji seseorang dengan suatu peristiwa dengan tujuan untuk mengetahui siapa yang jujur dan benar keimanannya, serta siapa yang munafik. Dengan peristiwa tersebut, Allah akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
(2) Peristiwa perginya Nabi Musa Bersama tujuh puluh pengikutnya, baik itu terjadi sebelum atau setelah peristiwa penyembahan anak sapi (sebagaimana terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam perkara ini) semua itu merupakan ujian dari Allah. Sehingga diketahui orang-orang yang diberikan hidayah oleh Allahdan orang-orang yang disesatkan-Nya.
(3) Di dalam al-Qur’an banyak disebutkan peristiwa-peristiwa yang merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui orang-orang yang mendapatkan hidayah dan orang-orang yang disesatkan. Diantaranya adalah:
(a) Penciptaan nyamuk (Qs. al-Baqarah: 26)
(b) Jumlah malaikat penjaga neraka (Qs. al-Muddatstsir: 31)
(c) Peristiwa Perang Uhud (Qs. Ali ‘Imran: 166-167)
(d) Peristiwa Perang Ahzab (Qs. al-Ahzab: 23-24)
Pelajaran (6) Doa Nabi Musa
(1) Firman-Nya,
أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ
“Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.”
Pada ayat ini Nabi Musa telah melaksanakan adab berdoa kepada Allah, yaitu:
(a) Didahului dengan pengakuan yang tulus dari hati yang paling dalam bahwa Allah adalah satu-satunya pelindung bagi orang-orang beriman.
(b) Memohon kepada Allah sesuatu yang paling penting dalam kehidupan manusia yaitu ampunan dan rahmat Allah.
(c) Menutup doa dengan pujian kepada Allah dengan menyebutkan Asma-u al-Husna bahwa Allah sebaik-baik pemberi ampunan.
(2) Firman-Nya,
وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ
“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” (Qs. al-A’raf: 156)
(a) Ini adalah lanjutan doa Nabi Musa, memohon kepada Allah kebaikan di dunia dan akhirat, sebagaimana juga disebut dalam firman-Nya,
وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".” (Qs. al-Baqarah: 201)
(b) Nabi Musa kembali menutup do aini dengan pernyataan taubat kepada Allah, sebab pengakuan seperti ini akan lebih mendekatkan sebuah doa untuk dikabulkan.
(c) Kata (هُدۡنَآ) artinya “kami telah bertaubat”. Ini berasal dari kata (هاد - يهود) yang artinya: kembali dan bertaubat. Dari kata inilah muncul istilah Yahudi, yaitu orang-orang yang bertaubat kepada Allah.
Sebagian ulama mengatakan istilah Yahudi berasal dari nama salah satu anak Nabi Ya’qub yaitu Yahudza, maka anak keturunannya disebut Kaum Yahudi.
Pelajaran (7) Rahmat Allah Sangat Luas
(1) Firman-Nya,
قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ
“Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Qs. al-A’raf: 156)
Ayat ini menyebutkan dua kaidah dalam perkara Akidah:
(1) Allah akan menyiksa siapa saja yang Dia kehendaki dari orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Di sisi lain, kadang Allah mengampuni sebagian dari mereka. hal ini sesuai dengan beberapa firman-Nya:
(a) Firman-Nya,
فَيَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۗ
“Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. al-Baqarah: 284)
(b) Firman-Nya,
لَيۡسَ لَكَ مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٌ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ أَوۡ يُعَذِّبَهُمۡ فَإِنَّهُمۡ ظَٰلِمُونَ
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Qs. Ali ‘Imran: 128)
(c) Firman-Nya,
وَلَقَدۡ عَفَا ٱللَّهُ عَنۡهُمۡۗ
“Dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka.” (Qs. Ali ‘Imran: 155)
(2) Rahmat Allah lebih luas daripada murka-Nya, dan ampunan Allah lebih banyak daripada siksa-Nya. Di antara dalil yang menguatkan ayat di atas:
(a) Firman Allah,
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs. asy-Syura: 30)
(b) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
(2) Firman-Nya,
فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ
“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami” (Qs. al-A’raf: 156)
Rahmat Allah dalam ayat ini akan diberikan kepada tiga golongan, yaitu:
(1) Orang-orang yang bertakwa. Hal ini terkait dengan amalan hati, yaitu mereka yang takut terhadap siksa Allah.
(2) Orang-orang yang menunaikan zakat. Hal ini terkait dengan amalan harta untuk kepentingan sesama manusia.
(3) Orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah. Hal ini karena banyak manusia tidak percaya dengan para rasul yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya.
***
Karawang, Sabtu, 25 November 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »